Jenis fotografer seperti apakah anda?

meme camera

Sebenarnya meme pada gambar di atas itu sudah cukup lama muncul dan mas Amed membawanya kembali lewat komentar pada postingan sebelumnya. Lalu saya tertarik membahasnya gara-gara mengalami kejadian yang membuat saya teringat pada meme tersebut.
Benarkah kamera mahal pasti menghasilkan hasil foto yang bagus bagaikan jepretan fotografer profesional?
Ma’af… itu pernyataan yang salah.

Kamera berharga mahal berarti kamera tersebut sulit dipakai oleh orang biasa.
Kenapa?
Karena semakin mahal kamera berarti kamera tersebut penuh dengan setting kamera yang ribet serta perangkat elektronik canggih yang membutuhkan waktu untuk mempelajari pemakaiannya secara baik dan benar agar hasilnya maksimal.

Tadi saya bertemu dengan seorang bapak-bapak perlente yang membawa salah satu kamera tercanggih saat ini, Nikon D800 dengan fasilitas full-frame, ISO super rendah, bla.. bla.. bla.. Sempat ngobrol-ngobrol sedikit denganku sambil memperlihatkan hasil jepretannya yang ternyata sangat biasa untuk ukuran hasil jepretan D800. Si bapak memang tajir, beli kamera super canggih cuma buat foto dokumentasi kayak memotret anaknya main baseball saat itu. Tapi hal itu tidak membuat bapak tersebut menjadi seorang fotografer pro, karena beliau hanya menggunakan kameranya paling sering sebulan cuma 2 kali.
Jangankan latihan teknik fotografi dan belajar cara memakai D800 dengan setting ribet yang butuh waktu, pakai kamera saja cuma 1-2 kali sebulan. Ibarat memakai komputer super canggih hanya untuk buka facebook dan twitter. Kamera mahal dengan sensor full-frame tak banyak berguna kalau tak bisa memaksimalkan kemampuannya, mendingan motret pakai kamera murah saja.

Bandingkan dengan orang-orang yang membeli dan menggunakan kamera entry-level murah meriah tapi bisa menghasilkan hasil jepretan yang cukup bagus.
Kenapa?
Karena mereka menguasai cara pemakaian kamera. Kamera untuk entry-level memang didesain sederhana sehingga mudah untuk dimengerti cara penggunaannya. Ditambah dengan latihan dan belajar teknik fotografi, memotret dengan kamera murahpun bisa menghasilkan gambar maksimal.

Tentu saja kamera mahal kayak Nikon D800 atau Canon 5D Mark III bisa menghasilkan gambar yang jauh lebih bagus dibandingkan kamera entry-level. Syaratnya si pemotret harus tahu cara pakai dan setting kamera yang tepat dan sesuai untuk memaksimalkan kemampuan kamera canggih tersebut. Selain itu juga, pemilihan lensa turut berpengaruh pada kualitas gambar. Ujung-ujungnya sih masalah pengetahuan dan teknik fotografi sangat berperan penting dalam menghasilkan hasil gambar terbaik.

Ini juga membuatku teringat pertanyaan Koh EON di postingan yang sama, kenapa nggak beli kamera yang full-frame aja sekalian? Pertanyaan senada juga sering ditanyakan pada fotografer professional dunia dan jawabannya selalu sama yaitu: Tergantung jenis fotografer apakah anda.

Kalau anda super-rich, silahkan beli yang paling canggih dan paling mahal. Gak bisa pakai kamera canggih juga toh bisa dihibahkan atau dibuang. Namanya juga super kaya raya.

