Lirik Engrish dalam Lagu Jepang

Postingan ini kutulis berdasarkan wallpost di komunitas (facebook) Laruku Indonesia, di mana seorang ibu-ibu yang menjadi anggota menyatakan bahwa lirik bahasa Inggris dalam lagu Laruku memakai kalimat dengan grammar kacau. Disaat yang sama pula si ibu menyatakan:

Engrish, bukan English. Kalo gak gitu kan bukan artis Jepang namanya. Satunya2 negara yang tetep pede walaupun bahasa inggrisnya ngawur.

Lengkapnya bisa dilihat disini:

Terus terang saja aku tidak berniat membela si ibu (komentar warna merah) berdebat dengan anggota lain, dan aku juga tak ada minat mendukung komentar ababil yang menjadi lawan debatnya. Karena aku mendapat kesan si ibu terlalu sok tahu dengan sotoy-nya menyamakan semua artis Jepang tak bisa bahasa Inggris dan para lawan debatnya hanya membela membuta tanpa alasan kuat.

Ada hal yang membuatku tertarik untuk membahas isi debatan yaitu:
Lirik Engrish dalam lagu-lagu Pop dan Rock Jepang, dan secara spesifik benarkah yang membuat lirik berbahasa Inggris dalam lagu Laruku adalah sang vokalis hyde sehingga grammar-nya kacau?

Dengan tulisan ini, aku bermaksud membahas dan mengemukakan opini dengan melihat latar belakang lewat riset kecil-kecilan.

Pada tahun-tahun awal setelah Perang Pasifik yang diakhiri kekalahan Jepang, tanpa terasa pengaruh budaya Amerika mulai menyelimuti masyarakat Jepang termasuk musik. Saat itu, lagu-lagu barat (mayoritas berbahasa Inggris) banyak yang masuk ke Jepang diperdengarkan lewat siaran radio dan ikut bersaing dengan genre lagu tradisional Jepang Enka. Karena orang Jepang sulit melafalkan bahasa Inggris ketika ikut bernyanyi, para musisi berinovasi membuat lirik berbahasa Jepang dengan komposisi asli lagu barat. Diantaranya yang populer hingga saat ini adalah Hotaru no Hikari (berdasarkan lagu Auld Lang Syne), Do Re Mi (berdasarkan lagu Do Re Mi OST Sound of Music) dan Akai Kawa no Tani (berdasarkan lagu Red River Valley). Dari situ musisi-musisi asli Jepang banyak yang terpengaruh dan mulai membuat komposisi original buatan sendiri.

Booming lagu-lagu Pop dan Rock yang ditebarkan oleh virus Elvis dan The Beatles pada era 50-an dan 60-an juga mempengaruhi Jepang sehingga para komposer juga mulai banyak membuat lagu-lagu Pop dan Rock dengan lirik berbahasa jepang dengan pelafalan a la Jepang pula. Genre musik Pop/Rock dengan lirik dan pelafalan menurut bahasa Jepang ini dikenal dengan nama Kayoukyoku (歌謡曲).

Akhir 1970-an dan awal tahun 1980-an, genre baru bernama J-Pop mulai dikenal luas dan mampu menguasai pasar musik Jepang. Perbedaan antara Kayoukyoku dan J-Pop terletak pada pelafalan liriknya walaupun keduanya menggunakan lirik berbahasa Jepang. Jika Kayoukyoku melafalkan lirik dengan lafalan Jepang biasa, J-Pop menggunakan pelafalan ke-inggris inggris-an yang boleh disebut pada jaman sekarang sebagai Engrish atau Japlish. Vokalis Kuwasuke Kawata dari band Pop Rock Southern All-Stars termasuk salah satu pionir dalam mempopulerkan gaya menyanyi ini ke blantika musik Jepang. Hanya saja pada saat itu, penggunaan lirik berbahasa Inggris masih malu-malu mau dalam artian hanya beberapa penggal kata saja yang dipakai dalam satu lagu.

Dilain pihak, tahun 1980-an ini pula menjadi tahun-tahun dimana mulai banyak musisi Jepang (terutama genre Rock) menjajal panggung musik internasional. Pada saat itu, ada anggapan jika ingin Go International harus membuat lagu dengan lirik bahasa Inggris. Hal ini tak terlepas dari kesuksesan Kyu Sakamoto yang sempat tenar di USA setelah membawakan lagu Ue wo Muite Aruko dalam bahasa Inggris menjadi lagu Sukiyaki. Band-band Rock seperti Loudness, Bow Wow, dan Anthem mulai menjajal dunia musik internasional melalui lagu-lagu mereka yang berlirik bahasa Inggris. Di dalam negeri sendiri muncul X-Japan yang mempopulerkan genre visual-kei dan X-Japan juga ikut membuat lagu-lagu berlirik bahasa Inggris demi menarik perhatian dunia musik internasional.

