Aisatsu = Basa-basi

Bagi yang pernah belajar dikit-dikit (apalagi banyak) bahasa Jepang mungkin cukup familiar dengan kata aisatsu – 挨拶. Kalau mengacu pada terjemahan kamus, aisatsu berarti sapaan/salam alias greeting. Semakin lama tinggal di Jepang dan bergaul sehari-hari dengan orang Jepang dengan bahasa mereka, aku makin merasakan bahwa aisatsu bagi orang Jepang bukan hanya sapaan, melainkan basa-basi. Basa-basi bagi mereka sangat penting, malahan bisa dibilang kalau orang jepang kelewatan dalam soal basa-basi dibandingkan orang Indonesia pada umumnya. Seperti kata temanku, “siga urang Sunda.” atau lebih tepatnya lagi seperti orang Sunda (dan tentu saja Jawa) non-proletariat. O iya, aku berasal dari Sumatera yang dalam kehidupan sehari-hari jarang berbasa-basi, bahkan dengan orang tua sendiri lebih suka bicara apa adanya to the point tanpa harus bicara berputar-putar terlebih dahulu.

Selain ucapan aisatsu standar berdasarkan waktu seperti Ohayo Gozaimasu (selamat pagi), Konnichiwa (selamat siang) dan Konbanwa (selamat malam), ada 3 hal yang sangat sering diucapkan orang Jepang dalam kehidupan sehari-hari yang kudengar yaitu kansha (thanks), ayamaru (sorry) dan tanomu (beg). Tentu saja masih banyak aisatsu lain yang sulit diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia karena tak ada kebiasaan mengucapkan Otsukaresama, Gochisousama, dll dalam kehidupan sehari-hari orang Indonesia. Tulisan ini hanya sekedar pengetahuan betapa pentingnya berbasa-basi dengan aisatsu bagi orang Jepang, terutama bagi yang tertarik dengan kehidupan sosial di Jepang.

1. Kansha
Kata terima kasih memang sudah sangat biasa diucapkan dimanapun, bukan hanya di Jepang saja. Tapi kadang-kadang hal yang biasanya tidak terlalu penting untuk mendapatkan ucapan terima kasih bagi orang non-Jepang, orang Jepang malah mengucapkan arigato gozaimasu (terima kasih banyak) atau minimal doumo (ma kasih) atau sankyuu (maksudnya tengkyu). Karena hal ini merupakan kebiasaan, agak sulit bagi orang Indonesia untuk mengikuti gaya aisatsu seperti ini, yang selalu berterima kasih kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Benar-benar kalimat basa-basi nomer satu.

2. Ayamaru
Soal minta maaf, aku merasakannya sendiri ketika melakukan kesalahan dalam kerja part-time. Minta maaf bukan hanya sekali, tapi kalau bisa minimal 2 kali yaitu ketika melakukan kesalahan dan ketika berpisah dengan orang yg dimintai maaf (dan kalau bisa, minta maaf lagi ketika bertemu kembali). Ketika pulang kerja part-time, aku dipanggil chief restoran tempat aku bekerja dan diomeli habis-habisan karena tidak minta maaf padanya sewaktu mau pulang. Memang ribet, tapi orang Jepang umumnya kalaupun marah dan kita mengikuti standar aisatsu meminta maaf mereka, pada umumnya mereka akan melupakannya esok hari. Gaya minta maaf juga berbeda-beda berdasarkan status, mulai dari yang biasa dengan ucapan Gomen atau Gomen Nasai, yang cukup sopan dengan Sumimasen, sangat sopan dengan Shitsureishimasu, hingga super sopan Moushiwake Gozaimasen. Karena minta maaf diucapkan hanya karena melakukan kesalahan, tentu saja tak bisa menyaingi seringnya terima kasih diucapkan untuk berbasa-basi. Tapi ingat, salah sedikitpun sebaiknya meminta maaf lebih dari satu kali.

3. Tanomu
Kalau anda berkenalan dengan menggunakan bahasa Jepang, kalimat ini sering kali diucapkan, “Onegaishimasu!” yang diterjemahkan dengan bebas sebagai “mohon bantuannya”. Lagi-lagi ucapan memohon juga berbeda berdasarkan status, dari yang biasa dengan Tanomu, Onegai dan Yoroshiku, yang sopan dengan Onegaishimasu hingga yang sangat sopan dengan menggabungan kedua kata Yoroshiku Onegaishimasu. Sewaktu bekerja di restoran, ucapan ini menjadi ucapan nomer dua yang paling sering kugunakan. Bahkan untuk minta agar rekan kerja mengantar tamu ke meja pesanannya juga mengucapkan Onegaishimasu. secara berpikir Indonesia, “itu khan emang udah tugas waiter, ngapain mohon-mohon segala?”

