Oricon chart, industri musik Jepang, fanbase dan merchandise

Terima kasih telah membeli album terbaru kami Butterfly, walau mungkin ada juga yang pinjam di rental CD.
(hyde, konser khusus LE-CIEL di Yokohama Arena)

Ide menulis postingan ini kudapat ketika menonton konser L’Arc~en~Ciel exclusice live for LE-CIEL member tanggal 23 Februari 2012 lalu di Yokohama Arena. Saat itu penjualan album terbaru L’Arc~en~Ciel yang berjudul Butterfly berada di urutan teratas tangga lagu Oricon mingguan sebelum digantikan posisinya oleh album live Tokyo Jihen Collection. Tangga lagu Oricon mencatat urutan CD single maupun album berdasarkan jumlah penjualan CD per hari, minggu hingga per bulan. Tentu saja Oricon juga mencatat penjualan barang lain seperti DVD hingga video game, hanya saja yang ingin kubahas disini hanya penjualan CD musik. Bagaimanakah kondisi industri musik di Jepang dan keuntungannya berdasarkan penjualan CD? Mengapa hyde menyinggung penjualan CD album dengan rental CD?

Walaupun tidak seratus persen akurat, rangking tangga lagu berdasarkan penjualan CD oleh Oricon masih diakui sebagai yang terpopuler. Berdasarkan urutan posisi di Oricon Chart, banyaknya penjualan CD lagu menunjukkan ketenaran sang artis. Tapi maaf, itu kondisi sebelum tahun 2000 dan akurasi ketenaran lewat penjualan CD lagu semakin menurun belakangan ini. Penyebab utamanya tentu bisa ditebak, yaitu dengan beredarnya lagu dengan format mp3 yang sangat mudah diperoleh per satuan lagu, baik secara gratisan maupun berbayar. Membeli ringtone (dalam bentuk chakusin melody maupun chaku-uta) per judul lagu juga terhitung sangat murah dan tak jauh beda dibanding mengunduh mp3 legal berbayar.

Tahun-tahun belakangan ini, muncul bisnis baru yang semakin membuat penjualan CD lagu menurun drastis yaitu rental CD lagu. Dengan meminjam CD lagu secara legal berbayar, dengan mudahnya sang peminjam meng-convert seluruh isi lagu ke format mp3 untuk kemudian di masukkan ke dalam mp3 playernya. Untuk meminjam sekeping CD, harga yang harus dibayar cukup murah. Misalnya saja di rental shop terkenal TSU*AY*, anda bisa merental sekeping CD album terbaru selama satu hari, cukup dengan membayar 250 yen (sekitar Rp. 27 ribu untuk kurs 1 yen = Rp. 110). Kalau dipikir-pikir, harga yang dibayarkan tak terlalu jauh dibandingkan dengan mengunduh secara legal isi lagu satu CD album lewat iTu*e misalnya. Bandingkan dengan membeli sekeping CD album yang rata-rata harganya sekitar 3000 yen.

Dengan demikian, bisa terbayang betapa sulitnya menjual CD album terbaru di masa sekarang ini hingga melewati angka penjualan 1 juta keping, apalagi memecahkan rekor penjualan album sepanjang masa First Love milik Utada Hikaru yang mencapai lebih dari 7 juta keping. Tentunya ini tak terlepas dari sedikitnya barang bajakan yang menghantui industri musik Jepang. Aku sendiri masih bisa bilang kalau industri musik Jepang beruntung karena hampir bebas dari masalah pembajakan. Masyarakat Jepang mungkin saja mengunduh secara ilegal ataupun meng-convert seluruh isi CD album menjadi mp3, tapi boleh dibilang hampir tak ada orang Jepang yang berniat untuk menggandakan ataupun mengedarkan file mp3 yang dimilikinya untuk tujuan komersil. Kalaupun diedarkan, boleh dibilang hanya untuk kalangan sangat terbatas dan tidak dijadikan bisnis (maksudnya diberikan cuma-cuma untuk saudara ataupun teman dekat yang tidak akan lapor ke polisi). Hal ini dikarenakan penerapan peraturan pemerintah Jepang yang ketat terhadap isu barang bajakan, diantaranya mengunduh mp3 secara ilegal termasuk melanggar hukum dan besar kemungkinan terancam hukum pidana.

