Kaisar Monogami (1)

Kalau anda membayangkan kehidupan keluarga seorang kaisar, kira-kira apakah yang ada dalam bayangan anda? Tentunya tak jauh dari sebuah keluarga besar berisi: seorang kaisar, beberapa istri yang salah satunya menjadi permaisuri, puluhan hingga ratusan selir, dan banyak anak-anak kaisar yang saling bersaing berebut pengaruh demi tahta peninggalan ayahnya. Akan tetapi dalam sejarah China, ada dua kaisar yang seumur hidupnya hanya mempunyai seorang istri yaitu permaisurinya saja. Malah salah satu kaisar tersebut tak punya satu orangpun selir alias benar-benar monogami murni. Lucunya, walaupun kedua kaisar monogami ini sukses menjalankan kekuasaannya sebagai kaisar yang bijak, mereka berdua sama-sama mempunyai anak yang akan menghancurkan kejayaan yang dibangun ayah mereka sendiri. Bagian pertama tulisan ini menceritakan tentang kaisar monogami dari dinasti Ming yaitu kaisar Hongzhi.

Ketika Hongzhi lahir, nyawanya langsung terancam bahaya. Saat itu kaputren kekaisaran Ming dikuasai selir Wan, selir tersayang penguasa saat itu kaisar Chenghua. Selir Wan menginginkan agar anaknya yang menjadi putra mahkota, sehingga secara sistematis menggagalkan keberadaan anak-anak kaisar Chenghua dengan menggugurkan dan meracuni setiap istri dan selir kaisar Chenghua yang hamil. Selir Wan sendiri punya satu putra hasil hubungannya dengan sang kaisar, walaupun akhirnya anaknya meninggal ketika masih bayi. Semenjak anaknya meninggal, Selir Wan semakin giat menghalangi agak tidak ada wanita dalam istana yang bisa memiliki anak hasil hubungan dengan kaisar Chenghua.

Ketika Hongzhi lahir dari selir Xiao Mu, istri pertama kaisar Chenghua (mantan permaisuri Wu) dengan sigap menyelamatkan anak tirinya dan membesarkan Hongzhi secara diam-diam supaya terhindar dari ancaman selir Wan. Setelah berumur 5 tahun, barulah Hongzhi dipertemukan dengan ayahnya kaisar Chenghua yang dengan segera menobatkan Hongzhi sebagai putra mahkota. Dengan status Hongzhi sebagai putra mahkota, selir Wan tak berkutik lagi dan menghentikan upayanya untuk mencegah kelahiran anak-anak kaisar Chenghua, sehingga Hongzhi akhirnya memiliki beberapa adik tiri satu ayah.

Semenjak kecil, Hongzhi dikenal sebagai anak yang berotak encer dan rajin belajar. Ketika diangkat menjadi kaisar menggantikan ayahnya yang mangkat, Hongzhi membuktikan kapasitasnya sebagai seorang pemimpin sejati yang mampu mengembalikan era keemasan dinasti Ming yang sempat turun pamornya sejak jaman pemerintahan kakeknya kaisar Zhengtong hingga ayahnya kaisar Chenghua. Selain memang brilian, Hongzhi juga dikenal sebagai kaisar yang mampu melihat potensi bawahannya. Terbukti dengan banyaknya menteri dan pembesar yang memiliki kapabilitas bagus diangkat oleh Hongzhi dan bersama-sama bekerja keras membangun pemerintahan yang baik dan bersih. Era Hongzhi tercatat dalam sejarah dinasti Ming sebagai salah satu jaman dimana rakyat hidup makmur dan tenteram. Pada masa Hongzhi ini pula, kekuasaan para pembesar kebiri (kasim) yang tadinya sangat besar dijaman Chenghua, bisa ditekan oleh Hongzhi hingga tak punya pengaruh lagi.

