Ber-tas punggung ke Kobe

Tulisan panjang tentang perjalanan dan kalau sekiranya membosankan, silahkan berkunjung ke postingan blog lain saja.

Golden week (disingkat GW)adalah hari libur berurutan di Jepang hingga total seminggu (plus sabtu-minggu). Biasanya GW diisi dengan traveling oleh orang Jepang, baik tujuan lokal maupun internasional. Mengacu pada tujuan wisata Jepang, berarti tempat-tempat wisata di Jepang bakalan penuh dengan turis lokal yang berarti pula harus rela berpadat-padat di lokasi wisata dan menghadapi kenyataan penuhnya hotel. Kali ini tak seperti biasanya, aku mengisi GW tahun ini dengan backpacking sendirian.

Sebenarnya kalau menurut istilah backpacking dari wikipedia, apa yang kulakukan bukanlah backpacking. Tetapi jalan-jalan irit, hanya membawa tas punggung beserta isinya, dengan menggunakan transpotasi umum, dan tidur bukan di hotel biasa. Soalnya koq kesannya backpacking menurut wiki itu harus pergi ke negara asing melulu, bukan di dalam negara tempat kita tinggal. Bagaimanapun juga, karena aku ber-tas punggung dan melakukan traveling dengan biaya terbatas, bolehlah dibilang local backpacking:mrgreen:

Kali ini tujuanku adalah Kobe (sebenarnya batasannya sampai Hiroshima kalau duit masih cukup) dengan rute Nagoya > Hikone > Kyoto (numpang lewat) > Osaka (numpang nginap) > Kobe > Hiroshima (sayang dompetku udah tipis, batal). Dulu-dulunya kalau main ber-tas punggung, biasanya aku selalu berdua dengan teman. Tapi kali ini tak ada yang bisa diajak ber-tas punggung, jadilah pertama kalinya aku ber-tas punggung sendirian. Ada enaknya juga sih, karena penentuan rute jalan, tempat menginap hingga apapun keputusanku, tak perlu debat dengan partner jalan. Nggak enaknya, rasanya agak sepi karena tak ada teman ngobrol. Sebenarnya aku hanya berencana ke Hikone selama 1 hari penuh pergi-pulang, tapi kalau dipikir-pikir jarak Nagoya-Hikone sudah setengah jalan ke Kyoto, jadinya nanggung. Akhirnya pulang dari Hikone, tancap saja terus sampai ke Kyoto.

Hikone Castle on top of the hill

Berangkat hari sabtu pagi dengan kereta listrik biasa, sampailah aku di Hikone sekitar jam 11 siang. Tujuan Hikone hanya satu, yaitu sebagai Oshiro Hunter. Kastil Hikone adalah salah satu kastil wajib kunjung, karena merupakan salah satu kastil original yang ada di Jepang diantara 4 kastil original yang ada. Aku sudah pernah ke Kastil Inuyama, sehingga masih ada 2 kastil original yang belum aku kunjungi yaitu Himeji sebagai kastil termegah dan Matsumoto sebagai kastil di dataran rendah. Sebenarnya lokasi Himeji sudah tak terlalu jauh dari Kobe, sayangnya karena masih berada dalam perbaikan hingga tahun 2014, dengan sangat menyesal aku batal ke Himeji.

Lepas dari Hikone, aku berangkat menuju Kyoto sore hari. Setelah singgah sebentar untuk melepas lelah, perjalanan dilanjutkan ke Osaka. Jarak Kyoto-Osaka cuma sekitar 43 Km dan bisa ditempuh dengan Kereta Ekspres dalam waktu kurang lebih setengah jam, atau dengan kereta listrik biasa sekitar 1 jam lebih. Di Osaka, aku sudah berencana menginap di sebuah warnet yang murah meriah di daerah Doutonbori (area Shinsaibashi), sebuah daerah gaul tempat anak muda nongkrong lengkap dengan atribut fashion dan apapun yang terkesan trendy. Memang rencanaku pengen nongkrong di doutonbori sebelum istirahat. Tak kusangka kalau malam minggu di sana sangat padat, sampai-sampai orang yang ingin berfoto di depan landmark Glico man sulit mendapatkan tempat. Biaya menginap di warnet jauh lebih murah dibanding menginap di hotel, bahkan masih lebih murah dibanding menginap di hostel ataupun hotel kapsul. Sewa ruang warnet tergantung jenis ruangan dan course yang disediakan. Aku memilih flat seat yang harganya berkisar 1200 yen/8 jam.

