Bahasa standar yang tidak standar

Sudah cukup lama aku tidak mengisi entry Nihongo Trivia. Ya, Nihongo Trivia bukanlah postingan tutorial pelajaran bahasa Jepang seperti kebanyakan blogger baik hati yang berbagi pengetahuan berbahasa Jepang pada para pengunjung blognya. Aku membuat entry Nihongo Trivia untuk menceritakan ulang beberapa pernik bahasa Jepang yang menurutku cukup unik seperti misalnya dialek Kansai, ataupun ribetnya aisatsu orang Jepang. Kali ini aku ingin berbagi cerita mengenai latar belakang bahasa standar alias Hyoujun-Go ~ 標準語.

Sumber tulisan ini berdasarkan komik essay tentang bahasa Jepang yang berjudul Nihonjin no Shiranai Nihongo karya Umino Nagiko dengan ilustrator Hebizo. Walaupun komik essay ini telah diadaptasi menjadi serial drama TV berjudul sama, isi komik essay lebih menekankan pelajaran bahasa Jepang yang tidak umum dibandingkan berkisah. Serial drama TV-nya sendiri hanya mengambil beberapa scene komik essay yang dikembangkan sendiri skenarionya untuk menciptakan cerita baru yang lebih panjang. Dengan demikian, cukup banyak pelajaran bahasa Jepang tak umum dalam komik essay yang tidak ditampilkan dalam serial drama TV-nya. Review serial drama TV-nya sendiri pernah kubahas disini

Kalau jaman sekarang, standar tata bahasa Jepang yang sopan secara umum adalah menggunakan akhiran ~masu dan ~desu, maka masyarakat Jepang jaman Edo (jaman kekuasaan Shogun Tokugawa) memiliki tata bahasa standar sendiri-sendiri berdasarkan kasta sosial. Silahkan bandingkan:

Hyoujun-Go Jepang modern: ~desu; ~masu
Hyoujun-Go kelas samurai: ~de gozaru
Hyoujun-Go kelas pedagang: ~de gozaimasu
Hyoujun-Go rakyat biasa: ~da

Pada jaman Edo, orang-orang yang menggunakan akhiran ~masu dan ~desu adalah para wanita penghibur alias Geisha. Lho? Bagaimana bisa bahasa standar Jepang modern diambil dari bahasa komunikasi Geisha?

Awalnya penyebaran bahasa komunikasi Geisha ini justru lewat kabar dari mulut ke mulut para samurai, terutama samurai kelas menengah ke bawah dari luar Edo (Tokyo jaman sekarang). Ketika para samurai kelas rendahan ini berkunjung ke Edo, setelah mereka menyelesaikan urusannya, biasanya mereka menghibur diri (kalau bukan ditraktir) ke lokasi Mizu Shoubai. Seperti biasa, Geisha menemani mereka minum sake sambil bercakap-cakap diiringi tarian, musik dan bermacam-macam permainan. Dari sini mereka mendapatkan kesan mendalam betapa “sopan dan ramahnya” para Geisha ini, terutama saat bercakap-cakap. Para samurai rendahan ini rata-rata mengambil kesimpulan kalau bahasa standar orang Edo adalah bahasa yang mereka dengar dari para Geisha di Mizu Shobai, dan hal ini disebar luaskan ke kerabat dan teman di pelosok daerah tempat tinggal mereka. Ditambah lagi kabar dari samurai lain yang baru pulang dari Edo mendapatkan kesan yang sama, sehingga memperkuat argumen bahwa ~desu dan ~masu adalah tata bahasa standar yang dipakai penduduk Edo. Hal ini tanpa bisa dicegah, menjadi pengetahuan umum penduduk Jepang (kecuali penduduk di daerah Edo tentunya).

Seperti halnya di kebanyakan negara, bahasa ibu kota biasanya dijadikan bahasa standar nasional. Contohnya saja Republik Rakyat China yang mengambil dialek Peking sebagai standar bahasa mandarin. Jepang pun demikian, pemerintah Meiji menetapkan bahasa standar dialek Edo sebagai bahasa standar resmi Jepang, disamping bahasa biasa alias Kyoutsuu-Go 共通語 yang mengambil bahasa standar rakyat biasa ditambah dialek masing-masing daerah. Penetapan ini pernah ditentang para guru bahasa Jepang (terutama asal Edo) dengan asumsi bahwa ~masu dan ~desu bukanlah standar dialek Edo yang asli, walaupun usaha mereka untuk mengubah hasil penetapan tak berhasil.

Bukan hanya Geisha yang berperan dalam penetapan bahasa Jepang. Malah di jaman sekarang, bahasa komunikasi para Oiran dianggap sebagai bahasa kelas atas. Kalau anda menonton Doraemon dengan bahasa aslinya, anda akan mendapatkan tokoh mama Suneo yang orang kaya dan merasa tinggi kelas sosialnya, menggunakan tata bahasa dengan akhiran ~zamasu. Kasusnya mirip-mirip dengan tata bahasa Geisha, hanya saja Oiran jaman Edo biasanya berdandan lebih semarak dan terlihat anggun bagaikan wanita kalangan atas (elit) sehingga para pelanggan Oiran menganggap tata bahasa yang digunakan para Oiran dalam berkomunikasi merupakan bahasa kelas atas.

Catatan: Saya tidak melayani pertanyaan tutorial bahasa Jepang karena saya sendiri bukan sensei dan belum pernah lulus JLPT level apapun. Mungkin blog seorang Sensei bahasa Jepang di link ini bisa membantu anda

3 thoughts on “Bahasa standar yang tidak standar

  1. Wah, baru tahu saya, ternyata di Jepang juga ada “bahasa ibukota” yang menjadi acuan. Mungkin saja salah satu media yang para samurai gunakan waktu itu facebook atau twitter kali, sampai menyebarnya cepet banget.Hehe

  2. Pingback: Bahasa Jidaigeki | Toumei Ningen – Personal Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s