Billitonite 5 Band

Sambungan (tidak langsung) dari postingan sebelumnya yang juga murni dari “interpretasiku sendiri” terhadap cerita ayahku.

Dipertengahan tahun 1970-an, band Billitonite 5 kedatangan alat berupa keyboard (sebuah organ) baru yang masih mengkilat tanda belum pernah dipakai hasil pemberian Pak Syahrial. Masalahnya, tak ada satu orangpun anggota Billitonite 5 yang memiliki kemampuan bermain keyboard. Semua anggota bisa memainkan gitar, walaupun Pak Nop yang paling jagoan main gitar (dan satu-satunya yang bisa baca partitur) tampaknya tak bisa digeser dari alat musik andalannya. Begitu juga posisi Pak Fendi sebagai pemain drum yang tentunya tak bisa diganggu gugat. Tinggal ayahku (bass) dan pemain rhythm guitar Pak Nawan yang besar kemungkinan bakal memainkan keyboard.

Memainkan alat baru tentu membutuhkan waktu dan konsentrasi. Pak Nawan sepertinya tidak tertarik belajar memainkan keyboard, sedangkan alat musik baru rasanya tak bisa dibiarkan menganggur. Akhirnya ayahku bersedia untuk belajar dari awal cara memainkan keyboard, dimana posisi bass diserahkan pada Pak Nawan. Lagi-lagi hal ini jadi masalah, karena untuk belajar memainkan keyboard harus ada gurunya. Sedangkan untuk belajar otodidak, ayahku tak bisa baca partitur seperti halnya Pak Nop. Satu-satunya kenalan ayahku yang jago main piano (bukan cuma keyboard) hanya Pak Jamal, dan beliau tinggalnya di kota Manggar yang berada jauh di Belitung timur.

Saat itu datanglah seorang musisi terkenal ke Tanjung Pandan bernama Yasir Syam yang juga keponakan Pak Syahrial. Yasir Syam dikenal sebagai musisi multi-instrument handal, arranger dan pencipta lagu anggota grup terkenal era 1970-an yang bernama band empat nada pimpinan A. Riyanto. Entah karena memang sengaja diminta datang oleh Pak Syahrial ke Belitung atau tidak, yang pasti Pak Syahrial meminta Yasir Syam mengajarkan pengetahuannya bermusik pada seluruh anggota Billitonite termasuk Billitonite 5 dan tentu saja cara memainkan keyboard pada ayahku. Kata ayahku, cara Yasir Syam mengajar pada beliau cukup unik. Beliau cuma menunjukkan cara memencet chord C major sambil mengingatkan kalau seluruh kunci dasar memiliki standar nada Do, Mi, Sol. Sisa chord yang lain? Cari sendiri! Toh kalau bisa memainkan gitar, tentu bisa mencari chord yang lain berdasarkan kunci gitar. Dan cara mengajar ini juga diterapkan ayahku ketika mengajar aku:mrgreen:

Walaupun hanya tinggal tak lebih dari beberapa minggu plus kalau Yasir Syam main ke Belitung untuk mengunjungi pamannya, ilmu yang diserap para angota Billitonite 5 sangat banyak manfaatnya. Menurut ayahku, Yasir Syam lah yang mengajarkan pada mereka bagaimana cara nge-band yang baik dan benar. Hasilnya, Billitonite 5 mampu mengembangkan level permainan mereka sendiri jauh lebih baik lagi sebagai band panggung yang bisa memainkan berbagai macam genre.

Akhir 1970-an, Pak Nop sebagai lead guitar keluar dari Billitonite 5 karena urusan pekerjaan (kalau tak salah pindah ke Billitonite 1 atas permintaan atasan). Ayah dan rekan-rekan bandnya cukup kelabakan mencari pengganti yang memiliki kualitas setara Pak Nop. Saat itu datang seorang karyawan bernama Basari yang juga baru dipindah tugaskan dari Bangka ke Belitung. Ketika mereka menguji Basari, beliau mempertunjukkan permainan yang tak kalah hebatnya dibanding Pak Nop. Hanya saja permainan gitar Basari sangat kasar, jauh berbeda dibanding Pak Nop yang halus permainan gitarnya. Setelah melalui berbagai macam pertimbangan, akhirnya Basari diterima menjadi lead guitar Billitonite 5. Sejak itu genre musik yang dimainkan oleh Billitonite 5 sedikit bergeser. Selain tetap memainkan lagu-lagu pop dan dangdut yang disukai masyarakat umum, mereka mulai terkena racun Hard Rock. Lebih spesifik lagi, Billitonite 5 mulai terkena virus Deep Purple yang dibawa oleh pengaruh Basari. Kalau anda tinggal di kota besar di pulau Jawa pada akhir 1970-an, tidaklah aneh mendengar band lokal di Jakarta, Bandung dan Surabaya memainkan musik Hard Rock. Tapi sebuah band kampung di sebuah pulau kecil di laut China selatan mampu memainkan lagu Burn, tentu bukan hal yang biasa.

8 thoughts on “Billitonite 5 Band

  1. Dan cara mengajar ini juga diterapkan ayahku ketika mengajar aku:mrgreen:

    … jadi, cara mengajar yang seperti itu juga mesti Ando-kun terapkan buat anak Ando-kun nantinya, ya..hitung-hitung melestarikan adat/warisan keluarga😎

  2. @Zephyr
    Halah, itu jg didapat ayahku dari orang yang non-hubungan keluarga. Gak ada hubungan sama warisan keluarga tuh😆

    btw, bedanya ayahku belajar chord keyboard dari dasar main gitar. sedangkan aku belajar chord gitar dari dasar main keyboard. Aku termasuk telat belajar main gitar. Baru mulai sekitar kelas 2 SMA, ketika teman2 yang lainnya sudah bisa genjrang genjreng lagu GN’R, aku baru mulai genjrang genjreng lagu burung kakak tua dengan suara gitar fals:mrgreen:

  3. Baru mulai sekitar kelas 2 SMA, ketika teman2 yang lainnya sudah bisa genjrang genjreng lagu GN’R, aku baru mulai genjrang genjreng lagu burung kakak tua dengan suara gitar fals

    Saya lebih telat lagi, baru belajar waktu tahun kedua kuliah. Waktu temen bisa main Dream Theater dengan lancar, saya masih main About A Girl…😐

  4. @lambrtz
    Baru belajar gitar langsung nyoba main about a girl? weleh weleh….
    *kagum dan tertohok dengan burung kak tuanya*

    @jensen
    tepatnya: Deep Purple pans klab😆

  5. Teman-teman apakah ada yang tahu alamat Yasir Syam sekarang ?
    Tolong bisa di-share ke saya. Terima kasih sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s