Kalau anda hobi fotografi dan punya duit terbatas, belilah yang kamera dengan kelas semi-profesional dengan crop sensor APS-C. Tidak terlampau mahal sih tapi lebih dari cukup untuk mendapatkan hasil jepretan tajam dan jernih. Paling-paling cuma kalah sedikit kemampuannya dibanding kamera sensor full-frame. Selain itu juga, setting yang lumayan ribet tidak terlalu bermasalah karena orang yang hobi fotografi biasanya mau menghabiskan waktunya buat latihan dan belajar penggunaan kamera. Biasanya ini untuk orang yang suka dan rutin motret minimal 4 kali sebulan.

Kalau anda hanya memakai kamera buat dokumentasi, kamera point and shoot hingga DSLR entry-level, atau malah kamera cellphone juga sudah cukup untuk memfasilitasi tujuannya.

Kalau anda fotografer profesional dan bidang fotografi adalah dapur anda untuk cari duit buat makan, kamera paling canggih harus dibeli walaupun modal pas-pasan. Mahal sih, tapi dengan pekerjaan anda sebagai fotografer profesional niscaya bakalan balik modal karena hasil jepretan yang bagus dan memuaskan akan membuat pelanggan menyewa jasa anda terus menerus. Biasanya tipe fotografer profesional begini rutin memotret minimal 2-3 kali seminggu, tergantung order.

Saya sendiri masuk kategori nomer dua, fotografer amatir yang kere. Jadinya kalau ditanya kenapa nggak sekalian beli full-frame? Jawabannya sederhana: Nunggu kaya raya atau nunggu ntar kalau bidang fotografi sudah jadi profesi buat nyari duit. Sekarang sih saya masih cukup puas nyari duit dengan jadi kuli dan menjadikan fotografi cuma sebagai hobi doang. Buang duit banyak-banyak untuk membeli kamera berteknologi canggih dan sistem operasi ribet tapi tak bisa memaksimalkan penggunaannya? Maaf deh, mendingan saya nabung buat beli lensa bagus aja sekalian.

Bagaimana dengan anda?

6 thoughts on “Jenis fotografer seperti apakah anda?

  1. ho ho… aku sih tidak mau dan tidak bisa disebut fotografer deh. Mungkin dokumenter aja ya? hehehe. Jadi? Aku hanya pakai apa yang available saat itu, HP, my Canon G12 or My NikonD80 yang lungsuran bapak mertua dan itupun diset AF😀

  2. kalau saya, kurang lebih sama kayak bang Ando, amatir dan kere.. hehehe. hanya modal kamera pas-pasan dan mikir beberapa kali buat beli lensa lagi karena masih belum canggih mengutak-atik settingan kamera. jadinya hasil jepretan masih terbilang standar.

  3. @Imelda
    Semua orang yang motret itu fotografer loh mbak, yang membedakan mungkin cuma professional atau amatirnya doang.😀
    Dulu saya malah cuma motret pakai HP ecek-ecek. Sisanya pinjem sana sini sama teman dan sodara hehehehe….

    @Zeph
    Saya sendiri masih belajar koq, terutama belajar komposisi dan teknik fotografi. Susah juga menyesuaikan setting kamera dengan kondisi saat motret, hingga kini saya masih pakai feeling. Makin sering motret dan latihan, biasanya makin tajam feeling-nya

  4. Kalo saya sih jelas fotografer belajar + ga modal alias tukang minjem :p
    Pertama kali pinjem dan pegang langsung pegang canon 7D dan saat itu boro2 tau teknik, tau cara pakenya aja enggak. Kali kedua dipinjemin teman canon 500D yang autofokusnya rusak. Terpaksa go manual. Repot banget, tapi jujur aja itu malah tempaan buat tau fokus yg bener itu yg kayak gimana. Karena kalau salah fokus mau diedit kayak apa juga hasilnya ga akan cantik. Yappari beginner emang sebaiknya mulai dr entry-level kamera dulu buat membiasakan diri.
    Sekarang kepikiran beli kamera entry level sih. Tapi berhubung si pacar bilang mending saya pake 7D nya aja, jadi saya mau nunggu lungsuran dari dia aja deh.😄 *ngarep*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s