Eid Mubarak 1433H dan kesendirian

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433H

Taqoballahu minna wa minkum

Mohon Ma’af Lahir dan Batin

Tak terasa sudah satu tahun lewat dari Idul Fitri sebelumnya di tahun 2011, tapi toh situasinya tak terlalu jauh berbeda. Ibadah sholat Ied gabungan untuk daerah Nagoya dan sekitarnya pada tahun inipun dilaksanakan di Port Messe Nagoya, sama seperti tahun kemarin. Bahkan khotib dan imam yang memimpin sholatpun sama dengan tahun kemarin. Begitu juga “si mirip Irfan Bachdim” yang sudah tak mirip lagi, juga muncul untuk menerjemahkan khotbah ke dalam bahasa Jepang.

Shaft mulai penuh, tapi masih banyak yang berdatangan.

Tahun ini, ibadah sholat Ied memang ramai karena bertepatan dengan hari minggu, jadinya para pekerja maupun pelajar yang libur punya waktu untuk ikut sholat Ied bersama-sama. Jadilah aula yang disewa untuk sholat Ied penuh sesak karena jamaah terus berdatangan walaupun shaft sudah penuh. Sholat Ied berjalan cukup khusyuk, tapi khotbah agak terganggu dengan suara ribut obrolan di area jamaah perempuan bercampur dengan suara anak-anak sehingga membuat khotib memperingatkan para jamaah yang ribut.

Selesai khotbah, rupanya masih ada acara presentasi tentang International Islamic School yang berlokasi di prefektur Gifu tak jauh dari Nagoya. 4 orang anak maju ke depan hadirin untuk melafalkan beberapa ayat Al-Qur’an yang pendek.

Masih mirip Irfan Bachdim gak?

Seperti juga tahun kemarin, Idul Fitri tahun ini juga kulewati tanpa merayakan lebaran, hanya merayakan Idul Fitri. Hanya sendirian, tanpa teman untuk merayakan karena memang aku tak punya teman. Memang ada sih teman kerja orang Indonesia, tapi tidak bisa dikatakan dekat karena memang sudah punya kegiatan masing-masing.

Dulu aku masih sering main ke rumah “teman” tanpa diundang alias datang ke apatonya lalu ketok pintu tanpa bikin janji bakalan datang berkunjung. Tapi sekarang aku sudah tidak pernah lagi berkunjung tanpa diundang, mirip dengan orang Jepang yang tak akan pernah datang berkunjung ke rumah seseorang jika tidak diundang terlebih dahulu. Yah, situasi memang sudah berubah misalnya saja karena si “teman” sudah menikah dan punya anak, jadinya tak sebebas dulu ketika masih bujangan. Yang membuatku mulai menjauh sebenarnya bukan soal dia menikah dan punya anak, tetapi gara-gara telepon missed-call yang tidak diangkat.

Anak-anak Islamic School

Mbak Imelda pernah memuat postingan tentang daftar penyebab orang Jepang kesepian, secara tidak langsung berhubungan dengan keputusanku. Salah satunya adalah ketika kita menelepon dan tidak diangkat, lalu walaupun terlihat ada daftar missed-call dari nomor telepon kita, dia tidak menelpon balik. Pernah salah satu “teman” kutelepon hingga 3 kali sewaktu aku butuh cap dan tanda tangannya untuk urusan administrasi visa, dan satu kalipun dia tak pernah menelpon balik. Terpaksa aku minta cap dari perusahaan tempatku bekerja walaupun terus terang saja lebih ribet prosesnya. Ketika dia menelponku sewaktu aku sedang sibuk, aku melihat missed-call dari nomor teleponnya dan kutelepon balik seperti biasa, rupanya dia butuh cap dan tanda tanganku untuk urusan administrasi anaknya.
Yah, ibarat kalau lagi butuh baru menelpon, kalau tidak butuh missed-call pun dicuekin.

Boleh dikatakan aku semakin menjauh dari area pergaulan orang Indonesia gara-gara kejadian itu karena makin lama aku merasa orang Indonesia yang tinggal di Jepang di sekitarku hanya menjadi teman kalau ada perlunya saja alias teman kalau butuh. Sebenarnya sih tidak menjadi masalah, kalau toh aku juga akhirnya ikut-ikutan menjadi sosok “teman kalau butuh”. Sesuatu yang tak pernah kulakukan sebelumnya.

