3 hari di Shanghai

Yang namanya dikasih jatah liburan ke luar negeri gratis, orang Indonesia mana sih yang nolak? Kebetulan sekali perusahaan tempatku bekerja selalu mengadakan acara jalan-jalan keluar negeri tiap 5 tahun sekali dan beruntungnya 2010 termasuk dalam jadwal tahun kelima tersebut. Walaupun aku baru bekerja sekitar 4 bulan, jatah jalan-jalan tetap kudapatkan karena statusku sebagai pegawai tetap. Tujuan tahun ini adalah Shanghai dan Suzhou di China, setelah 5 tahun yang lalu berkunjung (katanya sih) ke Thailand. Karena jalan-jalan ini termasuk paket tour, jadilah aku tak bisa bebas kemana-mana selain mengikuti jadwal yang telah ditetapkan. Namanya juga main gratisan:mrgreen:

Hari 1 (7 Agustus 2010)

Hari pertama diawali dengan kedatangan di Shanghai Pudong International Airport. Diluar bandara tak terlihat orang-orang lokal berebut penumpang, baik itu supir taksi ataupun portir layaknya Soekarno-Hatta aka Cengkareng di Indonesia. Rombongan jalan-jalan kami dijemput oleh pihak penyelenggara tour yang dipimpin seorang guide yang fasih berbahasa Jepang. Sembari meninggalkan bandara Pudong dengan mengendarai bis, kami disuguhi pemandangan Shanghai di area Pudong disertai penjelasan oleh guide. Terlihat jejeran gedung apartemen di sepanjang jalan hingga serta merta aku langsung menjuluki Shanghai sebagai kota apartement, apalagi ketika kami mengunjungi Suzhou yang terletak 1-2 jam perjalanan dari Shanghai, aku kembali melihat pembangunan gedung apartement baru di daerah suburban Shanghai.

(atas kiri) kota Shanghai; (bawah kiri) Dalam ruang Shanghai Museum; (kanan) Xintiandi

Setelah makan siang, rombongan kami bergerak menuju Shanghai Museum sambil disepanjang jalan melihat area luas yang dijadikan tempat penyelenggaraan International Expo 2010 di Shanghai yang busyet deh ramainya. Untung saja aku tak memilih jalan-jalan ke Expo, kalau tidak sudah terjerat aku di lingkaran setan antrian. Lepas dari museum, kami mengunjungi Xintiandi yang merupakan salah satu pusat keramaian kota Shanghai. Di Xintiandi kami yang berkantong pas-pasan sempat nonton pertunjukan chinese girls memainkan instrument musik ala 12 girls, ketika yang banyak duitnya belanja sana sini.

Setelah kembali ke hotel melepas lelah sebentar, kami diberikan 2 macam acara pilihan yaitu pijit urut ala Shanghai (non-pornografi pastinya) dan nonton akrobat. Karena aku tak tertarik dengan segala macam pijit urut yang menyakitkan, aku ikut rombongan nonton akrobat. Yunfeng acrobatics group ternyata menghibur juga, terutama ketika mereka mengemas adegan akrobatnya dalam bentuk drama musikal sambil jumpalitan. Yunfeng acrobatics adalah hal yang paling berkesan bagiku di hari pertama.

Hari 2 (8 Agustus 2010)

Setelah sarapan, rombongan mulai diajak mengunjungi kota yang terletak di sebelah Shanghai yaitu Suzhou di propinsi Jiangsu yang memakan waktu perjalanan bis lewat jalan tol sekitar 1-2 jam. Kunjungan pertama adalah ke Liu Yuan aka Lingering Garden. Terus terang saja, yang namanya wisata rombongan ke tempat ramai yang padat pengunjung kurang kuminati. Jadinya keindahan taman Liu Yuan yang digadang-gadangkan itu sama sekali tak menarik minatku. Karena Taman Liu Yuan identik dengan Pingtan dan alat musik Guqin, seorang gadis di tempatkan dalam paviliun untuk bermain Guqin dan seorang lagi naik perahu sambil memainkan Pingtan. Di luar daerah kompleks Lingering Garden ini pulalah aku melihat sebuah restoran dengan tulisan Halal dalam tulisan arab di papan nama restorannya. Mungkin penjualnya adalah seorang muslim Hui.

(kiri) Wanita pemain Guqin dalam paviliun; (kanan) Suasana dalam taman Liu Yuan

Selesai dari kunjungan ke Lingering Garden, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke kuil yang bernama Hanshan Shi. Lagi-lagi penuh dengan para turis, baik lokal maupun internasional. Jadilah aku cuma mengekor rombongan tanpa banyak minat karena harus saingan memperoleh tempat bernafas dengan pengunjung lainnya. Lagi pula kalau dipikir-pikir, kuil seperti Hanshan Shi begini banyak ku lihat di Jepang.

