Lonely

Semakin tua semakin takut sepi. Resiko menjadi dewasa.
(Mbak Imelda)



Sehari sebelumnya, barusan saja chatting dengan Grace ngalor ngidul membicarakan soal pengalaman hidup di negeri asing. Salah satu topik yang dibahas adalah alone and lonely. Aku sudah terbiasa melakukan apapun sendirian, karena itu perasaan “alone” bukan cuma sekali dua kali kurasakan, malah berkali-kali dan rasanya tak pernah merasa terganggu dengan kesendirian. Lain halnya dengan perasaan kesepian yang tadinya tak pernah kurasakan sebelumnya selama 6 tahun hidup di Jepang.

Malam berikutnya aku menelpon ibu dan bapakku di Indonesia untuk sekedar melepas rindu mendengar suara beliau berdua. Namanya juga orang tua, mereka menanyakan masalah K.N. yang dengan perlahan kualihkan perhatian mereka ke soal bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Dilain waktu, ibuku mempertanyakan definisi hidup “bahagia” di negeri asing, mengingat aku otomatis hidup sendiri mengurus segala keperluan. Beliau juga menyatakan betapa khawatirnya mereka, andaikan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan aku tak bisa mengurusnya sendiri. Misalkan saja jika aku mendadak meninggal dunia, siapakah yang mengetahui kondisiku? Siapa yang akan mengurus jenazah? Toh karena aku hidup sendirian, tak ada yang bakalan mengecek. Teman? Mereka juga punya urusan sendiri dan boleh dibilang hanya menelpon kalau ada perlu, itupun bisa 1-2 kali dalam sebulan. Tetangga? Orang Jepang sangat cuek, mereka mungkin akan menelpon polisi kalau sudah mencium busuknya bau mayat. Sudah beberapa kali kejadian yang disiarkan dalam berita TV ditemukan mayat yang telah membusuk setelah meninggal dunia seminggu sebelumnya, itupun diketahui ketika tetangga si mayat menelpon polisi dengan alasan mencium bau mayat busuk.

Lalu pembicaraan berlanjut membahas puasa di bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang sebagaimana biasa keluarga muslim di Indonesia menjadi ajang berkumpul sanak saudara. Lalu tiba-tiba aku merasa kesepian. For the first time since I’ve been living in Japan, I feel lonely……..
Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga normal di kampung nun jauh di pulau kecil di laut China Selatan sana, dalam artian punya hubungan dekat dengan orang tua dan kakak adik. Karena itu aku memandang keluarga sebagai bagian terpenting dari hidupku, jauh lebih penting dari pada teman, rekan, atau apapun hubungan itu. Mungkin memang sudah saatnya menciptakan cabang keluarga sendiri, atau entahlah. Toh menciptakan cabang keluarga sendiri tak semudah membalikkan telapak tangan.

Lalu mbak Imelda memberikan pandangan dan perbandingan dengan pengalamannya hidup di Jepang yang telah memasuki tahun ke-19, jauh lebih lama dibandingkan denganku yang baru tahun ke-6. Kata mbak Imel sih, kugiri (partisi) menurut orang Jepang ada di tahun ke-3 dan ke-7, kalau sampai lewat tahun ke-7 dan masih bisa bertahan, itu berarti sudah berada di jalur mapan. Kemungkinan besar rasa kesepian ini baru hinggap di tahun ke-6, karena sudah mendekati waktu kugiri di tahun ke-7. Paling tidak mbak Imel punya suami dan anak yang memberikan support untuk tetap bertahan dalam masa-masa solitary. Bayangkan saja, yang memiliki dukungan saja masih sering merasakan kesepian, bagaimana yang belum punya supporter? Menurut mbak Imel sih punya teman banyak sangat membantu. Walaupun demikian tetap saja aku merasa teman bukanlah keluarga yang memiliki hubungan bathin spesial.

“Resiko menjadi dewasa, semakin tua semakin merasa takut kesepian”, rasanya memang tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Mungkin itu pula sebabnya aku tak ingin menjadi tua, mati di usia sebelum tua rasanya jauh lebih melegakan dibandingkan menjadi tua, kesepian dan merepotkan orang yang lebih muda.

