People change and so do I

Don’t bite if you don’t want to be bitten

Sebenarnya sudah dari tahun kemarin aku ingin menulis tentang hal ini, hanya saja akibat kesibukan dan aktivitas libur (baca: jalan-jalan) mengakibatkan waktu untuk menulis semakin sedikit. Bukan hanya untuk postingan blog ini, blog review milikku juga jadinya ikut terlantar karena secara otomatis aku juga mulai jarang nonton film. Jadinya tulisan ini ditulis dengan prinsip ngebut untuk menghemat waktu. Sekedar pemberitahuan awal, postingan berikut bersifat agak narsis:mrgreen:

Tiada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Memang perubahan akan ada dan tetap ada hingga bumi ini hancur. Perubahan bukan hanya terjadi secara materi melainkan juga imateri non-fisik, dan yang ingin kubahas disini adalah perubahan pola pikir manusia termasuk didalamnya pandangan hidup. Secara spesifik, aku menganggap bahwa pengaruh lingkungan selama 6 tahun terakhir ini banyak mengubah kepribadianku semenjak aku tinggal di Jepang hingga sekarang. Memang hidup sebagai minoritas banyak memberikan pengaruh besar bagiku.

Menurutku, yang paling banyak mengalami perubahan adalah masalah aplikasi agama secara sosial. Dulu aku pernah meng-klaim bahwa diriku termasuk orang-orang yang menganggap dirinya “Islam Moderat”. Sekarang aku lebih suka menyebut diriku sebagai Muslim yang menjalankan Islam tanpa embel embel moderat, konservatif, sekular, dll. Bagiku sekarang, Islam adalah pedoman hidup, pandangan, landasan keimanan dengan aplikasi yang sangat tergantung pada interpretasi masing-masing personal. Islam adalah Islam, tanpa embel-embel. Yang menjadikannya moderat, sekular, dll adalah interpretasi orang yang menganutnya dengan campuran filosofi, politik, wawasan, dll, pendeknya pengetahuan yang diadopsi sang personal dalam proses pembelajaran hidup. Toh harus kuakui bahwa aku yang sekarang merasa moderat dalam beberapa bagian, sangat konservatif dalam beberapa bagian, dan juga sekular dalam hal tertentu. Aku semakin konservatif terhadap diri sendiri, sekaligus semakin moderat terhadap orang lain.

Contoh yang paling gampang adalah masalah minum alkohol. Sewaktu masih bekerja di sebuah perusahaan Korea di Indonesia, aku masih minum soju dalam beberapa perjamuan makan bersama Boss yang orang Korea dengan batasan “asal jangan sampai mabuk”. Tapi semenjak pindah dan tinggal di Jepang, pandanganku justru jadi lebih konservatif karena aku sama sekali tak mau minum sekalipun itu hanya seteguk bir dengan 10 persen akohol. Bagiku minum bir adalah minum bir, tak perduli sedikit ataupun banyak. Cukup sering aku menghadiri acara nomikai, dan hingga sekarang satu kalipun aku tak pernah tertarik untuk mencicipi sake.

Sekaligus disini juga aku akan menjawab pertanyaan Grace mengenai pandangan dan sikapku terhadap premarital sexual intercourse (sex bebas) dan homoseksualitas. Pergaulanku di Jepang lebih banyak di lingkungan masyarakat non-Indonesia, terutama ketika masih berstatus mahasiswa, sehingga otomatis pandanganku terhadap masyarakat sekitar lebih universal sifatnya.
Boleh dibilang mayoritas orang-orang yang kukenal menganut prinsip sex bebas (bahkan termasuk beberapa orang Indonesia yang mengaku muslim). Apakah dengan bergaul dengan masyarakat demikian akan mempengaruhi prinsip hidupku? Jawabnya YA. Aku semakin kibishi (ketat) dalam kekonservatifan -ku secara internal alias aku semakin konservatif dalam menjaga diriku agar tidak ikut dalam pola hidup sex bebas. Akan tetapi secara eksternal aku justru semakin moderat, boleh dikatakan cenderung kearah “lu lu gue gue”. Tidak ada usahaku untuk mencegah apalagi memaksakan kehendak agar mereka tidak melakukan premarital sexual intercourse, malah kadang kala bercanda dengan beberapa kenalan Jepang akan kehidupan seksual mereka dengan pacarnya yang tinggal serumah. Dengan kata lain, aku menarik garis batas antara kehidupan internal-eksternal dengan garis yang cukup tegas. Berbeda dengan diriku 6 tahun yang lalu dimana aku masih menganut prisip “no free sex” dan ikut-ikutan mempengaruhi orang lain untuk menolak free sex.

