About Ando-kun

An unpleasant sarcastic person with weird personality

Golden Week 2012: Niigata

Libur Golden Week 2012 untuk kalender perusahaan tempatku bekerja dimulai sejak hari sabtu 28 April hingga 6 Mei minggu lalu. Biasanya liburan seperti ini kuhabiskan dengan backpacking keliling tempat-tempat wisata sambil memuaskan hobi jalan-jalanku. Tapi kali ini liburan Golden Week kuhabiskan agak berbeda, karena aku berjanji mengunjungi PGKN sekaligus merayakan hari ulang tahunnya di tempatnya bermukim Minami Uonuma, Niigata.

Memangnya Niigata itu seperti apa sih? Kalau membaca info tentang Niigata sih, Niigata itu terkenal sebagai salah satu prefektur utama penghasil beras di Jepang. Yang ada dalam bayangan pastilah kampung yang penuh dengan petakan sawah, apalagi Minami Uonuma termasuk kota kecil penghasil beras koshihikari dalam prefektur Niigata. Hal lain yang membuat Minami Uonuma terkenal adalah saljunya di musim dingin yang sekali turun sering kali berupa badai, sehingga musim dingin di Minami Uonuma berarti harus berhadapan dengan gundukan salju tebal setinggi kira-kira 2 meter. Kalau bersuasana kampung, pastilah aku terkenang dengan Fujinomiya yang pernah kutinggali selama 2 tahun dan kuanggap sebagai kampung halamanku di Jepang. Tapi untuk kasus salju, kayaknya aku tak punya bayangan untuk menghadapi kondisi ekstrim seperti yang digambarkan oleh PGKN. Untunglah liburan Golden Week berlangsung di musim semi, sehingga aku tak perlu berhadapan dengan salju yang lebih tinggi dari manusia. Continue reading

Kala Mahasiswa

Ketika blogwalking, tanpa sengaja aku membaca postingan-postingan mantan mahasiswa ataupun masih berstatus mahasiswa di Jepang. Macam-macam saja cerita mereka, kebanyakan suka dan duka selama masih beraktivitas di kampus. Aku sendiri termasuk jarang bercerita di blog ini tentang pengalaman pribadi ketika kuliah, baik sewaktu masih di Bandung maupun ketika di Jepang. Kenapa? Mungkin anda penasaran mengapa aku menggunakan nama Toumei Ningen sebagai nama blog. Selain judul lagu, aku juga boleh dibilang Toumei Ningen (manusia transparan) alias tak suka jadi pusat perhatian dan lebih suka bergerak di belakang layar. Tapi membaca tulisan-tulisan yang kusebut diatas, tiba-tiba saja aku terkenang dengan pengalaman sewaktu masih berstatus mahasiswa S2. Anggap saja ini postingan random yang mungkin bersambung ketika aku ingin mengenang masa-masa sebagai pelajar. Continue reading

Tentang Nene

Menurut anda, siapakah wanita Jepang yang dikenal telah ikut mempengaruhi sejarah Jepang hingga sekarang? Mungkin ada beberapa kandidat seperti misalnya Murasaki Shikibu yang mendobrak tradisi literatur kuno Jepang, atau Hojo Masako istri Shogun Minamoto no Yoritomo yang ikut mempengaruhi peta politik jaman Shogun Kamakura. Kali ini, saya memperkenalkan Nene seorang wanita aristokrat paling berpengaruh di jaman Sengoku Jidai (Jaman perperangan) dimana para pria mendominasi peta kekuasaan politik sejak masa Oda Nobunaga, dilanjutkan Toyotomi Hideyoshi, hingga berakhir ditangan Tokugawa Ieyasu. Pada jaman perperangan ini, wanita biasanya hanya dianggap sebagai pelengkap penderita. Wanita yang lahir dikalangan bangsawan (aristokrat) biasanya hanya dianggap sebagai barang berharga yang nantinya bisa digunakan oleh ayah/suami demi memperkuat posisi politik lewat jalur pernikahan ataupun keturunan (anak). Bagaimana dengan wanita non-bangsawan? Nasib mereka tentunya lebih buruk dari wanita bangsawan karena tak punya nilai tawar.

Nene setelah menjadi Koudai-in di masa tua (foto wikipedia)

Nene setelah menjadi Koudai-in di masa tua (foto wikipedia)


Continue reading

Oricon chart, industri musik Jepang, fanbase dan merchandise

Terima kasih telah membeli album terbaru kami Butterfly, walau mungkin ada juga yang pinjam di rental CD.
(hyde, konser khusus LE-CIEL di Yokohama Arena)

Ide menulis postingan ini kudapat ketika menonton konser L’Arc~en~Ciel exclusice live for LE-CIEL member tanggal 23 Februari 2012 lalu di Yokohama Arena. Saat itu penjualan album terbaru L’Arc~en~Ciel yang berjudul Butterfly berada di urutan teratas tangga lagu Oricon mingguan sebelum digantikan posisinya oleh album live Tokyo Jihen Collection. Tangga lagu Oricon mencatat urutan CD single maupun album berdasarkan jumlah penjualan CD per hari, minggu hingga per bulan. Tentu saja Oricon juga mencatat penjualan barang lain seperti DVD hingga video game, hanya saja yang ingin kubahas disini hanya penjualan CD musik. Bagaimanakah kondisi industri musik di Jepang dan keuntungannya berdasarkan penjualan CD? Mengapa hyde menyinggung penjualan CD album dengan rental CD? Continue reading