Apakah lirik-lirik lagu yang dibuat oleh Loudness, Bow Wow dan rekan mereka yang lain itu Engrish? Tentunya tidak (silahkan cek sendiri), karena bagaimanapun juga mereka terlalu serius berambisi untuk melebarkan sayap meraih pasar luar Jepang (terutama pasar Amerika). Paling tidak dari segi tata bahasa, lirik-lirik yang tertulis dalam lagu mereka sudah mengikuti aturan baku bahasa Inggris. Tentunya bisa dibayangkan bila lagu-lagu mereka dijual di pasaran Amerika dengan lirik mengikuti grammar Engrish, mereka akan jadi bahan lelucon penduduk dengan bahasa Inggris sebagai native language. Tentu saja lirik berbahasa Inggris tersebut dibuat dengan bantuan penerjemah profesional. Soal pelafalan, mau tidak mau sang vokalis harus latihan dengan instruktur penutur bahasa Inggris asli.

Lain halnya dengan musisi Jepang yang menargetkan pangsa pasar lokal. Kebanyakan dari musisi ini membuat lagu berlirik bahasa Inggris sendiri (tanpa bantuan tenaga penerjemah profesional). Alhasil cukup banyak lagu yang ditulis dengan lirik Engrish, toh para pendengar yang notabene orang Jepang tidak akan terlalu memperhatikan grammar. Malah mereka akan menganggap penambahan lirik tersebut membuat lagu terdengar keren.

Tahun 1997 muncul fenomena pemecah rekor penjualan CD lagu bernama Utada Hikaru. Utada Hikaru menulis sendiri komposisi dan lirik-lirik lagunya baik yang berbahasa Jepang maupun yang berbahasa Inggris. Utada Hikaru dikenal sebagai artis bilingual yang mampu berkomunikasi dengan 2 bahasa yaitu bahasa Jepang dan Inggris dengan sama lancarnya. Wajar saja mengingat Utada Hikaru lahir dan menghabiskan 15 tahun hidup remajanya di New York.

Tahun 2000-an adalah era dimana banyak muncul musisi penulis lirik dengan latar belakang penguasaan bahasa Inggris yang kuat. Bukan hanya lirik secara grammatikal, pelafalan mereka dalam menyanyi juga tidak seperti pelafalan orang Jepang biasanya melainkan pelafalan fasih seperti pelafal native language. Diantaranya yang dikenal luas adalah:

– Band Punk & Alternative Rock, Ellegarden. Vokalis Takashi Hosomi adalah komposer utama dan penulis lirik Ellegarden. Kemampuan bahasa Inggrisnya diperoleh lewat perguruan tinggi jurusan bahasa Inggris dan cukup lama bekerja sebagai computer engineer di Oakland, USA.
– Yuna Ito. Blasteran Jepang-Korea-Amerika. Bahasa Inggris adalah bahasa utama Yuna Ito yang memang lahir di Los Angeles dan besar di Hawaii. Ketika baru datang ke Jepang, Yuna Ito harus ikut kursus bahasa Jepang supaya bisa berkomunikasi dengan lancar dengan orang-orang lokal dalam industri musik Jepang.
– Angela Aki. Blasteran Jepang-Italia-Amerika. Walau lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Jepang, Angela Aki menghabiskan masa sekolahnya di USA. Sama seperti Yuna Ito, Angela Aki juga ikut kursus bahasa Jepang intensif ketika pulang kembali ke Jepang.
– Maynard and Blaise Plant, dua bersaudara dari band Monkey Majik. Mereka berdua asli bule asal Kanada yang fasih berbahasa Inggris, Perancis dan Jepang. Sebelum ngeband, Maynard bekerja di Sendai-Jepang sebagai guru.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa tidak semua artis Jepang bisa disama ratakan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Ada artis yang memang memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara fasih, ada juga yang mengandalkan bantuan penerjemah profesional (termasuk latihan pelafalan). Di sisi lain, ada pula yang membuat lirik sendiri sehingga menghasilkan lirik berbentuk Engrish.

Bagaimana dengan lirik buatan Laruku sendiri(mayoritas lirik dibuat oleh vokalis Laruku yaitu hyde)? Si ibu yang berkomentar tersebut mengaku berprofesi sebagai Freelance translator (kemungkinan besar bahasa Inggris), Writer and Illustrator sehingga saya mengasumsikan kemampuan berbahasa Inggrisnya jauh di atasku. Masalahnya beliau sepertinya menganggap bahwa seluruh lirik berbahasa Inggris tersebut benar-benar buatan hyde sendiri. Kenyataannya belasan tahun belakangan ini Laruku yang mulai mengincar pasar internasional, dan mereka benar-benar serius mengadopsi lirik berbahasa Inggris dalam lagu-lagu mereka. Karena tahu kemampuan hyde dalam menulis lirik berbahasa Inggris terbatas, ditempuhlah cara yang pernah dipakai musisi Rock seperti Loudness dan kawan-kawan di atas yaitu menyewa translator profesional. Orang yang dipercaya sebagai translator adalah Lynne Hobday.

