Gaya Gaijin

Mungkin judul postingan terkesan ofensif bagi yang mengerti bahasa dan kebudayaan Jepang. Maklumlah, walaupun sama-sama berarti orang asing, Gaikokujin (foreigner) lebih sering digunakan karena tekesan sopan daripada Gaijin (diterjemahkan sebagai outsider). Untuk kali ini kayaknya kata Gaijin lebih enak dipakai karena lebih singkat dan menghemat waktu mengetik:mrgreen: Tadinya aku pikir setelah lulus dari universitas dan bekerja sebagai TKI, pengalaman menarik sebagai akan berkurang banyak. Ternyata tidak, yang ada hanyalah perubahan suasana dan cara pandang saja. Gaijin dalam kehidupan kampus benar-benar terasa bedanya dengan kehidupan dunia pekerjaan. Yang paling terasa mungkin soal bahasa dan perilaku, dimana mayoritas orang-orang dalam kampus cenderung sopan. Sedangkan dalam lingkungan pekerjaan (terutama bagian produksi) justru kebalikannya. Tentu saja lingkungan pekerjaan yang dimaksud adalah pergaulan sesama karyawan, bukan customer/buyer dan producer/seller. Baiklah, postingan ini akan membahas mengenai cara Gaijin kenalanku dalam menyikapi aksi bully yang terjadi dalam lingkungan kerja terhadap karyawan tunagrahita.

Pemerintah Jepang memberlakukan kebijakan bagi perusahaan menengah keatas untuk melibatkan dan mempekerjakan para tunagrahita dalam perusahaan masing-masing, tentu saja gaji dan pekerjaan mereka disesuai dengan kemampuan masing-masing tuna grahita karena mereka tak bisa dibiarkan kerja sendirian. Kebijakan baik yang ditinjau dari segi produktivitas dan ekonomi ini (bagaimana dengan kebijakan tunagrahita di Indonesia?) mempunyai beberapa aspek kelemahan. Diantaranya adalah para tunagrahita ini kadang mendapatkan perlakuan kurang baik dari karyawan “normal” yang usil akibat keterbatasan mental para tunagrahita. Kasus yang kubahas kali ini adalah palak memalak (meminta uang dengan mengancam).

Sebenarnya kejadian ini berlangsung 1 bulan sebelum aku masuk dan bekerja di perusahaan PT Sinar Karya. Aku sendiri mendapatkan cerita ini dari seorang Gaijin Brazil turunan Jepang yang bekerja di dalam grup produksi dimana aku juga bekerja. Cerita ini sudah aku konfirmasikan pada 3 orang berbeda untuk memastikan kalau kisah ini valid. Pekerja asing yang bekerja dalam PT Sarana Karya terbagi menjadi 3 bagian umum yaitu karyawan regular (Sei Sha-in), karyawan kontrak (Keiyaku Sha-in) dan karyawan training (Kenshuusei). Kejadian ini melibatkan 2 orang Gaijin yang berstatus karyawan kontrak. Mereka berdua adalah Branco (turunan Jepang/Brazil) dan Pinoy (turunan Jepang/Filipina).

Pada suatu hari, seorang tunagrahita yang bekerja di bagian QC bernama Nakamura terlihat ketakutan sewaktu jam kerja hampir berakhir. Walaupun Nakamura telah berusia hampir 30 tahun, kemampuan berpikirnya tak lebih dari anak-anak SD umur 7-8 tahun. Rupanya Nakamura takut akan dipalak seperti kejadian 2 hari terakhir ketika pulang bekerja. Pemalakan pertama dianggap sebagai kejadian kebetulan olehnya, tapi ketika 2 orang yang sama ternyata menunggu Nakamura ditempat yang sama pada hari berikutnya untuk kembali meminta uang bukanlah kebetulan melainkan bentuk bully. Bagi orang Jepang normal, mungkin yang akan dilakukan adalah langsung melaporkannya pada polisi. Tapi bagi tunagrahita, hal yang dianggap biasa justru tidak bisa dilakukannya (Nakamura takut berurusan dengan polisi). Satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah bercerita pada sesama karyawan tempatnya bekerja. Orang-orang Jepang yang mendengar menyarankan Nakamura untuk melaporkan pada atasannya dan Nakamura memang berbicara pada sang supervisor tentang kejadian yang dialaminya. Bagaimana dengan para Gaijin? mereka diam saja, hanya mendengarkan cerita tanpa memberikan komentar.

