Bahasa Jidaigeki

Apa pula itu jidaigeki? Kalau mau lebih jelas, silahkan baca wikipedia tentang jidaigeki. Singkatnya, jidaigeki adalah genre drama, film maupun pertunjukan teater yang bersetting pada masa sebelum restorasi Meiji. Ciri khas genre jidaigeki adalah munculnya tokoh samurai sehingga kadang kala disebut sebagai genre samurai.

Yang kenal aku tentunya tahu kalau aku ini penggemar film, jadinya cukup rutin berkunjung ke bioskop untuk nonton film. Genre jidaigeki termasuk genre yang kusuka, sama sukanya dengan film kungfu China. Nonton film produksi Jepang di bioskop Jepang tentunya tanpa disertai subtitle terjemahan dialog. Jadinya untuk mengerti dialog yang dibawakan, penonton harus pasang kuping baik-baik untuk menyimak percakapan antar tokoh. Untuk film-film Jepang, umumnya aku cukup PeDe untuk nonton tanpa teks terjemahan sehingga nonton film Jepang di bioskop pun cukup sering kulakukan. Hanya saja akhir-akhir ini ada 2 jenis film yang membuatku agak enggan nonton di bioskop yaitu film genre jidaigeki dan film yang dialognya menggunakan dialek daerah tertentu. Sudah bisa ditebak penyebabnya yaitu kupingku tak bisa menangkap dialog antar tokoh.

Untuk kasus film jenis kedua, wajar saja aku enggan karena bahasa Jepang yang kukuasai adalah bahasa Jepang umum, bukan dialek daerah. Anda bayangkan saja sendiri dengan contoh film lokal Indonesia. Bagaimana bisa mengerti isi film dengan dialog berbahasa Sunda jika kita tak mengerti satu patahpun bahasa Sunda, walaupun mengerti bahasa Indonesia tetap saja tak akan paham bahasa Sunda.

Kasus kedua untuk film jidaigeki, kendalanya adalah bahasa yang dipakai pada era dimana cerita bersetting. Misalkan, jika setting cerita berada di zaman shogun Tokugawa, biasanya tata bahasa dan istilah kata yang dipakai juga berdasarkan zaman tersebut. Memang sih, penggunaan bahasanya tidak sampai detail persis sama dengan bahasa yang dipakai pada era tersebut, karena bagaimanapun juga film dibuat agar bisa dimengerti penonton zaman sekarang. Penggunaan dialog dengan bahasa jidaigeki juga untuk menambahkan kesan suasana era samurai. Masalahnya muncul kalau penonton ternyata kurang paham bahasa yang dipakai, seperti diriku ini.

Film jidaigeki pertama yang kutonton di bioskop dengan PeDe-nya adalah Sword of Desperation. Apakah aku mengerti? Kira-kira setengah dialog bisa kumengerti, tapi kadang-kadang pada saat dialog krusial justru aku tak bisa menangkap topik pembicaraan. Ujung-ujungnya aku nonton lagi via DVD, toh adegannya bisa diulang kalau tak mengerti dan ada subtitle bahasa Jepang yang bisa dibaca pula kalau tak bisa menangkap kalimat lewat telinga.

Untuk tata bahasa jidaigeki, lama kelamaan setelah nonton beberapa kali, akhirnya telingaku sedikit demi sedikit bisa menangkapnya. Untuk tata bahasa jaman Edo, aku pernah membahasnya sedikit di tulisan ini. Untuk kata-kata yang digunakan, aku cuma mengerti beberapa patah kata saja. Diantaranya:
– Sessha. Artinya saya, biasanya digunakan oleh orang yang berkelas samurai. Di luar level samurai, kata yang digunakan biasanya washi, watashi, temae, dll.
– Onoshi. Artinya anda, biasanya digunakan untuk menyebut pihak kedua dengan sopan. Padanan kata untuk zaman sekarang adalah anata.
– Onore. Artinya anda, biasanya digunakan untuk menyebut pihak kedua dengan kasar. Padanan kata untuk zaman sekarang adalah omae.
– Chichi-ue. Artinya ayahanda. Padanan kata untuk zaman sekarang adalah otou-san.
– Haha-ue. Artinya ibunda. Padanan kata untuk zaman sekarang adalah okaa-san.
– Ojigo. Artinya pamanda. Padanan kata untuk zaman sekarang adalah oji-san.

