Mahasiswa Jepang dan beasiswa

Bagi mahasiswa asing yang sedang melanjutkan pendidikan S1, tingkat master ataupun doktoral di universitas-universitas Jepang, memperoleh beasiswa bukanlah hal yang mudah walaupun bukan hal yang terlampau sulit. Asalkan mau berusaha dan lintang pukang cari sana sini, beasiswa buat mahasiswa asing cukup banyak bertebaran untuk diperebutkan. Setelah anda mengajukan diri untuk mendapatkan beasiswa, sang pemberi dana akan melakukan beberapa tes untuk menguji kelayakan mahasiswa asing bersangkutan untuk menerima duit gratisan. Konsekwensi setelah mendapatkan beasiswa tentu saja ada. Biasanya setelah satu tahun harus membuat laporan penelitian dan mempresentasikan apa yang diteliti setelah satu tahun (bagi S2 dan S3) atau memperlihatkan nilai mata kuliah yang bagus (bagi mahasiswa S1). Hal ini belum ditambah dengan gakuhi menjo (keringanan biaya kuliah) dari hanya bayar 50 persen hingga sama sekali gratis alias bayar kuliah 0 yen.

Akan tetapi, tahukah anda bagaimana dengan status mahasiswa Jepang untuk mendapatkan beasiswa di negaranya sendiri? Mahasiswa lokal yang ingin melanjutkan kuliah juga memperoleh beasiswa untuk membiayai kuliahnya, hanya saja bukan uang gratisan seperti beasiswa untuk siswa asing. Uang beasiswa yang diterima merupakan uang pinjaman dari berbagai macam perusahaan Jepang yang memang mengalokasikan dana untuk biaya pendidikan tinggi generasi muda Jepang. Yang namanya uang pinjaman berarti tidak gratis harus di kembalikan dengan perjanjian pembayaran cicilan oleh sang penerima beasiswa jika mereka telah lulus dan bekerja (dan uang tersebut juga akan dipakai kembali oleh generasi berikutnya). Intinya sih bagi orang Jepang yang ingin kuliah dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang universitas, masalah biaya tidak menjadi persoalan, yang penting ada keinginan kuat untuk berusaha dan belajar. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah perusahaan lokal di Indonesia tidak ingin membantu? ataukah para mahasiswa peminjam tak bisa dipercaya untuk mengembalikan dana pinjaman?

NB. Special thanks to Shuuhei who share his experiences and opinions about scholarship for foreigner and Japanese student. I Wish you can graduate and able to pay the loan as soon as possible.

Gambar diambil disini. Bayangkan, sampai untuk mendapat beasiswa juga dibuat buku panduannya dan dijual.

20 thoughts on “Mahasiswa Jepang dan beasiswa

  1. Bayangkan, sampai untuk mendapat beasiswa juga dibuat buku panduannya dan dijual.

    😆
    Ikutan milis beasiswa@yahoogroups ga? Dulu pernah ada orang di milis yang ingin menulis buku tentang pencarian beasiswa dan menjualnya. Keesokan harinya ada orang lain yang membalas dengan sinis, bahwa seandainya saja buku tersebut tidak dijual dan dibagikan secara gratis, ini akan lebih berguna. Toh sebenarnya info di internet banyak dan lengkap, cuman orang sering bingung di mana carinya (pengalaman pribadi waktu masih newbie).😀

    • @lambrtz
      Sudah menyerah dgn nama Hwa????
      terlalu banyak milis di yahoogroups yg kuikuti (termasuk milis berita lab kami malah) sampai bikin penuh mail gratisan dan udah banyak yg ku-unsubscribe, tp belum pernah ikutan milis beasiswa tuh.
      *newbie-nya newbie*

      IMHO, dibagi gratis jg tak masalah asalkan ganti ongkos cetaknya. Atau kalau mau lbh hemat bikin versi pdf😛
      Situ khan tidak berstatus newbie lagi, kasih tips khusus dong buat para junior (mumpung situ masih pakai bahasa berbau english). Kalau nanya sama saya, yg dikasih paling link tulisan cakar ayam.

