“Manusia Kosmopolitan” Sang Penyelamat Jepang

Draft tulisan ini sebenarnya sudah dibuat sejak minggu lalu ketika aku selesai menonton acara serial Rebirth of Japan (シリーズ日本新生) di Televisi NHK Jepang yang membahas tentang peranan “manusia kosmopolitan” dalam menghadapi krisis Jepang dengan tema “Manusia Kosmopolitan” Sang Penyelamat Jepang (国際人”がニッポンを救う). Topik ini menjadi menarik karena Jepang sedang menghadapi krisis di berbagai bidang terutama ekonomi dan industri dan juga penyikapan generasi muda Jepang dalam menghadapi persoalan ini di masa depan.

Apakah itu “Kokusaijin alias Manusia Kosmopolitan”? Kosmopolitan yang dimaksud disini adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi dalam lingkungan multikultural. Saat ini, Jepang memang sangat kekurangan generasi muda yang kosmopolitan. Untuk membahas hal ini, beberapa peserta diskusi yang datang ke acara ini memiliki latar belakang berbeda untuk ikut bersumbang saran. Mewakili generasi muda yang menjadi topik utama, diundang beberapa pelajar dari Tokyo University, sebuah universitas terkemuka di Jepang dengan latar belakang S1 tahun ke-3 (sedang bersiap tugas akhir), tahun ke-4 (sedang bersiap lulus dan mencari kerja) dan juga pelajar pasca sarjana. Sebagian pelajar ini orang Jepang dengan tambahan beberapa orang mahasiswa asing yang hadir sebagai pembanding. Lalu dari pihak pekerja yang hadir, ada pekerja orang Jepang (lulusan universitas Jepang maupun universitas luar negeri) maupun orang asing (ekspatriat) yang bekerja di perusahaan Jepang dan juga perusahaan asing yang ada di Jepang. Malah Sakane Masahiro presiden direktur Komatsu, salah satu perusahaan multinasional besar yang bergerak di bidang konstruksi dan alat berat di Jepang, juga turut hadir untuk sumbang saran. Selain itu juga turut diundang mewakili pihak pengajar yaitu guru SMA dan dosen universitas.

Ranking market-share industri Jepang dibanding RRC dan Korsel dalam 20 tahun terakhir.

Acara diawali dengan sangat Jepang sekali, yaitu dengan menampilkan grafik dan data market-share industri selama 20 tahun terakhir yang dibandingkan dengan data orang muda Jepang yang sekolah/bekerja di luar negeri (orang Jepang suka sekali menampilkan data berbentuk grafik sebelum memulai diskusi). Terlihat betapa market-share produk industri Jepang yang menjadi raja 20 tahun yang lalu berangsur turun dan akhirnya kalah bersaing selama 5-10 tahun terakhir dengan Korea Selatan, RRC dan Taiwan. Pada grafik berikutnya, orang Jepang yang sekolah/bekerja di luar negeri juga berangsur menurun dibandingkan jumlah orang Korea Selatan, RRC dan India yang prosentase orang mudanya sekolah/bekerja di luar negeri semakin tinggi pada 5 tahun terakhir. Dari hasil survey di 8 universitas besar di Jepang, 50 persen punya keinginan sekolah/kerja di luar negeri tapi kenyataannya malah hanya sedikit yang melakukannya. Rata-rata anak muda Jepang lulusan universitas hanya berkeinginan untuk bekerja di dalam negeri. Survey tahun 2001 memperlihatkan sekitar 29 persen lulusan universitas tak tertarik bekerja di luar Jepang, tahun 2010 jumlah yang tak tertarik bekerja di luar negeri bertambah hingga hampir 50 persen.

