Menjadi muslim Jepang

Practicing Islam in Japan remains in challenge.

Tadinya aku berpikir untuk membuat postingan khusus tentang kehidupan muslim di Jepang spesial di bulan Ramadhan, jadilah tulisan pendek ini. Mohon ma’af jika tidak sesuai dengan kenyataan ditempat lain, karena tulisan ini hanya berdasarkan pengamatan pribadi semata.

Puasa bagi umat muslim, mungkin kegiatan ibadah yang tak terlalu sulit dilakukan (dalam artian tidak makan dan minum). Apalagi bagi muslim yang dibesarkan dari keluarga muslim, tentu telah digembleng sejak kecil dengan latihan puasa untuk mencapai tahap kuat puasa 1 hari penuh. Bagaimana dengan orang Jepang totok yang baru masuk Islam, baik dengan alasan menikah, mendapatkan hidayah atau alasan lainnya. Terus terang saja sangat berat bagi mereka untuk menjalankannya. Muslim Jepang yang baru convert kebanyakan membayar fidyah untuk mengganti kewajiban mereka di bulan Ramadhan. Saya sendiri kurang paham tentang sistem pembayaran fidyah ini boleh atau tidak, karena mereka yang membayar fidyah dalam kasus ini termasuk orang dewasa yang kuat/sehat fisik dan mentalnya.

Menurut pengalaman dan pengamatan saya selama tinggal di Jepang, orang Jepang asli sangat sulit menjadi muslim seutuhnya. Butuh ketekunan dan kemauan kuat untuk benar-benar memeluk agama Islam termasuk kewajiban didalamnya sholat 5 waktu dan puasa Ramadhan, apalagi melakukan perjalanan Haji yang mengharuskan hapalan tarbiyah serta ritual-ritual lainnya dalam bahasa Arab yang sulit diucapkan lidah Jepang.

Dalam soal makan-minum, budaya Jepang yang telah tertanam sejak kecil juga merupakan hambatan yang tidak kecil bagi mereka. Larangan untuk tidak makan babi mungkin lebih mudah dilakukan, tetapi larangan minum alkohol justru cukup sulit dihindarkan. Minum sake (alkohol khas Jepang) merupakan budaya yang cukup erat dijalankan baik sebagai upacara jamuan maupun hanya untuk pergaulan sehari-hari, sehingga butuh kemantapan hati untuk menolak ajakan kerabat dan teman dekat untuk ikut minum sake walaupun cuma sedikit.

Boleh dibilang masuk Islam berarti harus merubah kebiasaan sehari-hari dan budaya hidup orang Jepang pada umumnya. Karena itu, bila ada orang Jepang asli yang bisa menjalankan keislamannya secara penuh, saya harus mengakui kalau dia punya keimanan dan keteguhan hati lebih dari yang saya miliki. Hingga sekarang, saya telah bertemu dengan sekitar 10 orang Jepang asli yang masuk Islam. Dari semuanya, mungkin hanya 1 orang saja yang menjalankan Islam dalam kehidupan sehari-hari secara penuh, dan beliau seorang ibu rumah tangga.

Sebagai bonus, klip youtube dibawah ini dapat menggambarkan betapa tidak mudahnya orang Jepang asli yang ingin menjalankan prinsip Islam dengan benar (dalam hal ini ibadah haji). Bagi yang mengaku muslim dan tinggal di daerah yang penduduknya mayoritas muslim tapi masih bolong-bolong menjalankan keislamannya, bolehlah merasa malu dibandingkan dengan mereka.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankannya.

7 thoughts on “Menjadi muslim Jepang

  1. *terharu*
    Haaaaaah~~

    larangan untuk tidak makan babi mungkin lebih mudah dilakukan, tetapi larangan minum alkohol justru cukup sulit dihindarkan. Minum sake (alkohol khas Jepang) merupakan budaya yang cukup erat dijalankan baik sebagai upacara jamuan maupun hanya untuk pergaulan sehari-hari,

    this.

    Boleh dibilang masuk Islam berarti harus merubah kebiasaan sehari-hari dan budaya hidup orang Jepang pada umumnya.