    • Nah, itu maksud saya, bikin versi PDF. Ada teman saya yang mbikin tips-tips di sini, dia bikin jadi PDF. Kalau gini caranya kan enak, pembaca cuman perlu mengeluarkan beaya yang jumlahnya ga sampe ongkos buat ngenet 1 jam.:mrgreen:

      Saya dulu sudah bikin juga di sini, tapi setelah dibaca-baca kurang banyak entrynya, dan ada yang kurang akurat. Harusnya bisa ditambah lagi. Mau cari waktu kok susah. Nanti mungkin setelah selesai PhD.😕

  2. kalo misal ngga dapet2 kerjaan dan belom bisa ngeganti sampai waktu yang dijanjikan, apa terus ditungguin ama perusahaannya?😕

    @ lambrtz :
    kalo mau bikin panduan gitu, request yg di eropa:mrgreen:😎

    • @lambrtz
      ditunggu versi lengkap dan akuratnya:mrgreen:

      @Arm
      orang Jepang punya skedul pendidikan dan rekrutmen teratur. Para pelajar (SMU dan mahasiswa) biasanya sudah cari kerja dan ngelamar sana sini satu tahun sebelum lulus dan perusahaan2 Jepang juga buka lowongan per periode setahun sekali (kecuali butuh pegawai dadakan). Sangat jarang ada orang Jepang nganggur gak ngapa2in setelah lulus. Memang ada kasus tertentu seperti krisis ekonomi kayak sekarang yg bikin banyak perusahaan batal merekrut pegawai dan malah PHK karyawan yg udah ada.

      Sepertinya penggantian biaya sudah pasti dilakukan (walaupun kemungkinan molor ada). Gak dapat kerjaan tetap, bisa arubaito koq dgn pendapatan yg bisa aja lbh tinggi dr pd gaji karyawan tetap (soalnya gak dipotong macem2).

  3. Oh kalau begitu modelnya sama dengan beasiswa lokal sini. Di malaysia local students-nya tidak diberikan beasiswa, tapi diberikan loan yang namanya PTPTN. Hampir semua teman-teman malaysia saya mengambil loan ini. Di ganti ketika mereka kerja dan seringkali bisa sampai 10 tahun. Awal-awal saya dan teman-teman indonesia aneh melihat mereka, soalnya biaya kuliah mereka sudah 4x lebih murah ketimbang biaya kuliah mahasiswa internasional, masih pula ambil pinjaman. Apa ga takut di kejar-kejar selama hidupnya? Dan seringkali uang loan itu justru malah dipakai buat belanja barang2 merek yang ndak penting. Atau buat kredit mobil.
    Di sisi lain saya melihat ini bagus, teman saya yang orang tuanya cuma kuli bangunan ketujuh anaknya bisa kuliah karena loan ini. Tapi di sisi lain, ini jadi menimbulkan kemalasan buat warganya. FYI, yang boleh apply loan ini cuma Bumiputera saja.😀

    • @grace
      Seperti yang kutulis lewat pesbuk, biaya kuliah mahasiswa Jepang dan asing sama sehingga tak ada istilah kecemburuan sosial (kecuali soal iri beasiswa yg mahasiswa asing dpt gratisan).
      Soal sikap penerima beasiswa memang berbeda. Anak2 muda Jepang yg lulus SMU biasanya sudah mulai mandiri. Walaupun masih ada yg tinggal bareng ortu (numpang makan dan tidur), tp biaya sehari-hari sudah menjadi tanggungan sendiri alias tidak dapat uang cash dari ortu lagi. Bagi yg kuliah diluar daerah asal, biaya kebutuhan sehari-hari termasuk tempat tinggal dicukupi sendiri lho. Mereka terbiasa kerja keras untuk diri sendiri, sehingga tak heran kebanyakan anak2 muda Jepang kerja part time (arubaito) untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Yang pasti, umumnya biaya kuliah mereka dibayar dgn uang milik sendiri (bukan uang orang tua), sehingga mereka benar2 butuh pinjaman.

