Tentang Nene

Menurut anda, siapakah wanita Jepang yang dikenal telah ikut mempengaruhi sejarah Jepang hingga sekarang? Mungkin ada beberapa kandidat seperti misalnya Murasaki Shikibu yang mendobrak tradisi literatur kuno Jepang, atau Hojo Masako istri Shogun Minamoto no Yoritomo yang ikut mempengaruhi peta politik jaman Shogun Kamakura. Kali ini, saya memperkenalkan Nene seorang wanita aristokrat paling berpengaruh di jaman Sengoku Jidai (Jaman perperangan) dimana para pria mendominasi peta kekuasaan politik sejak masa Oda Nobunaga, dilanjutkan Toyotomi Hideyoshi, hingga berakhir ditangan Tokugawa Ieyasu. Pada jaman perperangan ini, wanita biasanya hanya dianggap sebagai pelengkap penderita. Wanita yang lahir dikalangan bangsawan (aristokrat) biasanya hanya dianggap sebagai barang berharga yang nantinya bisa digunakan oleh ayah/suami demi memperkuat posisi politik lewat jalur pernikahan ataupun keturunan (anak). Bagaimana dengan wanita non-bangsawan? Nasib mereka tentunya lebih buruk dari wanita bangsawan karena tak punya nilai tawar.

Nene setelah menjadi Koudai-in di masa tua (foto wikipedia)

Nene setelah menjadi Koudai-in di masa tua (foto wikipedia)



Seperti halnya banyak wanita lain di jaman pra-modern, Nene hanya dikenal dengan nama panggilan tanpa ada catatan nama aslinya. Yang paling sering dipakai di Jepang adalah Koudai-in, nama biarawati yang digunakan ketika Nene masuk biara setelah suaminya Toyotomi Hideyoshi wafat. Di belahan dunia barat Nene dikenal dengan gelarnya Kita no Mandokoro, ketika Hideyoshi duduk sebagai Kampaku. Sedangkan nama Toyotomi Yoshiko digunakan ketika suaminya Hideyoshi memperoleh marga Toyotomi dari kaisar Jepang. Hideyoshi sendiri memanggilnya dengan panggilan kesayangan Nene, yang menurut cerita berasal dari kata One atau Ne atau Nei (bukan dari kanji 姉 yang berarti kakak perempuan, melainkan dari huruf kanji 寧).

Lahir di propinsi Owari (sekarang prefektur Aichi), Nene adalah anak perempuan kedua samurai bernama Sugihara Sadatoshi dari ibu Asahi-dono. Bersama adik perempuannya yang bernama Yaya, sejak kecil Nene masuk ke rumah klan Asano sebagai anak angkat Asano Nagakatsu. Mereka berdua mendapatkan pendidikan layaknya putri seorang samurai termasuk diantaranya baca tulis. Nene yang suka membaca melahap berbagai macam buku pengetahuan, termasuk pengetahuan politik yang kelaknya akan berguna bagi suaminya dimasa depan.

Pernikahan Nene dengan Toyotomi Hideyoshi dikenal sebagai salah satu pernikahan yang kurang lazim pada jaman Sengoku Jidai. Nene dikenal sebagai putri samurai yang berkedudukan tinggi, cantik jelita, dan berpengetahuan luas. Bandingkan dengan Toyotomi Hideyoshi yang pada saat itu hanya dikenal sebagai samurai kelas bawah (itupun diangkat oleh Nobunaga, karena Hideyoshi pada awalnya hanya seorang anak petani), perawakannya jelek seperti monyet (Nobunaga terang-terangan memanggil Hideoyoshi dengan panggilan Kozaru alias monyet cilik atau kadang dengan panggilan Hage Nezumi alias tikus botak), dan berpendidikan rendah. Entah apa yang menyebabkan Nene lebih memilih Hideyoshi dibandingkan Maeda Toshiie yang lebih ganteng dan turunan samurai ternama pula (kabarnya Hideyoshi dan Toshiie menjadi rival gara-gara naksir wanita yang sama yaitu Nene). Toh pernikahan Nene dan Hideyoshi dikenal sebagai pernikahan atas nama cinta (lagi-lagi tidak lazim), bukan pernikahan atas dasar perjodohan layaknya anak samurai pada masa itu.

