Mainan Baru

Sebenarnya draft tulisan ini sudah ada sebulan lalu, tapi akibat kesibukan urusan pribadi (termasuk juga sibuk dengan mainan baru) postingan ini tak juga terselesaikan hingga teringat kembali gara-gara membaca tulisan mbak Imelda tentang mainan barunya😀 Mainan baruku tersebut bernama Canon EOS 7D, sebuah kamera DSLR yang kubeli untuk menggantikan kamera non-DSLR Panasonic Lumix FZ-100 kepunyaanku yang kubeli tahun 2010.

Mengapa Canon? Bukan Nikon atau Sony atau merek kamera DSLR lainnya?
Jawabnya sederhana saja: Karena aku sudah terbiasa menggunakan kamera DSLR merek Canon hasil pinjam dari saudara iparku dan temen-temanku yang lain. Akibatnya aku lebih familiar dengan istilah teknis maupun lensa-lensa Canon dibanding merek lainnya. Daripada beli kamera merek lain dan musti belajar lagi dari awal, tentunya lebih gampang menggunakan Canon yang sudah lebih familiar.

Mengapa Canon EOS 7D?
Sebelum Canon EOS 6D Mark II keluar, Canon EOS 7D (untuk singkatnya, kita sebut saja 7D) adalah kamera untuk semi-profesional terbaik (hingga tulisan ini dibuat) yang dimiliki oleh Canon. Tentu saja pilihanku ini banyak dipengaruhi oleh review-review fotografer profesional yang bertebaran di dunia maya. Memang sih, aku sempat bimbang ketika EOS 6D Mark II diumumkan keluar bulan Desember 2012. EOS 6D Mark II memiliki beberapa kelebihan terutama full-frame dan memiliki inbuilt WiFi yang memungkinkan menguplod hasil foto langsung ke media internet. Memang EOS 6D Mark II adalah kamera DSLR full-frame dengan harga termurah yang dikeluarkan Canon, tetapi tetap saja harganya 2 kali lipat harga 7D. Lagipula aku tak merasa perlu-perlu amat dengan kamera full-frame, mengingat kapasitasku bukanlah fotografer serius (apalagi profesional). Apalagi setelah melihat review beberapa fotografer professional, rata-rata mereka menyarankan lensa full-frame bagi fotografer yang memang kerjanya cari duit lewat bidang fotografi. Akhirnya akupun memutuskan untuk membeli 7D yang small-frame dengan crop-sensor.

Masalahnya, 7D dijual Canon dengan beberapa tipe yaitu Body only (hanya bagian tubuh kamera tanpa lensa) dan Body + lensa (disebut lenskit) dengan 3 tipe lensa zoom berbeda dengan harga bervariasi. Sampai sekarang aku masih beranggapan bahwa lensa yang dijual sebagai lenskit memiliki kemampuan tak jauh beda dibanding lensa yang digunakan kamera non-DSLR, terutama dari kualitas ketajaman gambar. Jika dihitung beli Body only lalu beli lensa lagi secara terpisah harganya memang jatuhnya lebih mahal, tapi tetap saja rasanya tanggung beli lensa yang bagus sekalian. Toh aku mau beli kamera DSLR karena menginginkan kualitas gambar yang lebih baik dibanding kamera non-DSLR yang sudah kumiliki. Ngapain beli kamera DSLR kalau kualitas jepretannya sama saja dengan kamera non-DSLR.

Akhir Oktober, jadilah akupun membeli Canon EOS 7D (Body Only) lewat sebuah toko on-line setelah membanding-bandingkan harganya di situs kakakudotcom. Dibandingkan beli langsung di toko off-line, jatuhnya memang jauh lebih murah jika beli lewat toko on-line. Terlebih lagi jika kita bisa mencari harga termurah dari tawaran beberapa toko on-line dengan melihat perbandingannya di kakakudotcom. Perbedaan harganya lumayan juga, bisa sampai 10 ribu yen (sekitar Rp. 1 juta 2 ratus ribu).

Untuk membeli lensa secara terpisah justru lebih ribet karena pilihan lensa yang ada sangatlah banyak. Berdasarkan pengalaman bergaul dan juga hasil baca/nonton review on-line, akhirnya aku memutuskan untuk membeli 2 tipe lensa saja dengan pertimbangan kondisi keuangan terbatas dan juga posisiku sebagai fotografer amatir. Tipe lensa pertama adalah wide-lens dan yang kedua adalah telephoto zoom-lens (saya singkat jadi zoom-lens aja).

