Kayak jaman Showa

news_thumb_unita

Berikut ini adalah percakapan antara seorang teman bernama W dengan wakil chief restoran yang kami panggil Orang Utan (karena cerewet dan nyebelin) dan kepala tukang masak Ryorichou. Tentu saja percakapan dengan menggunakan bahasa Jepang dan aku menerjemahkannya dengan bebas. Percakapan terjadi disela-sela waktu kerja arubaito (part-time) dalam restoran yang memang agak sepi dari pengunjung pada hari minggu (malam senin).

Orang Utan (OU): Serius nih mau nikah sama pacar kamu tahun depan?

W: Serius koq!

OU: Emangnya mau nikahnya dimana? Disini (Jepang maksudnya)?

W: Nggak. Rencananya mau ngadain di Indonesia, setelah selesai baru balik ke Jepang lagi.

Ryorichou (R): Lha? Memangnya sekarang pacar kamu tinggal dimana?

W: Tinggal di Jepang juga, tapi beda kota.

R: Ooo… Gak tinggal barengan yah.

W: Ya nggak lah, belum suami istri koq.

OU: Orang Indonesia kalau belum resmi nikah nggak boleh tinggal bareng yah?

R: Tapi khan, kalau mau main (make love maksudnya) tetap aja harus nyari tempat lain.

W: Hubungan seks diluar nikah nggak boleh tuh.

OU dan R: Eeehhhh?????

R: Udah kayak jaman Showa aja.

W dan Aku: ???????????

Keterangan:

Showa Jidai (jaman Showa) adalah jaman masa pemerintahan kaisar Showa (di dunia internasional lebih dikenal dengan nama kaisar Hirohito) pada tahun 1926-1989. Pada jaman kaisar Akihito memerintah seperti sekarang, di Jepang disebut dengan jaman Heisei (mengacu pada nama kaisar Heisei sebagai gelar kaisar Akihito). Pada jaman Showa, Jepang mengalami berbagai macam peristiwa dari invasi militer ke negara asia lain, perang pasifik, kejatuhan bom atom, kebangkitan ekonomi yang luar biasa, hingga menjadi negara yang seperti sekarang ini.

Fornikasi (Fornication) di Jepang sudah menjadi hal awam (termasuk kumpul kebo), malah cukup banyak wanita dewasa membawa kondom didalam tas ketika bepergian dengan pacarnya untuk mengantisipasi hal-hal yang diinginkan. Dari hasil percakapan dengan beberapa teman, banyak anak-anak SMP memilih untuk berhubungan sex sebelum masuk SMA demi menghindari ijimeru (bully) dari senior. Masalah ijimeru di sekolah-sekolah Jepang cukup mengkhawatirkan, walaupun jaman sekarang sudah jauh berkurang akibat campur tangan pihak sekolah dengan bantuan pemerintah.

Hubungan seks dengan wanita dibawah umur termasuk kriminal di Jepang. Kebanyakan prefektur (setingkat propinsi) menetapkan 18 tahun sebagai batasan dibawah umur. Salah satu kasus heboh yang pernah terjadi adalah kasus pemain sepak bola Naoya Kikuchi yang ditangkap akibat berhubungan intim dengan remaja umur 15 tahun.

Menikah dan bercerai di Jepang termasuk proses yang gampang. Tinggal daftar ke kantor catatan sipil (Kon-in todoke), isi formulir dibubuhkan cap stempel kedua belah pihak, lalu bubuhkan pula cap 2 orang saksi (siapa saja, tidak harus keluarga) dan yang pasti gratis. Prosedur bercerai juga gampang dan tak jauh beda dibanding dengan menikah. Mungkin yang menjadi pertimbangan untuk menikah adalah masalah tanggung jawab dan keinginan untuk punya anak. Memiliki anak tanpa ikatan pernikahan yang sah memang tidak melanggar hukum negara, tapi norma masyarakat masih bisa menghukumnya dengan gosip dan omongan tak enak oleh masyarakat di lingkungan sekitar.

22 thoughts on “Kayak jaman Showa

    • @itikkecil
      Dalam kasus Naoya Kikuchi (22 tahun pada saat kejadian) yang ditangkap adalah Kikuchi, bukan cewek yang berusia 15 tahun itu. Menurut anda sendiri mengapa cewek yang 15 tahun itu tidak ditangkap? Menurutku, dibawah umur disini berarti masih belum bisa mengambil keputusan sendiri. Jadi partner yang dewasa dianggap mempengaruhi dan mengajak pasangan yang dibawah umur untuk berhubungan seksual. Di Indonesia sendiri ada juga koq peraturan tentang berhubungan seksual dengan dibawah umur, cuma aku sendiri kurang paham dengan hukum dan perundangannya.