Bandingkan dengan Indonesia yang dengan sangat mudah mengedarkan ringtone/mp3 secara gratisan dalam bentuk promosi jualan telepon seluler, dan itu bisa dilakukan di depan publik dan legal. Kalaupun sang artis mendapatkan bagian pendapatan copyright, tetap tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh provider telepon seluler. Tidak adil memang, tapi itulah yang terjadi di Indonesia. Ujung-ujungnya para artis cuma bisa bilang, “daripada sama sekali gak dapat bagian? dapat sedikit juga sudah beruntung.” Bahkan artis yang biasanya tinggi hati seperti Ahmad Dhani pun rela ngamen di restoran franchise ayam goreng demi jualan CD sebagai bagian promosi jual paket makanan berbonus CD lagunya.
Ini belum menghitung kerugian artis yang CD musiknya di convert ke dalam bentuk mp3 dan dijadikan kompilasi CD hingga berjumlah ratusan lagu yang dijual secara komersil di lapak-lapak penjual CD bajakan.

Kembali ke industri musik Jepang. Lalu bagaimana cara manajemen artis untuk tetap memastikan pemasukan lewat penjualan CD maupun non-CD. Siapa sajakah yang menjadi sasaran manajemen artis yang berusaha untuk meningkatkan jumlah pemasukan yang sudah sangat jauh menurun? Tidak lain dan tidak bukan, jawabannya adalah fans!

Jaman dulu di Jepang, kalau orang ingin mendengar lagu yang disukainya walaupun bukan fans sang artis, mau tidak mau harus membeli kaset/CD single maupun albumnya. Jaman sekarang tak perlu beli CD, cukup unduh lagu yang disukai atau pinjam dari rental CD untuk meng-convert lagu yang disukai menjadi mp3. Tentu saja keuntungan dari penjualan CD sangat berkurang, malah pihak CD rental mendapatkan keuntungan lebih lewat cara ini. Tak banyak lagi orang yang mau membeli CD lagu kalau kondisinya seperti ini, kecuali pembeli yang ingin mengkoleksi CD tersebut. Disinilah letak betapa pentingnya fanbase bagi para musisi, karena fans selalu ingin membeli CD lagu artis kesukaannya untuk dikoleksi.

Fanbase ini pula yang menjadi sasaran komersil pihak manajemen artis untuk mendapatkan keuntungan lewat konser dan penjualan merchandise image sang artis. Komersialisasi seperti ini memang sulit dicegah karena seperti yang diduga, fanboy/fangirl akan melakukan apa saja demi artis pujaannya. Toh bukan hanya industri musik saja yang memanfaatkan gejala fandom demi komersialisasi produk. Industri film, manga/komik, animasi, hingga olahraga banyak mendapatkan keuntungan lewat keloyalan dan keroyalan fans. Apalagi jika melihat betapa kondisi keuangan para fans di Jepang cukup mapan untuk membeli produk merchandise berbagai jenis, tentunya pihak manajemen artis memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi untuk menciptakan berbagai merchandise unik untuk dijual pada saat konser maupun lewat toko online, dan terbukti cukup laku!

Jika hyde mengatakan terima kasih atas usaha para fans membeli CD album terbaru L’Arc~en~Ciel, bisa dipastikan itu dari hatinya yang terdalam. Karena artis manapun tahu betapa sulitnya jualan CD musik dimasa sekarang ini. Para artis terkenal di Jepang juga mungkin masih mampu menjual merchandise unik di dalam Jepang, tapi bagaimana dengan jualan di luar Jepang untuk fans non-Jepang?

Mengaca pada penjualan merchandise L’Arc~en~Ciel saat World Tour 2012, merchandise yang dijual pada saat konser di luar Jepang ternyata agak berbeda dengan macam-macam merchandise dalam negeri Jepang. Tak ada jualan L’arcan (kaleng berisi pernak pernik), L’Arcfood (makanan pilihan anggota Laruku seperti marshmallow, banana chip hingga salami sausage), L’Arcream (krim kulit dengan bentuk botol mirip anu-nya lelaki) ataupun merchandise aneh lainnya seperti halnya konser di dalam negeri Jepang. Yang ada hanya merchandise biasa untuk nonton konser seperti baju T-shirt, pamflet hingga wristband. Sepertinya pihak manajemen tidak berani mengambil resiko untuk menjual merchandise aneh untuk fans di luar Jepang dengan pertimbangan kurang komersil. Hal ini belum menghitung beda kurs keuangan per negara yang menyebabkan para fans lebih selektif memilih merchandise karena harganya yang mahal.