Gara-gara nonton video tutorial ini, aku memutuskan membeli Canon EF 50mm f/1.8 II sebagai lensa primer sekaligus wide-lens. Satu-satunya kelemahan lensa ini adalah tak memiliki fasilitas zoom. Jadi kalau mau zoom-in ataupun zoom-out, si pemotret harus bergerak maju mundur. Selain masalah non-zoom, EF 50mm f/1.8 II adalah lensa primer yang keren. Harganya murah (aku beli sekitar 7 ribu yen), ringan dan gampang dibawa, dan tentunya ketajaman gambar dengan latar blur alias bokeh yang keren abis!

Untuk zoom-lens, impianku adalah EF 70-200 f/2.8L IS II USM yang harganya terlihat “mengerikan” yaitu sekitar 20 ribu yen (Rp. 20 juta lebih). Akhirnya impianku kuturunkan sedikit menjadi EF 70-200 f/2.8L IS USM (versi pertama dari lensa sebelumnya, lihat angka II sebagai tanda versi dua/terbaru). Setelah versi II diproduksi sejak tahun 2010, otomatis versi I dihentikan produksinya dan itu berarti aku harus mau membeli barang bekas. Aku mendaftar di ya*oo auction untuk ikut tawar menawar membeli lensa bekas. Membeli barang bekas dengan harga mahal tentunya menimbulkan rasa was-was sehingga aku juga otomatis jadi waspada dengan mengecek segala detail barang jualan hingga profil dan nama baik si penjual dengan cermat. Sudah pasti aku mencoret penjual yang terlihat riskan (hanya menjual sedikit barang ataupun penjual dengan banyak komplain dari pembeli) dan hanya mengikuti auction penjual dengan kategori bisa kupercaya. Memang ribet mengecek ini itu, tapi ketika aku menang tawar menawar dan barang yang dijual ternyata sesuai kriteria yang ditulis si penjual, rasanya puas sekali. Aku mendapatkan zoom-lens bekas EF 70-200 f/2.8L IS USM seharga 10 ribu yen dengan kondisi masih sangat bagus.

Uji coba pertamaku untuk Canon 7D dengan zoom-lens adalah foto momiji (daun merah) sewaktu musim gugur kemarin dan hasilnya cukup memuaskan. Untuk wide-lens, aku menggunakan EF 50mm f/1.8 II sebagai lensa walk-around alias lensa serba guna yang selalu kubawa kemana-mana kalau sedang iseng jalan-jalan.

Hasilnya bisa dilihat dalam galery di bawah

12 thoughts on “Mainan Baru

  1. kalau belum punya kamera (e.g. sebelumnya cuma pakai ponsel), kit itu pilihan yang feasible dan ekonomis juga sih, jadi ada peningkatan walaupun gradual. tapi kalau sudah punya mirrorless yang kelasnya kayak Canon S100, mending juga beli lensa terpisah, sih.

    re: prime/zoom lens: mongomong, saya baru mengalami dilema (lagi) setelah pulang kondangan tadi: tambah prime atau zoom lens? gak enaknya kan sudut pandang kepentok walaupun output bagus, padahal sering perlu fleksibel. sementara zoom juga kalau range-nya kelebaran (e.g. 18-300) itu gak optimal juga secara price per value. btw, 70-200 enak gitu buat indoor?

    tl;dr: saya sedang galau lensa. mohon pencerahannya. m(_ _)m

    • kit itu pilihan yang feasible dan ekonomis juga sih, jadi ada peningkatan walaupun gradual

      Ada benarnya juga sih, toh semuanya tergantung pengalaman personal orang yang bersangkutan. Saya sendiri mikirnya pengen punya kamera/lensa yang paling tidak bisa dipakai tanpa ganti model/teknologi terbaru minimal 5-7 tahun, itu berarti harus punya kamera/lensa yang kemampuannya di atas rata-rata dan baru dianggap ketinggalan jaman setelah lebih dari 5-7 tahun dipakai.
      Dengan kata lain, saya pengen beli kamera/lensa tanpa ganti beli yang baru untuk jangka waktu cukup lama tanpa merasa menyesal.

      kalau range-nya kelebaran (e.g. 18-300) itu gak optimal juga secara price per value.