      *walaupun sebenarnya sih, kalau gak ketahuan gak papa koq:mrgreen:

      • @ando kun
        itu yang jadi masalahnya…. kenapa kalau pria dewasa lantas ditangkap dan kalau sama-sama di bawah umur dibiarkan saja… atau mungkin juga karena tidak ketahuan ya…😆
        AFAIK, di Indonesia belum ada aturan secara tegas yang melarang orang dewasa berhubungan seks dengan anak di bawah umur. wong Syekh Puji saja bisa bebas kok…..

  1. kalau di Indonesia, urusan menikah itu ribeeet banget. dan capek. terutama yg urusan surat2, trus belum lagi kalau mesti ngurusi resepsi sendiri. males banget deh. kalau urusan cerai nggak tahu deh. gak punya pengalaman soalnya😀

    • urusan cerai nggak tahu deh. gak punya pengalaman soalnya😀

      Aku malah belum punya pengalaman dua-duanya baik nikah maupun cerai, cuma bisa manyun denger cerita orang😳
      Resepsi pernikahan di Jepang gak kalah ribet koq, malah makan banyak biaya. Padahal tamu yang datang bayar makanan mereka sendiri-sendiri tuh, terlepas dari kado maupun amplopan khusus buat kedua mempelai (kalau di Indonesia justru bisa ikut makan gratisan). Rata-rata biaya resepsi pernikahan orang Jepang (resepsi biasa bukan pesta mewah) bisa mencapai 2-4 juta yen. Kalau di rupiahkan dengan kurs 1 yen = Rp. 100 , berarti………

    • @Nic Hwa
      Ah, sorry kalau gitu. ini penjelasan lebih lanjut: Leader tukang masak udah umuran 60-an tahun, jadinya dia ngerti kalau jaman Showa pertengahan (1960-1970an), dimana orang Jepang masih kolot soal hubungan seks diluar nikah. Mulai tahun 1980an, gaya hidup anak muda Jepang mulai berubah (termasuk prilaku seksual mereka yang lebih bebas).

      *Tahu sendiri lah kalau ngobrol sama angkatan tua, alam pikiran mereka rada beda dibanding dengan kita-kita*

  2. Yang saya nggak ngerti adalah hubungan antara “Hubungan seks dengan wanita dibawah umur” dan “Udah kayak jaman Showa aja.”😕
    Maksudku, di negara manapun hubungan seks dengan wanita dibawah umur emang dilarang kan? Walopun batas bawahnya beda2 di tiap negara. (Jaman Showa dulu umur minimal seks legal tuk cewek berapa?) Atau maksudnya hanya hubungan seks dengan pria dibawah umur yang dibolehkan?:mrgreen:

    Atau si W (atau pacarnya?) yang masih dibawah umur?

    • @jensen99
      Hmmm… nampaknya kesalahan ada dipihak penulis, hingga para pembacanya salah tafsir. Maksud dimasukkannya hal tentang hubungan seks dibawah umur hanya untuk konfirmasi perbedaan perilaku seks jaman Showa dan Heisei (salah satunya akibat merebaknya genre Lolicon). Coba baca dikit link wikipedia tentang child pornography di Jepang walau gak terlalu detail. Disitu paling tidak terlihat jelas kalau perangkat hukum jaman Showa kurang tegas dalam mengatasi kasus pelanggaran hubungan seks dibawah umur.

    • @Zephyr
      Kalau salah satu dari pasangan adalah WNA alias orang asing yg menikah dengan WN Jepang, prosesnya bakalan jadi rumit😛
      Misalkan saja saya ingin menikah dengan Yuika-chan😳 , pihak kantor catatan sipil bakalan curiga kalau saya niat menikah saya hanya karena ingin mendapatkan ijin tinggal di Jepang dgn alasan ikatan perkawinan dengan WN Jepang. Kasus seperti ini banyak terjadi koq, dimana WNA membayar WNJ untuk membuat surat nikah spy bisa tinggal legal di Jepang untuk bekerja mencari uang.

      Kalau pasangan WNJ-WNJ menikah, tentu ikut prosedur standar. Begitu pula dengan pasangan WNA-WNA (tapi yg ini buat apa? toh kalau kembali ke negara asalnya, surat nikah Jepang jadi tak berguna)

    • Situ mau gitu repot2 bikin surat nikah pake bahasa jepang, lalu pulang ke Indonesia minta diterjemahkan dan dibikin surat nikah berbahasa Indonesia, lalu di legalisir buat bukti kalau itu sah?😆
      Emangnya mau kayak lulusan sarjana dari luar negeri, kalau mau diakui gelarnya harus minta ijin pake gelar yg di-Indonesia-kan lewat penyetaraan gelar di depdiknas?:mrgreen:

      Hahahaha….. setahuku sih, kalau sesama orang Indonesia nikah di Jepang juga, mereka pasti minta dokumen resmi dari kedutaan (blanko dari kantor catatan sipil kali yah?) buat bukti surat nikah resmi menjadi suami-istri atau semacamnya. Malah ada kenalan orang RRC dan Korsel yg nikah sesamanya, tetap aja mereka lbh milih pulang ke nagaranya (mgkn krn jaraknya lbh dekat)

  3. Hubungan seks dengan wanita dibawah umur termasuk kriminal di Jepang.

    berarti kalo dengan laki-laki di bawah umur gapapa?😈

    *mencari oneechan cakep*
    (ninja)

  4. huwaaaa… ando-kun.. tema ini sangat menarik… pas iseng2 googling nyari info tentang jaman heisei gak taunya masuk ke sini.. ehehehe dan gag nyesel! ^_~

    soalnya jadi tau hal yang menambah khazanah pernihon-an xixixxi…

    tadinya iwip kira nikah ma cere di japan (kalo nikah WNJ ma WNJ) itu susah, ternyata ho ternyata… mudah😄

    o iyah, ando-kun… tau sesuatu tentang istilah “HEISEI JUMP” ga?

    Heisei jump yang selain boyband jebolan Jhonnys Entertainment tentunyah😄

    ada makna khusus kah dibalik istilah “Heisei Jump?” ada kaitannya ma perekonimian ato tingkat kemajuan negara jepang mungkin?

    hihi gag sopan yah? nggak kenal udah nanya macem2😄 *tepuk2 kpala sndiri*

    mohon dijawab pertanyaannya *tunjuk2 atas*

    Arigatou gozaimasu…. (^O^)

    • (kalo nikah WNJ ma WNJ) itu susah, ternyata ho ternyata… mudah

      Mudah dalam artian, pemerintah Jepang tak mempersulitnya (kecuali tentunya nikah dengan turunan Jepang atau orang asing yg punya status permanen resident). Kalau pernikahan tsb tak berpengaruh terhadap Jepang, buat apa dipersulit? Yang kumpul kebo aja banyak koq:mrgreen:

      tau sesuatu tentang istilah “HEISEI JUMP” ga?

      Nggak tau. Mungkin maksudnya yang ini? atau malah Bubble Keiki kali?

      • huwaaaa… sankyuuuu atas jawabannya.. ^^

        xixixi… bener juga, kalo pernikahan itu tidak berpengaruh pada Jepang buat apa dipersulit yah… toh negara juga perlu penerus bangsa (baca: baby2 yang dihasilkan dari pernikahan itu* kehkehkeh…

        tapi dulu waktu mata kuliah nihon seikaku iwip sempet denger katanya di sana kalo mo cere susah.. (cere wnj ma wnj) tapi itu kurikulum lama kali yah… kalo skarang mah udah gak susah lagi…

        sankyuu juga buat yang “Heisei Jump” nyah… kalo link yang p’tama (yang Hay! Say! Jump!) wkwkwk itu mah iwip udah tau.. XDD para adek2 ikemen~ adek2nya KAT-TUN (atashi no daisukina aidoru)

        nah kyknya jawaban yang iwip perlu ada di link yang ke-2.. ^^

        sankyuuu Ando-kun…

        o iyah.. salam kenal juga…

      • tapi dulu waktu mata kuliah nihon seikaku iwip sempet denger katanya di sana kalo mo cere susah.. (cere wnj ma wnj)

        Tunggu…. saya nggak ngerti nih maksudnya. Bisa dijelaskan disini, yg dimaksud susah cerai itu dalam hal apa? secara hukum sih gampang, jauh lbh gampang dibanding catatan sipil Indonesia yang pakai hukum talak (bagi yg muslim) dan juga tidak ada istilah cerai (bagi yang katolik).
        Apakah maksudnya susah secara keuangan buat harta gono gini? Kalau itu sih urusan antara pribadi yg mau bercerai, bukan urusan hukum Jepang,. Lagian kalau soal harta gono gini, di negara manapun maupun suku bangsa apapun pasti ribut lah. soal duit gitu loh!

      • bukan masalah harta gono gini, maksudnya proses/tahapan percerainnya susah atau mungkin bisa dibilang ribet.. tapi nyatanya malah kebalikannya ya?

        o iya, Ando-kun, persentase perceraian di Jepang termasuk kategori besar atau kecil? *just wondering, korban broken home ^_^;*

      • @iwip
        maaf, soal ini saya sendiri bukan ahlinya. Lagi pula data statistik kayak beginian bisa dgn mudah dicari lewat internet. Mungkin versi non resminya banyak bertebaran dimana2 via internet (kurang valid), tp versi data statistik resmi pemerintah Jepang bisa di cari koq. contohnya di situs ini

  5. 39 for the link ^_^

    Iwip suka Jepang. Jadi, sgala info tentang Jepang gak tau knapa serasa menarik aja. dari hal kecil-besar, dari hal baik-buruknya ^_^;

    aratamete, arigatou…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s