Shirakawa-Go dan lensa bekas

“Your skill will be your biggest barrier to sharp images, not the lens.
(Ken Rockwell)”

Hari sabtu lalu aku diajak teman untuk berkunjung ke Shirakawa-Go, sebuah tempat wisata di prefektur Gifu. Shirakawa-Go merupakan sebuah desa dengan rumah-rumahnya yang berbentuk unik disebut Gasshō-zukuri sehingga banyak dikunjungi wisatawan terutama pada musim dingin. Karena tujuanku adalah mau foto-foto, tentu saja aku membawa kamera. Masalahnya lensa apa yang harus aku bawa kali ini.

Berhubung pergi bersama teman yang membawa anak dan istrinya, kuputuskan untuk membawa lensa telefoto terbaikku EF 70-200mm f/2.8 L IS USM. Maklumlah aku jarang menggunakannya karena tak punya fotomodel sebagai objek foto. Anak temanku yang berumur 1.5 tahun itu sedang lucu-lucunya sehingga sangat pas untuk difoto dengan lensa telefoto-ku itu. Untuk lensa wide, aku ragu-ragu antara membawa lensa primer 50mm f/1.8 yang memang dikenal sangat tajam gambarnya, atau membawa lensa bekas yang baru kubeli awal februari lalu.

Lensa bekas yang kubeli itu adalah lens kit EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS II atau untuk singkatnya sebut saja 18-55mm. Kubeli lewat ya*oo auction seharga 7.500 yen plus ongkos kirim 800 yen sehingga total biaya yang dikeluarkan 8.300 yen (sekitar Rp. 83 ribu). Awalnya aku tak terlalu berniat membeli karena aku mengincar lensa ultra-wide EF-S 10-22mm yang harganya 5 kali lipat lebih mahal. Masalahnya 18-55mm yang dijual tersebut baru dipakai 2 bulan (dibeli si penjual bulan Desember 2012) dan dia menjual lensa 18-55mm lengkap satu set dengan 2 filter (protector dan CPL) serta sebuah lens-hood. Kalau aku membeli lensa 18-55mm baru lengkap dengan 2 filter plus lens-hood, bisa-bisa memakan biaya sekitar 2-3 juta rupiah. Tanpa pikir panjang langsung saja kubeli. Tadinya aku sempat menyangsikan ketajaman gambar yang dihasilkan lensa ini, namanya juga lens-kit tentunya kualitas ketajaman lensa termasuk biasa-biasanya saja. Istilahnya ada harga ada kualitas gitu loh. Tapi tiba-tiba aku teringat kata-kata seorang kritikus fotografi Ken Rockwell seperti yang kutulis di kalimat paling atas.
“Tajamnya kualitas hasil jepretan bukan ditentukan lensa yang digunakan melainkan kemampuan si tukang jepret.”
Toh kalau dipikir-pikir, ada orang yang banyak duit hobi fotografi dan menggunakan lensa mahal untuk memotret justru hasil jepretannya biasa-biasa saja.
Karena itu aku memutuskan membawa lensa ini ke Shirakawa-Go, karena menurutku untuk mengasah feeling dan kemampuan fotografi sebaiknya menggunakan lensa murah meriah sebagai objek latihan.

Hasilnya?
Kalau lensa telefoto sih tak usah diragukan lagi, jernih dan tajam hasilnya.
Bagaimana dengan hasil jepretan lenskit 18-55mm? Ternyata apa yang diucapkan oleh Ken Rockwell itu benar adanya. Yang penting tuh skill dan penempatan sudut memotret yang pas akan menghasilkan foto bagus. Aku menggunakan 18-55mm hingga puluhan kali jepretan dan tak banyak hasil yang benar-benar bagus. Tapi aku senang karena jalan-jalan kali ini sekalian bisa dijadikan ajang latihan fotografi.
Coba lihat hasil jepretan lensa bekas 18-55mm ini:

Aperture maksimum 18-55mm adalah f/3.5 sehingga kurang bagus untuk low-light fotografi alias kurang mendukung untuk foto-foto dalam kondisi gelap. Pulang dari Shirakawa-Go, kami mampir sebentar di Ichinomiya untuk melihat menara Ichinomiya Twin Arch 138 di malam hari. Ternyata hasil jepretannya tak jelek-jelek amat, walau tanganku rada pegal karena harus menopang kamera supaya tak bergetar dalam waktu speed-shuter 1 detik. Bandingkan dengan gambar yang kuambil dengan lensa 18-55mm yang sama pakai tripod sewaktu memotret Nagoya TV Tower di daerah Sakae 3 minggu lalu.

8 thoughts on “Shirakawa-Go dan lensa bekas

  1. Aku menggunakan 18-55mm hingga puluhan kali jepretan dan tak banyak hasil yang benar-benar bagus.

    semua jepretan DSLR saya pakai 18-55 kit. sekilas info.:mrgreen:

    • @yud1
      iya tau koq😛
      O iya, kemarin temanku itu pakai NIkon 5100. Dia beli baru seharga Rp. 5,5 juta (kalau dirupiahin), dikasih lenskit 2 biji, 18-55mm G dan 55-300mm G. lumayan murah tuh.

      • udah pakai VR? lagi ngincer 55-300 juga sih, kemarin bandrolnya 3 koma sekian. btw murah banget tuh, 5.5 juta dapet 18-55 sama 55-300. mungkin juga Nikon lagi cuci gudang baru rilis D5200…

        btw kalau beli lensa perlu tes di lokasi kayaknya, soale kemaren ada temen pakai Canon, punya 70-200 (gak pakai IS). pas iseng pinjem coba-coba, kayaknya kok malah bagusan kit-nya? *it’s a mystery*😕

      • udah pakai VR?

        Dua2nya pakai VR koq. AF-S DX NIKKOR 18-55mm f/3.5-5.6G VR dan AF-S DX NIKKOR 55-300mm f/4.5-5.6G ED VR
        Semua temanku yang beli Nikon 5100 sejak Oktober tahun lalu selalu dapet 2 lens-kit.

        btw kalau beli lensa perlu tes di lokasi kayaknya, soale kemaren ada temen pakai Canon, punya 70-200 (gak pakai IS). pas iseng pinjem coba-coba, kayaknya kok malah bagusan kit-nya?

        Saya curiga anda pakai lensa tele buat motret landscape wakakakak
        Gak bakalan bagus lah, secara gak cocok😈
        Kualitas lensa Canon yang ada tulisan L (singkatan Luxury) gak bakalan jelek. Kalau jelek, itu salah orang yang motret seperti kata Ken Rockwell di atas. Motret tanpa IS susah tuh kalau gak terbiasa, musti banyak latihan.
        Wong gambar hasil jepretanku pakai 70-200 L IS USM yang awal-awal baru pakai banyak jeleknya. Sekarang sih udah ketemu “feel”-nya baru bisa dapat gambar bagus.

        Enaknya pakai lens-kit itu justru karena gak ribet. Gak perlu latihan, sekali take udah bisa ngambil foto lumayan bagus.

  2. shirakawa-go bagus ya… dan saljunya ternyata masih ada juga, sepertinya bulan maret pas untuk pergi kesana, bulan februari lalu saya kesitu disambut turun salju lebat sampai kepleset jatuh😦

    • @niken
      Iya bagus. Saljunya memang masih ada tapi sudah banyak yang mencair. Kata pak tua yang jaga kedai, Shirakawa-go paling bagus pas bulan Januari. Semuanya serba putih dan kalau diambil foto dari atas bukit keliatan kayak desa salju gitu😀

  3. Shirakawa go itu dunia impian desa musim salju = desa saat natal yang biasa tergambar di kartu natal. One day I’ll go there. Ngiri banget waktu liat foto yang diambil adikku pada malam hari waktu di light up. Just like a dreamland!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s