Anda yang hidup di Jepang tak mau ber-aisatsu? Anda bisa dicap sebagai manusia tak berbudaya, tak sopan, tak beradab, dll.

NB.
Anak-anak di Jepang dibesarkan dalam kondisi saling ber-aisatsu berbasa-basi satu sama lain sebagai bagian dari respek terhadap struktur sosial berorientasi vertikal Jepang yang sangat ketat. Bisa dimaklumi kalau hormat terhadap orang tua dan guru merupakan suatu keharusan, akan tetapi sistem senpai (senior), doukyuusei (satu derajat) dan kohai (junior) dalam sekolah dan kerja terlihat ribet dan kadang menimbulkan masalah ijimeru (bully). Aku merasakannya dan mengamatinya ketika kuliah di Jepang. Walaupun hanya berbeda satu tahun/angkatan, namun sikap terhadap senpai/kohai terlihat jelas termasuk basa-basi kohai dengan menggunakan ucapan kalimat sopan dan aisatsu kepada senpai (bisa dibayangkan bagaimana perasaan anak yang tidak naik kelas). Bandingkan dengan di Indonesia, walaupun beda angkatan/umur hingga 5 tahun, tetap saja bisa bersikap seperti teman sederajat.

Gambar diambil dari sini

25 thoughts on “Aisatsu = Basa-basi

  1. Anak-anak di Jepang dibesarkan dalam kondisi saling ber-aisatsu berbasa-basi satu sama lain sebagai bagian dari respek terhadap struktur sosial berorientasi vertikal Jepang yang sangat ketat

    I demand equality.:mrgreen:

    Ah kita kan juga ngobrol biasa toh Ando-kun, walaupun lahir di dekade yang berbeda.😆 *kabur ah*

  2. karena itu, pernah ada yg bilang kalo orang jepun itu lebih ‘njawani’ (dalam hal basa-basi) daripada orang jawa😆

    Ah kita kan juga ngobrol biasa toh Ando-kun, walaupun lahir di dekade yang berbeda.😆 *kabur ah*

    ckckck… dasar yg korupsi umur🙄
    (ninja)

  3. Ah, benar. Pengalaman waktu jadi volunteer bagi orang jepang itu, tiap mau pulang, berkali-kali mereka mengatakan…. “Otsukaresama”

    Sampe bosen sendiri dengernya.😛

    Sebenarnya bingung sih, waktu mereka mengatakan kalimat yang sama berkali-kali, saya mikirnya “kenapa mereka sering kali bilang terima kasih ya? biasa aja kali…” gituu…:mrgreen:

    • @Arm
      Hmmm… kayaknya istilah njawani kurang tepat.
      Mungkin istilah njepuni lbh tepat😆

      @Snowie1
      Hehehehe….
      Setelah selesai kasih komentar disini juga boleh mengucapkan, “Otsukaresama….”

      …mereka mengatakan kalimat yang sama berkali-kali, saya mikirnya “kenapa mereka sering kali bilang terima kasih ya? biasa aja kali…” gituu…:mrgreen:

      Nah itu!!!! Itu dia!!!!
      Untuk hal yg udah biasa atau udah jadi hal yang lumrah juga masih ngasih ucapan terima kasih. Kadang2 rada sebel juga dengan basa basi sopan yg kelewatan. Jangan2 kalau ada orang Jepang baru pertama kali keluar negeri dan berkunjung ke Indonesia liat tukang pungut puntung rokok, mungkin dia pikir ,”Wahhhh, ada volunteer pemungut sampah juga di Indonesia, ruar biasa!” dan ada kemungkin bakalan dikasih salam dan ucapan terima kasih😆

      @Snowie2
      Sori deh, review Conan 13 ada di blog review film dan musik. Blog yang ini masih relatif baru buat gantiin blog ngalor ngidulku yg di blogspot