Aku sendiri kurang tahu soal lagu-lagu buatan Laruku sebelum tahun 2000, karena jasa Lynne Hobday baru digunakan sejak tahun 2000. Dengan demikian, masih ada kemungkinan lirik Engrish terdapat dalam lagu Laruku sebelum tahun 2000.
Lagu pertama Laruku yang menggunakan full English buatan Lynne Hobday adalah Spirit Dream Inside yang menjadi OST Final Fantasy: The Spirits Within, dan jasa Hobday masih digunakan hingga sekarang (lagu terakhir yang dibuat adalah English version dari XXX dan Chase).

Mengenai lirik yang menggunakan kosa kata ngawur dan tidak masuk akal (gambar atas digaris bawah), memang seperti itulah gaya lirik buatan hyde. Bahkan lirik buatan hyde dalam bahasa Jepang sendiri pun bisa dibilang ngawur jika mengacu pada tata bahasa Jepang baku, karena sering kali hyde membuat kosa kata sendiri. Sepertinya hyde terkadang kesulitan memilih kosa kata baku untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam pikirannya secara nyeni.

Contoh:
Judul lagu Kasou (花葬) tidak akan ditemukan dalam kamus bahasa Jepang manapun. Kalau diterjemahkan secara langsung (boleh lewat google traslator), memang artinya bunga pemahkaman. Tapi secara bahasa Jepang baku, tidak ada kata Kasou terlebih lagi artinya.
Persoalannya, penggabungan dua huruf kanji dalam bahasa jepang tidak segampang itu karena bisa jadi setelah digabungkan memiliki arti berbeda. Misalkan saja mujun (矛盾) yang berarti kontradiksi, padahal huruf mu (矛) yang berdiri sendiri berarti tombak dan huruf jun (盾) sendiri berarti tameng.

Soal masuk akal atau tidak, memangnya bisa seorang manusia tinggal di dalam bola mata kekasihnya secara harfiah seperti lirik dalam lagu Hitomi no Juunin (瞳の住人)? Masih banyak lirik lagu Laruku berbahasa Jepang yang menyalahi tata bahasa baku dan memang tidak masuk akal jika diterjemahkan secara harfiah.

Terbayang cara Lynne Hobday mentranslasikan pikiran unik hyde yang aslinya berbahasa Jepang menjadi bahasa Inggris? Menurutku, Lynne Hobday mau tidak mau harus berdiskusi terlebih dahulu dengan hyde tentang makna dibalik kata-kata yang ditulisnya. Dan hasil terjemahannya pun kemungkinan besar ikut-ikutan nyeni seperti bahasa aslinya dan dianggap orang umum sebagai bahasa ngawur.

Bagaimanapun juga bahasa seni belum tentu harus mengikuti bahasa baku karena seni lebih mengutamakan perasaan dan keindahan.

4 thoughts on “Lirik Engrish dalam Lagu Jepang

  1. setuju mas bro… memang nggak semua lirik lagu harus mengacu pada grammar kok, karena kan harus di’pas’in juga ama nadanya🙂 tapi ya… emang ‘agak’ berantakan dan ambigu sih… but WTH lah, toh gak ada gugatan pula dari penulis kamus Oxford atau orang Inggrisnya sendiri😛

  2. BANZAI!
    kamu kasih baca tulisan ini ke grup itu ngga?
    Sebetulnya secara keseluruhan bahasa Inggrisnya orang Jepang tata bahasanya OK, tapi penulisan kata-katanya yang sering salah. Dan musti diingat dalam lagu, yang notabene adalah hasil karya seni, tidak bisa ketat tata bahasanya. Puisi saja banyak salahnya kok😀

  3. @Yoan Arimura
    Paling cuma grammar Nazi doang yang suka ngeributin lirik lagu yang nggak ngikutin tata bahasa baku😀

    @Imelda
    Nggak mbak, wong aku ngasih komen singkat yang ngenjelasin latar belakang ke-sotoy-an nya, malah dicuekin. Mending nulis panjang lebar di blog sendiri.
    Soal bahasa Inggris, teman2 satu lab ku dulu jagoan loh kalau disuruh bikin report hasil percobaan secara tertulis. Tapi pas disuruh presentasi oral, langsung ketauan deh belepotan bahasa Inggrisnya.😆

  4. haduh, kalau ngomong tata bahasa jepang saya angkat tangan deh. nggak tahu. tapi biar begitu entah kenapa lagu2 jepang terdengar lebih cocok di kuping di banding yang lain. ada yang beda gitu. kalau dengar lagu2 jepang sering mikir, kok musiknya bagus banget ya. biasanya saya dengerin lagu2 yang jadi OST anime atau dorama. ngomong2 tentang engrish, saya sering senyum2 sendiri kalau nonton dorama. soalnya thank you berubah jadi sangkyu, ice cream jadi aisukurimu, present jadi purezento, best couple jadi besto kappuru, dll. suka suka suka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s