Pindah

Pindah apato (apartemen Jepang) kali ini adalah yang ke-5 kalinya sejak aku datang ke Jepang 9 tahun yang lalu, berarti apato yang kutempati sekarang adalah apato yang ke-6. Apato yang baru kutempati ini adalah yang paling luas sekaligus paling mahal, dan pindahan kali ini memakan biaya paling besar diantara pindahan apato yang pernah kulakukan.

Sejak menikah, aku memang sudah berencana untuk melakukan 2 hal yaitu membeli mobil agar gampang pergi kemana-mana dan pindah ke apato yang lebih luas (berhubung apato yang kutinggali sewaktu lajang termasuk apato untuk single, agak sempit untuk ditinggali 2 orang). Setelah beli mobil (bekas), mulailah aku mencari-cari apato yang cocok. Kriteria yang kami inginkan adalah dekat stasiun KRL utama (JR station), harga total di bawah 60.000 yen, luas minimal 2DK (nanti dijelaskan artinya).

Mencari info apato
Kalau ingin berhemat, bisa saja mencari apato sendiri, telpon si pemilik apato sendiri dan mengurus segalanya sendiri. Tapi itu ribet bukan main, ditambah lagi makan waktu bagi orang yang bekerja tetap seperti aku. Akhirnya seperti biasa, cari apato lewat jalur fudosan (agen real estate). Ada beberapa fudosan yang bisa dihubungi, tapi bagi orang asing (non-Jepang) biasanya agak sulit. Maklumlah, kadang kala client apato yang dimiliki fudosan kurang ramah terhadap orang asing.
Berdasarkan pengalaman, fudosan yang paling bisa diandalkan adalah Able, dengan alasan mereka lebih ramah terhadap client orang asing dibandingkan fudosan lain dan fee yang diminta Able hanya setengah dari total harga sewa sebulan (rata-rata fudosan minta fee seharga sewa apato sebulan penuh).

Caranya, kunjungi situsnya able.co.jp, lalu cari lokasi yang diinginkan, pilih kriteria yang diinginkan (harga, luas,bentuk, fasilitas, dll), kemudian catat data apato yang diminati, lalu datangi cabang kantor Able yang terdekat. Di sana akan dilayani lebih cepat jika data apato yang diminati sudah ada datanya.

Bentuk apato di Jepang biasanya ditandai dengan deretan angka dan huruf.
Misalnya saja 1R, 2K, 3LDK, dst.
Penjelasan:
Angka menandakan jumlah kamar, e.g. 1R = satu kamar; 2DK = 2 kamar.
R berarti Room (kamar) jika tak ada fasilitas lain. Akan tetapi jika terdapat fasilitas lainnya, angka saja sudah bisa menjadi wakil jumlah kamar tanpa menambahkan huruf R.
L berarti Living-room (ruang keluarga)
D berarti Dinning-room (ruang makan)
K berarti Kitchen (dapur)

Contoh: 3LDK berarti 3 kamar + 1 ruang keluarga + 1 ruang makan + 1 dapur.

Karena agak sulit mendapatkan apato melalui able, aku juga mulai mencari lewat fudosan lain seperti mini-mini. Sayangnya agak sulit juga mendapatkan info apato lewat mini-mini. Hingga akhirnya kami mendapatkan info lewat jalan yang tak disangka-sangka.

Istriku kerja part-time mengajar bahasa Inggris dan salah satu muridnya adalah Iz-san, seorang agen real-estate senior. Sebelum memiliki usaha real-estate sendiri, dulunya Iz-san bekerja di sebuah fudosan bernama Apamanshop dan Iz-san bersedia memperkenalkan koneksinya di Apamanshop untuk membantu kami. Kami cukup beruntung dikenalkan oleh Iz-san pada pegawai Apamanshop yang cabang kantornya tak jauh dari rumah. Soalnya, Apamanshop dikenal kurang ramah terhadap orang asing dibanding Able, padahal mereka memiliki data apato lebih banyak dibandingkan Able.

Berkat koneksi Iz-san, kami diterima dan ditawarkan beberapa apato yang cukup bagus, cukup luas dengan bentuk 3DK, dan dengan harga sesuai dengan keinginan (walau harus menerima kondisi bangunan yang sudah agak tua, bangunan tahun 1980). Kami memilih 2 apato untuk dikunjungi langsung, diantar oleh pegawai Apamanshop. Akhirnya kami memutuskan setuju untuk mengambil apato yang ada di dekat stasiun KRL utama.

20140606-234526-85526511.jpg
Gambar atas adalah bentuk apartemen yang kami tempati sekarang, yaitu 3DK (3 kamar dan satu ruang makan) berada di lantai 2 dari gedung 4 lantai. Luas kamar diukur dengan satuan Jo (besar tatami). Dua kamar berlantai tatami (gambar warna hijau, 8.0 Jo dan 6.0 Jo), satu kamar berlantai kayu (gambar oranye, 3.5 Jo) dan ruang makan berlantai kayu (6.5 Jo).