  4. Setelah selesai kasih komentar disini juga boleh mengucapkan, “Otsukaresama….”

    dan saya pun kayaknya juga dapat ucapan serupa setelah ngasih komen khann…

    Sori deh, review Conan 13 ada di blog review film dan musik. Blog yang ini masih relatif baru buat gantiin blog ngalor ngidulku yg di blogspot

    oo… Saya gak perhatiin, karena pas klik link yang ada di blog saya, trus, baca tulisan “cerita bego” (itu kan artinya?) itu di header, kirain di sini. Lupa ngecek ke yang satunya lagi.:mrgreen:

    BTW, minta maafnya kudu 2 kali minimal tuh ke saya…😈

    • baca tulisan “cerita bego” (itu kan artinya?) itu di header, kirain di sini. Lupa ngecek ke yang satunya lagi.:mrgreen:

      sedikit pelajaran bahasa Jepang:
      Baka berarti bego, tapi baka-bakashi berarti omong kosong. Bentuk perulangan kata belum tentu sama dengan bentuk satu kata-nya, hal yang sama juga berlaku buat B. Indonesia koq:mrgreen:
      Kalau diperhatikan dengan “seksama”, header 2 blog-ku beda koq.

      Blog 1 berisi review
      Toumei Ningen Dai Ikki: Dokodemo Bakabakashi Hanashi.
      (Manusia Transparan Fase 1: Cerita omong kosong dimana saja)
      Blog 2 berisi tulisan macam-macam
      Toumei Ningen Dai Niki: Itsudemo Bakabakashi Hanashi.
      (Manusia Transparan Fase 2: Cerita omong kosong kapan saja)

      ya udah: Maafkan saya dua kali!!!!

  5. bahasa jepang memang cukup familir di telinga, beberapa teman ada yang bisa, lebih familiar lagi karena kebanyakan nonton film/serial Jepang.🙂

    mengenai rasa hormat menghormati, atau… istilahnya sopan santun, saya beberapa menyukainya, misal… tiap masuk rumah,meski rumah sendiri sandal/sepatu harus di lepas (di Indonesia, sudah banyak yang di pakai saat masuk rumah) kalau bertemu ; saling membungkuk, atau… saat nyampe rumah mesti bilang : aku pulang… !🙂
    adat yang seperti diatas, kurang lebih sama dengan di Korea.🙂

  6. *baca penjelasan pelajaran bahasa Jepang*
    *catat*

    Oh. Sensei… Hontou ni Arigatou gozaimashita.
    Shitsurei Shimashita. m(- -)m

    BTW, Nihongo no koto ga shitsumon arukereba, shitsumon shite mo ii? *bener gak ya bunpo nya?*😛

    • @zephyr
      Tipe rumah Jepang beda dengan tipe rumah Indonesia sehingga soal buka sepatu atau tidak, itu bukan hanya dipengaruhi budaya tetapi juga tipe tempat tinggal. Rumah tipe Jepang memiliki ruang kecil bernama genkan dan berlantai tatami. Masa harus nginjek tatami dgn sepatu? Itu sih kurang ajar namanya👿
      Rumah Jepang modern (yg ikut gaya eropa jg ada) kebanyakan berlantai ubin dan kadang kala masuk rumah beserta sepatu koq.

      kalau bertemu ; saling membungkuk, atau… saat nyampe rumah mesti bilang : aku pulang… !🙂

      merasa dejavu dgn doraemon dan nobita😆

      @fety
      iya bu🙂

      @Angga
      Saya juga bingung mau jawab apa….
      Tapi komentar anda saya sambut lho🙂

      @Snowie
      Bunpo dan bunsho nya salah, kotobanya juga ada yg salah😈
      arukereba -> arukeru -> aruku = jalan
      btw, saya bukan sensei koq, tidak seperti beliau😳

      @chielicious
      Teman saya yg orang sunda totok koq yg bilang, bukan saya lho👿

  7. arukereba -> arukeru -> aruku = jalan

    areba tte, dou omoimasu ka?

    *caba lagi*
    Shitsumon ga areba, kite mou ii?

    btw, saya bukan sensei koq, tidak seperti beliau😳

    😕
    Urusa! *ngambek*

    • Shitsumon ga areba, kite mou ii?

      Lumayan koq🙂 cm salah di kite doang.

