The Juuhachikippu New Year Trip

Dalam rangka mengisi liburan panjang musim dingin menyambut tahun baru 2014, aku dan PGKN telah menyusun rencana sejak beberapa bulan yang lalu untuk berkunjung ke Tokyo sambil menyambangi Apratz dan putri kecilnya yang baru lahir beberapa bulan yang lalu. Sayangnya Apratz dan Apratz Jr. alias Nala-chan, mendadak pulang ke Indonesia sehingga rencana semula harus diatur ulang. Tadinya aku sempat berpikir mau mengajak Mbak Imelda kopdaran, tapi urung karena mbak Imelda kemungkinan besar kumpul-kumpul bersama keluarga di tahun baru seperti umumnya keluarga Jepang. Akhirnya, rencana sudah disusun ulang, hotel murah meriah hasil pencarian di Rakuten dan Agoda sudah di booking dan tiket Juuhachikippu telah dibeli, dan kami berdua berangkat untuk bulan madu ronde ke dua melakukan perjalanan panjang selama 5 hari dengan menggunakan kereta listrik.

31 Desember 2013
Perjalanan di awali dengan kereta menuju Hamamatsu, tukar kereta menuju Atami dan di Atami kembali tukar kereta menuju Tokyo. Maklumlah, namanya juga menggunakan 18 Kippu yang murah meriah sehingga harus sering tukar kereta di stasiun tertentu sebelum sampai di Tokyo. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam, kami sampai di Tokyo, check-in ke hotel dan jalan-jalan di Tokyo di mulai dengan Odaiba.

Ada apa sih di Odaiba? Aku sendiri sudah pernah ke Odaiba 2 kali, tapi sama sekali belum pernah melewatkan hari hingga malam di sana. Kali ini kami berdua tiba sore hari dan langsung menuju lokasi Gundam Front Tokyo di halaman belakang DiverCity Plaza Odaiba. Karena kami hanya ingin foto sana sini gratisan, kami hanya nongkrong di halaman DiverCity tanpa ada maksud naik ke lantai 7 tempat museum dan berbagai macam pameran pernak-pernik Gundam (bayar 1200 yen tentunya). Sempat jeprat-jepret sendiri sampai akhirnya ada pasangan suami-istri orang Indonesia yang menawarkan untuk saling memfoto satu sama lain. Ketika hari mulai gelap, beberapa bagian tubuh si Gundam termasuk matanya mulai bersinar dan kepalanya mulai bergerak toleh kanan kiri. Lumayan menarik sih, apalagi bagi penggemar anime-mecha.

Dari DiverCity, kami bergerak menuju sebuah gedung pusat perbelanjaan bernama VenusFort. Bukan buat belanja sih, toh barang yang dijual di sana mahal-mahal. Cuma buat foto-foto doang, terutama di lokasi fountain yang di desain dengan suasana kota Eropa abad pertengahan.

Dari VenusFort, kami terus jalan menuju sebuah kompleks perbelanjaan bernama Aqua City. Lagi-lagi bukan buat belanja melainkan untuk makan malam. Setelah mengisi perut, kami pergi ke Tokyo Trick Art Museum. Sayangnya kami masuk sudah agak telat jam 8:30 karena mereka tutup jam 9 malam, rasanya waktu 30 menit sangatlah kurang untuk bereksplorasi di depan lukisan tricky yang unik dan menarik. Malam tahun baru di Odaiba kami akhiri dengan foto-foto di depan Jembatan Pelangi (Rainbow Bridge maksudnya) karena kami harus pulang ke hotel sebelum tengah malam.

