Pekerja asing dan komunikasi

Kalau ada yang memiliki pengetahuan lebih tentang hal ini silahkan sharing komentar.

Suasana di Takeshitadori, Harajuku yang penuh gaijin

Gara-gara lambrtz bikin link tentang masalah komunikasi foreign staff di Singapura lewat fesbuk, aku jadi kepikiran kasus yang sama di Jepang. Apakah banyak pekerja asing di Jepang yang tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Jepang? Bagaimana tanggapan orang Jepang jika dilayani oleh pekerja asing yang tidak bisa berbahasa Jepang?

Kalau hanya kerja sambilan (arubaito), mungkin tak terlalu masalah karena aku sendiri pernah mengalaminya ketika pertama kali datang ke Jepang dan tak bisa berkomunikasi dalam bahasa Jepang. Yang bisa dilakukan hanyalah melamar pekerjaan lewat perantara teman yang sudah bisa bicara bahasa Jepang. Pekerjaan yang didapat biasanya tak banyak berhubungan langsung dengan orang Jepang lain, tentu saja tak akan pernah berhadapan dengan pelanggan. Misalnya saja kerja direstoran bagian cuci piring atau kerja di pabrik bagian pekerjaan kasar. Pencuci piring biasanya bekerja di dapur sehingga kecil kemungkinan berhadapan langsung dengan pelanggan restoran.

Di Jepang juga ada jenis karyawan yang bernama Kenshuusei (pekerja training) yang didatangkan dengan kontrak waktu kerja terbatas (maksimal 3 tahun). Mereka biasanya sudah mendapatkan training bahasa Jepang sedikit walaupun setahuku tidak cukup untuk ngobrol biasa dengan orang lokal. Paling tidak pada awal kedatangan mereka, para kenshuusei ini bisa mengerti perintah kerja dan seiring dengan semakin lama hidup di Jepang, mereka juga semakin terbiasa bicara dan mengerti ucapan orang Jepang asli. Beberapa perusahaan malah mendukung para kenshuusei ini untuk belajar bahasa Jepang lebih lanjut, minimal bisa lulus JLPT level 3. Dan para kenshuusei ini juga tak pernah berhadapan langsung dengan customer sehingga tidak akan ada komplain masalah komukasi dari pelanggan.

Tentang karyawan biasa (salaryman), aku belum pernah bertemu langsung dengan kasus ini. Akan tetapi berdasarkan pengamatanku, sebagian besar perusahaan Jepang hampir selalu minta foreigner untuk mampu berkomunikasi dengan bahasa Jepang jika bekerja di dalam negeri Jepang. Level yang diminta bermacam-macam, walaupun biasanya mereka meminta sang pelamar lulus JLPT level 1 atau level 2. Kalau sudah berstatus salaryman, menurutku kecil kemungkinan ada komplain dari customer tentang pelayanan bermasalah akibat ketidak mampuan berkomunikasi dari pihak perusahaan. Kalaupun ada salaryman yang kurang mampu berkomunikasi dengan bahasa Jepang, biasanya mereka adalah pekerja kontrak yang bekerja dibidang keahlian tertentu.

Dibandingkan banyaknya kasus ketidak mampuan berbahasa Inggris para pekerja asing di Singapura seperti yang dilaporkan dari link diatas, kemungkinan besar hal yang sama sedikit terjadi di Jepang. Sebab utama adalah sistem penerimaan karyawan di Jepang sendiri. Kalau tak mampu berkomunikasi dengan baik, sang pekerja asing akan ditempatkan di lokasi yang tidak memerlukan kemampuan berbahasa Jepang. Entahlah, bagaimana kondisi di negara lainnya.

9 thoughts on “Pekerja asing dan komunikasi

  1. Sebenarnya salah satu hal yang gua suka disebuah negara adalah bahwa setiap komunikasi menggunakan bahasa yang berasal dari negara itu sendiri. Tidak pake bahasa inggris atau lainnya. Bukannya apa-apa. Melainkan untuk menghormati bahasa yang berlaku dinegara itu sendiri.
    Seperti di Jepang, kalo nggak salah McDonald aja ada bahasa jepangnya ya?
    Kalo di indonesia malah lebih bangga kalo make bahasa inggris. kesannya high class, cuih! hehehehe…😀

    • @Dis-Co
      Tapi… tapi… saya masih belepotan koq bahasa jepangnya sekarang:mrgreen:
      bentar, saya itung dulu uang bayaran kursusnya😈

      @Ellious Grinsant
      Kalau yang kasus di Singapore sendiri mungkin masih bisa dimaklumi krn dominasi penduduk yang berbahasa Mandarin adalah mayoritas. Lagipula bahasa Inggris termasuk official language disana.
      Beda ceritanya dengan kasus di Jepang. bahasa resminya cuma satu yaitu bahasa jepang dan penduduknya rata2 hanya menguasai satu bahasa yakni bahasa jepang saja.
      Ngomong2 McD di Jepang juga banyak pakai istilah bahasa Inggris lagi:mrgreen:
      temenku yg arubaito di McD pas awal kerja rada bingung sama istilah kerja disana. contohnya yg sederhana aja: laci bagian atas disebut Up (logat jepunnya Appu)😆

  2. Kalau yang kasus di Singapore sendiri mungkin masih bisa dimaklumi krn dominasi penduduk yang berbahasa Mandarin adalah mayoritas.