(atas) The Bund; (bawah) Pudong District

Setelah makan malam dijamu oleh boss gede, kami menuju pinggiran sungai Huangpu untuk melihat daerah The Bund dan Pudong district lewat kapal. Di sinilah pengalaman paling berkesan bagiku pada hari ke-2 di Shanghai. Melihat jejeran gedung kolonial kuno yang masih terpelihara rapih di daerah Shanghai Bund atau The Bund sangat menarik perhatian. The Bund terletak seberang sungai Huangpu bagian barat. Sedangkan di sebelah timur sungai Huangpu berjejeran skyscraper distrik Pudong yang beberapa diantaranya masuk dalam 10 besar bangunan tertinggi di dunia seperti misalnya Oriental Pearl Tower, Jin Mao Building dan the Shanghai World Financial Center.

Hari 3 (9 Agustus 2010)

Setelah check-out dari hotel, rombongan kali ini dibawa untuk mengunjungi daerah The Bund sekali lagi. Kali ini kami melihat gedung-gedung kolonial tua yang berjejeran di sepanjang jalan Zhongshan The Bund dalam keadaan terang. Melihat langsung gedung-gedung ini merupakan pengalaman paling mengesankan di hari ketiga bagiku. Dari The Bund, kami bisa melihat langsung distrik Pudong dengan pencakar langitnya yang terletak diseberang sungai Huangpu.

(kiri) Pudong District; (kanan) The Bund

Selepas makan siang, kami diajak mengunjungi taman kuno yang terletak ditengah kota benama Yu Yuan. Sebelum masuk ke taman, terlebih dahulu kami melewati sebuah kuil tua yang bernama City God Temple. Yang tak kusangka, kuil ini berdiri di tengah-tengah pasar yang mirip dengan pasar Senen. Mungkin jaman dulu ketika pengunjung kuil banyak berdatangan, para pedagang banyak yang membuka lapak dagangannya disekitar kuil hingga lama-kelamaan menjadi daerah komersil. Tapi bagaimanapun, pasar ini jauh lebih bersih dibandingkan Senen ataupun Glodok. Hanya saja yang sulit ditahan adalah baunya:mrgreen:

City Gold Temple dan Taman Yu Yuan serta pasar yang mengelilingi.

Selesai mengunjungi taman Yu Yuan, kami bergerak menuju bandara Pudong kembali untuk pulang. Bagiku, pengalaman ini cukup berkesan. Terbersit rasa iri melihat kemajuan China dan keteraturannya walaupun cuma di daerah kota bukan pinggirannya. Paling tidak, jika kita membandingkan dengan sesama kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya, Shanghai dan Suzhou terlihat masih lebih baik dan membuatku bertambah iri. Kalaupun masih mau berkelit dengan mengatakan jumlah penduduk dan luas daerah yang dijadikan alasan kekalahan ini, RRC jauh lebih luas dan padat penduduknya. Malah sistem komunis yang digadang-gadangkan pemerintah RI sebagai sistem yang buruk, tidak menurunkan menanjaknya pembangunan China. Bukan sistem pemerintahan saja yang berperan dalam hal ini melainkan begitu banyak aspek termasuk sumber daya manusia.

Kesan Pribadi:

1. Penyelenggaraan lapangan terbang Pudong yang jauh lebih baik dibanding bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Tidak terlihat supir taksi/portir berebut pelanggan di pintu keluar bandara. Benar-benar berbeda dibandingkan ketika aku pulang ke Jakarta.

2. Modernsasi Shanghai, terutama daerah Pudong yang dikenal sebagai distrik baru yang dikembangkan pada awal 1990-an, ternyata sangat pesat. Bangunan pencakar langit Pudong tampak jauh lebih megah dibandingkan kota-kota besar di ASEAN seperti misalnya Jakarta, Kuala Lumpur, bahkan Singapura sekalipun.

3. Sistem transportasi Shanghai benar-benar bikin aku iri sebagai orang Indonesia yang tinggal di pinggiran Jakarta. Jaringan kereta bawah tanah sudah jalan dengan teratur (kalah jauh deh Jakarta), bahkan kereta peluru semacam Shinkansen bernama Maglev sudah beroperasi sejak 2004.

4. Julukanku pada Shanghai sebagai kota apartement sangatlah tepat. Bayangkan saja, setelah aku melihat jejeran gedung apartement yang sangat banyak, lagi-lagi aku dikejutkan dengan jejeran pembangunan apartement baru yang dibangun di daerah suburban Shanghai.