Jam 7 pagi, aku sudah berangkat menuju Kobe. Suasana pagi di Doutonbori berkebalikan dengan suasana malamnya yang ramai dan padat oleh manusia. Yang terlihat hanya para petugas yang sedang membersihkan sampah-sampah para pengunjung Doutonbori di malam sebelumnya dan gelandangan yang tidur di emperan toko. Dengan menaiki kereta listrik, sampailah aku di Kobe, tepatnya di stasiun kereta Sannomiya. Rute tujuanku di Kobe adalah Kitano Ijinkan > Sholat di Masjid Kobe > Nankinmachi (China Town) > Meriken park. Selama 1 hari di Kobe, aku mendapatkan 1 pengalaman buruk dan 1 pengalaman unik dan menarik.

Kitano Ijinkan

Disinilah aku mendapatkan pengalaman yang kurang enak dan buatku merupakan pengalaman buruk. Ketika sampai di daerah Ijinkan, di tempat tersebut terlihat kios-kios yang menawarkan paket tour untuk mengunjungi rumah-rumah ber-arsitektur kuno peninggalan orang-orang asing yang pernah tinggal di Kobe pada akhir jaman Meiji. Awalnya aku tak terlalu tertarik untuk ikut, tapi rayuan dua orang nenek penjaga kios rupaya cukup ampuh. Soalnya kupikir benar juga kata-katanya, sudah tanggung datang ke Kobe, kenapa tidak sekalian ikut tour Kitano Ijinkan saja. Toh kalau tidak dicoba, kita tak akan pernah tahu menarik atau tidaknya tour yang ditawarkan.

Ternyata hasilnya sangat-sangat mengecewakan. Harga tiket sebesar 3500 yen sangatlah mahal untuk ukuran tour membosanan seperti itu, bahkan dengan setengah hargapun menurutku masih tidak layak dan terlalu mahal. Dan yang membuatku kesal adalah rumah-rumah tersebut sebagian besar bisa dikunjungi dan dilihat/foto dari luar secara bebas alias gratisan (bagian yang paling menarik dari Ijinkan adalah bentuk arsitektur gedung, bukan isinya). Isi dalam rumah memang hanya bisa dilihat oleh pemegang tiket tour, tapi isi dalam rumah Ijinkan tidaklah terlampau menarik. Lagipula kebanyakan isi dalam rumah merupakan gabungan antara barang original pemilik rumah aslinya dan barang-barang ilustrasi. Bayangkan saja, di dalam rumah-rumah peninggalan orang Panama, Jerman hingga Austria, lemari bukunya penuh dengan buku-buku bahasa Inggris? Yang paling menggelikan adalah Eikoku-kan (rumah orang Inggris). Di dalamnya ada ruangan replika kamar karakter detektif Sherlock Holmes, lengkap dengan poster film Sherlock Holmes yang dibintangi Robert Downey Jr. Dan yang bikin aku pengen ketawa adalah ada ruangan khusus Royal Wedding William & Kate, dilengkapi dengan berita tentang hubungan mereka berdua dan sepasang baju pengantin-gaun pengantin yang entah didapat dari mana😆

Harga tiket mahal untuk tour membosankan, ternyata bagian luar gedung bisa dilihat gratisan, isi dalam gedung yang menggelikan, ditambah saat tour turun hujan. Lengkap sudah pengalaman buruk mengawali hari pagiku di Kobe. Pesanku bagi siapapun yang pergi ke Kitano Ijinkan, jangan pernah ikut tour sialan itu.

Masjid Kobe

Diiringi hujan, aku meninggalkan daerah Kitano Ijinkan untuk mencari masjid Kobe yang menurut peta letaknya tak terlalu jauh sehingga aku memutuskan berjalan kaki. Setelah sedikit nyasar ditambah bertanya pada orang yang salah (yang kutanya masjid, malah dijawab letak kuil), sampailah aku di masjid Kobe.