      Memang betul, range terlalu lebar sering kali bermasalah dan tidak optimal ketika dipakai di range ekstrim, malah ketajaman gambar prime-lens lebih bagus dibanding zoom-lens walau digunakan di range tengah. Tapi hal ini tidak berlaku untuk lensa luxury kayak Canon L-series yang harganya emang mahal dan kualitasnya bagus walau di extreme-range.

      btw, 70-200 enak gitu buat indoor?

      70-200 itu enak buat indoor dan out-door koq. Banyak temanku pakai 70-200 untuk motret resepsi pernikahan maupun acara-acara lain dalam aula/ruangan besar. Aku sendiri baru pernah pakai untuk outdoor dan hasilnya bagus. Cuma saja focal length masih kurang panjang buat wild life photography, dan kurang pendek untuk motret dalam ruangan sempit.
      Ujung2nya yah paling tidak harus punya 2 lensa untuk setiap kegiatan indoor dan outdoor yaitu wide-lens dan telephoto zoom-lens.
      Aku sendiri udah nulis di postingan kalau untuk penggunaan wide-lens kupadukan dengan prime-lens berhubung gak punya duit banyak buat beli wide-lens yang ada fasilitas zoom.
      Dan ingat, jangan sampai beli dan punya 2 lensa dengan focal length tumpang tindih… mubazir.
      Misalnya udah punya 70-200 lalu beli 24-105. Mendingan beli 24-70 buat dipakai barengan 70-200 supaya lebih memuaskan hasilnya.

  2. wah baru2 ini berkunjung ke kyoto ya Bang? memang bagus ya momijinya, sayang saya belum sempet ke eikando udah pada rontok daunnya. kalau kapan2 ke kyoto lagi boleh dong kopdar🙂

      • Hehe iya, baru 2 bulan resmi jadi warga kyoto kok. Hari ini malah sempat transit bentar di nagoya, ganti shinkansen dari kyoto ke gamagori. Sayang ga sempat jalan2 di nagoya, nanti kapan2 kalau saya main sana dikabarin juga deh, siapa tau bisa kopdar🙂

  3. yes, penganut agama Canon😎😛
    ikut komen ya😀

    lensa 50mm itu bukan lensa wide, itungannya malah lensa tele kalo dipake di kamera APSC

    kalo lensa wide itu yang focal length-nya di bawah 25mm, misal lensa 10-22. selain itu kalo lensa wide biasanya susah buat munculin bokeh

    lensa 50mm ini memang salah satu lensa favorit, dengan harga ratusan ribu (rupiah) hasilnya ngga kalah dengan lensa-lensa dengan harga jutaan (rupiah)

    tjoertjol, saya sendiri masih belom kesampean beli lensa tele yang beneran, adanya lensa sapujagat 18-135😛

    • @Arm Kai
      Betul! 50mm itu memang bukan lensa wide melainkan normal.
      Saya tulis di atas kata “sekaligus” karena udah nggak punya dana lagi buat beli wide, jadilah 50mm “difungsikan” sebagai wide-lens kepepet😈
      btw, 35mm juga masih masuk kategori wide lens koq ;D

      Kamera Arm merek apa yah? Agama Canon juga?
      Kayaknya saya mesti banyak belajar sama locianpwe suhu Arm soal jepret menjepret kamera😛

      • saia pake Canon Kiss X4, masih di bawah kamera locianpwe kok performanya😀
        sebenernya lensa kit 18-55 lumayan kok kalo sekedar memotret dengan variasi vocal length😉
        tapi saya juga ga punya lensa itu, waktu beli minta lensa kit-nya yang 18-135 soalnya😛
        saya juga cuma fotografer hura-hura kok, dah lama juga ngga motret2, jadi rada kagok juga megang kamera😛

    • @Imelda
      Itu artinya mbak Imelda awalnya penganut Canon, tapi dipaksa murtad untuk menerima dogma Nikon. Akhirnya selingkuh deh😈

      Kalau soal cara pakai yang benar sih, mendingan tanya2 sama yang udah pro. Saya juga masih belajar, kadang lewat teman yg udah jago, kadang lewat forum fotografi, kadang utak-atik sendiri😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s