Kaisar Hongzhi hanya memiliki satu istri yaitu permaisuri Xiao Cheng Jing yang dinikahi ketika putra mahkota Hongzhi masih berumur 17 tahun. Walaupun awalnya pernikahan ini merupakan pernikahan politik, ternyata kaisar dan permaisuri jatuh cinta satu sama lain dan menyebabkan sang kaisar tidak berminat untuk menikah lagi maupun mengambil selir. Tidak seperti kaisar lainnya yang menempatkan permaisurinya dalam kaputren ataupun harem, kaisar Hongzhi dan istrinya benar-benar hidup di dalam satu rumah sebagaimana kebanyakan orang. Selain kecintaannya pada sang permaisuri, kaisar Hongzhi diperkirakan tak punya minat terhadap wanita lain karena pikiran dan waktunya tersita untuk urusan kenegaraan, sehingga kaisar Hongzhi merasa cukup dengan hanya memiliki satu istri saja. Dilain pihak, situasi aman tenteram dan kondisi politik ekonomi yang stabil membuat kaisar Hongzhi merasa tak perlu melakukan pernikahan politik lain untuk memperkuat posisi politiknya.

Kaisar Hongzhi dan permaisuri Xiao Chen Jing memiliki 3 anak, 2 putra dan 1 putri. Hanya putra sulungnya Zhengde saja yang masih hidup hingga dewasa, dua yang lain meninggal sewaktu masih bayi. Sebagai anak tunggal, Zhengde tak punya saingan untuk berebut tahta sepeninggal ayahnya. Sayangnya kegemilangan Hongzhi dalam mengurus negara tidak diikuti oleh anaknya.

Ketika Zhengde naik tahta menggantikan kedudukan ayahnya, kaisar Zhengde banyak melakukan berbagai macam tindakan kekanak-kanakan seperti diantaranya diam-diam menyelusup keluar ketika sedang mengadakan pertemuan dengan para menteri. Dia juga pernah membakar mesiu sebagai mercon ketika perayaan festival lentera sehingga menyebabkan beberapa bagian kompleks istana hangus terbakar. Itu belum termasuk gaya hidup glamor, suka main perempuan, berkunjung ke rumah bordil, hingga sering plesiran. Pernah kaisar Zhengde pelesiran di luar istana hingga berbulan-bulan menghabiskan banyak dana yang diambil dari kas negara. Belum lagi ulah Zhengde yang tak perduli dengan urusan kerajaan dan dengan gampangnya memberikan kekuasaan pada kasim didekatnya, membuat kekuasaan para kasim kembali kuat. Garis keturunan Hongzhi akhirnya berhenti hingga Zhengde, ketika kaisar Zhengde mangkat tanpa memiliki satupun keturunan.

Bersambung ke Kaisar Monogami (2)

4 thoughts on “Kaisar Monogami (1)

  1. Kehidupan kaisar Hongzhi sebagai pribadi benar-benar menarik. Kaisar dengan satu istri!

    Namun jika dilihat kehidupan anaknya, Hongzhi dan permaisuri telah gagal dalam mendidik anak. Kekuasaan dan harta lebih mudah menjerumuskan anak ke kehancuran dari pada kesuksesan. Zhengde benar-benar cerminan anak orang kaya menyebalkan. #eh

  2. haha, ya gitu emang bahayanya kalo penguasa punya selir banyak, anak banyak

    di satu sisi emang untuk memastikan raja punya penerus tahta, tapi di sisi lain rawan perebutan kekuasaan ^^

    kalo di jaman sekarang kayaknya udah ngga populer (bukan berarti ngga banyak) sih budaya poligami begitu. Tapi kalo yang diem2an dan ga terikat pernikahan alias selingkuh mungkin masih ada, banyak malah kayaknya😛

  3. @Akiko
    Sebenarnya sih, anak2 kaisar itu selalu mendapat pendidikan terbaik dari ayahnya (maksudnya: mendapatkan guru terbaik). Zhengde pas jadi putra mahkota dikenal cukup rajin belajar dan lumayan brilian otaknya. Sempat digadang-gadang para menteri kalau Zhengde bakalan meneruskan gaya pemerintahan ayahnya. Gak tau kenapa, pas naik tahta tiba-tiba saja Zhengde berubah total. Mungkin sebelumnya dia takut sama bapaknya dan nurut. Pas bapaknya meninggal dan dia jadi kaisar, muncul deh tabiat aslinya.:mrgreen:

    @Arm
    Biasanya yg rawan berebut kekuasaan itu anak-anak kaisar yg resmi (dari istri), walaupun yg punya kans besar bakalan naik tahta biasanya anak permaisuri (istri utama). Anak selir biasanya gak terlalu diperhitungkan, kecuali para istri kaisar gak ada yg melahirkan anak lelaki seperti Hongzhi misalnya.

  4. Pingback: Flying Swords of Dragon Gate dan sedikit latar sejarah « Toumei Ningen – The Reviews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s