Persyaratan
Tentunya untuk menyewa apato diperlukan beberapa syarat yang diminta oleh oya-san (pemilik apato) dan fudosan agak kontrak sewa bisa disetujui.
– bukti penghasilan (biasanya slip gaji)
– penjamin (kali ini, oya-san minta 2 orang penjamin)
– total uang sewa awal untuk satu bulan (uang sewa + uang parkir + uang perawatan)
– uang shikikin (uang jaminan) sebanyak 2 kali uang sewa sebulan
– asuransi apato
– jasa fudosan Apamanshop sebanyak satu kali uang sewa sebulan

Catatan: Data penjamin, termasuk tempat kerja hingga penghasilannya, tercantum di surat kontrak dengan stempel pihak penjamin.

Total dari bayaran awal untuk apato baru mencapai 280.000 yen (sekitar Rp. 32 juta).

Sebelum pindah
Sebelum pindah ke apato baru, tentunya harus membatalkan kontrak dengan pihak pemilik apato lama dan biasanya pembatalan sudah harus diinformasikan sebulan sebelumnya. Selain membatalkan kontrak apato lama, aku juga harus membatalkan langganan bulanan seperti listrik, gas, internet dan air. Semuanya kulakukan melalui telepon. Terbayang ribetnya jika tak bisa bahasa Jepang karena semua orang yang kutelepon tak ada yang bisa berbahasa Inggris.

Kemudian aku membuat perjanjian dengan pemilik apato lama untuk mengecek (inspeksi) apakah ada bagian apato yang rusak ketika aku tinggal di sana. Memang sih ada yang rusak yaitu jendela kaca yang retak gara-gara perbedaan temperatur sewaktu musim dingin, dan juga wallpaper di dinding yang tergores, termasuk juga kebersihan apato.
Sebelum inspeksi, terlebih dulu aku sudah memindahkan barang-barang ke apato baru sehingga apato lama sudah kosong melompong ketika wakil pemilik apato datang untuk inspeksi. Malah aku dan istri masih sempat bersih-bersih seharian, mengelap dapur hingga mengkilap, menggosok lantai kamar mandi hingga bersih, dll agar uang pengganti kerusakan dan kekotoran bisa diminimalisasi.
Ternyata aku lupa membaca kontrak apato karena di dalam kontrak apato terdapat poin tentang kebersihan, dimana kebersihan apato dilimpahkan ke cleaning service. Sia-sia kami capek-capek bersih-bersih karena tetap saja harus bayar jasa cleaning service.
Dan ternyata, total pembayaran (ganti kerusakan + cleaning service dan lainnya) untuk apato lama sebelum kutinggalkan sebesar 190.000 yen (kira-kira Rp. 21 juta untuk kurs hari ini), muahal banget dan jauh dari perkiraanku yang kutaksir paling tidak tak sampai 100.000.

Pelajaran penting: Jangan lupa membaca kontrak sewa apato secara keseluruhan. Kalau ada kerusakan, sebaiknya diganti sendiri karena bisa diusahakan harganya lebih murah.

Pindahan
Kalau punya uang berlebih, sebaiknya pindahan dilakukan dengan menyewa jasa angkutan yang akan mengurus pindah rumah. Jasa angkutan tersebut akan mengangkut seluruh barang dari apato lama ke apato baru, termasuk menyusunkannya sesuai keinginan. Enak khan?
Tapi kalau keuangan terbatas dan ingin berhemat, sewalah mobil pengangkut yang cukup besar, lalu minta tolong teman untuk membantu pindahan. Berhubung uang pas-pasan, aku memilih alternatif kedua dan minta temanku untuk membantu mengangkat barang dari apato lama ke apato baru.
Pada saat kami pindah, kebetulan sekali ada teman istri yang pulang ke negaranya dan meninggalkan beberapa barang yang bisa dipakai untuk mengisi apato baru. Lumayanlah, ada beberapa barang berguna yang tak perlu dibeli karena dapat lungsuran seperti ceiling lamp, meja, kursi, hingga kain gorden. Sayangnya AC (Air Conditioner) dan kompor sudah diambil orang lain. Kompor kami beli di toko barang bekas seharga 10 ribu yen, sedangkan AC masih belum dibutuhkan.
Uang sewa mobil untuk mengangkut barang (mobil Toyota Hiace) sekitar 7 ribu yen selama 12 jam ditambah beli bensin sekitar 3 ribu, total biaya pindah sekitar 10 ribu yen (kira-kira Rp. 1,1 juta).

Penutup
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, apato yang kami tinggali sekarang lebih luas dan lebih dekat stasiun utama (JR Station) yaitu sekitar 10 menit jalan kaki. Sebelah apato ada Jinja (kuil Shinto), di depan apato ada taman bermain anak kecil, di belakang ada Pachinko. Sayangnya kali ini tak seperti biasa, tak ada sungai di dekat apato baru. Mungkin Dewa Sungai sudah kurang perhatian padaku dan menggantinya dengan Dewa Judi😀

Pindahan kali ini ternyata memakan biaya cukup besar, total uang yang dikeluarkan sekitar 500,000 yen (sekitar Rp. 58 juta) dan itu jumlah yang lumayan menguras isi tabungan. Tapi itu juga berarti, kami harus giat menabung lagi… untuk biaya pindah apato di masa depan:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s