1 Januari 2014
Tahun memang telah berganti tapi aku merasa biasa saja, malah rada sebal karena banyak toko dan kedai makanan yang tutup. Seperti rencana yang telah disusun tujuan hari ini adalah Yokohama Hakkeijima Sea Paradise. Bangun tidur jam 11 siang, maklumlah hari sebelumnya capek di jalan. Singgah sebentar di Ueno buat makan siang, barulah kami pergi menuju Sea Paradise. PGKN sudah lama ngebet pengen pergi ke Sea Paradise gara-gara nonton dorama yang berjudul 1 Litre of Tears, dimana tokoh Asou mengajak Aya jalan-jalan ke Sea Paradise. Lumayan lah bisa foto-foto terutama di tunnel aquarium di mana Aya bicara, “Kikoenai ka na?” waktu dikasih info tentang suara lumba-lumba oleh Asou hehehehe…

Sea Paradise adalah aquarium paling menarik yang pernah kukunjungi. Selain ada atraksi lumba-lumba, ada juga bagian dimana pengunjung bisa membelai punggung lumba-lumba. Kita berdua ikutan mengelus punggung lumba-lumba putih dan rasanya seperti membelai sashimi yang masih segar😀
Pulang dari Sea Paradise, kami kembali mampir di Ueno untuk makan malam. Ngomong-ngomong saat makan siang, syal PGKN ketinggalan di restoran Thailand dan ketika kami kembali di malam hari, pihak restoran menyimpan syal tersebut untuk dikembalikan kepada kami dan PGKN kecewa karena tak jadi membeli syal baru😀

Setelah makan malam, lagi-lagi ada barang ketinggalan di restoran dan kali ini tas ranselku. Dasar pikun, tas berat begitu koq malah lupa kubawa. Tentu saja tas ransel dan barang-barang yang ada di dalamnya bisa diperoleh kembali dari pihak restoran tanpa kekurangan sesuatu apapun.

2 Januari 2014
Setelah sempat ngambekan pagi hari, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Nagano. Dengan kereta lokal, perjalanan dari Tokyo menuju Nagano membutuhkan waktu tempuh sekitar 6 jam dengan 3 kali pindah jalur. Masalahnya, kami harus naik kereta yang tepat karena diantara jalur kereta Tokyo-Nagano ada kereta yang hanya memiliki jadwal 3 kali keberangkatan dalam satu hari. Sehingga kalau kami salah mengambil jadwal, kami harus menunggu jadwal keberangkatan kereta berikutnya hingga 3-4 jam ketika pindah jalur kereta.

Di sepanjang perjalanan antara Kofu dan Matsumoto, mulai terlihat pemandangan yang dilapisi salju putih. Sayangnya dari Matsumoto menuju Nagano tak terlihat salju sedikitpun, padahal bayanganku tentang Nagano adalah sebuah daerah yang putih tertutup salju. Malah di kota Nagano sendiri kami cuma mendapatkan dingin yang menusuk tulang tanpa ada salju setitikpun. Untunglah PGKN tiba-tiba mengusulkan untuk menambah itinerary perjalanan ke Yudanaka dan kami sempat memesan sebuah Ryokan (penginapan tradisional Jepang) di sana sebelum kereta mencapai Nagano. Kenapa untung? Karena justru perjalanan ke Yudanaka lebih mengasyikkan daripada di kota Nagano sendiri.

Walaupun agak kecewa dengan kota Nagano, setidaknya kami masih mendapatkan sedikit kenangan lumayan bagus lewat sebuah kedai soba. Nagano memang dikenal sebagai salah satu daerah pembuatan mie soba produksi sendiri (bukan soba yang dijual di toko-toko biasa) dan kami merasakannya di kedai dekat stasiun Nagano bernama Aburaya (油や). Soba-nya memang enak dan kami makan soba dingin dengan lahap walaupun sedang musim dingin (biasanya soba dingin dihidangkan pada musim panas). Pulang ke hotel kami berdiskusi tentang sisa perjalanan dan memutuskan untuk mengirim koper besar ke rumah via pos dan hanya membawa barang seperlunya dalam ransel untuk satu hari sisa perjalanan.