Kalau melihat gelagat komersialisasi artis lewat image artis, mungkin yang paling mendapat untung besar dewasa ini adalah konsep idol yang lebih menawarkan penjualan image artis dibandingkan jualan musik. Grup seperti AKB48 sangat sukses dalam penjualan merchandise maupun CD musik melalui image mereka. Fans mereka sangat banyak jumlahnya dan yang antri beli merchandise bisa berjubel. Walaupun menurutku musik yang ditawarkan AKB48 biasa saja, tapi aku salut dengan manajemen mereka yang sukses luar biasa menjual image sang artis. Dewasa ini boleh dikatakan kalau mau merilis CD musik, jangan berbarengan dengan rilis CD AKB48 dan para saudarinya. Karena bisa dibilang CD mereka akan selalu meraih angka tertinggi penjualan, nongkrong di tangga teratas Oricon Chart dan menggusur CD musik lainnya ke posisi bawah (ingat! posisi penjualan CD di Oricon Chart juga termasuk promosi tak langsung).

Apakah perjalanan AKB48 akan panjang dan apakah mereka akan bisa merayakan anniversary ke-20 grup mereka seperti halnya L’Arc~en~Ciel? Mungkin saja, asalkan trend penjualan image artis masih sama selama 20 tahun walaupun aku sendiri tak yakin. Yang pasti, aku yakin kalau fanbase untuk konsep idol tak akan bertahan lama. Hanya otaku yang benar-benar otaku yang akan tetap bertahan, sisanya akan berangsur mengalihkan perhatiannya pada konsep trend musik maupun jualan image terbaru. Lagipula trend sangat berpengaruh pada keputusan orang-orang Jepang untuk menjadi fans, terutama kaum muda. Contohnya saja konsep idol a la Morning Musume mulai terkikis habis oleh konsep idol yang bisa dijumpai setiap hari a la AKB48.

19 thoughts on “Oricon chart, industri musik Jepang, fanbase dan merchandise

    • Sebenarnya ini tulisan sudah lama nongkrong dalam bentuk draft tulisan, baru terpikir untuk merevisi dan menulis ulang gara-gara nonton konser Laruku kemarin. Ah iya, walaupun tulisan ini tidak secara langsung berkaitan dengan komentar sinis anda, tapi komentar anda kemarin ikut memberi semangat pada saya agar postingan segera diselesaikan.
      Terima kasih sedalam-dalamnya bung lambrtz
      m(_ _)m

      • Loh koq di Facebook? :-s
        Kenapa gak bikin tulisan panjang sendiri di blog? Saya koq jadi pengen baca ulasan panjang lebar lewat pandangan sinis lambrtz😀

      • Pandangan sinis saya sudah straightforward dan sepertinya tidak perlu penjelasan. Saya purist, itu aja.😆
        Soal Facebook yaaaaa karena banyak fanboy dan fangirl di sana. :-” Dan pesan Bang Ando ini harus disebarluaskan! :loL: *halah*

    • Tapi sebelum menulis sinisisme dulu, saya mau tanya pendapat Bang Ando.

      Fanbase ini pula yang menjadi sasaran komersil pihak manajemen artis untuk mendapatkan keuntungan lewat konser dan penjualan merchandise image sang artis.

      Gara-gara kalimat ini, saya jadi memandang fanbase sangat negatif. Sepertinya saya sebaiknya tidak mengelaborasi lebih jauh karena saya tidak memiliki alternatif yang terdengar lebih baik dari yang saya pikirkan.:mrgreen: Tapi menurut Bang Ando apa kelebihan fanbase dalam perkembangan musik, dalam artian bukan kepada para fan di fanbase sendiri ataupun artis atau manajemennya, tapi musik sebagai elemen budaya sendiri. *halahberatnyaaaa*
      Ya sebagai penyeimbang aja.😛

  1. @lambrtz

    saya jadi memandang fanbase sangat negatif

    Kenapa harus sangat negatif? menurutku fanbase adalah salah satu produk budaya, dan hasilnya bisa jadi negatif atau positif. Tergantung sudut pandang orang yang menilai.