5. Chinese food yang asli ternyata jauh dari seleraku. Memang sih aku tak makan masakan mengandung babi, tapi masakan lainnya seperti gulai ikan, sayur dan bahkan nasi goreng sekalipun masih jauh lebih enak Indonesian Chinese food yang telah dipengaruhi oleh bumbu lokal Indonesia. Baik itu rasa pedas maupun manisnya masih kurang sreg dengan lidahku.

6. Hal yang paling ku khawatirkan sebelum datang adalah masalah kebersihan. Ternyata kota Shanghai jauh lebih bersih dibandingkan kota Jakarta. Kotak sampah ada dimana-mana tanpa ada tangan jahil yang mencopot dan mencurinya, sehingga mempermudah orang-orang yang ingin membuang sampah. Toilet juga lumayan bersih walaupun menurut pemandu tur, kebersihan ini lebih dikarenakan Pemda Shanghai memperketat penjagaan kebersihan untuk menyambut International Expo 2010 dengan berbagai macam ancaman hukuman. Paling tidak setelah Expo selesai, Pemda Shanghai mencanangkan untuk terus melanjutkan program kebersihan ini.

7. Sungai-sungai di Shanghai dan Suzhou bisa dikategorikan bersih bila dibandingkan dengan Ciliwung. Menurut pemandu tur, 10 tahun yang lalu sungai-sungai ini masih berwarna kecoklatan mirip kopi susu. Hanya saja setelah program kebersihan dilancarkan Pemda pemerintah komunis setempat, sungai-sungai ini mulai bersih. Malah sekarang dijadikan sebagai bagian program wisata sungai bagi para pelancong.

8. Sepeda masih banyak berseliweran di jalanan, tapi kali ini yang paling banyak adalah sepeda bermotorkan tenaga listrik. Sepeda dengan tenaga listrik ini banyak dijumpai di jalanan dan menurut pemandu tur, pencuri batere untuk tenaga listrik sepeda semakin marak, karena harga batere ini lumayan mahal.

Sepeda bertenaga listrik dengan batere dirantai anti maling

9. Yang namanya travel agent, seperti biasanya membawa rombongan ke tempat-tempat jualan yang ada hubungan kerjasama dengan travel seperti toko penjual batu giok, pabrik sutra sampai kedai teh. Aku sendiri cuma tertarik dengan toko penjual teh (namanya juga penikmat minuman kopi dan teh) yang berada di belakang daerah The Bund dan memiliki gedung yang umurnya sama tua dengan jejeran gedung kolonial The Bund. Teh yang kubeli ini rencananya buat minuman buka puasa nanti🙂

6 thoughts on “3 hari di Shanghai

  1. whoo…

    *cumabisairi*
    *semogatahundepanbisaenyahsejenakdarinegeriini*

    btw, ini di Shanghai ya, kota yang bersih..
    kata temen sih di RRC pada umumnya itu kotor dan jorok, tampaknya Shanghai ini anomali ya?😛

    yaitu pijit urut ala Shanghai (non-pornografi pastinya) dan nonton akrobat. Karena aku tak tertarik dengan segala macam pijit urut

    berarti kalo ngga non-pornografi suheng Ando bakal tertarik ya?😈

    *o-em-ji-puasa!*

    • @Arm
      Kayaknya sih emang udah ada program bersih2 gara2 ada acara Expo gede2an berskala internasional. Malu khan kalau toilet kotor dimuka para pengunjung luar negri emangnya Indonesia yg cuek bebek. Dulu juga pas Olimpiade Beijing, kata temanku toilet2 disana tumben2an mengkilap:mrgreen:
      Hanya saja yg gak nyangka itu sungai2 kecil disana. Emang nggak sejernih di Jepang sih, tp dibanding Ciliwung jauh lbh bersih dgn cm sedikit sampah buangan orang iseng. Padahal 10 tahun yg lalu minta ampun kotornya. Kalau niat sih Jakarta bisa aja ngembersihin Ciliwung tuh.

      berarti kalo ngga non-pornografi suheng Ando bakal tertarik ya?😈

      Emang pada dasarnya aku kurang tertarik sama dunia pijit2an, bikin sakit doang. Kalau pijit pornografi sih nggak tau juga yah, belum pernah ditawarin sih😈
      *balas komen pas udah buka puasa nih*

      @Jayz Lim
      Thanx

      @Zeph
      foto bergambar saya adanya dikamera orang lain, belum diminta tuh file-nya. wong tustel saya ngenjepret muka2 orang2 sekitar. Belum cukup narsis ngenjepret muka sendiri pake tustel sendiri dgn penekan tombol jari sendiri😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s