Begitu juga dengan pandanganku terhadap homoseksualitas. Secara internal, aku tidak akan melakukan/mendukung/mengajak aktivitas homoseksual. Akan tetapi secara eksternal, boleh dibilang aku hampir tak perduli dengan aktivitas seksual seseorang. Hanya saja ada satu hal yang aku dukung untuk kaum homoseksual. Aku mempunyai pandangan, lebih baik menjalani operasi kelamin bagi yang mempunyai orientasi seksual berbeda (tentunya hal ini tergantung pada keputusan personal).

Pandangan sekularku yang paling terasa adalah soal ilmu pengetahuan dan ini lebih dipengaruhi latar belakang pendidikanku di bidang sains dan teknik. Bagiku lebih baik urusan ilmu pengetahuan dan agama sebaiknya dipisahkan karena prinsip dasar keduanya sangat berbeda. Agama memiliki pandangan absolut mengenai kebenaran, sedangkan kebenaran ilmu pengetahuan cenderung absolut berkelanjutan. Bagi ilmu pengetahuan, X adalah absolut X hingga ditemukan bukti baru bahwa X adalah Y, dan ini terus terjadi secara berkelanjutan. Contohnya saja perubahan teori atom dari teori atom Dalton hingga teori atom modern, dimana kebenaran tentang sosok atom selalu berubah. Hal ini tak berlaku bagi agama karena akan mengakibatkan apologetik. Bagiku pribadi, seorang apologist sama saja dengan menjual kebenaran Ilahiah (baca:sunatullah) atas nama Illahi.

Kalau tak suka dicubit orang lain, janganlah kamu mencubit orang lain. Kalau aku tak suka prinsip pribadiku diutak-atik, demikian pula sebaliknya aku tak suka mengutak atik prinsip orang lain. Salah satu hal yang kusuka dari masyarakat Jepang modern adalah mayoritas dari mereka menerima perbedaan, walaupun perbedaan itu tak umum bagi mereka. Asalkan tidak melanggar privasi orang lain, mereka biasanya sangat menjaga diri agar tak ikut campur dengan urusan orang lain. Memang terkesan individualis, tapi lingkungan ini juga ikut memberi warna dalam idealismeku yang terus berkembang.

Jika 10 tahun kedepan aku masih hidup, apakah aku akan terus berubah? Ya! Aku harap agar diriku terus berubah dan berkembang menuju arah yang kuyakini lebih baik.

21 thoughts on “People change and so do I

  1. OK udah baca.

    Saya ini sudah 23 tahun hidup sebagai minoritas, dan masih melabeli diri konservatif liberal. Awalnya saya mengira saya ini lebih ke konservatif, tapi beberapa tahun kemudian saya menemukan bahwa pandangan politik saya liberal, dan akhirnya menyimpulkan bahwa saya orang berkepribadian konservatif yang berpikiran liberal.:mrgreen: *ribet*

    Bagiku lebih baik urusan ilmu pengetahuan dan agama sebaiknya dipisahkan karena prinsip dasar keduanya sangat berbeda

    Dan ini sudah ditanamkan oleh orang tua saya dari kecil, dan saya masih mengamininya.😛

    Saya pingin tanya ini aja.

    Islam adalah Islam, tanpa embel-embel.