    fanbase dalam perkembangan musik

    Apakah lambrtz bisa membayangkan bagaimana nasib The Beatles tanpa adanya Beatlemania yang meracuni kawula muda? *halah*
    Saya koq gak yakin kalau tanpa adanya fandom berbentuk Beatlemania, The Beatles bisa menyebarkan virusnya ke seluruh dunia. Ujung2nya nama The Beatles mungkin tak masuk list sampeyan dan John Lennon tak perlu mati ditembak fans.
    btw, Beatlemania boleh dibilang bukan maniak beatles gara-gara musiknya, walaupun pemicunya yah musik mereka sih. Gimana bisa maniak gara2 musiknya, wong pas mereka main di panggung para penonton lebih sibuk teriak histeris dibanding dengerin lagunya (saya ngomong kondisi tahun 1960an loh).

    Fanbase ataupun fandom jaman The Beatles dan jaman sekarang mungkin saja beda kelakuan dan kulturnya, tapi menurutku sama saja hasilnya yaitu: Fans rela melakukan apa saja demi idolanya.
    Masih ingat bentuk fandom berupa cewek groupies?
    Negatif dari segi moral? ya!
    Negatif dari segi promosi? tentunya tidak, malah bikin banyak artis semakin ngetop lewat pemberitaan tabloid.😈

    Pernah dengar lagu The Beatles yang ini?
    Kalau nggak ada fandom, gak bakalan Paul dapat inspirasi bikin lagu ini😀
    Pernah dengar lagu MJ yang ini?
    Kalau nggak ada gejala fandom, gak bakalan MJ dapat inspirasi bikin lagu ini😀

    Yah…. itu pendapat saya sebagai pengamat, bukan purist sejati seperti anda.
    Kadang kita harus terus beradaptasi supaya bisa menikmati apa yang terus berkembang di dunia ini, seperti musik misalnya.
    Demikianlah pengaruh fanbase terhadap musik sebagai elemen budaya sendiri… menurut saya yang pengamat cemen ini loh.

    NB.
    – Saya nggak bisa ngasih contoh fanbase jaman sekarang sebagai elemen budaya, karena butuh waktu cukup lama agar sebuah elemen bisa dianggap budaya.
    – Kalau mau nulis tentang hal ini, mendingan tulis di blog supaya “ABADI”. Kalau di facebook? bisa2 tengelam atau malah lebih parah kalau semisalnya facebook di”friendster”kan
    – btw, apa tulisanku diatas cuma menarik di bagian fanbase doang? Padahal menurutku isu tentang rental CD dan penurunan penjualan CD juga menarik loh. Lagian fanbase untuk kondisi Indonesia tidak semenarik kondisi Jepang, mau dibahas juga kayaknya kurang ngaruh sama kondisi Indonesia. Malah lebih ngaruh kalau membahas tentang pengedaran lagu secara legal lewat promosi jualan telepon seluler di Indonesia (dengan mengasumsikan anda sebagai purist loh)

  2. Sebelumnya, makasih banyak-banyak atas responnya yang panjang lebar dan sinis juga ^:)^

    Masih seperti alasan-alasan sebelumnya, kalimat yang aku quote di atas masih jadi elemen yang aku sinisi dari fanbase. Kesan yang aku tangkap jadi semacam orang-orang digiring untuk masuk fanbase ehtapi malah semacam “dijebak” (anu saya ndak tahu pilihan kata yang lebih bagus :-SS ) menggunakan crowd psychology dimasukkan ke sini biar keren saja untuk beli merchandise aneh-aneh.

    Itu satu. Yang kedua, tentu saja ini:

    Fans rela melakukan apa saja demi idolanya.

    Ah, groupie. Groupie Beatles (ini yang jaman awal-awal mereka ya? Kayanya fan jaman akhir lebih suka fly😆 ) sama aja annoyingnya. u_u Mau-maunya segitunya tergila-gilanya sama mereka, sampai-sampai membuntuti dll. Sejujurnya, respek saya kurang sama orang-orang begini. u_u Yah untungnya ada lagu dari Beatles dan MJ seperti yang dikau tulis di atas. Masih ada bagusnya lah😛

