Gegar Dialek

Judul postingan mungkin agak aneh ya? Maklumlah, ungkapan diatas cuma buatan saya sendiri yang mengacu pada gegar budaya (culture shock). Kalau masalah gegar budaya, saya sudah mengalami beberapa tahun yang lalu dan butuh waktu penyesuaian untuk menguasai keadaan dan medan lingkungan. Lalu apa pula artinya gegar dialek yang menjadi judul postingan? Mungkin secara umum lebih cocok disebut gegar bahasa (istilah ngaco apa pula ini??) dan ini termasuk kedalam permasalahan gegar budaya. Misalnya anda yang tak bisa berbahasa Korea tiba-tiba harus tinggal di Pyongyang dalam waktu yang cukup lama. Tak bisa berkomunikasi dengan orang-orang lokal menyulitkan kita untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Lalu kalau tinggal di Indonesia tepatnya di Yogyakarta, bisa berbahasa Indonesia tapi tak bisa bahasa Jawa. Mungkin tak terlalu menyulitkan walaupun kalau dipikir-pikir kalau menawar barang dengan bahasa Jawa di pasar tradisional mungkin bisa dapat korting😈 itupun kalau memang jagoan nawar. Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, walaupun sama-sama berakar dari bahasa Austronesia, tetap saja memiliki banyak perbedaan sehingga tak bisa disebut dialek. Bahasa Melayu Kepulauan Riau dan bahasa Melayu Belitung merupakan contoh yang lebih tepat untuk dialek.

Di Jepang, masing-masing daerah memiliki dialek (Hougen) sendiri-sendiri. Mungkin dialek yang paling terkenal di seluruh Jepang adalah dialek Kansai alias Kansai-ben, karena sering sekali dipakai dalam acara TV terutama acara komedi. Dialek Kansai sendiri terbagi menjadi beberapa sub-dialek berbeda seperti Osaka-ben Kyoto-ben, Kobe-ben, dll. Selama tinggal di Jepang, aku pindah tempat tinggal hingga 2 kali ke 3 tempat berbeda dan memiliki pengalaman gegar dialek sampai 3 kali.

Pertama kali tinggal di jepang, aku tinggal di kota kecil bernama Fujinomiya. Karena sedang melalui tahap belajar penguasaan bahasa Jepang yang baik dan benar, pengaruh dialek oleh orang-orang Jepang disekitar lumayan mengganggu. Untung saja dialek Fujinomiya tidak aneh dan banyak persamaan dengan dialek Kanto (daerah timur, Tokyo dan sekitarnya) yang menjadi standar bahasa Jepang modern. Yang berbeda hanya masalah pengucapan nai (artinya: tidak) saja yang berubah menjadi niya.
contoh:
Tabenai (tidak makan) menjadi Tabeniya
Wakaranai (tidak mengerti) menjadi Wakaraniya

Lalu ketika bahasa Jepang sudah lumayan dikuasai dan masuk perguruan tinggi di daerah HM di prefektur Shizuoka, disini aku menemukan lebih banyak benturan dialek karena banyak mahasiswa yang berdatangan dari berbagai pelosok Jepang dan membawa dialek masing-masing. Kebanyakan sih mereka mengerti kalau aku orang asing dan memakai bahasa Jepang standar dalam percakapan, tapi yang paling keras kepala tetaplah orang Kansai😆 Di lab penelitianku, ada 3 orang Kansai yang menguasai 3 sub-dialek berbeda yaitu Osaka-ben, Nara-ben dan Kobe-ben. Mereka bertiga ternyata sama-sama keras kepala untuk tetap memakai dialek Kansai dalam percakapan sehari-hari, tidak dengan sesama orang jepang (kecuali dengan professor pembimbing tentunya), juga dengan aku yang notabene gaikokujin (orang asing). Kebetulan yang bicara dengan Kobe-ben itu satu tema penelitian denganku, mau tak mau aku jadinya terbiasa juga tiap hari mendengar dia ngomong pakai Kansai-ben dan aku juga akhirnya ikut-ikutan ngomong Kansai-ben tanpa sengaja. Masyarakat di sekitar HM sendiri menggunakan dialek Shizuoka yang mirip dengan dialek Kanto. Misalnya saja bentuk kata da mendapat tambahan ni menjadi bentuk dani. O iya, kata anak-anak muda asal HM sih bentuk dani ini lebih banyak dipakai orang tua, karena anak-anak mudanya males memakainya dan lebih suka mengganti da dengan bentuk jang (yang sering dipakai dalam dialek Kanto)
contoh:
Kirei da (cakep) menjadi Kirei dani -> Kirei jang