    Saya belum bisa memahami ini. Biasanya setiap agama (besar) punya aliran masing-masing. Islam ada Sunni dan Shia, Kristen ada Katholik, Orthodoks, Protestan, Buddha ada Theravada dan Mahayana, dan masing-masing dari itu masih dibagi-bagi lagi. Lalu, ajaran dari masing-masing aliran itu juga kadang bertolak belakang. Jadi, bisa dijelaskan maksudnya “tanpa embel-embel” itu bagaimana?😛

    E situ kok ga nulis sosialisme di sini? :-“

    • Saya ini sudah 23 tahun hidup sebagai minoritas

      Minoritas secara theologis tetapi mayoritas secara rasis (baca: situ orang Jawa)😈

      saya orang berkepribadian konservatif yang berpikiran liberal

      Mungkin saya yang sekarang ini cenderung konservatif secara internal dan moderat secara eksternal:mrgreen:
      *sama ribetnya*

      Dan ini sudah ditanamkan oleh orang tua saya dari kecil, dan saya masih mengamininya

      Orang tua saya cenderung Islam dogmatik, malah bapak saya semakin tua semakin konservatif. Bapak cuma lulusan SMA dan Ibu lulusan SMP, kayaknya sulit untuk menanamkan prinsip hubungan agama dan sains dengan pengetahuan seadanya ala orang kampung pada anak mereka😛
      Karena itu, seperti yang kutulis diatas, yg memperngaruhiku akan hal ini adalah latar belakang pendidikanku. Bukan ajaran dari orang tua:mrgreen:

      Islam ada Sunni dan Shia

      Prinsip dasar Islam sendiri hanya ada lima rukun, dan baik Sunni maupun Shia sama-sama mengadopsi rukun Islam yang lima itu. Kalau ditilik dari awal sejarah terbentuknya Shia, lebih kearah perpecahan politik dibanding perpecahan akibat idealisme, mengingat pendukung Shia adalah pendukung Ali Ibn Abu Thalib secara politik. Memang sih, makin lama Shia semakin membuktikan diri kalau Shia bisa eksis sebagai aliran tersendiri secara filosofis (karena mereka lebih mengedepankan filosofi pemikiran Ali dan keturunannya dibanding pemikiran sahabat Rasulullah yang lain). Tapi tetap saja Islam adalah Islam, selama siapapun yang mengaku muslim dan menjalankan Rukun Islam yang lima itu. Itulah yang saya maksud tanpa embel-embel.

      Mengenai Theravada, Hinayana dan Mahayana, saya sendiri tidak terlampau dalam pengetahuannya tentang perbedaan mereka. Hanya saja konsep awal dari pembedaan Hinayana dan Mahayana berdasarkan Biksu I Ching:

      Both adopt one and the same Vinaya, and they have in common the prohibitions of the five offenses, and also the practice of the Four Noble Truths. Those who venerate the bodhisattvas and read the Mahāyāna sūtras are called the Mahāyānists, while those who do not perform these are called the Hīnayānists

      Sedangkan Theravada cenderung ke arah Mahayana, karena mayoritas konsep yang dipakai Theravada merupakan bagian dari Buddha Mahayana. Kalau konsep awalnya saja sudah beda, sangat wajar kalau Buddha Hinayana membentuk aliran tersendiri.
      CMIIW, soalnya pengetahuan ttg ajaran Buddha saya masih kurang.

      Mengenai aliran Kristen, tentu pemahaman theologi anda lebih mumpuni daripada yang saya miliki:mrgreen:

      E situ kok ga nulis sosialisme di sini? :-”

      Karena berdasarkan judul postingan, saya terpaksa menyingkirkan prinsip sosialisme yang saya anut. Sosialisme yang saya yakini, lebih ke arah konsep ekonomi dicampuri politik.
      Dan selama 6 tahun belakangan ini, prinsip sosialisme saya tak banyak berubah
      apalagi lingkungan ekonomi bergaya kapitalis Jepang malah memperkuat pertahanan sosialisme yg saya anut😈

  2. Wah, jawaban chat hari itu sampai dibuat postingannya😆

    dalam kekonservatifan -ku secara internal alias aku semakin konservatif dalam menjaga diriku agar tidak ikut dalam pola hidup sex bebas. Akan tetapi secara eksternal aku justru semakin moderat, boleh dikatakan cenderung kearah “lu lu gue gue”. Tidak ada usahaku untuk mencegah apalagi memaksakan kehendak […]

