Akhirnya Saya Memilih

20140701-005054-3054442.jpg

Hingga sekarang, saya ikut Pemilu hanya sekali, itupun dulu ketika saya masih kelas 3 SMA di Belitung. Dulu saya nyoblos PPP karena permintaan nenek, maklumlah kakek saya dulunya tokoh PPP Belitung sewaktu masih jaman Orde Baru. Ketika kuliah di Bandung jaman reformasi 1999, saya juga nyoblos kalau mau dibilang ikut Pemilu. Soalnya saya nyoblos ngasal sehingga kemungkinan besar surat suaranya dihitung rusak😛

Sejak itu saya tidak pernah ikut pesta lima tahunan tersebut. Apakah saya males dan tak peduli? Tidak juga, karena saya lumayan aktif cari info peserta Pemilu pada tiap tahun Pemilu tersebut diselenggarakan. Saya tidak percaya orang-orang yang mencalonkan dirinya, baik sebagai anggota legislaif maupun presiden dan wakilnya, akan mewakili aspirasi saya. Jadinya, siapapun yang terpilih saya anggap tidak akan mempengaruhi kehidupan saya selama 5 tahun ke depan. Karena itu saya selalu tidak memilih alias golput selama 2 periode Pemilu terakhir.

Hingga akhirnya tahun ini saya melihat ada yang berbeda untuk Pemilihan Umum Presiden (Pilpres). Saya memang kembali golput untuk pileg dengan alasan yang sama. Karena tinggal di luar negeri, semua pemilih diarahkan untuk memilih caleg dapil Jakarta II. Ngapain juga saya milih caleg yang tidak satupun saya kenal. Lagipula saya bukan boneka partai manapun, dalam artian saya bukan partisan yang harus manut perintah majelis syuro lah, dewan pimpinan partai lah. Sekali lagi, saya bukan boneka partai, dan itu berarti saya bebas memilih siapa pun.

Hingga 2 bulan lalu, saya masih memutuskan untuk golput. Namun sebulan kemudian, saya tergerak untuk ikut Pilpres walau masih berstatus swing-voter. Swing-voter di sini maksudnya saya masih ragu untuk nyoblos pasangan Joko Widodo alias Jokowi-Jusuf Kalla atau nyoblos gambar kedua capres alias golput. Kenapa? Karena saya tak akan pernah memilih Prabowo sebagai presiden Republik Indonesia. Saya memiliki alasan tersendiri untuk tidak memilih Prabowo, baik secara personal maupun non-personal.

Hari ini, saya akhirnya memutuskan untuk memilih. Dan saya akui, pilihan saya kali ini tidak akan membuat saya menyesal karena saya percaya masih ada orang baik dalam politik. Walaupun yang saya pilih akan kalah. Walaupun yang tidak saya pilih itu kemungkinan besar menang dan akan menjadi presiden otoriter, karena beliau bilang bangsa Indonesia ini sedang sakit dan banyak orang Indonesia yang merasa sakit jiwa memilih beliau sebagai obatnya. Saya ingin menunjukkan bahwa jiwa dan raga saya masih sehat wal afiat. Dan setidaknya rasa nasionalisme saya yang cuma setebal buku paspor ini masih ada di dalam jiwa dan masih bisa saya salurkan demi kebaikan Republik Indonesia nun jauh di sana, walaupun mungkin tak ada gunanya.

Sedikit mengutip kata-kata Gentole via Facebook:

Segalanya, saya harap, tidak berakhir pada 9 Juli. Kalau Jokowi kalah, biar Jokowi saja yang kalah. Tapi demokrasi tidak. Keberagaman tidak. Pemberantasan korupsi juga tidak. Jokowi memang bukan juru selamat yang akan menyelamatkan Indonesia sendirian. Dia orang biasa, seperti kita semua—boleh jadi medioker dan mungkin insecure. Pencapaian terbesar Jokowi itu bukan apapun yang dia capai di Solo dan Jakarta, yang mungkin tidak seberapa bagi sebagian orang. Jasa terbesar Jokowi adalah membuat kita percaya bahwa ada orang baik dalam politik; dan bahwa ada harapan untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik; dan bahwa selama ini apatisme politik betul-betul hanya memberi jalan pada oligarki dan bajingan politik untuk mengambil semua keputusan penting bagi kita.

Jokowi boleh kalah pemilu. Tapi jangan biarkan demokrasi kalah. Jangan biarkan harapan kita untuk Indonesia yang lebih baik dipadamkan!

3 thoughts on “Akhirnya Saya Memilih

  1. Dikirain mau menceritakan bagaimana teknis pelaksanaan pemilu di sono🙂
    Gw juga swing-voter dan masih terombang-ambing juga, hehe..

    • Teknisnya sih ada dua doang: bisa minta kirim surat suara ke rumah atau pilih langsung di TPS. Masalahnya, TPS cuma buka di tokyo dan osaka. Jauh! Mending kirim pos aja, toh gratis dan dikasih perangko buat kirim balik.

      Emangnya ibu Al terobang ambing antara milih siapa? Apa kayak saya yang bingung mau pilih nomer 2 atau golput aja?:mrgreen:

      • Bingung antara nyontek bilik tetangga atau tusuk semuanya aja :p
        Tapi akhirnya saya pilih titipan kawan yang tau mau milih siapa, tapi dia gak punya hak pilih, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s