Once Upon a Time in Japan: Journey to the East

Seminggu setelah perjalanan ke daerah Kansai (barat), kami bersiap untuk melanjutkan acara jalan-jalan sesuai jadwal yaitu ke daerah Kanto (timur). Tadinya kami berniat untuk menginap di Hotel Washington di daerah pelabuhan Yokohama mumpung sedang murah dan ada diskon. Bayangkan saja, menginap satu malam per kepala hanya dikenakan biaya 3000 yen (sekitar 3 ratus ribu rupiah) untuk ukuran hotel berbintang di daerah elite. Sayangnya rencana terpaksa dibatalkan karena satu dan lain hal, termasuk diantaranya tutupnya Tokyo Disney Land yang tadinya menjadi tujuan utama kami.

Papan nama jalan Harajuku di depan Takeshitadori


Journey to the East

Dari apartemen adikku di Shizuoka, hari sabtu jam 4 pagi, kami berangkat dengan mengendarai mobil. Tujuan kami adalah Yokohama, parkir mobil disana, lalu perjalanan disambung dengan naik kereta listrik. Tarif parkir di Tokyo yang mencekik leher menyebabkan kami lebih memilih parkir di Sakuragi-cho, Yokohama yang masih memiliki parkir bertarif murah, hanya 1.200 yen per 12 jam. Selain itu juga kami mempertimbangkan kemungkinan nyasar di jalanan Tokyo menimbang mobil yang kami naiki tidak memiliki Car Navigation yang bersistem GPS. Dari Sakuragi-cho, kami naik kereta listrik menuju Asakusa untuk mengunjungi kuil tertua di Tokyo yaitu Senso-ji.

Gerbang depan Senso-ji, Asakusa

Setelah puas lihat sana-sini, foto sana sini, beli pernak-pernik lucu, didepan Senso-ji ada sebuah warung yang menyediakan ryokucha (teh hijau jepang) gratisan dan kami mampir untuk beristirahat sekaligus minum. Di warung tersebut, ada seorang kakek tua Jepang yang menyapa kami dengan ramah. Beliau bercerita tentang keadaan Tokyo pasca gempa Tohoku 11 Maret 2011 sebelumnya lewat pandangan beliau sebagai senior citizen di Tokyo. Yang pasti, Asakusa tetap saja ramai dengan pengunjung walau bukan hari festival (matsuri).

Pagoda Senso-ji dan bunga Sakura

Dari Asakusa, kami melanjutkan perjalanan ke Shibuya. Layaknya turis, di Shibuya kami hanya lihat-lihat barang di toko (harganya mahal sih), foto sana-sini termasuk didepan patung Hachiko di dekat stasiun Shibuya, dan terakhir kami jalan kaki dari Shibuya ke Harajuku yang letaknya memang cukup dekat. Disepanjang jalan, suasana Tokyo terlihat tak berubah seperti sebelum gempa Tohoku. Kendaraan bermotor yang lalu lalang cukup banyak, para pejalan kaki juga terlihat ramai, tak tampak wajah panik takut radiasi seperti yang diberitakan media-media nasional di Indonesia. Kalaupun terlihat panik, paling di Harajuku mereka terlihat panik jualan dan membeli barang kawai (cute):mrgreen: Ketika hari berangsur gelap menuju malam, barulah terlihat perbedaan dengan suasana Tokyo sebelum gempa Tohoku yaitu Tokyo tak segemerlap biasanya di malam hari. Banyak lampu-lampu berwarna-warni menarik yang digunakan untuk menerangi billboard tak dinyalakan demi mematuhi saran pemerintah untuk menghemat listrik. Jadilah Harajuku mirip kota koboy, ramai orang lalu lalang dalam suasana agak remang-remang.

Siapa bilang orang-orang Tokyo panik? Ini Harajuku coy! Panik jual-beli barang trendy

Dari stasiun Harajuku, kami pulang dengan mengendarai kereta listrik lagi menuju Sakuragi-cho. Daerah Minato Mirai pelabuhan Yokohama didekat Sakuragi-cho dikenal dengan suasana malam yang indah. Lagi-lagi tujuan turis, lihat pemandangan indah dan foto-foto😆 Tapi kali ini tujuan gagal total, ternyata pihak kota Yokohama juga mengikuti saran pemerintah untuk menghemat listrik dan memadamkan lampu-lampu yang “cuma” digunakan untuk “pamer”. Hanya jam digital gede ditengah-tengah poros ferris wheel Cosmo Clock 21 yang dinyalakan, yang lainnya padam semua. Malam di Shibuya dan Harajuku gagal, acara malam di Minato Mirai juga gagal, jadilah kami pulang tanpa foto-foto di Yokohama. Mungkin itu juga yang menjadi sebab tarif hotel dikasih diskon besar. Soalnya tidak ada hal yang menarik untuk bisa dijadikan atraksi wisata di Minato Mirai pada malam harinya.😦

3 thoughts on “Once Upon a Time in Japan: Journey to the East

  1. Siapa bilang orang-orang Tokyo panik? Ini Harajuku coy! Panik jual-beli barang trendy

    media (terutama di indonesia) saja itu yang suka berlebihan, lebay..

    foto yang di patung Hachiko mana? ah… sesekali tampakkanlah itu wajah…🙄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s