      Anak2 muda Jepang juga sangat konsumtif dan suka jalan2 koq, hanya saja duit buat beli barang ber-merek, kredit mobil dan main (termasuk jalan2 ke luar negeri seperti wisata ke Bali, Thailand, dll) menggunakan duit hasil mereka arubaito. Gak ada istilah uang saku dari orang tua setelah mereka lulus SMU. Tentu saja kasusnya mungkin berbeda untuk anak orang kaya (“kaya” di Jepang berarti benar2 kaya raya), walaupun untuk anak orang kaya juga tergantung sikap orang tuanya.

      FYI, yang boleh apply loan ini cuma Bumiputera saja.

      O iya, kebijakan mendahulukan bumiputera ini masih terus berlangsung yah? tak heran beberapa teman2 Indonesian Chinese ku yg pernah tinggal disana bilang kalau Indonesian Chinese jauh lbh beruntung (walaupun perlakuan rasial di Indonesia masih ada, tapi gak separah di Malaysia)

      ntar di edit lg kalau ada ide😛

    • @Arm
      don main….don main……😆
      situ bukan orang jepun atau paling tidak nggak tinggal di jepun.
      sistem penerimaan karyawan di jepang memang dilakukan serentak dan terjadwal, biasanya penerimaan dilakukan massal untuk siswa yg akan lulus tahun mendatang. beda dgn di Indonesia yg grasa grusu nyari kerja mepet sebelum lulus sampai akhir terpaksa nganggur beberapa waktu setelah lulus untuk menuntaskan proses melamar kerja..
      O iya, sistem ngelamar kerja di Jepang juga agak beda dibanding di Indonesia terutama bikin surat lamarannya. Kayaknya lebih menarik kalau cara ngelamar kerja di Jepang dibikin postingan tersendiri (hehehe…. mungkin ada yg ingat dengan omelanku ttg ribetnya nulis huruf kanji di status fesbuk).

      • mm.. jadi inget film “Tokyo Sonata”.. di mana ada antrian buat dapat kerja, kalau ga salah dapat makan gratis juga…

        .

        .

        *apa cuma di film? *

  4. O iya, kebijakan mendahulukan bumiputera ini masih terus berlangsung yah?

    Tentu saja.😆
    Kalau sampai bumiputera privilege ditiadakan, mungkin bisa kisruh ini negara😛
    Yah, entahlah, mungkin beda tempat beda adat dan kebiasaan. Yang jelas itulah mengapa ras melayu terkenal sebagai ras pemalas. Karena di ayomi pemerintah terus menerus, sehingga menjadi manja. Walaupun tentu saja tidak semuanya seperti itu ^^

  5. Uang beasiswa yang diterima merupakan uang pinjaman dari berbagai macam perusahaan Jepang yang memang mengalokasikan dana untuk biaya pendidikan tinggi generasi muda Jepang.

    iya memang, makanya di sini sebagian besar temanku mahasiswa jepang pada ndak mau ngajuin beasiswa, karena ndak mau ngutang, mereka lebih prefer untuk mengajukan jugyou ryou menjo (keringanan bayar spp) dan sisanya mereka bayar pakai uang hasil baito mereka sendiri.
    pernah ada teman yang dulu sempat nanya ke aku, “apakah ntar mesti ngebalikin duit beasiswa yang aku terima dari perusahaan X itu?” trus ya kubilang, “ndak…”
    dan dia pun terheran-heran dan kemudian bilang, “kalau di sini, yang namanya shougakukin itu adalah utang yang ntar harus dibayar kalau udah lulus, makanya aku ndak ngajuin beasiswa meskipun sebenarnya bisa”
    dan aku gantian terheran-heran karena baru tau soal itu…🙂

    • @Zephyr
      Dalam film Tokyo Sonata itu antrian bukan buat “melamar kerja” tp lebih karena dicarikan kerja oleh pemerintah daerah, krn itu dapat makan segala. :mrgreen:
      Coba aja liat, rata2 kerjaan yg didapat juga paling2 nguli😆
      *memang benar koq gambaran filmnya*