Mudik [3]: Sebungkus pisang sale dan 4 orang Jepang

Sambungan dari Mudik [1] dan Mudik [2]

Orang Jepang yang barusan pulang jalan-jalan hampir selalu membeli omiyage (oleh-oleh) dari tempat yang dikunjunginya buat rekan-rekannya. Rata-rata omiyage yang dibeli biasanya berupa makanan kecil khas daerah yang dikunjungi semacam kue, keripik dan sejenisnya. Pulang dari mudik tentunya gak enak kalau tidak membawa oleh-oleh untuk rekan-rekan di tempat kerja, terutama grupku yang berjumlah 4 orang. Oleh karena itu aku membeli oleh-oleh berupa keripik pisang sale untuk mereka karena setahuku orang Jepang tak terlalu suka makanan yang manis. Sebenarnya keripik pisang sale menurutku omiyage yang lumayan menarik untuk orang Jepang, sayangnya kemasannya itu kurang menarik. Berikut ini tanggapan 4 orang rekan kerja terhadap sebungkus keripik pisang sale.


Gambar diambil dari sini
Continue reading

Mudik [2]: Bayar pulsa seharga BlackBerry

Sambungan dari tulisan Mudik [1]

Sewaktu sampai di Jakarta, iPhone yang kubawa rencananya mau kupakai. Tadinya aku ingin mengganti kartu sim card Jepang (aku pakai softbank) dan diganti memakai kartu telepon Indonesia (eg: telkomsel atau XL) selama berada di Indonesia. Ketika sampai di rumah, adik bungsuku mengutak atik iPhone-ku dan dia bilang, “ini ada sinyal, bisa dipakai koq!” Memang sih bisa dipakai, tapi ada peringatan roaming yang pembayaran pulsanya dihitung berbeda dengan pemakaian pulsa ketika aku berada di Jepang. Sambil menunggu adikku mencari gevey sim card yang besarnya sesuai dengan locket sim card iPhone yang kubawa, aku tetap memakai iPhone (ber-sim card Jepang) untuk menerima dan baca email, kadang-kadang untuk liat fesbuk juga walau aku tak mau memakai untuk menelpon yang pasti pulsa roaming-nya mahal.
Continue reading

Mudik [1]: Culinary, Kopdar, Metromini and other stuff

Mudik pulang ke negara asal tentunya punya banyak cerita bagi orang-orang yang tinggal di luar negeri dan sudah lama tak pulang. Belum lagi re-adaptasi terhadap kondisi di Indonesia yang sudah agak asing bagi orang yang telah menyesuaikan diri dengan lingkungan di tempat tinggalnya di luar negeri. Postingan kali ini hanya sekedar mengenang hal-hal yang kulakukan dan yang kualami sewaktu mudik akhir Desember 2011 hingga awal Januari 2012 kemarin. Continue reading

Kaisar Monogami (1)

Kalau anda membayangkan kehidupan keluarga seorang kaisar, kira-kira apakah yang ada dalam bayangan anda? Tentunya tak jauh dari sebuah keluarga besar berisi: seorang kaisar, beberapa istri yang salah satunya menjadi permaisuri, puluhan hingga ratusan selir, dan banyak anak-anak kaisar yang saling bersaing berebut pengaruh demi tahta peninggalan ayahnya. Akan tetapi dalam sejarah China, ada dua kaisar yang seumur hidupnya hanya mempunyai seorang istri yaitu permaisurinya saja. Malah salah satu kaisar tersebut tak punya satu orangpun selir alias benar-benar monogami murni. Lucunya, walaupun kedua kaisar monogami ini sukses menjalankan kekuasaannya sebagai kaisar yang bijak, mereka berdua sama-sama mempunyai anak yang akan menghancurkan kejayaan yang dibangun ayah mereka sendiri. Bagian pertama tulisan ini menceritakan tentang kaisar monogami dari dinasti Ming yaitu kaisar Hongzhi. Continue reading

Mau Kemana di Nagoya?

“Temanku bilang, katanya di Nagoya gak ada tempat main yang asyik”

Begitulah kira-kira kata Apratz ketika kopdar awal November 2011 kemarin. Saat itu aku memang tak terlalu memperhatikan, tapi sekarang tiba-tiba aku terpikir. Kalau misalnya ada kenalan yang ingin main ke Nagoya dan minta saran tempat main yang asyik, kira-kira apa jawabanku? Continue reading

Memburu si Merah

Pada musim semi ketika bunga Sakura mekar, banyak orang-orang melakukan aktivitas hanami atau melihat bunga sakura (hana: bunga, mi: melihat). Hal ini pernah saya bahas pada tulisan sebelumnya. Counterpart hanami untuk musim gugur adalah Momijigari. Pada musim gugur, bunga Sakura tidak mekar malah daunnya rontok. Akan tetapi daya tarik pada musim gugur bukanlah Sakura melainkan momiji. Momiji atau Kouyou (ditulis dengan 2 huruf kanji yang sama 紅葉, tapi dibaca dengan lafal berbeda) adalah sebutan Jepang untuk daun maple, secara harfiah diartikan daun merah. Momijigari sendiri diartikan secara harfiah sebagai memburu daun merah (gari atau kari 狩り berarti berburu) adalah aktivitas di musim gugur melihat pemandangan di area yang penuh pohon maple dengan daunnya yang berubah warna menjadi merah. Continue reading