Apakah ini perkembangan ke arah yang lebih baik? Sepertinya tidak. Tapi setidaknya aku masih mau menelpon balik orang yang menelponku kalau nomor teleponnya tertera di daftar missed-call, karena aku tahu kalau hidup di negara asing harus saling bantu. Cuma yah….. entahlah. Malah teman-teman dari dunia maya, baik blogger maupun facebooker, justru makin lama makin akrab denganku dibanding teman di dunia nyata. Gejala kesendirian di dunia nyata? Walahualam….

11 thoughts on “Eid Mubarak 1433H dan kesendirian

  1. hmmm memang ya, ciri khas orang Indonesia yang tidak memelihara silaturahmi. Hanya menghubungi jika perlu. Itu banyak sekali. Bahkan setelah dibantupun, pura-pura lupa. Orang Jepang lebih tahu sopan santun tentang hal ini.

    Selamat hari raya Idul Fitri, meskipun tidak lebaran, tapi tentunya dalam hati bisa merayakan kehidupan rohani yang baru

  2. Taqobbal Yaa Kariym.

    Hanya sendirian, tanpa teman untuk merayakan karena memang aku tak punya teman

    😦

    btw, saya rasa mungkin tidak cuma di Jepang saja orang Indonesia yang menjadi teman hanya ketika butuh dan perlu, di Indonesia juga saya rasa juga ada, meski..tentu saja keberadaan teman yang seperti itu nuansa dan feelnya akan lebih “menyesakkan” bagi mereka yang sedang tinggal di luar indonesia.

    gejala kesendirian di dunia nyata? mungkin, tapi… sendiri tak selalu berarti sepi?🙂

  3. @Imelda
    Terus terang aja mbak, kalau saya sih membantu orang lain gak pernah berharap imbalan jasa, balas budi atau apapun. Bantu yah bantu doang. Tapi yah rada kecewa sih pas dimintain tolong malah dicuekin, tapi yah udah lah. Toh saya masih nganggap mereka temen koq, walau cuma kalau lagi ada perlu doang.

    Orang Jepang lebih tahu sopan santun tentang hal ini.

    Kalau soal “giri” orang Jepang, saya malah kadang khawatir kalau dapat kebaikan dari orang Jepang. Kadang suka diomongin😛

    @Zeph

    gejala kesendirian di dunia nyata? mungkin, tapi… sendiri tak selalu berarti sepi?

    Saya memang pilih kata kesendirian, bukan kesepian. Soalnya lebih ke arah fisik, bukan rohani. Toh ada si dia yang bisa di telpon, skype, atau paling nggak sms lah😀

    @pgracekn
    I dislike this entry also, it breaks my heart when I decide to post it😦

    OK, aku udah baca curhat istrinya di blog, dan akupun curhat di sini.

    Intinya sih, dia gak mau disalahin dan toh aku juga nggak menyalahkan mereka. Siapa yang nyalahin dia? Aku ngambil keputusan berdasarkan situasi koq. Aku juga udah biasa melakukan apa2 sendirian dan nggak keberatan sendiri. Yang aku sayangkan justru pertemanan beberapa tahun jadi rusak.
    Mungkin istrinya memutuskan nulis di blog hanya dengan mikir satu hari setelah baca tulisanku ini, tapi aku mutusin nulis ini setelah kupendam beberapa bulan sejak awal April 2012. Tentu saja dengan pertimbangan kalau mereka jadi marah atau tersinggung.

    Lagian yang bener aja, masa nyuruh ngejar-ngejar minta bantuan kayak mau ngemis permohonan aja. Aku terbiasa minta 3 kali, kalau ditolak atau dicuekin, ya sudah. Gak bakalan ninggalin pesan sampai lintang pukang sana sini kayak ngemis belas kasihan orang. Toh aku udah nyamperin apato nya, orangnya gak ada, pas kutelpon missed-call lagi, dan tetap aja gak ditelepon balik.

    Sebenarnya sebelum aku “meledak”, sebelumnya udah belasan atau 20-an kali aku nelpon suaminya, sekedar basa-basi dan juga nanya hal2 remeh kayak harga tiket, rute jalan, dll. Nggak disambut sih gak masalah, wajar aja kalau lagi sibuk. Tapi kalau nama-ku masuk daftar list missed-call belasan kali dan gak ditelpon balik? Kebetulan banget pas aku lagi kepepet butuh cap-nya dan nelpon dia tanpa ada balasan, lalu kudatangi rumahnya dan orangnya gak ada (wajar sih hari minggu, mungkin ngajak anaknya jalan2), tapi kalau cuma nelpon balik doang sampai gak ada waktu? Nyuruh aku merangkak ngemis dulu apa?