    Dan yang ketiga–yang ndak perlu diamini, soalnya berdasar elitisme pribadi–adalah kok ya aneh kalau membandingkan The Beatles/MJ dengan musisi komersil baru macam…saya ndak enak ngomongnya😥 yah siapa yang lagi booming ajalah. Seorang teman pernah minta tolong saya nyariin video klip sebuah lagu dari artis semenanjung Korea yang sedang naik daun, aduh muntah darah saya waktu saya baca judul lagu itu u_u Saya ndak ngerti mau apa jadinya generasi muda yang sudah jadi fanboy/fangirl musisi-musisi macam begini u_u jadi berasa tua

    Kira-kira begitu. u_u

    Lalu…

    – Kalau mau nulis tentang hal ini, mendingan tulis di blog supaya “ABADI”. Kalau di facebook? bisa2 tengelam atau malah lebih parah kalau semisalnya facebook di”friendster”kan

    Nah, niat saya tidak mulia secara intelektual maupun moral seperti itu. Cuman pingin melanjutkan kebiasaan saya aja menyindir orang-orang di Facebook.:mrgreen:

    btw, apa tulisanku diatas cuma menarik di bagian fanbase doang?

    Yaaa entah bagaimana asalnya, bagian fanbase yang lebih menarik perhatianku sih😕
    Dan aku juga bukan orang yang suka beli CD lagi :-S

  3. memang menurut saya lagu2 akb48 biasa saja bagi saya (no offense untuk para penggemar akb48) tapi mereka selalu mendapat posisi puncak di oricon chart, dan mengalahkan para musisi2 papan atas yang biasanya langganan first rank. Memang ya, dalam industri musik itu bukan cuma menjual lagu atau lirik atau bakat (talent dalam musik), image pun sangat berperan besar dalam mendongkrak penjualan. Jujur, kadang saya kecewa melihat musisi kesukaan saya dikalahkan oleh akb sister. (=.=”)

  4. Kontribusiku untuk CD:

    apalagi memecahkan rekor penjualan album sepanjang masa First Love milik Utada Hikaru yang mencapai lebih dari 7 juta keping

    Kalau mengamati isu ini, aku pikir mustinya ada metode baru untuk dijadikan pathokan. Tapi yaaa gimana ya.😕 Banyak dicari belum tentu bagus (dalam artian rekor-rekor begini menurutku ndak terlalu banyak faedahnya), bagus belum tentu banyak dicari. Kalau di dunia sastra dan seni, mustinya banyak hidden gems. Salah satu yang aku irii (iri + -i😆 ) dari kalian yang hidup di Jepang adalah bahwa di sana banyak band-band indie yang bagus tapi kurang terkenal. Bukan macam Shonen Knife yang lagu-lagu ga pentingnya bisa dipopulerkan Nirvana, atau Onmyouza yang bisa jadi pembawa soundtrack anime. Aku dulu menemukan yang sebangsa N’Shokogawa Boys. Ini bagus juga menurutku. Vokalis ceweknya pun cakep dan menarik. Sayang ndak banyak lagunya. Bahwasanya aku bisa terbawa ke lagu mereka ya adalah kesalahan takdir.😆

    Ah komentarku kok musti mengarahnya ke sana😦

  5. @lambrtz

    semacam orang-orang digiring untuk masuk fanbase ehtapi malah semacam “dijebak”

    Oh… negatifnya itu ke manajemen artisnya sebagai tukang bully, bukan ke fans-nya sebagai korban yah😈
    Sepertinya sampeyan menafikkan bahwa manajemen artis juga liat2 fans yang jadi target. Kalau fans kurang modal, kayaknya merchandise aneh gak bakalan dijual ke mereka koq, liat pasaran juga lah😛
    Cobalah lihat dari berbagai sisi. atau justru karena aku hidup di jepang, akunya bisa liat dari sisi yang sampeyan gak bisa liat yah😕

    Saya ndak ngerti mau apa jadinya generasi muda yang sudah jadi fanboy/fangirl musisi-musisi macam begini

    Tiba-tiba teringat postingan alex yang sedikit nyangkut tentang hal ini

    kutipan dari tulisan sana:

    Ada yang disebut dengan the golden age thinking — yakni mereka yang berpikir bahwa segalanya lebih baik di masa lampau.