Baru-baru ini, aku nonton film Rurouni Kenshin live action di bioskop dengan sedikit rasa khawatir. Maklumlah, tanpa subtitle rasanya belum PeDe nonton film jidaigeki lagi di bioskop. Rurouni Kenshin bersetting pada era akhir kekuasaan shogun Tokugawa dan awal era Meiji, jadinya masuk ke dalam genre jidaigeki. Ternyata aku kecele, karena mayoritas dialog dalam film rupanya tak banyak memakai tata bahasa dan istilah kata genre jidaigeki. Hanya beberapa kata genre jidaigeki umum saja yang dipakai di sepanjang film seperti misalnya Kenshin menyebut dirinya sessha dan tata bahasa yang dipakainya cukup umum dengan akhiran gozaru. Mungkin film RuRoKen live action ini memang diproduksi lebih ke film populer daripada film dengan setting sejarah yang kental keseriusannya.

5 thoughts on “Bahasa Jidaigeki

  1. Pingback: Rurouni Kenshin Live Action « Toumei Ningen – The Reviews

  2. Temanku bilang, Bahasa Jepang dan Bahasa Jawa itu miripnya banyak. Satu kata aja (misal aku) ada banyak versi, tergantung kehalusan dan konteksnya.😆
    Ada lagi kemiripan lain tapi lain kali aja lah. Bisa jadi flamewar. :-”

    Tapi aku jadi ingat sama Saint Seiya. Kayanya mereka banyak pake ore dan kisama. Apa pengaruh jidaigekinya masih kental di sana ya.😕 Atau sekedar efek badass aja?😆

    • @lambrtz

      Temanku bilang, Bahasa Jepang dan Bahasa Jawa itu miripnya banyak. Satu kata aja (misal aku) ada banyak versi, tergantung kehalusan dan konteksnya.

      Iya juga sih. Tapi bahasa Jepang udah banyak berubah dibanding sejak era Meiji. Bandingkan dengan bahasa Jawa yang kayaknya gak terlalu banyak berubah dibanding jaman Diponegoro.

      Tapi aku jadi ingat sama Saint Seiya. Kayanya mereka banyak pake ore dan kisama. Apa pengaruh jidaigekinya masih kental di sana ya.

      Ore dan Kisama kayaknya bukan kata khas jidaigeki deh. Kalau Ore sering banget dipakai sehari-hari, biasanya buat teman akrab juga supaya gak canggung. Tapi Kisama hampir gak pernah dipakai, aku juga cuma dengar sekali dan yang ngomong kayaknya gangster Yakuza. Dia neriakin temen Jepangku pakai kata Kisama gara2 senggolan pas pulang minum di kedai sake, dua2nya lagi mabok sih 😕

      Atau sekedar efek badass aja?

      Setuju. Aku menganggap cowok yang ngomong pakai kata ore, omae, kisama, temee terkesan keren, garang, sangar, lelaki perkasa…. Baddas lah istilahnya.😆

  3. Pantesan pas nonton trailer RuroKen kok lumayan paham bahasanya…apalagi pas Kaoru ngomong pake akhiran “wa”, kayak orang jaman sekarang…
    Kalo sessha, onoshi dsb aku tau gara2 nonton drama atau drama SP bertema jidaigeki, misalnya Samurai High School atau Shabake. Shabake malah ada siluman2nya segala ^^

    • @Oktavia
      Iya vie, kayaknya Ruroken emang dibuat untuk konsumsi penonton film umum, bukan penggila film jidaigeki. Makanya dialognya mayoritas pakai bahasa Jepang standar, kadang malah ada yang masukin kata slang modern😀

      Kalo sessha, onoshi dsb aku tau gara2 nonton drama atau drama SP bertema jidaigeki

      Aku jarang nonton serial drama jidaigeki sih. dulu pernah nonton serial Chuusingura di TV, lalu Samurai High School juga pernah nonton. Biasanya makin sering nonton bisa nebak-nebak arti kata dan menambah perbendaharaan bahasa jidaigeki😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s