Made in Tetangga

Postingan ini sebenarnya lanjutan dari cerita kopdar di Tokyo sebelumnya, tepatnya setelah pulang dari Tokyo. Aku pulang ke Nagoya dengan menggunakan bis malam yang berangkat dari Shinjuku, ongkosnya relatif murah hanya 3500 Yen dibandingkan tiket bis biasa yang harganya sekitar 5000-an Yen. Ketika menunggu bis datang, aku baru ingat kalau belum beli oleh-oleh penganan khas Tokyo buat orang-orang di kantor tempat aku bekerja. Tapi sudah terlambat karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam dan toko-toko sudah tutup.

Sekitar 2 jam perjalanan, bis singgah sebentar untuk istirahat 15 menit di tempat peristirahatan pinggir jalan tol daerah Gotenba. Ketika keluar dari toilet tempat peristirahatan, tiba-tiba aku melihat toko yang menjual oleh-oleh yang masih buka. Kayaknya sih memang disengaja buka 24 jam untuk melayani orang-orang yang singgah istirahat dan tak punya waktu membeli oleh-oleh ketika pulang. Di sana dijual bermacam-macam oleh-oleh penganan dari daerah di sekitar Gotemba, misalnya saja oleh-oleh penganan khas Tokyo, Yokohama, Yamanashi dan Shizuoka. Langsung saja aku memilih salah satu dari oleh-oleh khas Tokyo berupa Tokyo Banana Cake. Ternyata Tokyo Banana Cake sekarang sudah memiliki beberapa macam jenis pilihan, tak seperti tahun lalu yang hanya ada satu macam pilihan, dan aku memilih Tokyo Banana Crepe Tart Cake yang terlihat agak berbeda dibanding versi originalnya.

Tokyo Banana Crepe Tart Cake (gambar dari Rakuten)

Masuk kerja seperti biasanya, aku taruh saja oleh-olehnya di atas meja utama sambil mempersilahkan untuk bebas saja mengambil kue oleh-oleh yang kubawa.

Salah satu teman yang makan bertanya sambil lalu, “Ini makanan asli khas Tokyo khan?”
Agak bingung aku menjawab, “Lah, khan tertulis di kotaknya kata Tokyo.”
Dijawab timpali lagi oleh dia, “Maksudku beneran asli Tokyo khan? Bukan bertulis Tokyo tapi justru buatan Malaysia?”

Barulah aku ngeh kalau dia sedang bercanda😆

Beberapa minggu sebelumnya, ada teman yang tugas kantor ke Indonesia dan pulang ke Jepang sambil membawa oleh-oleh berupa sekotak cokelat. Yah… bilangnya sih oleh-oleh khas Indonesia, hingga tanpa sengaja aku membaca keterangan produksi yang berbunyi “Made in Malaysia” beserta lokasi produksi di daerah Selangor. Hal tersebut jadi bahan lelucon selama beberapa hari dan kembali dibuat bercanda ketika aku membawa oleh-oleh dari Tokyo😛

Sebenarnya sih hal ini sudah pernah kulihat beberapa kali. Terakhir kali yang kulihat adalah seorang kenalan orang Filipina yang mau pulang ke negaranya mau membeli oleh-oleh pernak-pernik kecil dari Jepang. Supaya gampang, dia membeli barang-barangnya di toko 100 Yen yang murah meriah. Ketika aku melihat label yang tertempel pada gantungan kunci, handphone strap, dll di situ terbaca Made in China. Tentu saja setelah kuberitahu, dia langsung mencopotnya. Lucu khan kalau sampai membawa oleh-oleh khas Jepang tapi tertulis buatan China😆

Globalisasi perekonomian dunia memang sudah tak terhindarkan.

2 thoughts on “Made in Tetangga

  1. hahhaha iya makanya kalau beli souvenir harus perhatikan made in Japan atau bukan.Kalau pakai kanji sih misalnya 中国製 kan orang Indonesia ngga bisa baca, jadi masih mending😀

    • @Imelda
      Iya juga sih. Tapi akhir2 ini banyak juga barang murah produksi China/Vietnam/Thailand di toko 100 Yen yang labelnya tertulis made in negara pakai huruf latin. Kalau ketahuan kan malu juga tuh😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s