Ayahku dan Musik

Isi tulisan ini murni dari “interpretasiku sendiri” terhadap cerita ayahku, untuk memperingati hari ulang tahun ayahku beberapa hari yang lalu

Yang kenal denganku tentu tahu latar belakangku yang lahir dan besar di sebuah pulau kecil di laut China selatan bernama Belitung. Aku besar di sebuah kampung kecil di pinggir kota Tanjung Pandan bernama Kampung Parit. Ayahku adalah pegawai rendahan bagian pergudangan PT. Tambang Timah Unit Penambangan Timah Belitung (UPTBel) yang dikenal didunia pertambangan pada saat itu sebagai wakil resmi pemerintah Indonesia untuk mengeruk timah di Belitung dan menjualnya baik sebagai tambang mentah maupun material setengah jadi.

Yang kenal sangat akrab denganku pasti tahu sosok ayahku yang dikenal sebagai pendiri band Billitonite 5 Tanjung Pandan. Menurut cerita ayahku, masing-masing divisi PT. Tambang Timah UPTBel memiliki pengiring musik (band) tersendiri untuk menghibur para karyawan dalam acara hiburan. Misalkan saja kantor pusat administrasi di Tanjung Pandan punya Billitonite 1, lalu ada pula Billitonite 2,3, dst untuk daerah kota Manggar, Lenggang, dll. Karena Wilasi (wilayah operasi atau semacam divisi) pertambangan di pisahkan secara manajemen dengan administrasi, otomatis “perangkat hiburan” juga ikut dipisahkan. Terbukti ketika Wilasi tambang Tanjung Pandan mengundang artis ibu kota (^_^) untuk menghibur karyawan tambang beserta keluarga, pihak kantor pusat tak mengijinkan band Billitonite 1 dan peralatannya dipakai sehingga terpaksa pihak Wilasi tambang meminjam/menyewa band lain untuk mengiringi sang artis ibu kota.

Sebelum bekerja di PT. Tambang Timah UPTBel, ayahku menamatkan SMA nya di Yogyakarta yang menurut beliau banyak mempengaruhi ketertarikannya pada musik. Di kota Yogyakarta itu pula ayahku kenal lebih jauh dengan teknik gitar dan info musik terbaru, termasuk sering nongkrong melihat tetangga kostnya yang bernama Koes Hendratmo main gitar.

Ketika kembali ke Belitung karena kakekku bilang tak mampu membiayai ayahku kuliah, ayahku mulai bekerja di wilasi PT. Tambang Timah UPTBel. Saat itu ada 2 band di bawah UPTBel yang sedang bersaing berebut pengaruh yaitu MPB (nama diambil dari tempat band biasa latihan yaitu Majelis Pertemuan Buruh) dan EBC (Eka Bhineka Combo). Ayahku diajak oleh kedua belah pihak untuk bergabung. Walaupun ayahku kenal dengan para anggota kedua band, tapi akhirnya ayahku memilih MPB karena ayahku lebih akrab dengan anggota MPB, apalagi beberapa anggota MPB masih memiliki hubungan keluarga.

Suatu ketika, pihak pimpinan kantor pusat ingin membentuk band yang mewakili UPTBel untuk mengisi acara hiburan. Pimpinan kantor pusat saat itu meminta agar nama seluruh anggota band yang berada dibawah UPTBel (maksudnya dari semua daerah dari Tanjung Pandan, Manggar, Lenggang, hingga Kelapa Kampit) dikumpulkan untuk diseleksi. Lucunya, dari seluruh anggota yang terpilih tak ada yang berasal dari daerah lain selain Tanjung Pandan, padahal menurut ayahku ada beberapa pemusik handal dari Manggar bisa bermain lebih baik daripada anggota yang terpilih. Kumpulan pemusik pilihan kantor pusat ini dinamakan sebagai Billitonite Band. Tentunya pemimpin wilasi di kota lain jadi sebal dengan kenyataan ini, mereka juga akhirnya membentuk band sendiri di daerah wilasi masing-masing kota sehingga terbentuklah Billitonite Band wilasi Manggar, Lenggang, Kampit, dll. Akhirnya untuk memudahkan penamaan, setiap Billitonite Band menggunakan angka dibelakang nama seperti Billitonite 2 untuk wilasi Manggar.

Dilihat dari komposisinya, Billitonite 1 adalah band leburan antara EBC dan MPB, sehingga kedua band bubar dengan sendirinya setelah Billitonite 1 terbentuk. Member Billitonite 1 terdiri dari mayoritas anggota EBC dengan tambahan beberapa anggota MPB, sehingga sebagian besar mantan anggota MPB yang tak terpilih tak bisa bermain musik karena peralatan band digabung dengan milik EBC oleh Billitonite 1. Orang-orang “tak terpakai” itu termasuk ayahku dan temannya gitaris Pak Nop, padahal menurut ayahku Pak Nop adalah gitaris terbaik dibanding gitaris Billitonite 1. Dikemudian hari, Pak Nop pindah ke Billitonite 1 atas permintaan atasan beliau. Ada satu hal yang merugikan Billitonite 1: mereka merekrut drummer MPB bernama Pak Dani, padahal drummer terbaik MPB adalah Pak Fendi. Masalahnya Pak Fendi memiliki suara bagus sehingga “dipaksa” rekan-rekannya untuk menyerahkan posisi drummer kepada Pak Dani demi mengisi kekosongan posisi vokalis. Ketika proses perekrutan dilakukan, Pak Fendi terhitung sebagai penyanyi sehingga tak dibutuhkan oleh Billitonite 1.😀

