Buat apa motret?

Karena saya masih amatir dan pemula di bidang fotografi DSLR, tulisan ini hanya berisi pendapat berdasarkan pengalaman pribadi saja.

Ketika saya menaruh link tulisan Ken Rockwell tentang Nikon vs Canon, saya menulis kamera Leica itu overpriced dan cuma dibeli anak-anak orang kaya yang pengen pamer karena males susah-susah belajar teknik motret. Koh EON menyatakan bahwa dia punya perasaan yang sama dengan “anak-anak” yang beli kamera DSLR. Gara-gara itu saya jadi punya ide menulis postingan blog.
Memangnya kenapa aku beli DSLR? Cuma buat pamer atau punya tujuan lain?

Tujuan anda motret apa sih?
Saya suka motret diawali seperti umumnya orang-orang lain juga suka motret yaitu buat dokumentasi. Yang namanya dokumentasi, pakai kamera saku adalah yang paling pas, baik untuk masalah harga maupun masalah kualitas hasil jepretan. Saya nggak punya kamera saku, yang ada cuma kamera ponsel, tapi tujuannya untuk foto dokumentasi pribadi tercapai dan saya puas-puas saja menjepret dengan kamera ponsel. Apalagi sejak tahun lalu ganti ponsel pakai iPhone hasil fotonya jauh lebih bagus dibanding ponsel Casio Exilim jadul (kubeli 0 yen alias gratisan karena pakai kontrak gak boleh ganti selama 3 tahun pakai) yang kupakai sebelumnya.

Tahu kan foto dokumentasi? Kayak foto-foto buat kenangan, foto teman/bareng teman pas ngumpul, foto acara kondangan (kayak kawinan, ulang tahun dll). Misalnya kalau Saya pergi ke Paris, foto dokumentasi itu yang penting fotonya berisi saya dengan menara Eiffel dalam satu frame. Koh EON bilang dia cukup puas dengan foto-fotonya hasil jepretan Canon S100 yang pernah dibilang Ken Rockwell sebagai kamera saku terbaik di dunia.
Untuk sesi potret dokumentasi pakai S100? Bagiku itu sih udah jelas sangat puas. Tapi toh dengan kamera ponsel gratisanku yang Casio Exilim jadul itu, aku sudah cukup puas dengan hasil jepretannya untuk dokumentasi. Banyak foto-foto lamaku yang memakai kamera ponsel itu, misalnya yang ada di tulisan blog lamaku tentang Hamamatsu Matsuri, semua foto kuambil dengan kamera ponsel gratisan tersebut.

Coba lihat foto di bawah ini. Foto ini bukan foto dokumentasi tapi foto art bagi yang amatiran yang suka fotografi. Waktu itu aku sedang jalan muter-muter di sekitar rumah sambil bawa kamera dan minum kopi kaleng. Tiba-tiba aku melihat pagar pinggir sungai yang sering kulalui hampir setiap minggu itu menarik untuk difoto. Jadilah objek yang kujepret kaleng berisi kopi karena cuma itu yang ada ditangan, dengan latar bokeh pagar hijau. Mengerti kan kenapa ini bukan foto dokumentasi? Untuk itu, tentu saja gambar yang diambil dengan kamera saku dan kamera ponsel tak akan sama hasilnya. Selain itu juga ada aktivitas yang dinamakan hunting foto, jelas bukan untuk dokumentasi melainkan memang diniatkan untuk mendapatkan gambar art.

IMG_1752

Hanya saja lama-kelamaan (plus sering bergaul dengan beberapa tukang jepret amatir yang serius) saya makin ingin melangkah lebih jauh dengan dunia fotografi. Selain foto dokumentasi, saya ingin memotret hanya karena ingin memotret dengan hasil yang bagus, bukan hanya sekedar dokumentasi. Itu berarti kamera ponsel tidak akan sanggup menjalankan keinginan itu dan harus beli kamera yang benar-benar kamera. Beli kamera saku tak akan bisa memfasilitasi tujuanku (kecuali kamera saku dengan sensor sensitif dan aperture lebar yang harganya mahal), selain itu hanya kamera DSLR yang bisa mendapatkan focal length yang panjang dari ultra wide hingga longshot telephoto.

Akhir tahun 2010, adik iparku menjual kamera Lumix FZ100-nya kepadaku untuk kugunakan belajar fotografi sebelum benar-benar serius membeli DSLR (sebelumnya aku sudah sering meminjam kamera Canon milik adik iparku dan teman). Akhir Oktober tahun 2012 kemarin, aku membeli Canon 7D sebagai kamera DSLR pertamaku.
Dan tujuanku memotret berubah, bukan hanya untuk dokumentasi tapi juga buat penyaluran hobi fotografi.