Walaupun bukan wisata religius, aku cukup senang mengunjungi masjid tua ini. Masjid Kobe adalah masjid pertama yang didirikan di Jepang tahun 1935. Ketika bencana berkali-kali dialami oleh kota Kobe, masjid ini berkali-kali pula selamat dari kehancuran. Yang pertama tentulah perang dunia II dimana Kobe merupakan salah satu kota yang dibombardir habis-habisan. Kalau anda pernah nonton film Studio Ghibli yang berjudul Grave of the Fireflies, setting cerita adalah pada saat Kobe dibombardir pesawat B-29 Amerika. Saat itu masjid Kobe selamat dan tetap tegak berdiri ketika bangunan disekitarnya hancur. Cobaan terakhir adalah gempa bumi Hanshin tahun 1995 yang menghancurkan Kobe, hanya dinding bangunan masjid Kobe saja yang retak, tetapi masjid Kobe tidak runtuh. Di masjid Kobe inilah aku mendapatkan pengalaman menyenangkan dan unik.

Interior dalam Masjid Kobe

Ketika sampai di masjid, aku yang bingung celingak celinguk sana sini melihat dalam masjid yang masih agak sepi karena waktu belum memasuki jam sholat dhuhur. Karena memang tujuanku mau sholat dhuhur, aku langsung saja masuk ke ruang belakang untuk mengambil wudhu. Sayup-sayup terdengar suara dari ruang perpustakaan obrolan dengan bahasa Jawa. Selesai wudhu, beberapa orang berkulit sawo matang masuk dan kukira mereka adalah orang-orang yang tadi ngobrol di perpustakaan masjid. Karena tidak kenal, aku cuma menyapa dengan salam seperti biasa, “Assalamualaikum”. Selesai sholat sunnah tahiyatul masjid, aku menunggu waktu dhuhur sambil memotret interior ruangan dalam. Di luar terdengar obrolan bahasa Jawa yang semakin ramai, malah lama kelamaan mulai bercampur dengan bahasa Indonesia dengan semakin banyaknya pemilik suara. Karena penasaran, aku melongok keluar dan melihat ada sekitar belasan orang datang sambil mengangkut kardus-kardus besar. Wah, rupanya ada acara orang Indonesia.

Ketika salah satu orang yang kutemui di ruang wudhu datang, aku memberanikan diri untuk bertanya. Tentu saja karena sudah yakin, aku bertanya dengan bahasa Indonesia. Hasilnya dia tertawa, rupanya dia pikir pas ketemu di ruang wudhu, aku dikira orang Jepang muslim yang datang untuk sholat di masjid😆
Menurut pak Z (nama beliau), hari itu direncanakan sebagai hari pernikahan salah satu mahasiswa bernama RM dan upacara ijab kabul dilaksanakan setelah sholat dhuhur. Setelah kuberi tahu kalau aku sedang ber-tas punggung, pak Z malah memanggil orang Indonesia lainnya memperkenalkanku pada mereka, termasuk sang calon pengantin RM. Mayoritas yang hadir adalah mahasiswa/i ditambah beberapa orang yang sudah lulus kuliah dan bekerja di Kobe. Seperti pak Z, mereka juga tertawa dengan alasan yang sama. RM malah mengajak makan bersama-sama sebagai upacara selamatan setelah acara ijab kabul selesai. Ketika makan nasi bungkus bersama, rasanya seperti bertemu keluarga sendiri ataupun reuni dengan teman lama.

Pengalaman buruk di Kitano Ijinkan langsung dihapus dengan pengalaman menyenangkan di masjid Kobe. Pertama kali datang ke Kobe, pertama kali sholat di masjid pertama di Jepang, pertama kali mengikuti upacara pernikahan di Jepang, dan terakhir rasanya sudah lama tak merasakan kehangatan sesama orang Indonesia di tanah asing walaupun pada hari itu baru saling kenal. Hujan sudah berhenti ketika aku meninggalkan masjid Kobe.

Nankinmachi

Ada 3 China town di Jepang yang terletak di 3 kota berbeda yaitu Yokohama, Kobe dan Nagasaki. China town di Kobe memiliki nama sendiri yaitu Nankinmachi (kota Nanking) sekalipun etnis China penghuninya kebanyakan bukan berasal dari Nanking. Walaupun Nankinmachi menjadi salah satu tujuan wisata di Kobe, tapi aku kurang tahu detail alasannya. Setelah sampai disana, rupanya Nankinmachi adalah salah satu lokasi kumpulan restoran masakan China yang menjadi tujuan wisata kuliner turis lokal. Baru masuk pintu gerbangnya saja sudah tercium bau babi seperti yang kualami di pasar sekitar City God Temple di Shanghai. Karena aku memang eneg dengan bau babi, aku hanya mengambil beberapa gambar dengan kameraku sebelum akhirnya langsung kabur keluar secepatnya. Lupakan wisata kuliner disana, baru baunya saja sudah nggak kuat menahan😦