Menurut survey dan wawancara dengan peserta mahasiswa/i, orang muda Jepang memang terlihat lebih merasa lebih nyaman dengan lingkungan di dalam negeri, Jepang adalah comfort zone bagi mereka, baik dari segi budaya dan bahasa, keamanan, hingga masa depan. Malah ada diantara mahasiswa menyatakan pendapat bahwa meninggalkan Jepang berarti bisa menghambat karir. Maksudnya jika mereka mengambil cuti minimal 1-2 tahun untuk menjadi ryugakusei (pelajar asing) di negara lain, hal itu akan membuat resume mereka terlihat jelek karena telat lulus dan tak bisa lulus bareng sesama satu angkatan. Hal ini tak terlepas dari sistem perekrutan karyawan di Jepang yang disebut dengan Shinsotsu-Ikkatu-Saiyo alias sistem perekrutan fresh-graduate secara simultan. Intinya, generasi muda Jepang takut mengambil resiko di depan mata dan khawatir sulit beradaptasi dengan lingkungan non-Jepang, sehingga memilih untuk tetap berada di zona nyaman yang telah ada yaitu tatanan masyarakat Jepang. Bagi mereka, liburan ke luar negeri sangat menarik, tapi tidak untuk sekolah/bekerja. Hal ini menyebabkan mereka jadi kurang mengerti tatanan yang ada di dunia internasional saat ini, termasuk perubahannya yang semakin fluktuatif. Ini berbanding terbalik dengan generasi senior yang mampu membuat Jepang meraih prestasi nomor satu di bidang ekonomi 20 tahun yang lampau. Mereka adalah orang-orang yang pada masa mudanya belajar dan bekerja di luar Jepang lalu membawa pengalamannya untuk membangun Jepang hingga ke jaman keemasan industrialisasi.

Dalam risk management, anak-anak muda Jepang sekarang mempunyai 2 hal perbandingan untuk memutuskan masa depan yaitu “resiko” dan “kesempatan”. Mereka lebih banyak memikirkan bagian “resiko” daripada “kesempatan” sehingga memutuskan untuk bermain aman, padahal jika mereka lebih banyak mempertimbangkan bagian “kesempatan”, keinginan untuk berkembang dan menambah pengalaman jauh lebih berguna buat masa depan walaupun harus berusaha lebih keras untuk bisa terus maju meraih kesempatan yang ada.

Ada beberapa hal menarik yang ditampilkan untuk membuka pikiran para generasi muda Jepang tentang pentingnya globalisasi dan menjadi manusia kosmopolitan.

– Walaupun Todai alias Tokyo University adalah perguruan tinggi nomor satu di Jepang, pada kenyataannya Todai berada diurutan kedua untuk ranking minat perusahaan dalam merekrut lulusan baru universitas tahun 2012. Dari 136 perusahaan besar yang mengincar lulusan baru universitas, ranking pertama dipegang lulusan Akita International University yang menjadi incaran 35 perusahaan besar, padahal universitas ini baru berdiri pada tahun 2004. Tempat kedua dipegang Todai dengan 13 perusahaan. Rupanya lulusan Akita International University memang dipersiapkan untuk bekerja di lingkungan pekerjaan multinasional sehingga para lulusannya gampang beradaptasi jika ditempatkan di cabang perusahaan manapun, termasuk di luar negeri.

– Dalam salah satu kesempatan, seorang direktur mengizinkan kamera untuk merekam proses wawancara dengan beberapa karyawannya, terkait dengan ekspansi perusahaan ke India. Sewaktu diberitahu kalau pos pekerjaan baru yang membutuhkan karyawan ternyata ada di India dan ditanya maukah mereka bekerja di sana, seluruh karyawan yang diwawancara menyatakan keberatan dan tak satupun ada yang mau bekerja di luar Jepang. Disini terlihat kalau orang muda Jepang skeptis dengan kondisi hidup di luar Jepang sehingga mereka khawair akan hidup susah di sana. Ada pula yang bilang sulit berpisah dengan orang tua dan juga teman-teman yang ada di Jepang. Ada pula yang menjawab pertanyaan dengan jawaban mainstream “saya suka Jepang sih!”