      *semoga komputernya bisa baca tulisan jepun*
      kite dgn i pendek
      来て, kata dasar kuru artinya datang
      着て, kata dasar kiru artinya memakai (baju misalnya)

      kiite, dgn i panjang
      聞いて, 聴いて, kata dasar kiku artinya tanya/dengar.
      利いて、効いて, kata dasar kiku artinya baik, manjur (buat obat)

      Kadang aku sebal dgn bahasa Jpg yg penuh dgn pemakaian kanji, tp kadang aku ngerti kalau pakai kanji malah bikin bacaan lbh mudah dimengerti. Contohnya kalau ditulis dgn romaji, artinya bisa macam-macam tergantung konteks kalimat. belum lagi panjang pendek dan naik turun nada pengucapan. dgn adanya kanji, kita lsg tau maksud dgn kata yg dipakai.

      Saya ini pelajar dan pelayan restoran (lihat status saya), bukan sensei. suwer🙂

  8. Kadang aku sebal dgn bahasa Jpg yg penuh dgn pemakaian kanji, tp kadang aku ngerti kalau pakai kanji malah bikin bacaan lbh mudah dimengerti.

    Watashi mo sou omou yo.
    Kalau membacanya lebih parah. Beda pasangan, beda bacaan.

    Tapi, enaknya, memang, walau saya pemula, saya tidak banyak masalah untuk mengartikan tulisan kanji — tentu saja satu dua kanji. seperti yang ada di text lagu, bukannya yang ada di koran atau artikel panjang bahasa jepang tentu saja–dengan catatan, kanji tersebut tersedia di kamus yang saya punya), tinggal coba hitung garisnya, trus lihat kamus deh.😛

    Tapi, ya itu tadi… nyangkut di grammarnya. Masih jauh dari paham saya perubahan-perubahan kata dalam bahasa Jepang itu.:mrgreen:

    tokorode, explanation koto ga, Hontou ni arigatou shimashita. Shitsurei shimasita ne.😛

    Saya ini pelajar dan pelayan restoran (lihat status saya), bukan sensei. suwer🙂

    Ano… siapapun yang ke pada siapa kita belajar atau mendapatkan pelajaran, boleh di panggeil Sensei, to iu da ne…:mrgreen:
    Dou omou no Sensei?😆

    • @Snowie

      Tapi, ya itu tadi… nyangkut di grammarnya. Masih jauh dari paham saya perubahan-perubahan kata dalam bahasa Jepang itu.:mrgreen:

      Grammar bhs Jepang yg rumit dan pake bentuk sopan2an jg masih bikin aku pusing koq. asli deh, gak cocok jd sensei.

      Ano… siapapun yang ke pada siapa kita belajar atau mendapatkan pelajaran, boleh di panggeil Sensei, to iu da ne…:mrgreen:

      Wah, situ yg sensei beneran malah manggil saya sensei. bener2 dunia udah kebalik😆
      *kalo gitu saya harus manggil semua teman Jepang yg ngasih tau kotoba dan grammar baru sebagai sensei dong🙄

  9. Begitu nemu blog ini, saya langsung ngakak. Terpampang besar “いつでも馬鹿馬鹿しい話” sebagai judul blog😆

    Biarpun sudah menginjak tahun ke-10 semenjak berinteraksi dengan bahasa Jepang, lalu orang Jepang, dan kemudian perusahaan Jepang, saya tak juga kunjung merasa nyaman. Kalo ditanya kenapa juga masih bertahan di perusahaan Jepang tempatku kerja sekarang, karena ya cuma ini keahlianku :lol しかたがないね。。。。

    Awalnya saya sampai eneg dengan mereka yg minimal sampai 4 kali ayamaru dalam sehari. Tapi jangan salah, giliran saya yg melakukan kesalahan, saya baru merasakan bagaimana sulitnya melakukan ayamaru dengan benar sesuai cara mereka. Nunduk 90 derajat, mencetuskan moshiwake gozaimasen, sampai ngomong ‘ni do to shimasen’ *tepok jidat* Kayaknya kok gak rela ya…, padahal yg salah diri sendiri *sigh* Ando kun sendiri, gmn rasanya waktu hrs minta maaf?

    • gmn rasanya waktu hrs minta maaf?

      ooo.. yg pasti saya tidak akan mengucapkan ‘ni do to shimasen’ krn itu udah kesalahan yang kedua kalinya😆
      Saya malahan lebih merasa terganggu dgn ucapan terima kasih yg bertubi-tubi, toh minta maaf khan biasanya kalau ada kesalahan doang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s