    Ya.. ya.. ya..
    Bahkan saya masih menganggap NKOTB maupun BsB masih lebih mending dibanding boyband jaman sekarang😆
    Apalagi bandingin sama The Beatles yang dance noraknya aja bisa keren dimataku😆

    mustinya ada metode baru untuk dijadikan pathokan

    Patokan apa lagi untuk menunjukkan seorang artis atau sebuah band terkenal atau tidak, kalau bukan dari seberapa sukses mereka secara komersil?
    jangan2 anda tidak rela melihat rekor mbak Utada dipecahkan artis kayak AKB48👿
    Kalau soal patokan berkualitas atau tidak sih, tentunya sukses komersil tidak menjadi acuan. Wong saya suka musik yang dibuat FREENOTE, tapi mereka nggak bisa ngetop juga walau udah rilis 3 album. padahal vokalisnya Chikako Hata berwajah manis

    di sana banyak band-band indie yang bagus tapi kurang terkenal.

    Di Indonesia juga banyak koq band-band indie yang mungkin lebih bagus dibanding Kangen Band atau ST12. Koq situ nggak mention sih? Saya yakin juga, di Singapore banyak band2 indie yang bagus. Apa karena faktor lirik yang dinyanyikan dalam bahasa Jepang membuat feeling penilaian jadi berbeda?😀

    tentang rental CD, aku kok ndak bisa komen banyak ya :-SS

    Bagaimana tentang peredaran lagu2 lewat penjualan handphone di Indonesia? Temanku bilang, beli handphone dapat servis upload langsung ditempat (kios HP maksudnya) lagu2 yg dikehendaki secara gratis dan katanya sih legal. Ini pernah heboh loh di Indonesia ttg royalti yg dibayarkan ringtone/mp3 dalam HP ke si artis. Gara2 itu pula Ahmad Dhani rela ngamen di KFC karena jualan CD di toko susah laku😀

    @araiesqu
    Memang harus diakui promosi bisnis dan strategi pemasaran sangat berpengaruh dalam menjual image dan tentu saja jualan CD. Saya sendiri tak terlalu kecewa jika musisi favorit saya ditendang AKB48 bersaudari, karena itu berarti selera saya terhadap musisi ternyata ndak pasaran😆

    • Oh… negatifnya itu ke manajemen artisnya sebagai tukang bully, bukan ke fans-nya sebagai korban yah

      Betul😈

      Sepertinya sampeyan menafikkan bahwa manajemen artis juga liat2 fans yang jadi target. Kalau fans kurang modal, kayaknya merchandise aneh gak bakalan dijual ke mereka koq, liat pasaran juga lah

      Korban bully kaya tetap saja korban bully. Jangan diskriminasi lah. :-”

      Patokan apa lagi untuk menunjukkan seorang artis atau sebuah band terkenal atau tidak, kalau bukan dari seberapa sukses mereka secara komersil?

      Nha ya itu dia yang perlu dicari.😀 Jumlah download? Jumlah sharing? Jumlah…😕 Yang jelas cara konvensional sepertinya sudah kurang akurat sekarang.😛
      (BTW, bisa coba lihat postingan teman saya Koh Eon [di sini], terutama videonya; barangkali masih nyambung?)

      Di Indonesia juga banyak koq band-band indie yang mungkin lebih bagus dibanding Kangen Band atau ST12. Koq situ nggak mention sih?

      Lha saya kan ga di Indonesia😦

      Saya yakin juga, di Singapore banyak band2 indie yang bagus. Apa karena faktor lirik yang dinyanyikan dalam bahasa Jepang membuat feeling penilaian jadi berbeda?

      Saya ndak tahu banyak sih. Yang pertama kali saya dengar ada The Observatory, space rock, tapi telinga saya kurang cocok. Yang rada cocok itu Rudra, Vedic metal katanya. Metal India begitu.😀
      Kalau lagu Singapore itu buat saya yang rada cocok lagu jadulnya😛

      Bagaimana tentang peredaran lagu2 lewat penjualan handphone di Indonesia?