Pernikahan Nene dan Hideyoshi bukannya tanpa kendala karena Asahi-dono (ibu kandung Nene) sama sekali tidak setuju dengan pilihan putrinya dan menentang keras pernikahan mereka. Lain lagi halnya dengan Omandokoro, ibu kandung Hideyoshi ini justru menyukai Nene dan kabarnya hubungan Omandokoro dengan Nene jauh lebih baik dibandingkan dengan hubungan Omandokoro dengan anak kandungnya. Bahkan Omandokoro tinggal satu atap dengan Nene hingga akhir hayatnya.

Sebagai istri Hideoyoshi, Nene dikenal dengan kebijaksanaannya dan keramahannya. Kata-kata dan nasihat Nene untuk Hideyoshi sering kali diterima dan dilaksanakan, malah Hideyoshi sering mengirim surat untuk minta pendapat kepada Nene ketika Hideyoshi sedang melakukan ekspedisi dan menjalani pertempuran. Bahkan Oda Nobunaga yang dikenal memiliki pribadi yang keras turut menyanjung Nene dan menghiburnya ketika Hideyoshi berencana mengambil wanita lain sebagi selir baru.

Keramahan Nene juga sering menjadi perbincangan ketika Hideyoshi berhasil menyatukan Jepang dibawah kekuasaannya. Nene selalu menyambut tamu kehormatan yang datang mengunjungi Hideyoshi dengan keramahan yang membuat para tamu semakin segan dengan Hideyoshi, bahkan hingga membuat kaisar Jepang pada masa itu Go-Yozei merasa kagum. Selain itu juga, Nene turut berperan membujuk anggota keluarganya yang kompeten untuk membantu Hideyoshi termasuk kakaknya Iesada, pamannya Sugihara Ietsugu, hingga iparnya Asano Nagamasa (suami Yaya), mereka turut berperan serta atas kesuksesan Hideyoshi menyatukan Jepang.

Sayangnya pasangan Nene dan Hideyoshi tidak dikaruniai keturunan, hal ini juga membuat Hideyoshi mulai mencari wanita lain sebagai selir demi mendapatkan anak sebagai penerus kekuasaannya. Pada akhirnya, Hideyoshi memang mendapatkan anak lelaki dari selirnya yang bernama Yodo-dono yang kemudian dinikahi oleh Hideyoshi sebagai istri kedua. Anak pertamanya Tsurumatsu meninggal sewaktu balita dan anak keduanya Hideyori akhirnya mewarisi tampuk kekuasaan Hideyoshi.

Nene no Michi tertulis di tonggak batu untuk mengenang sosok Nene

Setelah Hideyoshi mangkat, Nene masuk kuil Koudai-ji di Kyoto dan menjadi biksuni dengan gelar Koudai-in. Ketika Hideyori dan Tokugawa Ieyasu berperang memperebutkan kekuasaan, Nene lebih mendukung Tokugawa dibandingkan anak tirinya (anda boleh menebak sendiri penyebabnya).

Untuk mengenang sosok Nene, nama Nene dijadikan nama sebuah jalan pendek di dekat Koudai-ji tak jauh dari Yasaka Jinja (daerah Gion Kyoto). Jalan kecil tersebut diberi nama Nene no Michi (Jalan Nene).

12 thoughts on “Tentang Nene

  1. wah, bang ando suka menulis tentang sejarah Jepang masa lampau ya..
    ulasannya dijabarkan dengan luas dan lengkap.
    bagi yang suka sejarah (seperti saya) posting seperti ini sangat menarik..

    kalau boleh tahu sumber referensi penulisan dari mana??
    Apa baca buku di perpustakaan dulu?😀

    • @araiesqu
      Main resource? wikipedia jepun plus beberapa link berbahasa jepun berisi catatan sejarah ttg Toyotomi Hideyoshi. Nggak punya banyak waktu buat nongkrong di perpus mlototin buku2 berbahasa jepun full tulisan “kanji aneh” yg jarang dipakai (buku sejarah jepun bisanya begitu). Tulisan ini kurang lengkap sih, tapi lumayan buat nambah2 pengetahuan.

  2. @Imelda
    Aku emang pada dasarnya suka sejarah dan mitologi. Khusus asia, minatku paling besar pada sejarah tiongkok kuno dan jepang (terutama sengoku jidai dan bakumatsu).
    Senmon-ku sama sekali gak nyambung  無機材料科学物質工学科 alias inorganic based material science😆
    Namanya juga cuma hobi, nggak khusus belajar koq😀
    Lagian ini khusus kutulis karena ada request pas minggu lalu berkunjung ke Osaka Castle. Di sana ada cerita ttg Hideyoshi menikahi Nene, lalu timbul pertanyaan.. siapa itu Nene?

