Puasa, Kerja dan Manja

Kali ini aku ingin cerita tentang pengalaman bekerja di Jepang pada saat puasa di musim panas. Kejadiannya sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu, tapi rasa gak enak hati masih terasa sampai sekarang. Seperti yang telah kutulis sebelumnya, puasa di Jepang tahun-tahun belakangan ini memang berat karena bertepatan dengan musim panas. Panas di Jepang bukan seperti panas di Indonesia yang panas kering, melainkan bagaikan sauna yang panas lembab. Akibatnya tubuh lebih gampang kena dehidrasi di siang hari.

Hari itu temperatur panas sekali sekitar 36 derajat celsius dengan kelembabab 80% sehingga dengan cepat aku merasa lemas setelah bekerja sejak jam 8:30 pagi. Biasanya aku baru mulai merasa lemas sekitar jam 4 sore, tapi hari itu aku sudah merasa lemas sejak jam 12 siang. Tapi kerja tetap kerja, tak ada alasan mengurangi efektifitas cara kerja. Menjelang pukul 4 sore, aku mulai merasakan gejala dehidrasi dengan mulut dan tenggorokan kering, mulai merasa pusing dan lemas seperti orang kena tekanan darah rendah, malah kadang mataku agak berkunang-kunang. Tapi karena sedang bekerja, gejala dehidrasi tersebut kutahan saja tanpa ada niat membatalkan puasa sebelum waktunya. Lagipula aku merasa sayang “tinggal 3 jam lagi” menjelang waktu berbuka. Ujung-ujungnya untuk menekan gejala dehidrasi tersebut, aku bolak-balik ke toilet demi mengguyur air ke muka dan kepalaku.

Walaupun demikian, kondisi tersebut tetap saja membuat kewaspadaanku berkurang. Aku kurang konsentrasi dan lengah dalam mengecek tinggi larutan alkali yang dengan cepat habis akibat penguapan karena cuaca panas dan itu ditemukan supervisorku ketika sedang mengecek kondisi produksi. Habislah aku kena omelan dengan nada suara tinggi, wajar saja karena jika larutan alkali berkurang hingga batas minimum… itu berarti merusak mesin.

Ketika dimarahi, aku mendapat teguran dari supervisor karena dianggap tidak bekerja keras (ganbatteiru) dan tidak memperhatikan kerjaan dengan serius seperti orang manja. Saat itu juga supervisor bicara kalau dia mengerti aku sedang berpuasa (aku sudah bicara padanya tentang jadwal Ramadhan sebelum puasa dimulai, untuk mengatur jadwal kerja agar aku bisa buka puasa setelah pulang kerja). Masalahnya, dia tak bisa menerima alasan kalau efektifitas kerjaku turun gara-gara puasa karena berpuasa adalah pilihanku pribadi. Lagipula aku tak mau ibadahku turut disalahkan karena efektifitas kerja menurun, dengan kata lain aku tak mau ibadah agama menjadi kambing hitam. Toh masih banyak orang yang berada dalam kondisi lebih sulit dan melakukan pekerjaan lebih berat dariku ternyata masih kuat puasa.

Akhirnya aku minta agar jadwal kerjaku dipindah ke malam hari (masuk shift malam) untuk sisa hari puasa Ramadhan. Memang sih aku tak bisa menjalankan ibadah sunah seperti sholat tarawih, tapi setidaknya ibadah wajib puasa Ramadhan bisa dilakukan lebih mudah. Opsi lain pindah kerja atau pulang ke Indonesia memang ada, tapi kayaknya masih belum bisa kulakukan.

Setidaknya aku tahu kalau supervisorku sudah menghormati aku yang sedang berpuasa dengan mengubah jadwal kerjaku agar aku bisa pulang kerja sebelum waktu berbuka. Dan ketika itu menjadi masalah kondisi kesehatan ketika puasa, mau tak mau aku menghormati orang yang tidak puasa supaya pekerjaan tidak terganggu dengan cara pindah jadwal kerja menjadi shift malam. Memang seharusnya orang yang tidak puasa menghormati yang sedang berpuasa, demikian juga sebaliknya.

6 thoughts on “Puasa, Kerja dan Manja

  1. Tidak di Jepang atau di Indonesia, semuanya sama. Terutama kalau kepala perusahaan bukan orang yang sedang menjalankan puasa, mereka akan tetap menuntut agar peforma pekerjaan tetap prima seperti mereka (karyawaan lain) yang sedang tidak mejalankan ibadah puasa. Beberapa perusahaan memang memberi kelonggaraan dan tenggang rasa untuk mereka yang sedang berpuasa (khususnya di Indonesia), tapi ada beberapa perusahaan yang saya dengar juga menuntut karyawannya tetap bekerja keras seperti pada waktu tidak sedang puasa (mis lembur sampai malam), khususnya perusahaan asing.

    Yah, memang jika dibilang puasa adalah pilihan pribadi dan seharusnya tidak mengggangu peforma kerja, memang benar. Dan perusahaan mana yang mau karyawannya jadi lebih lembek pas bulan puasa sehingga produktivitas berkurang? Jawabannya ngak ada, malahan kalau bisa peforma perusahaan naik terus ngak peduli dalam keadaan apa pun.

    Musti pintar2 ngatur keadaan, jadi hal pribadi tidak dianggap mengganggu kegiatan perusahaan, Ngak enak juga kalau diomelin, terus dibilang gara2 ibadah peforma kerjaan jadi turun. Menurut saya bang ando udah cukup bagus mengatur keadaan dengan pindah ke shift malam..

  2. @all
    Karena seminggu terakhir puasa Ramadhan 2012 bertepatan dengan libur Obon di Jepang, aku bisa menjalankan puasa dengan tenang. Bisa santai-santai, toh libur semingu koq😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s