    Couldn’t agree more.
    Turut mendoakan para muslim jepang semoga Allah memperkuat keimanan mereka. u_u

  2. @Snowie
    Justru disitu ironisnya. Di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam saja , masih banyak yang minum alkohol dengan santainya. Padahal mereka tak punya lagi hambatan budaya/kebiasaan seperti jaman dulu (peralihan Buddha/Hindu ke Islam) utk berhenti mengkonsumsi alkohol. Saya mengerti sih alasannya, kebanyakan dari mereka Islam KTP alias agnostik malu-malu kucing.

  3. ^

    kebanyakan dari mereka Islam KTP alias agnostik…

    Ugh, saya sampe sekarang masih alergi dengan kata yang terakhir itu. ><

    *hufh**hem*

    Justru disitu ironisnya. Di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam saja , masih banyak yang minum alkohol dengan santainya.

    IMHO, masalahnya adalah kesadaran beragama itu sendiri. I think karena mereka udah dilahirkan dengan ‘status’ islam, dan saat mengisi ADM orang tua mereka mengisi kolom agama mereka dengan “islam”, jadi tanpa banyak berfikir mereka udah merasa cukup begitu aja. Kesadaran I think kesadaran beragama adalah kunci utamanya.

    Saya pernah baca novel singkat tentang anak umur 12 tahun yang orang tuanya akhirnya memutuskan untuk tidak beragama karena dulunya sebelum menikah orang tuanya tersebut berbeda agama. ayahnya beragama Yahudi, sedang ibunya Ibunya Kristen.
    Namun sang anak merasa Tuhan itu ada, dan berusaha mencari keberadaan Tuhan dengan coba pergi ke sinagoga bersama neneknya pihak ayah, lalu setelah itu mengunjungi gereja… u_u
    ______

    P.S
    Tiga hari lagi Ramadhan tahun ini berakhir, dan seingat saya mau puasa kemaren juga belum sempat minta maaf sama AnDo-kun.
    Maaf ya, atas tindakan dan komen saya yang tak berkenan. Juga atas su’udzon saya. Mohon Maaf lahir bathin. ^^

    *maaf juga kalau kalimatnya agak sulit dimengerti*😛

    • sampe sekarang masih alergi

      ugh… bakalan ke-summon nggak yang ngerasa yah😈

      masalahnya adalah kesadaran beragama itu sendiri

      Ada benarnya juga. Kebanyakan orang yang ngaku beragama tetapi tak pernah menjalankan ibadahnya dengan “hati” memang tidak bisa disebut beragama, karena yang ada cuma dogma bukan kepercayaan yang menjadi dasar agama.

      tanpa banyak berfikir mereka udah merasa cukup begitu aja

      Sebenarnya hal ini bisa jadi perdebatan panjang, tapi IMHO mereka bukanlah merasa cukup melainkan memang dari dalam jiwanya tidak ada iman dan kepercayaan terhadap apa yang diadopsi dari ajaran-ajaran agama itu sendiri. Orang yang punya iman tentunya tahu kalau definisi cukup itu melakukan yang halal dan menghindari yang haram.

      Kenapa memangnya dengan agnostik? Agnostik sendiri IMO bisa terjadi karena memang orangnya mengerti dengan baik dengan apa yang dimaksud agnostik dan tetap memilihnya. Agnostik yang lain yaitu yang malu-malu kucing, kebanyakan malah nggak ngerti dengan konsep agnostik tapi cuma ikut arus tanpa mengganti status agama dalam KTP nya. Tentu kalau hal ini terjadi di Indonesia, beda lagi deskripsinya. karena NKRI hanya mengakui agama tertentu, sehingga agnostik tulen juga mau tak mau menuliskan salah satu agama yang diakui dalam KTP-nya.
      Ada lagi yang dibilang agnostik tapi beragama secara kultural, maksudnya sejak kecil hingga dewasa sudah terbiasa dibilang menganut agama tertentu tapi tak pernah menjalankan ritual. Contohnya: agnostik yang tidak makan babi karena sejak kecil diajarkan bahwa babi haram (sorry, ini hanya berlaku untuk kasus Yahudi dan Islam) namun tak pernah melakukan ritual ibadah.
      Yah, pemahaman dan kepercayaan orang terhadap zat bernama Tuhan memang beda-beda lah, tapi yang penting jangan sampai bertindak melebihi batas. Saya sendiri sebelumnya juga Islam dogma koq dan baru benar-benar punya iman dan kepercayaan (ini sih dirasakan sendiri) justru ketika tingkat akhir kuliah S1.