– Nakamoto adalah supervisor teknisi sebuah perusahaan air minum yang dikirim ke Washington untuk memperbaiki instalasi produksi air minum yang mengalami masalah. Keluar negeri kali ini adalah pertama kali bagi Nakamoto dan dia terlihat bingung dan hanya mengangguk-angguk saja di dalam meeting dengan customer bule orang USA. Walaupun Nakamoto mengaku mengerti isi meeting, tapi dia sulit mengekspresikan apa yang ada dipikirannya kepada si bule customer akibat kendala bahasa. Karena komunikasi tak lancar, Nakamoto mengandalkan staff perusahaan yang ditempatkan disana sejak pertama kali direkrut yang notabene adalah kohai (junior)-nya, karena sang junior bisa berbahasa Inggris. Dan sang junior ternyata bukan orang Jepang, melainkan orang Vietnam lulusan universitas di Jepang😀
Gara-gara hal tersebut, Nakamoto berjanji untuk berusaha belajar lebih keras dan ingin ditugaskan ke luar Jepang lagi agar lebih banyak mendapatkan pengalaman. Ketika pulang dan diminta menceritakan kesannya selama bekerja di sana kepada rekan kerja lainnya dalam meeting perusahaan, secara tidak langsung hal ini juga membuka mata karyawan lain yang belum pernah tugas ke luar Jepang, termasuk atasannya langsung sang kepala divisi Nakamura. Hal ini disengaja oleh pimpinan perusahaan agar para karyawan senior supaya tidak puas dengan kemampuannya semata melainkan terus belajar agar tak kalah dengan juniornya.

– Menjadi manusia kosmopolitan bukan hanya belajar bahasanya saja melainkan juga harus mengerti latar belakang orang lokal tempat domisili, dan itu artinya harus beradaptasi. Ohta Yuusuke yang dikirim bertugas beberapa tahun ke Malaysia merasakannya sendiri, sehingga dia memutuskan untuk beradaptasi dengan orang lokal. Ada 3 etnis yang melakukan kontak langsung dengannya yaitu Melayu, India dan China. Untuk komunikasi verbal, Ohta memang bisa menggunakan bahasa Inggris tapi untuk bergaul dia memiliki trik tersendiri. Ohta sering ngobrol bertanya tentang latar belakang dan budaya orang India kepada rekan kerja yang etnis India. Di kantor yang didominasi orang Melayu, Ohta berusaha ikut makan bareng hingga mengerti kalau Melayu Muslim tidak minum alkohol sehingga tak bisa melakukan nominication*, malah Ohta sampai tahu jadwal sholat 5 waktu segala. Dipihak lain untuk mendekati rekan orang Malaysia etnis China yang suka karaoke, Ohta kadang mengajak karaoke bareng dan belajar beberapa lagu mandarin agak bisa akrab sewaktu karaoke.

Kesimpulannya dari acara ini, Jepang tak bisa menggantungkan masa depannya pada pihak lain kecuali generasi mudanya. Khususnya bidang ekonomi, Jepang membutuhkan generasi muda yang kosmopolitan untuk menyelamatkan Jepang dari krisis. Hal itu agak sulit dilakukan saat ini karena anak muda Jepang sekarang cenderung merasa nyaman dengan comfort zone berbentuk Japanese Society, sehingga merasa khawatir untuk mencoba hal baru di luar lingkungannya. Oleh karena itu butuh semacam pendorong semangat dari seniornya untuk berbagi pengalaman tentang keuntungan dari mengenal dunia luar. Bisnis di jaman sekarang adalah bisnis global dimana product dan customer sudah lintas negara sehingga manusia kosmopolitan benar-benar dibutuhkan oleh Jepang sebagai penyelamat.