Mengenai dialek Kansai silahkan baca wikipedia disini karena penjelasannya lumayan rumit:mrgreen:

Kemudian setelah diterima bekerja sebagai karyawan di PT Sinar Karya di daerah pinggiran Nagoya, lagi-lagi gegar dialek kembali terjadi. Kali ini malah aku hampir mendapat malu karena hampir tak bisa menahan tawa. Ceritanya begini, setelah “upacara” penerimaan karyawan baru, para karyawan baru dipekenalkan dengan para atasan disertai acara ngobrol singkat. Dalam suatu kesempatan, seorang manajer bernama Sato ngobrol berempat denganku dan dua karyawan baru lainnya. Rupanya 2 orang karyawan lain memang “orang lokal” alias besar dan tinggal di pinggiran Nagoya (walaupun beda kota). Jadilah mereka bertiga ngobrol dengan menggunakan Owari-ben (dialek yang digunakan di sekitar Nagoya dan prefektur Aichi), dan aku baru sadar kalau salah satu bentuk Owari-ben menggunakan kata -oru sebagai pengganti -iru. Asal tahu saja kalau bentuk -oru merupakan bentuk kalimat jaman dulu yang digunakan para samurai jaman Edo dan sering kudengar lewat drama Jidaigeki di TV. Tiba-tiba saja aku tertawa tertahan karena membayangkan 3 “samurai” lagi ngobrol di depanku, untungnya ketiga “samurai” itu tak ada yang memperhatikanku. Selamatlah muka si gegar dialek ini.😀

NB. Gambar diatas adalah gambar gunung Fuji yang diambil dari Shiraoyama Kouen, Fujinomiya (tempat yang sama dengan gambar header).

3 thoughts on “Gegar Dialek

  1. hmm… jadi inget kalo di beberapa anime/dorama ada tokoh utama yang dari “ndeso” rada malu kalo ketauan ngobrol pake medhok-nya masing2😛

    Kirei da (cakep) menjadi Kirei dani -> Kirei jang

    kok jadi kayak di Jawa Barat😆😆

  2. Meski berakar sama, perbedaan dialek memang menimbulkan sedikit “perbedaan”. beberapa waktu lalu waktu ke Kepri (tanjung pinang, batam dan riau) saya malah agak kurang ngerti dengan bahasa yang mereka gunakan, meski ngobrolnya sama-sama memakai bahasa indonesia🙂

    untungnya ketiga “samurai” itu tak ada yang memperhatikanku. Selamatlah muka si gegar dialek ini.😀

    memangnya kalau seandainya mereka memperhatikan, kira-kira apa yang bakal mereka lakukan?😕 apa bakal menebas pake padang samurai?:mrgreen:

    • @Arm
      Ada tuh dalam serial Detective Conan, anak baru pindahan dari Kansai malu ngomong pake dialek Kansai.:mrgreen:
      jawa barat? kalau versi sunda sih mungkin:
      Anata mah kirei euyyyy…..😆

      @Zeph
      Cobalah ke daerah Deli. Katanya sih, bahasa melayu di sana “sangat Indonesia” sekali.
      Oooo…. kalau mereka memperhatikan, tinggal berkelit aja. misalnya bilang tersedak:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s