Memburu si Merah

Pada musim semi ketika bunga Sakura mekar, banyak orang-orang melakukan aktivitas hanami atau melihat bunga sakura (hana: bunga, mi: melihat). Hal ini pernah saya bahas pada tulisan sebelumnya. Counterpart hanami untuk musim gugur adalah Momijigari. Pada musim gugur, bunga Sakura tidak mekar malah daunnya rontok. Akan tetapi daya tarik pada musim gugur bukanlah Sakura melainkan momiji. Momiji atau Kouyou (ditulis dengan 2 huruf kanji yang sama 紅葉, tapi dibaca dengan lafal berbeda) adalah sebutan Jepang untuk daun maple, secara harfiah diartikan daun merah. Momijigari sendiri diartikan secara harfiah sebagai memburu daun merah (gari atau kari 狩り berarti berburu) adalah aktivitas di musim gugur melihat pemandangan di area yang penuh pohon maple dengan daunnya yang berubah warna menjadi merah.

Tahun lalu aku mengunjungi Kourankei yang terletak di dalam perfektur Aichi tak jauh dari tempat tinggalku, sehingga aku tak perlu repot-repot mencari penginapan. Fota-foto momijigari di kourankei bisa dilihat di sini.

Tahun ini aku pergi ke Kyoto untuk memburu si daun merah. Aku memang sudah sekitar 6 kali pergi ke Kyoto, tapi tak pernah satu kalipun ke sana pada musim gugur. Kyoto merupakan salah satu tempat wisata utama di Jepang untuk segala musim termasuk diantaranya wisata musim gugur dengan momijigari. Karena bukan musim libur panjang, aku hanya punya waktu untuk momijigari ke Kyoto pada hari sabtu dan minggu saja.

Berangkat dari stasiun Nagoya dengan menggunakan kereta listrik pada sekitar pukul 7 pagi, aku sampai di stasiun Kyoto pada pukul 9:15. Singgah sebentar di terminal bis untuk membeli tiket bis one-day pass sehaga 500 yen, barulah perjalanan berburu si daun merah di Kyoto dimulai.

Pemandangan Arashiyama dari tenbodai

Tujuan pertamaku adalah Arashiyama, sebuah daerah perbukitan di luar kota Kyoto yang terkenal dengan pemandangannya pada saat musim semi (dengan Sakura) dan musim gugur (dengan momiji). Entah kenapa, aku kurang terpesona dengan alam Arashiyama. Mungkin karena scenery yang terbentang tak jauh beda dengan Kourankei yang sama-sama memperlihatkan sungai dengan perbukitan penuh momiji sebagai background. Tapi penyebab sebenarnya yang membuatku tak terlalu tertarik adalah momiji di Arashiyama belum benar-benar memerah, masih banyak daun yang belum berubah warna sehingga jadinya kurang meriah. Di Arashiyama aku juga mengunjungi Tenryu-ji (kuil naga langit), walau hanya sekedar melihat-lihat pemandangan kuil dengan latar momiji. Karena area Arashiyama sangat luas, aku membatasi kunjunganku hingga siang hari.

Walau rencanaku kembali ke pusat kota Kyoto sekitar jam 1 siang, nyatanya bis kota yang ingin kutumpangi berkali-kali lewat tanpa mengangkut penumpang di halte tempatku menunggu, karena saking penuhnya penumpang. Aku baru bisa naik bis sejam kemudian, itupun sambil berdesak-desakan di dalam bis.

Setelah makan siang yang terlambat, aku tak punya pilihan lain kecuali langsung menuju lokasi utama momijigari Kyoto yaitu Kiyomizudera. Ini kali ke-7 aku mengunjungi Kyoto, dan aku tak pernah melewatkan Kiyomizudera satu kalipun disetiap kunjungan. Kiyomizudera memang indah pada musim gugur dengan rimbunan daun merah momiji di sekitarnya. Khusus musim gugur, pengurus Kiyomizudera mengadakan acara Kiyomizudera light-up dengan memasang lampu sorot di tempat-tempat tertentu di malam hari.
Hasilnya?

Kerumunan pengunjung menuju Kiyomizudera

Pengunjung yang ingin nonton light-up membelundak. Gila memang, aku baru sampai lereng bukit Kiyomizu menuju Kiyomizudera di atas bukitnya sudah harus ikut berdesak-desakan dengan kerumunan masyarakat yang ingin menonton light-up. Tiba jam 4 sore, aku masih memiliki sedikit waktu untuk mengambil foto suasana momiji di Kiyomizudera dalam keadaan terang.

Acara light-up dimulai pukul 6:30 setelah hari gelap dan ketika pintu gerbang dibuka kerumunan orang mulai berbaris masuk ke dalam kuil. Sulit mengambil gambar dalam suasana berdesak-desakan, terutama dalam keadaan kurang cahaya. Kamera yang kupegang selalu bergetar karena tersenggol orang-orang di sekitarku, sehingga banyak gambar-gambar yang kujepret menjadi agak kabur. Silahkan melihat hasil jepretanku di Kiyomizudera di link sini.