Acara seperti ini sangat bagus untuk membuka mata penontonnya betapa bahaya globalisasi telah menghampiri dan siap menghancurkan jika kita tidak siap menghadapinya. Oleh karena itu bentuk acara diskusi dan brainstorming dalam media TV sangat cocok untuk mengangkat tema ini ke permukaan. Acara yang berbentuk debat memang lebih menarik karena berisi adu pendapat, tapi biasanya berdebat bukanlah mencari solusi melainkan berusaha mempertahankan pendapat sehingga kadang penyelesaian masalah jadi terlupakan. Andaikan saja acara dan tema seperti ini diadakan di media TV Indonesia tentunya bisa menggugah generasi muda untuk turut bersama mencari solusi yang dihadapi masyarakat Indonesia.

NB.
Kata nominication adalah istilah yang berasal dari kata nomimasu (minum) dan communication. Masyarakat pekerja Jepang biasanya menjadikan nomikai atau acara minum-minum di izakaya (sejenis bar) dalam rangka berkomunikasi dengan sesama karyawan maupun atasan.

Bagi yang ingin menonton acara tersebut (dalam bahasa Jepang tanpa terjemahan) silahkan klik link di bawah ini:

Bagian 1
Bagian 2

16 thoughts on ““Manusia Kosmopolitan” Sang Penyelamat Jepang

    • @Imelda
      Menurutku sih problem utamanya ada di pola pikir orang Jepang pada umumnya yang agak tertutup dan juga sistem budaya Jepang yang relatif kaku. Kalau mereka tinggal di lingkungan yang “tidak Jepang” setidaknya bisa membuka wawasan kalau dunia itu bukan hanya Jepang tok dan bisa membuat pikiran mereka lebih terbuka.

  1. Baiklah. Sekarang bagaimana dengan generasi muda Indonesia?
    Kira-kira kita punya tidak ya grafik tentang lulusan muda indonesia? Terutama di Universitas terkenal di Indonesia…

    • @Miss R
      Wah, mana saya tau gosip tentang Indonesia. Wong saya tinggal di Jepang dan baca/dengar info dari media Jepang.
      Bukannya Miss R yang notabene guru di Indonesia seharusnya punya info yang lebih akurat tentang pendidikan di Indonesia?

      • Waah… Saya kira orang indonesia yang kuliah dan tinggal di luar negeri memiliki jaringan komunikasi yang lebih baik dari pada saya yang hanya seorang guru di sebuah kota kecil di Indonesia yang kebetulan tidak begitu memiliki jaringan komunikasi dengan para Indonesian scholar di luar negri.
        Ternyata saya berharap telalu banyak.😛

  2. Well, maksud saya… saya belum menemukan berita di media Indonesia yang membahas tentang orang Indonesia yang kuliah di luar negeri dan memiliki kontribusi yang dapat dibicarakan di Indonesia. Jadi saya mengira bahwa setidaknya ada informasi non-formal di antara para pelajar dari Indonesia yang kuliah atau bahkan kerja di luar negeri mengenai itu.
    ….dan sekali lagi, sepertinya saya berharap terlalu banyak.

    • @Miss R
      Bukan anda mengharap terlalu banyak tapi anggapan anda kurang logis ttg jaringan komunikasi. Contohnya saja, saya ini bukan lagi pelajar dan punya pekerjaan juga tidak berkaitan dengan dunia pendidikan. Otomatis info yang didapat sangat terbatas dan tak jauh dari media massa. Bagaimana saya bisa update ttg info pendidikan di Indonesia yang notabene non-Jepang? Seperti juga anda yang tinggal di Indonesia, tentunya agak sulit mencari info update tentang pendidikan di luar Indonesia kayak di Thailand atau Filipina misalnya.

      Sebaliknya, walaupun anda tinggal di kota kecil, setidaknya anda tinggal di Indonesia dan punya pekerjaan yang berkaitan dengan dunia pendidikan, tentunya lebih mudah mendapatkan info ttg pendidikan di Indonesia. Dan sumbernya bukan hanya media saja tapi bisa juga dari koneksi dunia pendidikan (jaman internet gini kan bisa hubungan lewat e-mail, bahkan socmed buat tukeran info dan data dengan guru/dosen di lokasi lain).