    @Elkha
    iya begini… *geleng2*

  3. hmmm tertarik banget..
    kak bisa kasih info tentang fungsi selir pada zaman sengoku gak??atau tentang kedudukan selir dalam keluarga suaminya??

    • @chery
      Fungsi selir dan kedudukannya dalam keluarga suami?
      Terlebih dahulu harus ditekan bahwa selir bukanlah istri dan itu berarti tidak dinikahi, hal ini berlaku bukan hanya di Jepang tapi seluruh dunia. Para raja dan bangsawan di Nusantara juga punya selir banyak, bahkan di jaman sekarang masih ada orang yang memelihara gundik.
      Karena sang selir tidak dinikahi, otomatis sang pria bukan suaminya. Alasan tidak dinikahinya selir ada bermacam-macam misalnya faktor kelas sosial atau juga faktor ekonomi.
      Fungsi selir di jaman sengoku, setahuku secara umumnya sama dengan negara dan jaman lainnya. Umumnya berada dibidang kepuasan seksual sang pria dan juga berfungsi sebagai penyambung keturunan. Kedudukannya tentunya lebih rendah dibanding istri, malah mereka tak punya hak kecuali sang selir punya anak dari sang pria yang memungkinkan naiknya derajat si selir (contohnya Yodo-dono)
      Hideyoshi diketahui memiliki setidaknya 2 selir. Yang pertama Yodo-dono yang setelah anaknya Hideyori diangkat sebagai “putra mahkota”, Yodo-dono dinikahi oleh Hideyoshi sehingga berstatus sebagi istri kedua Hideyoshi setelah Nene. Selir keduanya Ma’a Hime (anak Maeda Toshiie).

      Mengenai kepuasan seksual, Jepang kuno (termasuk jaman sengoku) mengenal sistem shudo dimana para samurai pria kelas atas (dan juga bangsawan) melakukan hubungan seksual dengan remaja pria yang disebut sebagai wakashu. Jadinya fungsi selir terlihat lebih ditekankan ke arah penyambung keturunan.
      Selir juga bisa berfungsi untuk memperkuat hubungan politik, walaupun jarang ada yang berhasil karena toh status istri juga sering kali tak bisa mencegah pecahnya perang. Lihat saja Oichi (adik kandung Oda Nobunaga) menikah dengan Azai Nagamasa demi memperkuat hubungan politik dan militer kedua belah pihak. Nyatanya Nobunaga dan Nagamasa tetap berperang, sampai akhirnya Nagamasa tewas bunuh diri setelah dikepung pasukan Nobunaga pimpinan Hideyoshi.
      Yodo-dono sendiri adalah anak Nagamasa dan Oichi yang keduanya tewas akibat penyerangan pasukan pimpinan Hideyoshi (suaminya dikemudian hari).

      • Jepang kuno (termasuk jaman sengoku) mengenal sistem shudo dimana para samurai pria kelas atas (dan juga bangsawan) melakukan hubungan seksual dengan remaja pria yang disebut sebagai wakashu.

        Jadi, hubungan sesama jenis tidak dianggap tabu pada waktu itu??

      • @araiesqu
        Hubungan sesama jenis untuk kasus shudo tidak dianggap tabu. Harap diingat, wakashu adalah remaja yang masih berumur sangat muda (usia remaja). Setelah dewasa, seorang bekas wakashu sudah tidak dianggap wakashu lagi dan hubungan sesama jenis bagi 2 pria dewasa sudah tidak dianggap shudo.

        Coba baca sedikit tentang shudo di wikipedia

    • @cherry
      errr…. putri yuu? siapa itu?
      Anak Takeda Shingen yang jadi penerus klan Takeda namanya Takeda Katsuyori. Ibunya bernama Suwa Goryuunin memang selir Takeda Shingen.
      Status Suwa Goryuunin tetap selir karena Takeda Shingen tak mau mengangkat anak dari jendral klan Suwa (yang musuh turun temurun klan Takeda) sebagai istri.
      Goryuunin mati muda, jadinya tak sempat melihat anaknya menjadi dewasa dan akhirnya memimpin klan Takeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s