Pulang dari Kiyomizudera, aku singgah ke daerah Gion untuk makan malam. Lewat iPhone, aku mencari restoran masakan Indonesia disekitar sana dan kutemukan pada list teratas hasil pencarian Google bernama Bali-Bali Restoran. Masuk ke Bali-Bali Restoran membuatku kaget. Bayangkan, di dalamnya semuanya orang Jepang. Dari tamu, yang masak, hingga yang melayani semuanya Jepang totok. Tadinya kukira aku salah masuk, tapi rupanya benar itu Bali-Bali Restoran. Aku pesan nasi campur satu porsi, dan rasa masakannya khas masakan Indonesia untuk lidah orang Jepang. Belakang baru kuketahui dari kenalanku, Bali-Bali Restoran dulunya memang punya orang Bali, dijual ke orang Jepang yang tetap meneruskan usaha restoran tersebut. Walaupun menu yang dijual sama, hanya saja yang masak orang Jepang dengan hasil masakan yang diperuntukkan bagi lidah orang Jepang. Dari kenalanku itu pula, aku akhirnya tahu kalau tak jauh dari sana di daerah Kawaramachi ada restoran Indonesia lainnya bernama Hati-Hati. Ah, lain kali kalau singgah ke Kyoto akan akan mencoba masakan di Restoran Hati-Hati.

Seperti biasa kalau backpacking, aku mencari penginapan murah di warnet. Sebelum berangkat ke Kyoto, aku sudah mencari warnet murah meriah yang bisa dipakai buat tidur beristirahat minimal 8 jam. Ada 2 warnet yang kucatat lumayan murah dan panjang jam sewanya. Salah satunya ada di dekat tempat aku makan malam di daerah Kawaramachi yaitu Cats Internet Comic DVD. Kalau mengambil Night Course, harganya 1.400 yen dengan waktu menginap dari jam 10 malam hingga jam 10 pagi. Aku pilih menginap disana karena mereka memiliki ruang komputer yang private dan ada servis mandi shower dengan biaya tambahan 200 yen. Tadinya aku bingung dengan tulisan Men’s Premium Space, setelah masuk ke dalam barulah aku mengerti mengapa warnet itu khusus buat cowok. Koleksi komik dan DVD yang mereka miliki ternyata mayoritas pornografi😆

Tapi sudahlah, toh aku sudah capek berkeliling dan tak minat nonton film ataupun baca komik. Setelah mandi aku langsung masuk kamar untuk tidur. Yang kusukai dari warnet ini adalah mereka memberikan steaker colokan listrik di kamar masing-masing penyewa, sehingga aku bisa men-charge batere kamera maupun iPhone-ku yang hampir habis energinya.

Setelah check-out jam 7 pagi, tujuan momijigari selanjutnya adalah Eikando-Zenrinji atau disingkat menjadi Eikando, sebuah kuil Buddha Zen yang terkenal pemandangannya untuk momijigari. Dari halte bis, pengunjung harus berjalan kaki menuju Eikando menyusuri perumahan penduduk dan sebuah kuil Buddha bernama Nanzen-ji. Kuil Nanzen ini juga lumayan indah pemandangannya disaat musim gugur dengan kumpulan pohon mapel di sekitar pekarangan kuil. Setelah pemanasan melihat momiji di kuil Nanzen, aku meneruskan perjalanan menuju Eikando.

Walaupun tidak sepadat saat berada di Kiyomizudera, pengunjung Eikando ternyata sangat ramai. Uang masuk ke dalam kompleks Eikando paling mahal jika dibanding tempat wisata momiji lainnya, seribu yen. Tapi rupanya mahalnya uang masuk sebanding dengan apa yang kutemukan di dalam kompleks kuil. Eikando terbukti memang indah untuk momijigari. Hanya saja ramainya pengunjung agak mengganggu kenyamananku, terutama pada saat memotret. Saking terpesonanya pada Eikando, pulang dari sana aku sudah tak berminat untuk mengunjungi tempat-tempat wisata momiji lainnya pada hari itu. Memang aku sempat ke Philosopher’s Walk yang berada sekitar 200 meter dari Eikando, tapi suasana disana tampak gersang. Maklumlah, Philosopher’s Walk memang dikenal indah pada saat sakura mekar di musim semi, bukan pada musim gugur ketika semua pohonnya gundul. Foto-foto di Eikando bisa dilihat di link ini.

Pohon natal dalam stasiun Kyoto

Pulang dari Eikando, aku langsung menuju stasiun Kyoto untuk kembali ke Nagoya sore itu juga. Ketika sedang menunggu bis, aku mencari omiyage (oleh-oleh) penganan Kyoto buat teman kerja. Masuk ke dalam stasiun untuk membeli omiyage, malah mendapat tontonan pohon natal raksasa di dalam stasiun. Ah, dasar orang Jepang. Kristen atau bukan, yang namanya dari barat tetap saja dirayakan asalkan ramai dan meriah.

4 thoughts on “Memburu si Merah

  1. Apa di Jepang belum masuk musim salju, ya ? sekarang khan desember, ya?
    harga makanan dalam daftar menu restoran Hati-Hati nya.. mahal banget, ya?
    harga gado2 nya cuma beda 3 ratus yen ama rendang.. he.. he..
    Bagaimana dengan harga makanan Indonesia yang di Bali Bali restoran itu, ando-kun ?
    *duh.. aye nanya-nya udah kayak pengin makan di sana aje.. he. he.. 😀

    • @Putri
      Musim salju? musim dingin kali:mrgreen:
      Aku pergi ke Kyoto pas akhir November tanggal 26 dan 27, malah momijigari masih berlangsung sampai tanggal 3 dan 4 Desember loh dan itu sudah termasuk ujung musim gugur dan awal musim dingin.
      Kalau restoran di kota wisata sih emang segituan harganya. Kalau mau murah, cari yang agak minggir deket kampung😆
      Di Bali Bali, aku makan nasi campur dengan harga 1500 Yen. Standarnya restoran masakan Indonesia di kota besar emang segituan, kalau di restoran yang pinggiran kota/kampung sekitar 1000 Yen.
      Ini linknya kalau mau lihat harga makanan di Bali Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s