Catatan Akhir Pilpres 2014

Seperti apa yang telah saya tulis sebelumnya, saya memilih pasangan capres nomor urut 2 Jokowi-JK lebih dikarenakan saya tak ingin melihat pasangan capres Prabowo-Hatta Rajasa naik menjadi penguasa Republik Indonesia. Saya bukanlah pendukung Jokowi-Jusuf Kalla, karena itu pula saya tak merayakan keputusan KPU yang memenangkan mereka dalam Pilpres 2014. Bagi saya, ketika Joko Widodo resmi diangkat menjadi presiden RI, saat itu juga saya jadi oposisi. Dukung jika Jokowi bertindak benar dan kritik jika Jokowi bertindak salah. Rekam jejak Jokowi dalam menghadapi kritikan cukup adem, santun dan tidak main kasar. Ini juga salah satu alasan kenapa saya mencoblos capres nomor urut 2.

Salah satu teman facebook saya, seorang dosen berpendidikan Doktor pendukung Prabowo-Hatta mengatakan, “Siap-siap saja kecewa ketika presiden idola anda menerapkan kebijakan yang tidak sesuai harapan (menaikkan harga BBM alias Bahan Bakar Minyak, pajak, listrik, dll).”
Bagi saya pribadi, ini adalah pemikiran yang na’if. Walaupun memang ada kemungkinan masyarakat berpikiran seperti apa yang dikatakan teman facebook saya tersebut, terutama bagi masyarakat yang kurang berpendidikan.
Padahal, siapapun presidennya akan melakukan kebijakan yang non-populis seperti menaikkan harga BBM jika memang situasinya menuntut demikian.
Mengapa?
Negara ini butuh uang untuk menutupi ongkos pelaksanaan kerja pemerintahan. Dari mana lagi uang pemasukan untuk negara jika bukan dari pajak, pengurangan subsidi BBM yang memberatkan keuangan negara, dll. Toh seperti biasanya, masyarakat mau tidak mau harus menerima konsekuensi naiknya biaya pengeluaran dan ujung-ujungnya akan terbiasa dengan kondisi demikian. Tentunya hal ini harus diselaraskan dengan peningkatan penghasilan masyarakat.
Memangnya mana yang lebih mending? menaikkan pajak, harga BBM dan lain-lain atau jual aset negara gara-gara kas negara kosong? Realistis saja lah!

Karena saya bukan pendukung Jokowi-JK pula, harapan saya pada mereka tidaklah muluk-muluk. Saya tidak berangan-angan terlalu tinggi pasangan Jokowi-JK bisa mengantarkan Republik Indonesia menjadi adil, makmur dan sejahtera dalam lima tahun. Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan waktu dan proses sangat panjang. Harapan saya, cukuplah negara Indonesia ini bisa diatur tertata rapi dan efisien birokrasinya agar prosesi jalannya roda pemerintahan bisa lancar, sehingga dengan demikian rakyat Indonesia bisa menjalankan perannya masing-masing sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing. Tugas pemerintah adalah menyediakan ruang dan jalan, sedangkan untuk memajukan negara adalah tugas seluruh rakyat Indonesia. Saya sadar kalau Jokowi dan Jusuf Kalla bukanlah manusia sempurna, bukan superhero, bukan pula ratu adil. Yang paling penting adalah kemauan untuk introspeksi diri, menerima kritikan dan saran, serta keinginan untuk selalu berkembang menjadi lebih baik.