    This. Saya juga cenderung demikian, tapi masih bingung pada isu-isu seperti apa saja saya bisa menerapkan ini. Sekarang ini sedang dalam proses menyeleksi isu-isu tersebut. Sebelumnya, saya menggembleng habis semua isu dengan menerapkan yang begini, tapi kok dipikir-pikir tidak bijak juga kalau memutuskan begini tanpa dipikir masak-masak kenapa mengambil sikap demikian. Jadi ingin nulis soal suicide kemarin itu juga deh kapan-kapan kalo ga males😛

    Tapi tetap saja Islam adalah Islam, selama siapapun yang mengaku muslim dan menjalankan Rukun Islam yang lima itu. Itulah yang saya maksud tanpa embel-embel.

    Jadi ingat waktu nonton film Sang Pencerah, saya dan ibu saya menyukai cara KH Ahmad Dahlan dan istrinya menjalankan hidupnya dalam Islam dengan mulai dari kepedulian terhadap sesama, dll alih-alih ribut-ribut soal seperti Shia dan Sunni dan akhirnya malah tidak menjalankan apa yang jelas-jelas baik. Then again, it’s just an opinion.😛
    Mongomong, nemu yang sepikiran dalam hal begini ini (konservatif inside liberal/moderat outside, seperti bung Lambrtz dan mas Ando) IRl itu susah juga lho. *curcol*

  3. @AnDo

    Minoritas secara theologis tetapi mayoritas secara rasis (baca: situ orang Jawa)😈

    Yaa tapi kan ini konteksnya agama😐 *bakar blog*

    @Grace

    Mongomong, nemu yang sepikiran dalam hal begini ini (konservatif inside liberal/moderat outside, seperti bung Lambrtz dan mas Ando) IRl itu susah juga lho. *curcol*

    CTTOI, kebanyakan orang yang mengaku moderat/liberal di Indonesia itu kepribadiannya konservatif. Mulai dari yang terkenal macam Ulil Abshar Abdalla, Abdurrahman Wahid, sampai yang level kecoa macem saya dan Bang Ando, serta beberapa teman lain, dalam artian (misalnya) tidak ada premarital sex maupun menghindari alkohol. Kalo sodari nonton Global Metal, sampai-sampai di chapter Indonesia ditunjukin penggemar heavy metal yang sholat di Istiqlal, sementara di beberapa tempat macam Skandinavia, heavy metal dekat dengan atheisme dan satanisme.😛

  4. saya selalu merasa terharu saat membaca kisah keimanan seperti ini. *sentimentil*

    ah, maafkan saya…

    Btw, Saya pernah dikasih tau, (yang saya tingat lg dari mana) orang islam yg hidup dilingkungan mayoritas non-muslim itu, hanya ada dua hasil, imannya makin baik atau hancur sama sekali.

    Mungkin ini agak sedikit kekanakan, tp saya mau bilang, bahwa saya merasa senang bisa kenal blogger spt Ando-san.:mrgreen:

  5. aku sih setuju kalau mau berubah, ya berubah ke arah yg lebih baik. tapi ini pun masih bisa didalih, “baik” menurut siapa? hihi. kalau aku sih soal agama juga lebih cenderung menganut prinsip “lu lu gue gue”…

  6. @Grace

    jawaban chat hari itu sampai dibuat postingannya

    Sebenarnya udah lama pengen nulis ini, triggernya emang chat sama Grace. Lagian temanya lbh ke perubahan, jawaban pertanyaan Grace masuk ke dalam salah satu paragraf😀

    tapi masih bingung pada isu-isu seperti apa saja saya bisa menerapkan ini.