    Well, ya dan tidak.😀

    Mayoritas orang Cina di Singapore, terutama yang more indigenous, dalam artian mereka yang keluarganya sudah tinggal di sini, secara tradisional menggunakan dialek Cina non-Mandarin. Hokkien, Hakka, Teochew, Cantonese, dst. Mandarin sendiri baru diperkenalkan oleh pemerintah lewat Speak Mandarin Campaign kalau tidak salah pada 1970an sebagai lingua franca antar berbagai macam etnis Cina. Dan di sini, Englishnya sendiri bercampur dengan Melayu dan (mainly) Hokkien. Jadi, kalau orang lokal pasti sudah tahu ini, tapi kalau tidak dilatih, foreign worker dengan bekal Mandarin saja akan bingung memahami pesanan “Teh-o-peng-kosong-packet”.😀

    (
    Teh = teh (Malay)
    o = hitam = teh doang, tanpa susu (Hokkien)
    peng = es (Hokkien)
    kosong = tanpa gula (Malay)
    packet = bungkus (broken English)
    )

    Dan kalau mereka ga bisa bahasa Inggris, tentunya akan merepotkan bagi yang ga bisa bahasa Mandarin kaya saya.😦

    • @itikkecil
      imigran illegal dimanapun pasti dipersulit masuk ke suatu negara. akhir2 ini memang Jepang memperketat aturan buat masuk Jepang, bukan hanya yang illegal, termasuk yang imigran legal juga semakin ketat. Lagipula buat yg berminat jadi imigran illegal di Jepang saat ini sebaiknya mengurungkan niatnya. Biaya hidup tinggi plus akhir-akhir ini sulitnya mendapat pekerjaan justru membuat hidup lebih sulit. Ketika booming industri otomotif tahun 1980-an hingga akhir 1990-an, industri Jepang gampang menerima imigran ilegal walupun mereka tak bisa berkomunikasi dalam bahasa Jepang. Kerjaan yang dilakukan tak jauh beda dibanding imigran illegal di negara lain, pekerjaan kasar, kotor dan yang penting tak perlu banyak komunikasi.

      @lambrtz

      Englishnya sendiri bercampur dengan Melayu dan (mainly) Hokkien….

      Memang fokus berita yang situ link lebih ke foreign worker from china mainland😀
      Aku sendiri gak tau juga yah, kayaknya bakalan bengong dengerin singlish. lambrtz butuh waktu adaptasi singlish berapa lama emangnya?

      merepotkan bagi yang ga bisa bahasa Mandarin kaya saya.😦

      Halah…. gaijin numpang lewat kayak kita memangnya masuk itungan gitu😕

  3. lambrtz butuh waktu adaptasi singlish berapa lama emangnya?

    Ndak lama kok. 1-2 bulan juga jadi.😆
    Awal-awal di sini itu bener-bener deh. Telpon servis listrik kampus aja ruepot, harus ngomong “sorry? Sorry?” saking lamanya saya memahami. Dan waktu meeting juga ga banyak paham.😐

    gaijin numpang lewat kayak kita memangnya masuk itungan gitu

    Tentunya di samping demi warga negaranya, ini juga demi tourism gan. Gimana coba kalo ada ang moh (bule) yang pingin nyoba makanan tapi penjualnya ga paham apa yang dia katakan.😀

  4. jadi kepikiran juga. di tempatku, eskpatriat ada yang bisa berbahasa indo, cuman, ujung-ujungnya kita yang kudu komunikasi pake bahasa inggris, dengan kemampuan yang masih pas-pasan. jadi dalam kasusku, pekerja asing enggak bermasalah dalam hal komunikasi di ruang kerja😐

    dan kalo kudu komunikasi sama dia, justru aku yang kerepotan lantaran bahasa inggris yang masih pas-pasan😛

    • Sorry telat bales, lagi sibuk sampai gak pernah buka blog yg ini:mrgreen:

      @lambrtz
      Sorry? maksudnya maap kayak tetangganya Bajuri yg suka ngomong maap gitu? atau emang gaya sopan2an Singaporean buat excuse me? atau…????
      *mohon penjelasannya*

      Gimana coba kalo ada ang moh…..

      Bahasa Tarzan?😆
      Di Jepang lucu lho. Pernah nonton Lost in Translation gak? Kadang aku suka ngetawain pengalaman sendiri pas nonton film itu. Bayangin aja, kita tempat pelayanan masyarakat kayak rumah sakit hampir seluruhnya menggunakan bahasa Jepang termasuk ngisi formulir bertulisan huruf kanji. Walaupun kayaknya bakalan lbh parah kalau ke China mainland.

      Dulu pas baru datang 3-4 bulan, pernah mau nonton di bioskop dan nanya si penjual karcis ttg jadwal film dgn bahasa jepang pas2an. Dijawab dgn engrish malah bikin aku tambah bingung🙂

      @Kurotsuchi
      Kalau masalah komunikasi masih di dalam lingkungan kerja mungkin tidak terlampau masalah dan bisa di tolerir, tapi kalau sudah menyangkut hubungan sama pelanggan (alias orang luar) masalahnya bakalan beda. Kayak perbandingan kerja di restoran antara jadi tukang cuci piring dan melayani tamu diruang makan. Tukang cuci piring yang gak bisa komunikasi juga masih bisa menjalankan pekerjaannya, tapi waiter yang melayani tamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s