Pilpres 2014 ini memang berbeda dibanding 2 pilpres periode sebelumnya. Lebih rame, lebih heboh, lebih menegangkan dan juga lebih menyeramkan.
Transparansi yang dilakukan KPU dengan menerbitkan scan form C1 untuk publik menyebabkan masyarakat umum bisa langsung memantau jalannya perhitungan surat suara. Dengan demikian, sulit untuk berbuat curang dengan cara memanipulasi surat suara yang telah dihitung di TPS karena hasilnya langsung dipublikasikan ke publik oleh KPU. Hasilnya, bermunculan lah relawan-relawan pekerja IT membuat program crowdsource untuk menghitung langsung surat suara berdasarkan scan form C1 yang dipublikasikan KPU sekaligus juga bisa dikonfirmasikan langsung oleh relawan-relawan yang hadir di TPS untuk mendeteksi kesalahan. Saya mengikuti 2 situs crowdsource pemilu hingga akhir yaitu Kawalsuara dan Kawalpemilu. Jarang sekali saya bangga dengan ke-Indonesiaan saya, tapi kali ini saya bangga dan salut terhadap orang-orang Indonesia yang terlibat dalam proses crowdsourcing ini.

Selain transparansi, fenomena lain yang menarik adalah proses hitung cepat (quick count) yang berbasis statistik membuat masyarakat mulai melek matematika statistik. Hitung cepat bukanlah proses menebak asal-asalan melainkan menggunakan dasar-dasar ilmiah berdasarkan sebaran sampel yang diambil untuk memperkirakan total hasil akhir. Gara-gara klaim hitung cepat yang berbeda tiap pendukung capres, orang-orang penasaran dengan metoda hitung cepat ini dan mulai memiliki minat untuk belajar dasar-dasar statistik. Mudah-mudahan saja Pemilu 2019 mendatang, masyarakat Indonesia berminat belajar teori evolusi hingga fisika kuantum gara-gara ribut-ribut pilpres😀

Sisi gelap pilpres 2014 adalah fitnah dan kampanye hitam yang sangat masif, baik via media elektronik maupun media cetak. Bukan hanya si capres saja yang menjadi korban kampanye hitam ini, masyarakat biasa yang hanya mendukung si capres juga menjadi korban. Contohnya saja mbak Ucu Agustin dan mbak Pratiwi ini. Walaupun masa kampanye dan pilpres telah selesai, efek dari kampanye hitam ini tidak hilang. Kebencian dan kesumat yang ditanamkan kampanye hitam bagaikan keropeng koreng yang membekas. Saya khawatir hal ini akan menanamkan benih perpecahan di masa depan dan efeknya mengerikan bagi persatuan Indonesia. Semoga saja kekhawatiran ini tidak menjadi kenyataan.

Terakhir yang ingin saya singgung di sini. AFTA akan diberlakukan penuh (termasuk untuk Kamboja, Myanmar, Laos dan Vietnam) mulai tahun 2015. Siap atau tidak, Indonesia sudah menandatangani perjanjian pada tahun 1992 dan harus mengikutinya. Dengan adanya AFTA, Indonesia akan dibanjiri barang-barang impor negeri tetangga dengan harga kompetitif dan akan bersaing langsung dengan produk dalam negeri, tak ada proteksi penuh lagi dari pemerintah. Namun masalah yang paling penting dari AFTA ini adalah Sumber Daya Manusia (SDM) kalau orang Indonesia tidak ingin menjadi kuli di negaranya sendiri. Dengan adanya AFTA, isyu tenaga kerja outsourcing juga akan muncul lebih marak karena persaingan tenaga kerja murah dalam area pasar bebas mau tidak mau akan memakai tenaga kerja outsourcing. Negara maju seperti Jepang saja masih menggunakan tenaga outsourcing yang disebut Hakken Sha-in, hanya saja pendapatan Hakken Sha-in tak kalah dengan pekerja tetap (sering kali malah lebih besar) karena mereka tak mendapat hak pekerja tetap seperti misalnya asuransi kesehatan.
Jadi siapapun presidennya, mau Prabowo atau Jokowi, rakyat Indonesia akan menghadapi AFTA yang sudah ada di depan mata! Yang akan bekerja keras adalah rakyat Indonesia, dari level pimpinan hingga level akar rumput.
Siapkah SDM Indonesia bersaing dengan SDM negeri tetangga?