    Karena itu aku nggak pantas disebut moderat, karena dalam isu-isu tertentu aku cenderung konservatif terutama dalam pengambilan keputusan yang menurutku jauh lebih baik dilandaskan pada pemahaman agama daripada pemahaman sekuler. Contohnya saja soal suicide kemarin atau aborsi, aku cenderung konservatif secara agamis gak bisa diam membiarkan. Utk masalah aborsi agak rumit sih kalau menyinggung masalah kesehatan sang ibu dan ini cenderung memakai pemahaman sekuler (akademis kedokteran).
    Intinya sebisa mungkin keputusan yg kuambil untuk isu-isu tertentu (yg dilandaskan secara keagamaan, sekular, ataupun lainnya) cukup nyaman diterima bagi diriku pribadi, termasuk juga nyaman bagi batasan keimanan yg kuyakini.

    @lambrtz

    Yaa tapi kan ini konteksnya agama

    lha? Ini khan konteksnya perubahan seseorang. kalau saya pengen ubah topik jadi masalah etnis, suka2 yg punya blog toh.😈
    *lempar molotov*

    @Snowie

    orang islam yg hidup dilingkungan mayoritas non-muslim itu, hanya ada dua hasil, imannya makin baik atau hancur sama sekali.

    Jangan terlalu di generalisasi. Orang2 yg saya temui sangat variatif koq, dari yg sangat alim (ikut komunitas masjid), sok alim-aliman, yang biasa saja kayak saya, yang setengah-setengah, sampai yang gak perduli sama aturan, semuanya ada aja koq. Malah pernah ketemu orang Malaysia yg sangat persistence ngajakin majelis taklim melulu tiap hari.
    Bisa saya bilang, sangat-sangat variatif. Manusia gitu loh, dan mereka juga bisa berubah lagi.

    @Kris

    menurut siapa?

    Karena saya yg nulis dan punya blog, yang pasti baik menurut perspektif saya lah😀

    soal agama juga lebih cenderung menganut prinsip “lu lu gue gue”…

    Dalam Islam ada istilah Amal Ma’ruf Nahi Mungkar, mengamalkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
    Dalam hal2 kebanyakan aku memang “lu lu gue gue”, tapi dalam hal tententu aku bisa konservatif. Apalagi kalau menyangkut hal yg bisa destruktif buat umat manusia, tentunya nggak bisa berdiam diri begitu saja. Contohnya seperti kasus yg dibilang sama Grace soal suicide itu.

  7. Aku semakin konservatif terhadap diri sendiri, sekaligus semakin moderat terhadap orang lain.

    THIS.

    Seperti yang Snowie bilang diatas, saya juga senang mengenal blogger seperti Ando-Kun…

    *jabat tangan erat*🙂

    • @Zeph

      Seperti yang Snowie bilang diatas, saya juga senang mengenal blogger seperti Ando-Kun…

      Lha? nggak takut sama saya yah? Soalnya ada beberapa blogger ngeri sama gaya sarkasme saya😈

      • Takut? tentu saja tidak… kata orang tua saya, jangan takut pada apapun, takutlah hanya pada TUHAN..😎

        beberapa blogger ngeri sama gaya sarkasme saya😈

        itu penilaian yang subjektif….

  8. Pingback: This and That | Grace’s

  9. wah, postingan rada serius menyangkut keimanan nih..

    kalo saya pribadi sih, mirip2 lah, prinsip “lu lu gue gue” jadi patokan saya, sepanjang ga membahayakan siapapun😀

    cuma kadang-kadang saya suka kebawa lingkungan juga, jadi misal temen2 di sekitar “melalai” maka saya ikutan “melalai” juga😛
    apalagi kalo bangun kesiangan, sudah pasti kelewat ritual paginya😛 #pengakuan

    jadi pingin bikin postingan tempat ibadah nih😛

  10. Pergaulanku di Jepang lebih banyak di lingkungan masyarakat non-Indonesia, terutama ketika masih berstatus mahasiswa, sehingga otomatis pandanganku terhadap masyarakat sekitar lebih universal sifatnya.

    Ah, hampir sama dengan saya. Walaupun sebenarnya saya juga masih banyak bergaul di linkungan masyarakat Indonesia di Singapura sini.😆

    Tapi entah kenapa walau sesama orang Indonesia, menurut saya mereka itu nampak seperti orang dari dunia yang berbeda dengan saya. Sangat berbeda sekali, dibanding dengan teman bergaul saya pasca SMA dulu.