      Sayangnya, kok sama aja ndak bisa komennya ya :-SS
      Saya ndak begitu tertarik dengan media lagu yang macam ini, karena ndak suka gonta-ganti ringtone sih. Makanya juga ndak familiar dengan topiknya😆

    • @Aprets
      Iya deh. Eh… kualitas CD buatan Indonesia kurang bagus tuh, gampang berbaret dan retak. Tapi yah… karena murah tinggal beli lagi😆
      eh tapi kalau kata lambrtz sih Aprets termasuk kelompok yang digiring dan dijebak sebagai fans😈

  6. Nyasar ke blog ini gara-gara googling ‘fornikasi’, how random is that? 8))))
    Tapi pembicaraan di post ini kebetulan menarik perhatian gue sebagai pemerhati sekaligus pelaku fan culture, pihak yang sering diributin walaupun sebenernya kita santai-santai aja. Sebagai fans, gue sadar kalo gue mendapatkan kebahagiaan dari idola gue, maka gue dengan sadar berusaha untuk membuat idola makmur, supaya karirnya awet dan dia bisa terus bisa bikin gue kagum dengan karya-karyanya. Karena itulah, walaupun gue udah download album idola gue, misalnya, gue menganggapnya sebagai ‘hutang’ dan pada akhirnya saat udah punya duit, gue akan beli kopian original-nya. Arti seorang idola dan karya-karyanya bagi seorang fans itu memang nggak bisa dikuantifikasi, jadi gue nggak bisa nyalahin juga kalo ada yang nggak ngerti dan menganggap gue ‘dijebak’ industri. Gue nggak ngerti kenapa orang mau-maunya bayar mahal untuk nonton Justin Bieber, misalnya, dan sebaliknya, Beliebers pun mungkin nggak akan ngerti kenapa gue gak suka sama dia.
    Tapi itulah model bisnis musik yang paling cocok untuk jaman di mana teknologi udah semakin gampangnya dikuasai oleh awam, sampe satu individu dengan modal gak seberapa aja bisa jadi juragan CD bajakan. Musisi mesti balik ke komunitas, balik deketin orang-orang yang memang dukung mereka dari awal, karena memang komunitas ini yang akan stick with them through stick and stones. Kalo idola gue bikin album jelek, gue akan misuh-misuh, tapi gue toh tetep ikutin perkembangan dia. Sementara, orang yang nggak ngefans, akan puas cuma dengan beli satu atau dua track di iTunes, kemudian kalo karya berikutnya jelek, ya ditinggal. Toh masih banyak musisi/idols lain.
    Menurut gue, ‘fanbase’–dari istilahnya kita juga udah bisa liat bahwa ini berarti komunitas fans–justru lebih independen daripada fans yang sekedar ngambang di rimba industri budaya populer. Fans ngambang kayak ginilah yang menurut gue diperalat oleh industri, karena mereka nggak punya taste, adanya ‘illusion of taste’, di mana selera mereka digiring oleh tren yang dicanangkan industri. Sekarang misalnya, sebagai orang yang dari dulu nggak suka K-Pop, gue dianggep aneh karena semua media lagi gencar promosi K-Pop dan gue malah gak suka. Gue resisten terhadap tren dan orang-orang kayak gue ini ancaman buat industri, karena berarti mereka gak bisa maksa gue untuk suka sama apa yang mereka jual.
    Kira-kira begitulah perspektif dari fans. Maaf kalo komentar ini terlalu panjang dan bertele-tele. xD

    • @inestjokro
      Wah, ada komentar panjang lebar tapi kelewat. sorry kalau baru dibalas sekarang ^:)^

      gue dengan sadar berusaha untuk membuat idola makmur, supaya karirnya awet dan dia bisa terus bisa bikin gue kagum dengan karya-karyanya

      Yup, betul. Banyak sekali fans yang membeli merchandise artis dengan tujuan seperti ini, malah kadang mereka beli album berisi lagu yang sama tapi beda edisi (kayak edisi kolektor dan edisi biasa) demi koleksi dan agar penjualan album sang artis bisa melesat ke tangga puncak album terlaris🙂

      Musisi mesti balik ke komunitas, balik deketin orang-orang yang memang dukung mereka dari awal, karena memang komunitas ini yang akan stick with them through stick and stones.

      Inilah yang menjadi tema utama tulisan ini, yaitu fanbase adalah hal terpenting bagi artis karena dari merekalah para artis dapat makan secara berkelanjutan. Karena hanya fans yang akan selalu membeli karya serta pernak-pernik sang artis, terlepas dari promosi maupun trend yang gencar dilancarkan oleh media.

      Kira-kira begitulah perspektif dari fans. Maaf kalo komentar ini terlalu panjang dan bertele-tele.

      Gak papa, saya suka koq sudut pandangan anda. Paling tidak, ini bisa menjadi sisi pandang yang berbeda jika dibanding perspektif saudara Lambrtz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s