Gambar hasil motret memangnya buat apa? Diperlihatkan ke orang lain?
Kalau gambarnya bagus dan orang lain suka, itu nilai plus. Tapi yang paling penting, saya sendiri senang melihat hasil jepretan sendiri yang bagus. Sama halnya seperti aku senang ketika bisa memainkan sebuah lagu bagus dengan gitar, padahal tak ada orang lain yang mendengar.

NB.
Walau kuanggap Leica (terutama kelas Leica mahal seperti Lica M9 dan sejenis) overpriced, Leica memang terbuat dari material beserta optik bermutu tinggi, selain sensor yang dimiliki juga kelas satu. Karena itu, walau kamera Leica terlihat ringan dan kecil dibanding DSLR, kemampuannya menghasilkan gambar memang hebat. Si penjepret tak perlu belajar teknik motret dengan susah payah, dengan Leica M9 dan kompatriotnya, gambar akan terlihat jernih dan tajam. Gampang dipakai dan menghasilkan gambar yang bagus. Karena itu harganya mahal.

10 thoughts on “Buat apa motret?

  1. Dulu saya paling malas motret..
    Tapi sekarang pengin banget motret2….
    Penyebabnya, tiba2 saya melihat nilai artistik tertentu dari objek2… yah, karena pengaruh adik saya juga, sih… dia hobi motret soalnya.. he.. he..

  2. @Amed
    Hahahaha… Kamera bagus belum tentu menghasilkan gambar bagus koq. Malah ada yang cuma pakai kamera ponsel bisa ngambil gambar yang hasilnya keren.

    @Koh Eon

    ini Canon EOS 7D ternyata sensornya hanya APS-C (lebih kurang sama dengan yg kamera2 Mirrorless lainnya)

    Emangnya kalau sensor besarnya berdekatan, gak ada hal lain yang bikin orang milih APS-C dibanding mirrorless? kayak banyaknya pilihan lensa misalnya? Kalaupun beli mirrorless Canon EOS M, harganya toh deketan sama DSLR Rebel Kiss X series. Malah EOS M lebih mahal dikit.

    Gak sekalian beli yg ada Full Frame sensor aja ? (mungkin mau tambah duit bbrp ratus dollar sih)… Itu baru yg ‘benar-benar kamera’

    Oh itu, jawabannya ada di tulisan sini boss.
    Lagian kalau situ puas dengan S100 dengan sensor 1/1.17″ dan gak mau pindah ke DSLR, saya juga boleh puas dengan small-frame sensor APS-C (yang jauh lebih bagus dibanding sensor 1/17″) dan gak mau pindah ke full-frame dong. Definisi “benar-benar kamera” versi situ aja udah beda sama saya koq😈
    Pula, saya bukan anak2 orang kaya yg pakai full frame cm buat gaya. Ngapain kalau kemampuan fotografi masih kelas menengah beli full frame? Gak maksimal dan ngabisin duit doang.
    Tunggu ntarlah kalau kemampuan fotografi udah naik ke level Pro, baru beli full frame. Itupun kalau bidang fotografi udah bisa dipakai buat nyari duit😛

    @syelviapoe3
    Wah, lumayan bisa latihan pakai pinjeman kamera adikmu😛

  3. Pingback: Jenis fotografer seperti apakah anda? | Toumei Ningen – Personal Blog

  4. hmmm aku sering melihat sih, cara pengambilan gambar orang yang “mengerti” fotografi dan yang “asal jepret” itu beda kok, meskipun hanya dokumentasi. Contohnya, aku sering merasa kecewa pada foto diriku yang diambil orang lain, karena waktu aku ambil fotonya itu jauuuh lebih bagus hehehe. Padahal cuma tinggal jepret loh, udah disettingin juga😀

    • @Imelda
      Mungkin gara2 itu juga aku sering diminta motret orang lain. Gara2 suka bawa kamera DSLR pas ke tempat wisata, suka dimintain tolong motretin mereka😛

  5. “Emangnya kalau sensor besarnya berdekatan, gak ada hal lain yang bikin orang milih APS-C dibanding mirrorless?” <- Sebagai klarifikasi dikit…Kamera Mirrorless pada umumnya pake sensor APS-C.

    btw, koh EON pun terkejut karena komennya yg di atas tiba2 hilang tanpa diketahui rimbanya :v

    • @koh EON

      Sebagai klarifikasi dikit…Kamera Mirrorless pada umumnya pake sensor APS-C.

      Sedikit pengetahuan buat anda, tidak ada orang yang bilang kamera mirrorless sebagai “kamera mirrorless sensor APS-C “, kecuali anda tentunya. Kalau ada yang bilang kamera dengan crop-sensor APS-C tentunya yang dimaksud kamera DSLR dengan sensor APS-C. Sama halnya orang bilang pergi ke Amerika itu berarti ke USA, bukan muterin benua Amerika seluruhnya.
      Lagipula seperti yang anda ketahui, tidak semua kamera mirrorless pakai sensor APS-C.
      Semoga mencerahkan.

      btw, saya juga merasa aneh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s