      @grace
      Untunglah orang Indonesia non-nepotisme itu mandiri krn tak diperdulikan pemerintahnya. Tp koq jadinya citra orang Indonesia justru terlihat pemalas dimata para pemalas tukang disuapin pemerintahnya penduduk negeri jiran? Andaikan pemerintah dan penduduknya ditukar guling…😆

      @Yayan
      Gakuhi menjo ada 2 macam, selain jugyou ryou menjo, ada pula satunya Nyuugaku ryou menjo yang diajukan ketika baru masuk (semacam keringanan uang masuk awal). Teman2 Jepangku kebanyakan malah mengajukan semua, mulai dari gakuhi menjo sejak masuk sekolah dan biaya tiap semesternya hingga beasiswa. Lagi pula yang namanya permohonan menjo itu tidak semuanya dikabulkan koq, soalnya persyaratannya lumayan banyak. Aku tahu karena formulir menjo utk mhsw jepang dan mhsw asing yg bayar kuliah sendiri (Shihi-私費) sama isinya. Ada yang dapat 75%, setengah, seperempat hingga ada yg dapat gratisan. Tapi ada juga yang malah gak dapat dan harus bayar penuh uang sekolah.
      *mhsw kemaruk… udah kuliah di PT negeri yg murah, dpt beasiswa, minta menjo, baito lagi*😈

      Untuk sekolah swasta lain lagi ceritanya. Aku ada kenalan arubaito bareng yg sekolah di univ. swasta. Biasanya, yg masuk swasta dan biaya kuliahnya lbh mahal dr univ. negeri, hampir semuanya mengajukan beasiswa. Tapi untungnya bagi mereka, menjo kemungkinan besar dapat, paling tidak 50% udah hampir pasti dapat.

      • hahahaha
        jangan begitu, ada loh beasiswa untuk mahasiswa asing yang ndak dapet support full buat gakuhi…
        aku juga semester kemarin mengajukan gakuhi menjo dan isiannya benar-benar mendokusai, tapi kayaknya buat ryuugakusei ndak sebegitu ribetnya… meskipun harus melampirkan keiyaku-nya apato, monthly expense (tagihan-tagihan listrik gas dan henpon) berikut alasan buat ngajuin menjo-nya… dan hasilnya… ndak dapet keringanan sama sekali haha

      • @yayan
        Memang ada koq. temanku yg sama2 mengajukan tiap semester malah gak dapat selama 1 tahun terakhir. Aku mending, masih dapat potongan 50 persen. Temanku yg lain malah beruntung dpt 100% terus selama 1.5 tahun. Soal ribet atau nggak, itu tergantung kebijakan universitas masing2 koq. Kalau di kampusku, formulir utk mhssw asing dan lokal sama saja. Yang beda cuma lampiran laporan keuangan perbulan. otomatis yg mahssw lokal hrs melampirkan pendapatan orang tua mereka dong (selain pendapatan pribadi dari arubaito). Kalau mhssw asing, cukup melampirkan pendapatan per bulan (beasiswa, gaji arubaito, kiriman dr ortu kalau ada) plus pengeluaran per bulan. Mungkin dgn melampirkan slip gaji arubaito, yg ngasih keputusan bisa liat betapa saya ini susah payah ngumpulin yen receh demi receh buat bayar gakuhi😆

        Alasan ngajuin menjo ditempatku gak sulit koq, cuma 4 baris. Bandingkan dengan pengajuan beasiswa dan ngelamar kerjaan yang hrs ditulis pake tangan (dgn pulpen) tanpa boleh ada satu hurufpun salah coret. Gak tau yah kalau ditempat situ, di kampusku sih gak ada wawancara buat menjo, beda dgn beasiswa yg hrs wawancara sampai presentasi segala.

  6. Konbanwa Ando san..
    Kalo masalah beasiswa kek gini mah saya tertarik banget Mas he he he, apalagi ditulis dengan pengalaman ada di sana…

    Semoga saja, 2012 nanti usaha ini akan berbuah hasilnya, semoga Allah memberikan jalan dan keridhoaannya dalam persiapanku menuju ke sana…

    Salam semangat selalu dari Bocahbancar

  7. I will continue my study in japan. can i have your email address please, Thank you ^_^ Novi-Mahasiswa STIKOM bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s