Setelah tak terpakai di Billitonite 1, ayahku dan teman-temannya mulai sering nongkrong di rumah paman beliau yang dipanggil Pak Long. Melihat mereka cuma nongkrong, Pak Long memberi semangat untuk jangan mau kalah dan membentuk grup baru. Ayahku dan teman-teman beliau akhirnya membentuk band baru yang diberi nama Setia Nada. Pak Fendi balik posisi drummer, melodi gitar oleh Pak Nop, Bass oleh ayahku dan rhythm gitar oleh Pak Nawan, tanpa penyanyi karena mereka hanya berfungsi mengiringi penyanyi lokal. Mereka manggung di kampung-kampung pelosok untuk mendapatkan uang dengan alat musik pinjaman sambil menabung sedikit demi sedikit untuk membeli alat musik milik sendiri.
Saat itulah beliau bertemu dengan “orang gedean” bernama Pak Syahrial, lulusan Jerman ahli tambang yang datang ke Belitung sebagai Kawilasi (Kepala Wilayah Operasi) Tanjung Pandan. Menurut ayahku, Pak Syahrial yang dikenal galak itu ramah terhadap ayah cuma gara-gara satu hal, ayahku bisa main gitar dan tahu lagu-lagu terbaru jaman itu. Beliau sepertinya tidak perduli dengan status kuli gudang ayahku. Ditambah lagi istri beliau sangat suka nyanyi dan Pak Syahrial sering mengundang ayahku main gitar mengiringi istrinya menyanyi.

Ketika acara hiburan pertama kali digelar wilasi tambang Tanjung Pandan pada masa Pak Syahrial sebagai Kawilasi, pihak kantor pusat kembali tidak mengijinkan alat mereka dipinjam dan dipakai (itu juga setelah permintaan agar band Billitonite 1 sendiri yang manggung ditolak). Pak Syahrial kelihatannya cukup kesal dengan hal ini sehingga menyuruh ayahku (satu-satunya orang tambang yang dikenal beliau tahu banyak tentang musik) untuk membeli perlengkapan band dan merekrut karyawan tambang yang bisa memainkan alat musik. Setelah kembali dari Jakarta dan membeli seperangkat peralatan musik komplit, ayahku mengusulkan agar anggota band Setia Nada yang sudah sering latihan bersama untuk direkrut. Sejak itulah terbentuk secara resmi band wilasi tambang dengan nama Billitonite 5. Karena tak memiliki tempat berlatih, Pak Syahrial menyuruh Billitonite 5 mengangkut peralatan band ke rumah dinas Kawilasi tempat Pak Syahrial tinggal. Billitonite 5 akhirnya berlatih di bagian belakang rumah Kawilasi yang besar itu, malah kadang kala makan tidur di sana pula.

Kelebihan Billitonite 5 dibandingkan Billitonite 1 adalah kemampuan mereka berkembang, termasuk dalam membawakan beragam genre lagu. Kemampuan mereka ini didapat dari seringnya Billitonite 5 menerima permintaan manggung di luar acara wilasi tambang, termasuk acara-acara pernikahan di kampung-kampung maupun acara pemda lokal. Hal ini tak terlepas dari izin yang diberikan Pak Syahrial bagi Billitonite 5 untuk memakai perlengkapan band. Seperti kata Pak Syahrial, “Kalian pakailah perlengkapan band, carilah duit tambahan di luar sana!” Sedangkan Billitonite 1 hanya manggung buat acara yang eksklusif diadakan oleh UPTBel, khususnya kantor pusat.

Pernah suatu ketika dalam pesta tahun baru yang menggabungkan para pejabat kantor pusat dan wilasi beserta tamu undangan dari Jakarta di aula wisma ria Tanjung Pandan, Billitonite 1 dan 5 diminta manggung bergantian untuk menghibur para pejabat teras. Walaupun ayahku masih muda pada waktu itu, beliau sudah bisa menduga bahwa bapak-bapak pejabat itu tumbuh besar dalam pengaruh musik dansa latin seperti cha-cha-cha, samba, hingga bossanova. Ditambah pengetahuan ayahku dengan rock and roll-nya Elvis Presley, Billitonite 5 berlatih memainkan lagu-lagu tersebut dibandingkan dengan lagu-lagu pop biasa yang dilatih Billitonite 1. Hasilnya bisa ditebak. Ketika Billitonite 1 manggung, para tamu hanya duduk diam mendengarkan. Ketika Billitonite 5 naik panggung dan memainkan irama latin, para tamu bersorak dan bangkit dari tempat duduknya ikut bergoyang dan berdansa. Hari itu, Billitonite 1 tak bisa manggung karena para tamu meminta agar band Billitonite 5 jangan diganti hingga pesta tahun baru selesai.