Kobe Chinatown, Nankinmachi

Meriken Park

Tujuanku selanjutnya adalah Meriken Park yang terletak di pelabuhan Kobe. Di Meriken Park terdapat Kobe Port Tower, Kobe Maritime Museum dan tugu peringatan korban gempa Hanshin 1995. Satu hal yang kutahu dari teman, Meriken Park merupakan lokasi bagus untuk fotografi terutama di waktu malam. Sayangnya jadwal bis umum terakhir hanya sampai jam 6 magrib. Karena nekad ingin mengambil foto diwaktu gelap, jadilah aku harus rela pulang jalan kaki dari pelabuhan Kobe menuju stasiun kereta Motomachi. Yang namanya jalan-jalan, tentunya mayoritas harus dilakukan dengan jalan kaki bukan?😆

Kobe Port Tower

Tadinya aku berencana mau melanjutkan ber-tas punggung ke Hiroshima, sayangnya duit dalam dompetku kukira tak cukup untuk ke Hiroshima gara-gara aku tidur terlalu lama di warnet. Hitungan pembayaran per 8 jam memang murah, hanya 1300 yen. Tapi jika lewat waktu 8 jam, pembayaran dihitung tiap 10 menit dan biayanya bisa membengkak berlipat. Akibat ketiduran, aku harus nombok membayar kelebihan pemakaian selama 3 jam sebanyak 2000 yen. Total 1300 yen + 2000 yen untuk pembayaran warnet sama saja dengan menginap di hostel ataupun hotel kapsul. Ditambah dengan biaya tour sialan di Kitano Ijinkan, jadilah sisa biaya jalanku menipis. Pilihan lain adalah balik ke Kyoto, jalan-jalan setengah hari di Kyoto, kemudian pulang. Karena menurutku ke Kyoto adalah pilihan terbaik, jadilah aku kembali ke Kyoto untuk mengunjungi tempat wisata yang belum pernah kudatangi pada 4 kali kunjungan sebelumnya.

Di Kyoto aku berkunjung ke Fushimi Inari, sebuah kuil shinto yang diperuntukkan bagi usahawan dan bisnis. Setiap perusahaan menyumbangan sebuah torii bagi kuil Fushimi Inari yang diletakkan berjejeran menuju kuil utama. Saking banyaknya torii yang diterima, hasilnya jadi mirip tunnel torii unik yang menjadi semacam atraksi menarik bagi pengunjung kuil. Ngomong-ngomong sewaktu aku baru datang, rasanya mau ketawa mendengar doa si pendeta yang memohon kejayaan bagi PT. si ini, CV. si anu, dll. Aku baru tahu soal tujuan berdirinya kuil ketika membaca papan pengumuman di dalam kuil tentang sejarah berdirinya kuil Fushimi Inari.

Karena merasa kakiku pegal gara-gara kebanyakan jalan kaki di Kobe, jadilah aku memutuskan pulang dengan memakai bus malam. Karena kalau naik kereta listrik harus beberapa kali pindah jalur kereta dan kakiku sudah malas diajak transit naik kereta listrik rupanya.:mrgreen:

Foto-foto lain bisa dilihat disini

15 thoughts on “Ber-tas punggung ke Kobe

  1. Meriken Park!!!
    jadi pengen jalan-jalan ke sana lagi…
    pas di sana, saya malah gak jalan-jalan ke Kitano Ijinkan. teman saya yang ke sana malah marah-marah karena merasa dikadali. menurut dia kalo cuma tur di jalan yang hanya sependek itu, di indonesia juga banyak rumah-rumah peninggalan jaman Belanda..

  2. Dulu-dulunya kalau main ber-tas punggung, biasanya aku selalu berdua dengan teman. Tapi kali ini tak ada yang bisa diajak ber-tas punggung, jadilah pertama kalinya aku ber-tas punggung sendirian.