    Dengan kata lain, aku menarik garis batas antara kehidupan internal-eksternal dengan garis yang cukup tegas.

    Sepaham.:mrgreen:

  11. @anneshanty
    Thanks

    @Arm
    Wah… ini sih namanya ikut-ikutan. Tapi gak papa, selama situ masih Liverpudlian:mrgreen:

    @Disc-Co

    Walaupun sebenarnya saya juga masih banyak bergaul di linkungan masyarakat Indonesia di Singapura sini.😆

    Saya ini agak aneh kondisinya. Pas ada acara tanding sepakbola antar orang Indonesia (campuran latar belakang, ada yg kerja, sekolah, sampai pendatang haram) aku malah nggak diajak. Pas ada tanding yagyu (baseball) di kampus antar research group, aku malah diajak. Padahal peraturan yagyu hampir gak ngerti sama sekali. Diajarin peraturannya juga pas udah mau main😀

    Tapi entah kenapa walau sesama orang Indonesia, menurut saya mereka itu nampak seperti orang dari dunia yang berbeda dengan saya.

    Jelas beda dong. anda khan loli-fighter
    Namanya juga hidup di negara orang, kongkalikong nya lebih bersifat kedaerahan dibanding teman SMA yang bersifat “yang penting hepi”.

    @lambrtz
    tambahan:
    Maksud saya, kalau terjadi kerusuhan seperti kerusuhan Mei 1998, sampeyan masih bisa jalan lenggang kangkung dgn selamat gak diganggu walau secara theologis minoritas.
    Lah saya, biar saya teriak saya muslim sambil jerit Allahu Akbar, sangat besar kemungkinan kurang dari 5 menit udah jadi manusia panggang.

    sarkasmenya mendadak kumat

  12. tertarik di kalimat sbb

    Lah saya, biar saya teriak saya muslim sambil jerit Allahu Akbar, sangat besar kemungkinan kurang dari 5 menit udah jadi manusia panggang.

    Kok bunyi kalimatnya agak membingungkan ya.

    Maksudnya apa tuh?

    Bukannya lebih cocok kalau:
    kalau sampai saya teriak saya muslim sambil jerit Allahu Akbar, sangat besar kemungkinan kurang dari 5 menit udah jadi manusia panggang.”

    atau

    “biar saya teriak saya muslim sambil jerit Allahu Akbar, sangat kecil kemungkinan kurang dari 5 menit udah jadi manusia panggang.

    • @Snowie
      Maksud saya, orang2 dalam kerusuhan seperti peristiwa kerusuhan Mei 1998 di Jakarta lebih suka membantai orang dgn tampang bermata sipit dan berkulit kuning kayak saya, tak perduli saya muslim ataupun teriak membuktikan kemusliman saya, tetap saja bakalan dibantai dan dibakar.
      Saya berada di Depok (pinggiran Jakarta) ketika peristiwa itu terjadi dan gak berani keluar rumah.

  13. hooo, jadi itu maksudnya.
    Tdnya saya mengaitkan dgn Ando-kun yg teriak Allahuakbar di Jepang. Makanya heran.😛
    .
    .
    Betewe, saya baru tau kalo Ando-kun bermata sipit.

    • Tdnya saya mengaitkan dgn Ando-kun yg teriak Allahuakbar di Jepang. Makanya heran.😛

      Di Jepang jaman sekarang gak bakalan ada cerita rusuh bakar2an orang, kalau di Indonesia sih banyak ceritanya. no comment lah.
      Tapi aku pernah loh melihat kumpulan komunitas masjid di daerah Shizuoka yg sdng rekreasi di pinggiran sungai, selesai sholat dan do’a, mereka teriak Allahu Akbar 3 kali dgn suara keras. Pengunjung lain yg juga sedang rekreasi kelihatan takut dan khawatir lalu memilih untuk pulang lebih cepat. Lumayan, mereka dapat tempat buat rekreasi yg lebih luas😆

      saya baru tau kalo Ando-kun bermata sipit.

      Hehehehe… gak pernah disclaimer ngaku sipit kayak Arm yah?😈

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s