Akhir kata, saya ucapkan selamat kepada bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla atas terpilihnya anda berdua menjadi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Ketika anda dilantik dan resmi menjabat, saat itu pula saya menjadi bagian oposisi yang akan mengawasi tugas berat yang kalian jalankan.

IMG_6202

NB.
Di sisi lain, banyak fenomena unfriend terjadi di media sosial facebook gara-gara beda pilihan capres dan saya termasuk diantaranya. Saya hanya melakukannya satu kali, tidak hanya saya unfriend melainkan langsung block. Sebut saja namanya Cik, seorang kader PKS. Saya tidak keberatan berdiskusi adu argumen selama yang diserang adalah pendapat yang bersangkutan. Bahkan jika adu argumen memanas, ejek-ejekan sering kali terlontar dengan catatan argumen pihak lawanlah yang diejek. Beberapa kali saya ikut perang komentar, adu argumentasi, tapi tidak ada yang merasa tersinggung karena yang diserang adalah argumennya. Masalahnya Cik ini tiba-tiba datang masuk gelanggang adu argumentasi dan menyerang saya secara personal (note: latar belakang data pribadi), sebuah Ad Hominem yang paling tidak saya sukai. 2 minggu penuh waktu yang saya pakai untuk mempertimbangkan sebelum akhirnya saya putuskan untuk block akun yang bersangkutan. Setelah itu, karena saya tak menginginkan kejadian yang sama, saya akhirnya deaktivasi akun facebook hingga masa Pilpres 2014 berakhir. Untuk Pak Cik, saya kira silaturrahmi di dunia nyata jauh lebih bermanfaat dibanding dunia maya. Kalau kita bertemu muka, saya pastikan akan menyapa anda dengan hangat walau block facebook tetap saya berlakukan demi privasi saya sendiri di dunia maya.

7 thoughts on “Catatan Akhir Pilpres 2014

  1. Setahunan nonton film perang Korea membuatku tersadar akan bahayanya politik praktis, bahkan di level akar rumput sekalipun. Fenomena unfriend-unfriendan ini cuman level kecilnya. Level besarnya bisa bikin bunuh-bunuhan dan keluarga terpecah belah. Makanya aku ga minat mengungkapkan pilihanku di media sosial…walaupun ya dengan risiko dibilang apatis lah, apatos lah, …bahkan sama orang-orang yang aku yakin memiliki pilihan yang sama denganku.😆

    Politik praktis bukan penyebab pemutus hubungan. Itu cuman katalisator; potensi terputusnya hubungan sudah ada sejak awal.😛

    Soal tenaga kerja asing: waktu aku pulang kampung tahun 2012 (bukan yang barusan ini), aku main2 ke RS tempat ibuku kerja. Bukan RS besar. RS pemerintah, dan tempatnya malah agak jauh dari Jogja, di jalan menuju Magelang. Kaget aku. Beberapa koas? Kerja praktek? Apalah itu namanya, dari Malaysia. Wah keren juga.😆

    #malahcurhat

    • @lambrtz

      Fenomena unfriend-unfriendan ini cuman level kecilnya. Level besarnya bisa bikin bunuh-bunuhan dan keluarga terpecah belah.

      Situ bikin saya ketakutan nih. Untungnya saya orang kecil berlevel kecil, jadinya cukup anpren anprenan.

      Makanya aku ga minat mengungkapkan pilihanku di media sosial…

      Jujur aja. Di akun si Ayus gak saya ungkapin dengan jelas sih, sampai saya sendiri akhirnya deaktivasi gara2 peristiwa di atas. Koar2 status apdet juga nggak segitunya, masalahnya saya gatel ngasih komen sarkas. Soal ngasih tau pilihan, cuma akun Ando Kun aja yang terang2an sejak awal karena kawan2 friendlist yang sudah dipercaya😛

      walaupun ya dengan risiko dibilang apatis lah, apatos lah

      Astaga.. Situ beneran percaya istilah “diariskan” itu beneran serius?😮

      Politik praktis bukan penyebab pemutus hubungan. Itu cuman katalisator; potensi terputusnya hubungan sudah ada sejak awal

      Hehehe… tebakanmu benar. Pak Cik itu emang dari awalnya udah seperti itu, tinggal nunggu moment aja. Padahal di kehidupan nyata, orangnya biasa aja.