      Saya pernah baca novel singkat…

      Ya, novel sih cuma novel. Lagipula dalam masa umur 12 tahun, konsep ketuhanan seperti apa sih yang dipahami anak kecil? Orang dewasa aja masih banyak dipengaruhi dogma.😆

      PS.
      Sama sama. Saya juga mohon maaf lahir bathin secara khusus mumpung Ramadhan dan bentar lagi Aidil Fitri.
      Minta maaf yang tidak khusus bisa setiap saat koq:mrgreen:
      *kalimatnya cukup bisa dimengerti koq, hanya saja sepertinya snowie punya pengalaman pribadi yang membuat tulisannya agak gimana gitu *

  4. ugh… bakalan ke-summon nggak yang ngerasa yah😈

    ah, tidak tidak. Saya tidak bermaksud menyinggung siapapun.
    Itu hanya pendapat pribadi saja. Saya sudah sangat mengerti dengan baik istilah tersebut, tapi tetap saja, kata yang satu itu masih menyisakan kesan yang tidak mengenakkan. Setiap membaca atau mendengar kata yang satu itu, rasanya seperti ada yang berusaha menarik-narik keluar hal yang selama ini harusnya sudah tersimpan dalam-dalam dan terlupakan.
    …tapi, mungkin dengan membahasnya lagi dengan cara berbeda bisa menyembuhkan. ^^

    Sebenarnya hal ini bisa jadi perdebatan panjang, tapi IMHO mereka bukanlah merasa cukup melainkan memang dari dalam jiwanya tidak ada iman dan kepercayaan terhadap apa yang diadopsi dari ajaran-ajaran agama itu sendiri.

    Ya, saya bisa menerima pendapat ini.🙂

    Saya sendiri sebelumnya juga Islam dogma koq dan baru benar-benar punya iman dan kepercayaan (ini sih dirasakan sendiri) justru ketika tingkat akhir kuliah S1.

    Wow, ini keren.😀
    Apalagi sekarang hidup di negara yang Islamnya minoritas,… ^^

    Ya, novel sih cuma novel. Lagipula dalam masa umur 12 tahun, konsep ketuhanan seperti apa sih yang dipahami anak kecil? Orang dewasa aja masih banyak dipengaruhi dogma.

    walaupun cuma novel, tapi saya percaya ada seorang pengarang dibalik novel tersebut.
    Mungkin karena kondisinya si Anak tidak diajarkan agama apapun sejak lahir, maka pencarian Tuhan tersebut menjadi spesial.😛

    *kalimatnya cukup bisa dimengerti koq, hanya saja sepertinya snowie punya pengalaman pribadi yang membuat tulisannya agak gimana gitu *

    😐

    • anu, saya kuliah S1 di kota yang katanya banyak kembang cakepnya Bandung, bukan di tempat domisili sekarang😈

      ….ada seorang pengarang dibalik novel tersebut.

      Saya hanya percaya apa yg ditulis pengarang itu berdasarkan pandangan si pengarang terhadap suatu hal, bukan kebenaran hakiki.
      Contohnya, saya pernah baca dikit2 terjemahan puisi Divine Comedy-nya Dante Alighieri, ada bab inferno tentang Mahomet di neraka yang di mutilasi sambil diratapi oleh Ali.
      Ini adalah pandangan Alighieri ttg Muhammad dan Ali, apakah pandangan ini suatu kebenaran bagi siapapun yang membacanya? Toh Alighieri juga sejak kanak-kanak tak mengenal Islam, dan dia tahu Islam setelah dewasa dan menurut pandangannya cara Muhammad dan Ali mencari Tuhan itu salah jalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s