Keterangan:
– Wilasi tambang dikenal sebagai daerah kuli yang berhubungan langsung dengan pekerjaan kasar menambang timah, berbeda dengan golongan elit di kantor pusat yang pergi kerja dengan baju rapi untuk urusan administrasi.
– Seluruh band dalam naungan PT. Tambang Timah UPTBel menggunakan nama Billitonite semacam material tambang atau dikenal di Belitung sebagai Batu Satam.
– Pak Syahrial sebagai Kawilasi dikenal royal memberi bonus buat kuli tambang yang bergaji kecil. Menurut beliau, kuli tambang di eropa lebih makmur dibandingkan pegawai administrasi karena nyawa bisnis pertambangan terletak ditangan kuli tambang. Berbeda dengan kondisi Indonesia saat itu, dimana kuli tambang mendapatkan gaji kecil namun paling banyak keluar keringat. Demi kompensasi gaji kecil, bonus para kuli tambang dinaikkan berlipat oleh Pak Syahrial.

Thanks buat tulisan nostalgia lambrtz dan tulisan nostalgia krismariana yang menginspirasi ide tulisan ini.

7 thoughts on “Ayahku dan Musik

  1. Wah, saya jadi penasaran apa reaksi Ayah Ando-kun ketika membaca tulisan ini.😀
    Selamat ulang tahun untuk ayah Ando-kun, semoga dilimpahi kebahagiaan🙂
    .

    Demi kompensasi gaji kecil, bonus para kuli tambang dinaikkan berlipat oleh Pak Syahrial.

    Wow, kind people really do exist😯 ^:)^
    .
    Mongomong, kapan tulisan soal Ando-kun dan musik beserta video Ando-kun sedang bermusik dirilis?
    Saya menunggu lho:mrgreen:

  2. Ketika Billitonite 5 naik panggung dan memainkan irama latin, para tamu bersorak dan bangkit dari tempat duduknya ikut bergoyang dan berdansa. Hari itu, Billitonite 1 tak bisa manggung karena para tamu meminta agar band Billitonite 5 jangan diganti hingga pesta tahun baru selesai.

    Buahahahahaha kasian😆

    Anyway, nice story. Saya selalu terkesan dengan sejarah suatu band yang didirikan dengan kerja keras. Seperti baca komik Beck saja.😀

    BTW ini settingnya sekitar tahun berapa ya?

    thanks buat tulisan nostalgia lambrtz yang menginspirasi ide tulisan ini.

    Sama-sama, my pleasure. Anda puas, kami lemas.😀 *lho*

    (BTW😳 saya bikin post itu terinspirasi dari blog mana gitu, kalau ga salah masih teman Bang Ando juga, tapi lupa siapa😳 malu ngelink, ga kenal sih😳 )

    • @frea
      Mewakili ayah, terima kasih atas ucapan selamatnya. Ayahku mungkin tidak membaca tulisan ini, kalaupun baca…. entahlah apa komentarnya. Mungkin beliau pikir anaknya ini cocok buat jadi tukang dongeng dibanding musikus🙂

      kind people really do exist

      Mungkin karena beliau didikan Jerman, prinsip Marxism untuk membela buruh masih sedikit melekat.

      ….soal Ando-kun dan musik beserta video Ando-kun sedang bermusik

      Dipertimbangkan:mrgreen:

      @lambrtz

      BTW ini settingnya sekitar tahun berapa ya?

      Aku jg kurang tahu pasti. Mungkin sekitar akhir tahun 1960-an dan awal 1970. Setelah tahun 1965 (jaman orde baru), beberapa posisi pemimpin PT Timah yang diduduki turunan Tionghoa habis dicopot dan diganti “pribumi” seperti Pak Syahrial.
      Kalau mau ditanya kenapa Elvis bukan The Beatles? pejabat teras PT Timah saat itu berumur 40-50 tahunan, wajar saja mereka lebih terkenang sama si raja Rock n Roll. Anehnya Pak Syahrial dan istrinya termasuk Beatlemania, mungkin krn beliau baru umuran 30 an tahun (saya sendiri gak tau pasti) dan pernah tinggal di Jerman pula.

      @kris
      Lha…. khan tinggal tepon ke rumah kalau mau datang. Lagian ultah beliau udah lewat beberapa hari koq.
      Jangan ngomongin masakan mamaku, bikin pengen pulang kampung nih.:mrgreen:

      @lambrtz dan kris
      kenalkan Mario, ini Kris. Kris, ini Mario.
      Silahkan ngobrol pake bahasa Jawa😆

  3. Pingback: Billitonite 5 Band « いつでも馬鹿馬鹿しい話

  4. hoh… banyak istilah yg bikin bingung, tapi keren aja baca tulisan ini… *serasa ngeliat sisi lain Ando Kun* hehehe…
    btw, ikut ucapin Met Ultah buat ayah Ando Kun… moga selalu diberi keberkahan umur… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s