      Kalaupun anda sulit bergaul dan tak punya koneksi dengan dunia pendidikan di luar daerah anda, anda bisa juga bikin survey/angket sendiri di sekolah terutama buat kelas 2 dan 3 SMA tentang minat mereka meneruskan (atau tidak) sekolah, jika meneruskan ke luar daerah? atau keluar pulau (misalnya Jawa), atau cari beasiswa untuk lanjut sekolah ke luar negeri? Kan yang seperti itu bisa dilakukan sendiri.
      Yah, kecuali anda males mencari dan melakukannya atau malah tidak tertarik dengan isyu ini. Soalnya itu memberi kesan “koq guru di Indonesia nggak punya inisiatif cuma banyak berharap sambil nunggu dikasih makan”.😈

      btw, saya juga tinggal di kota kecil koq.😀

  3. @Miss R
    Kayanya beberapa media mainstream sudah mulai membicarakan masalah braindrain dan beberapa contoh kasus mahasiswa Indonesia yang pulang ke negara untuk berkontribusi (kayanya pernah dishare sama Lambrtz AFAIR).

    Dan ya, menurut saya anggapan mbak tentang yang bersekolah di luar negri dan informasi tentang indonesia itu tidak tepat. Justru kami ini kurang banyak tahu soal Indonesia terlebih kalau bukan bidang kami. Sebab kami relatif lebih sedikit terekspos media indonesia, kalau pun baca berita paling2 yang dilihat melulu itu saja.
    Walaupun kami punya organisasi pelajar Indonesia, tapi ya tidak semua organisasi demikian membicarakan hal-hal semacam ini, kebanyakan tentang acara atau festival saja. Apalagi yang sudah kerja macam bang Ando itu, pekerja di Indo saja belum tentu tau, apalagi yang di Jepang😆

  4. Karena nama saya disebut di atas…

    @Miss R (kok mirip nama girl band Korea)

    Ternyata saya berharap telalu banyak.😛

    [kompor]
    Mereka-mereka yang tinggal di luar negeri itu lebih banyak tahu soal negara tempat tinggal mereka ketimbang kondisi Indonesia kok. Kalo soal negara asing cas cis cus. Soal Indonesia, bah, politik ga tahu, sosial ga tahu, pop culture ga tahu… Ga nasionalis sekali kan?😈
    [/kompor]
    *ditendang*

    Tapi betul itu. Terutama sama mereka-mereka yang ga terlalu dekat sama orang-orang kedutaan atau Perhimpunan Pelajar Indonesia, karena jadinya orang-orang di sekitarnya lebih banyak dari negara lain.😛

    BTW, soal Indonesia dan kosmopolitan, boleh coba postingan lama Mbak Rima Fauzi [di sini], termasuk komennya. Ada beberapa hal di sana yang saya sering komplen juga. Tapi yaa…itu juga bukan dari “jaringan komunikasi dengan para Indonesian scholar” sih, lebih ke pengamatan pribadi aja.😛

  5. Apakah mereka terlalu terlena dengan segala kecanggihan yang mereka miliki? Ataukah pola pikir yang terlalu tertutup yang menganggap jepang adalah segala galanya?

    • @shisio
      Kalau anda tinggal di Jepang, tentunya anda akan merasakan betapa orang Jepang yang tinggal di Jepang itu hidupnya relatif “aman”. Baik aman dari soal keamanan, konflik budaya hingga masalah mendapatkan penghasilan. Wajar saja kalau mereka menganggap tinggal di Jepang adalah segalanya. Toh seandainya Indonesia semakmur Jepang, tak akan ada TKW yang bela2in pergi ke luar negeri untuk jadi pembantu rumah tangga doang.
      Masalahnya, orang muda Jepang itu agak takut mengambil resiko. Hal ini disebabkan karena mereka terlena di dalam “zona kenyamanan” yang telah mereka peroleh di dalam negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s