Sedikit Panas dan Puasa

Berdasarkan perhitungan lunar calendar, tanggal 7 Juli tahun ini terhitung sebagai awal shousho. Itu berarti panjang waktu siang sedikit demi sedikit akan semakin pendek setiap harinya (rentang waktu siang di musim panas lebih panjang dibandingkan waktu malam, begitu pula sebaliknya di musim dingin). Walaupun rentang waktu siang semakin pendek, justru temperatur akan terasa lebih panas. Hal ini belum ditambah dengan kelembaban udara yang juga perlahan semakin beranjak tinggi setelah shousho. Jadinya setelah shousho Jepang akan terasa semakin mirip dengan sauna raksasa, panas lembab yang membuat keringat dengan cepat merembes keluar. Kata shousho sendiri berarti sedikit panas berasal dari kanji 小暑, 小 (shou = sedikit) dan 暑 (sho = panas). Akhir bulan Juli, shousho akan berubah menjadi taisho 大暑, 大 (tai = banyak) dan 暑 (sho = panas) dimana panas lembab akan meningkat lebih cepat.

Puncak dari taisho adalah pada saat menjelang liburan Obon alias Bon festival. Obon sendiri sebenarnya festival perayaan menyambut pulang arwah leluhur yang dikaitkan dengan upacara keagamaan, dan rentang waktu ini merupakan hari libur selama seminggu di Jepang. Sebenarnya pemerintah Jepang tak pernah mengkait-kaitkan hari libur panjang dengan perayaan keagamaan, tapi khusus Obon ini agak berbeda. Pemerintah Jepang menetapkan libur panjang pada saat Obon salah satunya lebih dikarenakan pada rentang waktu Obong adalah puncak dari shousho dan taisho, karena itu libur Obon dimaksudkan agar para penduduk beristirahat demi kesehatan masing-masing supaya terhindar dari Nechuushou (熱中症) alias Heat Stroke. Sebenarnya kasus heat stroke sudah sering terjadi pada saat musim panas, bahkan sebelum shousho. Tentunya pada saat puncak shousho dan taisho, kemungkinan terkena heat stroke akan semakin parah.

Karena puasa, kebiasaan minum kopi di pagi hari diganti jadi malam hari deh.

Karena puasa, kebiasaan minum kopi di pagi hari diganti jadi malam hari deh.

Taisho baru berakhir ketika musim gugur mulai datang yang di Jepang disebut sebagai risshuu (立秋) yang berarti awal musim gugur. Berarti pada saat Obong, taisho akan berganti menjadi risshuu dan hawa panas akan berangsur-angsur menjadi sejuk. Puncaknya temperatur menjadi rendah pada saat musim dingin.

Selain shousho, umumnya orang Jepang menyebut masa panas lembab menyengat sebagai tsuyuake 梅雨あけ (musim hujan berakhir). Tsuyuake ini juga dimulai awal bulan Juli (bulan Juni adalah musim hujan) jadi boleh dibilang sama saja dengan shousho, hanya saja istilah tsuyuake lebih umum dan populer bagi orang Jepang. Tsuyuake ini menandakan banyak orang Jepang pergi ke pantai atau kolam renang untuk berenang, karena berenang di musim hujan bisa bikin masuk angin😛

Puasa Ramadhan 1434 Hijriah yang akan dimulai sekitar tanggal 8-9 Juli 2013 akan berlangsung setelah tsuyuake. Ini berarti puasa Ramadhan tahun ini akan menjadi puasa Ramadhan paling “berkesan” bagi umat muslim yang tinggal di Jepang saat ini. Dengan suasana puncak mushi-atsui (panas lembab), tentunya suasana puasa Ramadhan akan semakin terasa derita dan juga cobaannya. Pemerintah Jepang biasanya menganjurkan untuk banyak minum demi menghindari heat stroke, tapi dalam keadaan berpuasa tentunya tak bisa dilakukan. Jadi saya berharap agar kita semua pandai-pandailah menjaga kesehatan selagi berpuasa agar terhindar dari penyakit pada saat puncak panas lembab ini.

Akhir kata saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1434 H, mohon ma’af jika ada kesalahan, dan jagalah kesehatan anda selama bulan Ramadhan khususnya bagi yang berdomisili di Jepang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s