      Soal tenaga kerja asing: waktu aku pulang kampung tahun 2012 (bukan yang barusan ini), aku main2 ke RS tempat ibuku kerja. Bukan RS besar. RS pemerintah, dan tempatnya malah agak jauh dari Jogja, di jalan menuju Magelang. Kaget aku. Beberapa koas? Kerja praktek? Apalah itu namanya, dari Malaysia.

      Dari Malaysia yah? AFTA untuk 6 negara pendiri ASEAN sudah berlaku sejak 2010 sih, jadinya wajar aja SDM Malaysia udah mulai “menyerbu” Indonesia. Mulai tahun 2015 ini, seluruh negara ASEAN udah mulai memberlakukan zona pasar bebas. Yang paling mengkhawatirkan itu buruh Vietnam. Mereka dikenal pekerja keras, rajin dan mau dibayar murah (biaya hidup di Vietnam emang lebih murah sih, bahkan dibanding Indonesia). Barusan saja di status facebook temanku, ada kenalannya yang aktivis buruh komentar petantang petenteng membuli soal Jokowi dan program2nya. Pas ku mention tentang AFTA, dianya nggak ngeh. Padahal AFTA itu isyu yang krusial buat buruh.

    • Situ nyoblos Jokowi toh. Jokowi juga dulunya orang kecil. Situ mungkin orang kecil sekarang, tapi sepuluh dua puluh taun lagi, situ bisa aja jadi gubernur Bangka Belitung, atau malah nyalonken jadi presiden. Dan maka mulai saat itu…:mrgreen:

      (teringat ceritanya Mbak itikkecil soal pengalaman ibunya nonton seseorang diam saja ketika saudaranya digebukin gara-gara berbeda haluan waktu pemberontakan PRRI atau apa dulu itu)

      Soal diariskan: “akting” Aris meyakinkan sekali hehehe. Mungkin dia jenuin, mungkin dia tidak. Susah aku menganalisisnya. Tapi anyway, kalo aku di posisi dia waktu itu, walaupun biasanya cuek, bisa aja pada saat tertentu jadi tersinggung toh.😛 Apalagi kalo lagi PMS.

      • @lambrtz
        Walah mbe, saya ini nggak tertarik jadi politisi. Setidaknya untuk saat ini.

        Soal akting Aris, saya sih ikut arus permainan saja😛
        Lumayanlah, buat pelepas mumet copras capres😈

  2. Gua bersyukur banget pilpres udah lewat. Kali ini gua apatis. Bukan karena gak tahu mau milih yang mana, tapi gua tahu kalau gua gak mau milih dua-duanya. Alhamdulillah, selesai juga. Kita akan punya presiden baru, dan kota yang sekaligus kampung halaman gua akan punya gubernur baru yang menurut gua lebih mampu memimpin daripada yang akan meninggalkan jabatannya🙂

    • @AL
      Saya juga lega walaupun ternyata masih ada aja yang belum move on. Kayaknya nunggu keputusan MK keluar, baru bisa lewat. Walau masih ada kemungkinan mau gugat lagi ke Tuhan. Atau kudeta? Wallahualam, moga2 nggak deh.
      Saya udah 2 kali pilpres jadi apatis, kali ini saya putuskan memilih😀
      Oh ya, setelah kampanye hitam copras capres, sekarang muncul lagi isyu kristenisasi gubernur jakarta yang baru. Gak abis abis ya? Emang orang Indonesia hobi meng-ghibah kali?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s