    Kalau aku biasanya ga terlalu suka travelling bareng-bareng banyak orang sih. Terlalu repot.😆 Baru biasanya di tempat tujuan bertemu teman.😛

    Lupakan wisata kuliner disana, baru baunya saja sudah nggak kuat menahan

    Sepertinya memang sebaiknya dilupakan saja. Bagaimanapun juga masakan babi ala Indonesia lebih enak.:mrgreen: *eh*

    Anyway, situ kalo mau backpacking mudah ya. Transport di sana murah dan enak. Saya bingung mau ke mana. Ke Batam transportasi mudah. Mungkin ke Malaysia kali ya. Karena KL dan JB sudah, mungkin ke Malaka. Tapi itupun ga dilewati kereta api juga, yang stasiunnya cuma ada di Negeri Sembilan😦

  3. hari itu direncanakan sebagai hari pernikahan salah satu mahasiswa bernama RM dan upacara ijab kabul dilaksanakan setelah sholat dhuhur.

    suheng AnDo kapan ijab kabulnya?🙄
    *cari gara-gara :P*
    *ditimpuk*
    katanya mbak ini sih salah satu tips cari jodoh lewat backpackeran bareng dengan lawan jenis, setelah mengalami susah senang bersama biasanya timbul ikatan😛
    *semakin OOT*😛

    menara Kobe-nya keren juga bentuknya, mirip piala di GBK😀
    tapi foto2 kastilnya kok cuma dikit?

    btw, semalem kebetulan barusan ikut sarasehan mas ini soal pengalamannya di Afganistan dan negara-negara Asia Tengah lainnya😀 menarik juga😀
    salah satu motivasi dia katanya dia pernah ketemu cewek Jepang, sekitar 6-7 tahun lebih tua aja dari dia, ga bisa bahasa selain Jepang, berani keliling Asia Tenggara selama 7 bulan😀

    • @Arm Kai

      suheng AnDo kapan ijab kabulnya?🙄

      Anu, situ punya adik atau kakak yang bisa di ijab kabulkan sama saya?😈

      cari jodoh lewat backpackeran bareng dengan lawan jenis…[..]

      Ide bagus, sayangnya belum pernah nyoba. eh… kalau Arm udah pernah nyoba, kasih tau yah pengalamannya😛

      menara Kobe-nya keren juga bentuknya, mirip piala di GBK😀
      tapi foto2 kastilnya kok cuma dikit?

      Tempat obor itu khan? Hahaha… aku jg sempat kepikiran sama😆
      Soal foto kastil, ntar ku upload di kimagure photoblog di blogspot. Untuk sementara, disini aku cm fokus cerita ttg Kobe.

      pengalamannya di Afganistan dan negara-negara Asia Tengah lainnya😀 menarik juga

      Wow… mas yang di link benar2 adventurer. Daerah yg dikunjunginya benar2 eksotik. Ntah kapan bisa kesana.
      Aku nggak bisa lama2 backpacking, apalagi sampai 7 bulan. Maklumlah Coolie, Huey, Dewey, and Louie alias nguli. Cewek Jepun itu mungkin masih dibiayai hidupnya dgn kiriman ortu. Tapi emang salut sama keberaniannya :-bd

  4. @Ricky
    Hohoho… tengkyu kang Ricky. Kunaon, damang?

    @itikkecil
    Sayangnya teman mbak itik nggak ngasih info buat saya. Makanya saya tulis di blog buat info supaya jangan ikutan tour sialan itu kalau berkunjung ke Kobe.
    btw, saya jg merasa dikadalin koq, sama nenek-nenek lagi 😦

    @Kris
    Warnetnya kalau disini disebut Internet Cafe atau Manga Kissaten. Pengunjungnya bisa nge-net, baca koleksi manga lengkap, main game online, makan/minum, dan kalau pengen istirahat bisa ngambil course (ada 4 jam, 8 jam dan 12 jam). Waktu krisis dan banyak orang nganggur gak bisa bayar apartemen, anak2 muda Jepang banyak yg tinggal di warnet yang ada kamar mandi (shower) nya. Tempat nge-netnya juga bermacam-macam. Ada yg cm kursi + komputer kayak warnet biasa, ada flat seat dlm ruangan 2 x 1.5 meter, ada juga yg agak mahal dgn kursi sofa dlm ruangan 2 x 2 meter.
    Beda warnet biasanya beda course dan harga.

    @lambrtz

    Kalau aku biasanya ga terlalu suka travelling bareng-bareng banyak orang sih.

    Selama ini aku cm backpacking dgn 1 teman lain. Cuma berdua koq. Kalau lebih biasanya lebih ribet plus suka debat krn banyak maunya.

    masakan babi ala Indonesia lebih enak.:mrgreen:

    Lha? babi itu haram gan, H.A.R.A.M.😆
    btw, misalnya bau babi nggak menyengat sih, akunya enjoy2 aja berada disekitar masakan tsb. Toh nggak bakalan makan😀

    Anyway, situ kalo mau backpacking mudah ya. Transport di sana murah dan enak…….[..]