3 Januari 2013
Pagi harinya setelah check out dan mengirim koper besar ke rumah, kami menuju salah satu lokasi wisata utama di kota Nagano yaitu Kuil Buddha Zenkō-ji. Berhubung masih suasana tahun baru, Zenkō-ji penuh dengan para pengunjung yang ingin bersembahyang dan minta berkah demi kelancaran urusannya di tahun 2014 ini. Kami cuma menghabiskan waktu sebentar saja di Zenkō-ji sebelum akhirnya berangkat menuju Yudanaka.

Yudanaka merupakan kampung kecil yang dikenal sebagai kampung onsen (pemandian air panas). Tak jauh dari sana, ada tempat wisata yang dinamakan Jigokudani (lembah neraka) karena uap dan air mendidih mengepul dari dalam bumi ke permukaan tanah yang membeku. Jigokudani dikenal dengan monyet salju yang hidup bebas berkeliaran dan uniknya mereka suka sekali mandi di kolam pemandian air panas. Untuk mencapai Jigokudani, dari stasiun Yudanaka harus naik bis dan turun di stasiun Kanbayashi, lalu melanjutkan perjalanan jalan kaki hingga hampir 2 kilometer. Jalan menuju Jigokudani sempit, terjal menanjak dan cukup berbahaya karena jalan di musim dingin berlapis es yang licin. Aku sendiri beberapa kali terpeleset walau tak sampai terjerembab. Lumayan serem sih karena di samping terhampar jurang yang walaupun tak terlalu dalam tapi penuh salju tebal. Walaupun demikian perjalanan sangatlah menyenangkan karena jarang-jarang aku bisa melihat pemandangan hutan yang diselimuti salju tebal. Belum lagi setelah sampai di Jigokudani dan melihat monyet salju berseliweran lari sana sini, bertengkar hingga nyemplung di onsen.

Pulang ke stasiun Yudanaka, kami dijemput staff Ryokan yang telah kami pesan. Yudanaka Maruka Ryokan memang agak kecil (cuma punya 10 kamar), tapi pelayanan dan keramahan pemiliknya sangatlah membuat hati ini senang. Belum lagi isi kamar Ryokan hingga sarapan paginya yang bersuasana Jepang banget. Yang paling menyenangkan ketika kami bangun pagi, kami disambut butiran salju yang turun perlahan. Waahhh… akhirnya bisa lihat salju turun di tahun 2014 juga. Sayangnya air panas di kolam pemandiannya terlalu panas. Aku mencoba berendam di dalam kolamnya tapi hanya bertahan 10 detik karena panasnya membuat kulitku sakit.

4 Januari 2013
Kami check out dari Ryokan sekitar jam 10 dan menuju kota Matsumoto. Kota Matsumoto dikenal dengan kastilnya yang merupakan salah satu dari sedikit kastil original di Jepang. Dari dulu aku memang sudah ngebet melihat kastil Matsumoto untuk melengkapi daftar kunjunganku ke kastil-kastil original. Yang menarik perhatianku, kastil Matsumoto memiliki koleksi senjata api jaman Edo yang lumayan lengkap. Perjalanan di Matsumoto diakhiri dengan makan Taiyaki ter-uenak yang pernah kumakan😀

Dari Matsumoto kami melanjutkan perjalanan pulang dan akhirnya kami tiba di apato sekitar pukul 9 malam. Dari Aichi menuju Tokyo, lalu ke Odaiba, ke Yokohama Hakkeijima Sea Paradise, Ueno, lanjut ke Nagano, Jigokudani, Yudanaka, lalu dikahiri dengan kunjungan ke Matsumoto, total perjalanan menggunakan kereta listrik lebih dari 24 jam. Pantat boleh tipis dan panas yang penting hati senang.

Next project? Pengen ke arah selatan, rencananya doraibu (naik mobil alias drive) ke Miyajima, Hiroshima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s