16 thoughts on “Lonely

  1. Oalah KN itu toh :O.

    Kalo kata Mas Yuya Matsushita yang ganteng: “Naturally~”. Biarkan semuanya terjadi secara natural, in the meantime enjoooy~ B-)

  2. Wah pasang foto di blog!

    Ahem. Posisi kita mirip sih. Sama-sama merantau di negeri lain. 😛 (ya ada sedikit perbedaan lah, anyway saya ndak pingin menyentuh detil itu hehehe) Kadang merasa sepi juga sih, apalagi melihat tempat tinggal sekarang ndak semenyenangkan di kota halaman, tapi ya…gimana lagi, hehehe…

    Semoga segera ndak merasa kesepian Bang😀 atau mau saya temenin? *wink*

  3. Saya juga sering merasa kesepian akhir-akhir ini😦 Semoga kita semua bisa melewati masa-masa kesepian dan kesendirian.
    *curcol*

  4. Mungkin itu pula sebabnya aku tak ingin menjadi tua, mati di usia sebelum tua rasanya jauh lebih melegakan dibandingkan menjadi tua, kesepian dan merepotkan orang yang lebih muda.

    somehow, I agree….

  5. @apratz
    Ya. Naturally, makin bertambah umur, makin dewasa, makin tua dan makin takut kesepian.
    Anu… K.N. itu cm salah satu faktor doang koq, intinya sih tentang ehm….. loneliness.:mrgreen:

    @lambrtz
    Iya mbe, posisi kita mirip sampai tahun lalu. Toh aku nggak pernah ngerasa kesepian waktu masih berstatus mahasiswa. Entah kenapa, waktu itu pasti ada aja aktivitas pas lagi sendirian. Diajakin temen main yagyu lah, ikutan karaoke bareng lah, nomikai lah, arubaito lah, main PS lah, macem2. Toh baru kerasa pas udah nguli. Makanya pelajaran buat situ, JANGAN LULUS SEBELUM PUAS DI KAMPUS!😈

    Itu foto pas pertama kali naik gunung Fuji. Sampai di puncak Fuji merasa teler, lalu istirahat dan molor sekitar 5-10 menit, ada temen kurang kerjaan yang moto😆
    Walau disekeliling banyak orang, keliatannya lagi sendirian yah? kesannya kesepian😛
    Foto yang pas buat tema postingan \m/

    @Tuan Adan
    Ah… ada teman senasib tampaknya

    @Akiko
    Begitulah

    @Elka
    Kesannya emang kesepian yah😀 Padahal kenyataannya……😆

  6. betul, waktu aku muda, mahasiswa…tinggal sendiri, justru tak ada kesempatan untuk merasa kesepian. Aku nikmati dengan bermain, karaoke, boling, arbaito dari pagi sampai malam, minum2 dsb dsb… tak ada waktu untuk sedih. Tapi semakin menjadi tua, semakin sepi. Mungkin juga karena aku punya anak sendiri dan mengalami bagaimana susahnya mengurus anak. Belum lagi memikirkan masa depan si anak. Dan saat itu sadar betapa pentingnya orang tua>> hasilnya kangen terus.
    Dan rasa kesepian itu hanya kita sendiri yang bisa menghapusnya….. paling tidak menekannya.

    EM

  7. @ikkyu_san
    Ah…. ternyata ada perasaan kesepian juga kemungkinan ada hubungannya dengan punya anak yah mbak? Tapi emang iya sih, kehidupan kampus sangat aktif dan dinamis. sampai2 nggak ada waktu buat kesepian:mrgreen:
    Saya sedang berusaha menekan rasa kesepian ini mbak, paling gak sampai ntar pulang liburan ke Indonesia lah:mrgreen:

    @vera
    Lelaki juga manusia loh mbak vera.😛
    Tanpa perempuan, hidup pria terasa sepi *eh*😯

    • 😀 Penerawangan saya salah nih.. Btw Blognya bagus euy! Boleh dong ngolah ragain mata disini *ijin*😉 Salam kenal yaa.. 🙂

  8. Kesepian bisa menciptakan kegalauan…

    Hmm… pernah baca quote diatas, tapi lupa baca di mana.

    (OOT) Bang Ando, untuk melakukan pendakian ke Fuji itu butuh berapa hari?

    • @Zeph
      mendaki Fuji paling cuma 8-10 jam bagi orang biasa. Soalnya trek jalan udah dibikin untuk mempermudah pendakian. Bagi yang punya fisik atlet, paling cuma 6 jam udah sampai puncaknya..

  9. tinggal jauh dari kampung halaman, jauh dari keluarga, rasa kesepian itu kurasa wajar saja kalau dialami. semoga tetap sehat2 jadi ortu nggak kepikiran ya.😀 kalau soal KN sih… itu tergantung rejeki ihihihi….

  10. Sudah tahun ke 7 ya? Gimana sekarang? Sudah merasa lebih mapan?
    Semoga begitu, semoga ga kesepian lagi. Jadi ga enak gara-gara ngobrol sama saya bang Ando jadi kepikiran begitu. Mudah-mudahan sudah saya pertanggungjawabkan. Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s