Keesokan harinya, ternyata Nakamura masih terlihat ketakutan sewaktu jam pulang kerja hampir berakhir. Kali ini 2 orang Gaijin yaitu Branco dan Pinoy penasaran dan menanyakan hasil laporannya kemarin. Rupanya sang supervisor ditempeleng oleh sang pemalak sehingga tak mampu menolong Nakamura dari aksi bully hari kemarin dan sang supervisor berniat melaporkannya bersama Nakamura pada manajemen. Merasa lapor melapor tidak menyelesaikan masalah dengan waktu singkat (terutama karena birokrasi butuh waktu, bukti, dll), Branco dan Pinoy menyuruh Nakamura pulang lewat tempat yang sama tanpa melapor pada manajemen. Hanya saja kali ini Branco dan Pinoy menguntit dari belakang Nakamura secara diam-diam.

Benar saja, 2 orang terlihat menghadang jalan Nakamura, mendorong-dorong sambil meminta uang pada Nakamura. Rupanya Branco dan Pinoy kenal dengan pemalak tersebut, salah satunya memang dikenal sebagai bad boy dikalangan orang Jepang bernama Kobayashi. Begitu Kobayashi terlihat mengambil dompet milik Nakamura, barulah Branco dan Pinoy keluar dan menghampiri dua pemalak tersebut. Ternyata Kobayashi terlihat takut dengan Branco dan Pinoy, sedangkan partner in crime Kobayashi hanya diam saja karena dia cuma ikut-ikutan. Kobayashi pada awalnya mengaku cuma pinjam uang Nakamura, walaupun setelah didorong, dijitak dan terakhir ditempeleng Pinoy barulah mengaku memalak Nakamura selama 3 hari. Kali ini Kobayashi berbalik diancam untuk tidak mem-bully terutama terhadap Nakamura. Untuk mengganti uang hasil “pinjaman”, 2 pemalak dipaksa menguras isi dompet mereka untuk diberikan pada Nakamura.

Ternyata gaya Gaijin disini lebih suka pakai cara singkat untuk menyelesaikan masalah bully. Tak perlu birokrasi, tak perlu lapor melapor, tak perlu musyawarah, yang penting cepat selesai.

NB.
-Seluruh kejadian diatas adalah nyata dengan nama-nama orang yang telah diganti.
-Branco dan Pinoy rupanya praktisi Brazilian Jujitsu yang sudah berlatih lebih dari 5 tahun:mrgreen:
-Menurut Pinoy, Kobayashi pernah dihajar seorang Gaijin kenalannya hingga habis-habisan sampai trauma dengan sosok Gaijin😆

6 thoughts on “Gaya Gaijin

  1. Ealah, awalnya saya kira ada foreigner malakin orang sono. Ga tahunya justru nolongin.😆

    sepertinya otak saya terkondisi mengingat debito (ninja)

    • @lambrtz
      Hidup juga😛

      @Arm😆
      *serahkan kacamata pantat botol buat arm*

      @sora9
      yang malakin juga ada koq, cm biasanya dikota2 gede kayak Tokyo dan Osaka sana

      @Zeph
      Hidup Kamen Rider!

  2. Ck ck ck…. Wah, malah orang pendatang yang jago di sana.😀
    ———————–
    @Asop
    Soalnya orang pendatang punya ilmu bela diri. Coba ke Indonesia, paling dikeroyok sekampung lalu dibakar idup-idup sambil diteriakin maliiingggg (jurus efektif membunuh lawan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s