    Mudah kalau mau survey. Sebelum berangkat, aku udah bikin planning, rute, transportasi dan tempat nginep koq. Makanya biayanya jadi murah krn udah kuhitung, kecuai biaya yg dadakan kayak tiket tour Ijinkan dan bayar kelebihan per menit di warnet yg mahal.
    Lagian khan nggak selalu harus pake kereta “listrik”, toh aku jg masih pakai mobil bus umum. Tapi enaknya kereta listrik, bisa turun dimana saja termasuk stasiun yg masih kampung😀 Kalau naik bis nggak bisa seenaknya turun sblm sampai tujuan.

    😯 Saya kok nulis murah ya. Yang jelas aman.😕

    Ugh… yang ini susah di komen. Di Jepang emang aman, gak ada calo, nggak bakalan ditarik2 guide lokal yg suka maksa, dll. Makanya aman dan bisa jalan seenaknya kita.

  5. Sebelum berangkat, aku udah bikin planning, rute, transportasi dan tempat nginep koq.

    Saya harus mempertimbangkan melakukan hal2 ini kalo mau keluar kota lagi…🙄:mrgreen:

    Karena belum ada rencana ke Jepang, jadi no comment dulu. Tapi saya suka. Minus pengalaman buruknya (dan kenapa bisa ketiduran di warnet?😆 ), menurut saya ini pengalaman yang menyenangkan dan menginspirasi. Seneng liat orang bebas jalan2 gitu.😉

  6. Anu, situ punya adik atau kakak yang bisa di ijab kabulkan sama saya?

    =))😆 =))
    Yang saya tunjukin dulu belom ada yang cocok?

    Anyway, klarifikasi saja.

    Saya bingung mau ke mana. Ke Batam transportasi mudah.

    Seharusnya tidak mudah. Ke sananya sih mudah, ada ferry. Di sananya yang susah, karena transportasi umum belum bagus, dan taksi tak berargo (CMIIW). Untung di sana dulu ada temen, bisa nganterin pake motor.

  7. @jensen

    Saya harus mempertimbangkan melakukan hal2 ini kalo mau keluar kota lagi

    travel itu ada yang terencana dan ada yang nggak koq:mrgreen:
    yang terencana biasanya lbh efektif buat yang punya waktu dan isi kantong pas2an.
    yang tidak terencana biasanya lbh seru krn gak tau apa yang akan terjadi di depan mata😈

    kenapa bisa ketiduran di warnet?

    Ketiduran di warnet gara2 mandinya terlalu malam, jadinya telat tidur😆
    Didalam warnet ada semacam sento (pemandian umum) kecil. Karena ramai, aku minta di daftarin list antrian dan minta dipanggil kalau udah sampai namaku. Rupanya petugasnya sistem shift dan petugas yg kupesan lupa ngasih tau ke penggantinya. 3 jam kutunggu gak dipanggil juga, pas kusamperin ternyata sento udah mulai sepi.
    Sempat kesal juga sih, tapi ya udah aku lsg mandi jam 2 malam dan waktu tidurpun jadi pendek😆

    @lambrtz

    Lah? yang ditunjukin itu siapa boss? Wong kalau bercita-cita jadi mak comblang, yang serius gitu toh :-“

    Untung di sana dulu ada temen, bisa nganterin pake motor.

    Ya udah. Kalau sampeyan mau ke Nagoya, tunggu saya punya SIM dan beli mobil dulu yah.:mrgreen:

    • Mas, mau tanya,,
      Klo di masjid kobe apa bs numpang nginap ya,, soalnya klo menurut jadwal selesai keliling kobe malam mau buka penginapan ko ya sayang, kepikiran mau nginap di masjid aja gt, abis solat subuh baru deh jln lagi nyambung perjalanan,.

  8. iya mas , kebanyakan aku ketemu dijepang orang2 indo pakai bahasa jawa,,
    jauh2 ke jepun ketemunya orang jawa juga, ya wes.. pie kabare…
    yang lucu di NY amrik ada orang indo pakai sarung, sendal jepit, kaos oblong putih, mukanya jawa ya wes tak tanyain ? pak nangdi ? nang masjid dek sambil senyum2 haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s