    Mana dibilang aku pernah membantu mereka karena minta balas jasa lagi. Baahhh…. dikitpun aku gak pernah minta balasan. suaminya dulu pernah bantu aku pas lagi bujangan, akupun pernah bantu suaminya, gak ada satupun dari kami ngungkit soal balas jasa.

    Belum lagi ngomongin silaturrahmi. Dalam setahun terakhir aku sudah 4 kali ke apato-nya untuk silaturrahmi. Gak usahlah suami-istri plus anaknya ke apato-ku utk kunjungan balasan silaturrahmi, suaminya sendiri aja gak pernah muncul batang hidungnya di apato-ku dalam setahun terakhir.
    Silaturrahmi? tanya dulu sama diri sendiri deh sebelum mencak-mencak nyuruh orang untuk silaturrahmi, wong orang yang bilang aja gak pernah silaturrahmi sama aku. Malah aku udah beberapa kali mengunjungi mereka.

    Lagi pula, aku lebih mikir introspeksi diri dari pada nyalahin orang lain.
    Aku gak bakal nanya “Are you my friend?” sebelum aku nanya ke diriku sendiri, “Am I your friend?”.
    Makanya aku nulis ini setelah mikir salahku selama beberapa bulan, nggak serta merta langsung nulis.

    Kalau memang “teman” itu orang yang disusahin, berarti teman itu adalah tumbal. Kalau teman nyusahin melulu, itu namanya parasit. Bukannya teman itu seharusnya timbal balik, bukan cuma jadi objek atau cuma jadi subjek doang? *lospokus*

    NB.
    Aku emang nulis ini supaya dibaca sama orang yang bersangkutan, supaya mereka tahu kalau aku merasa kecewa dengan sikap mereka. Kebetulan sekali istrinya nulis di blog sehingga aku bisa memastikan kalau mereka baca. Sayangnya postingan di atas terlalu pendek , semoga mereka juga baca komentar di bawah postingan yang panjang dengan penjelasan.
    Kalau mereka marah dan gak mau negur lagi? Atau malah menggosipkan aku ke “teman” mereka yang lain? ya sudah gak papa, paling nggak maksudku tercapai dan berharap agar mereka nggak melakukannya sama orang lain.
    Atau jangan2 cuma ke aku aja mereka gak pernah balas telepon? Hahahaha *miris*

  4. Mudah-mudahan mempost ini bikin dirimu merasa enakan, Ando🙂 Rada gak ngerti juga sih kalo misscal gak diangkat kenapa gak coba sms aja? Tapi mungkin post ini bukan masalah kesendirian ataupun kesepian, melainkan kekecewaan terhadap seseorang? Yang saya tangkap sih gitu🙂 Tapi apalah yang saya tahu mengenai kesendirian pada saat Idul Fitri yang saya cuma tahu ramenya amit-amit sampai kadang rasanya pengen kabur cuma untuk mendapatkan sedikit kesendirian.

  5. @AL
    Iya, nulis postingan ini memang bikin dada lbh plong. Soalnya udah dipendam berbulan-bulan. Tahu gitu ditulis sejak awal yah.🙂

    Rada gak ngerti juga sih kalo misscal gak diangkat kenapa gak coba sms aja?

    Memang ada bagian kekecewaan.
    Bukan masalah missed-call sih, tapi masalah nggak ditelepon balik. Kalau ada teman mised-call berkali-kali dan ada nomer teleponnya tercantum, saya selalu usahakan utk menelpon balik. Tapi koq yang ini malah gak pernah satu kalipun.
    Sebenarnya memang bisa di sms. Masalahnya, sebelum saya minta tolong saat kepepet itu, saya udah beberapa kali nelpon dia sekedar basa basi alias silaturrahmi nanya ini itu. Jarang diangkat sih tapi saya masih ngerti, siapa tahu dia sibuk. Masalahnya, udah missed-call berkali-kali gak pernah nelpon balik. Pas benar2 kepepet minta tolong dan missed-call lagi sampai 3 kali, lalu kudatangi rumahnya dan kosong, tiba-tiba aja meledak kekecewaan.
    Ah… Saya jg gak suka keramaian yg terlalu banyak orang, lbh suka lebaran bareng keluarga dekat aja. Cukup 4-5 orang sepertinya sudah menyenangkan.

  6. Hai mas Ando..
    Saya suka liat(baca) postinganmu,mnurutku enak dibaca (◦’⌣’◦)

    Tapi baca yg ini,lumayan ga enak prasaan..
    Sekali2 lebaran di Indo aja mas..biar lebih berasa n ga kesepian lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s