Tips Memotret Kembang Api

Salah satu tantangan bagi fotografer pemula adalah memotret kembang api dengan kamera DSLR. Ada beberapa tips tentang komposisi hingga setting kamera dari fotografer profesional yang diberikan lewat rekaman youtube, blog, maupun tulisan mereka di media. Beberapa diantaranya pernah kupakai sebagai basic knowledge untuk mempersiapkan sesi pemotretan kembang api pertamaku. Misalnya 2 tips fotografer di bawah ini:

1. Blog Ken Rockwell
2. Video Michael The Mentor

Sayangnya, tips para profesional itu tidak selalu sesuai dengan kondisi yang kita hadapi di lapangan sewaktu sesi pemotretan. Contohnya saja tips pertama dari Michael The Mentor yang menyarankan mencari lokasi spesifik dengan bangunan khas atau landmark sebagai background/foreground kembang api. Jika ada pesta kembang api di sekitar candi Borobudur atau monas (monumen nasional) di Jakarta, tentunya dengan senang hati bangunan tersebut bisa dijadikan penghias kembang api. Bagaimana jika tak ada bangunan khas? Seperti misalnya di Jepang, sering kali pesta kembang api dilaksanakan di tepi pantai atau di pinggir sungai yang tak memiliki landmark khas. Oleh karena itu, di sini aku menuliskan pengalamanku sebagai fotografer pemula ketika memotret kembang api dengan kamera DSLR dalam sembilan point.

1. Posisi.
Seperti kata Michael, carilah posisi yang memiliki landmark atau bangunan khas di sekitar lokasi kembang api atau setidaknya latar bangunan kota. Jika tidak ada, anda bisa mengambil foto kembang apinya saja tanpa background bangunan khas, yang penting foto kembang api yang dibidik tidak terhalang benda-benda seperti ranting pohon, tiang listrik atau seliweran kabel telepon. Posisi menentukan prestasi hasil jepretan.

IMG_2064.JPG

Posisi kurang pas karena frame terganggu kabel telepon dan tangan. Lokasi: Okazaki Hanabi Taikai 2014

2. Matikan flash.
Karena pijaran flash akan membuat gambar terlalu terang, toh kembang api sendiri sudah memancarkan cahaya terang.

3. Gunakan tripod.
Untuk mendapatkan ekor pijaran kembang api yang bagus, dibutuhkan shutter-speed lambat. Biasanya sekitar 1-5 detik atau malah ada yang mensetting lebih lama hingga 20 detik tergantung selera si fotografer. Supaya kamera tidak bergoyang sewaktu memotret pada shutter-speed lambat yang bisa mengakibatkan gambar blur berbayang, sebaiknya kamera diletakkan di atas tripod yang stabil. Tentunya tak perlu tripod bila anda mampu menahan kamera dengan tangan tanpa bergerak hingga 1 detik atau lebih. Saya pernah mencobanya hand-held selama 1 detik, kadang berhasil tapi lebih sering lagi gagal. Dengan tripod, kamera dijamin lebih stabil daripada hand-held.

Hasil hand-held 1 detik yang berhasil, sisanya blur. Lokasi: Wansaka Hanabi Taikai 2014

Hasil hand-held 1 detik yang berhasil, sisa hasil jepretan lainnya blur.
Lokasi: Wansaka Hanabi Taikai 2014

4. Gunakan wide-angle lens
Walaupun disarankan menggunakan wide-angle lens, anda juga bisa menggunakan normal lens atau telephoto lens dengan focal length pendek. Wide-angle lens berguna untuk menangkap suasana lingkungan di sekitar pesta kembang api jika ada bangunan khas atau landmark. Tapi jika hanya ingin mengambil gambar portrait, prime lens dan telephoto lens juga bisa dipakai. Kelebihan wide-angle lens dibanding yang lain, anda bisa meng-crop hasil foto jika ingin mengambil komposisi portrait kembang api. Lagipula jika posisi anda terlalu dekat dengan lokasi peluncuran kembang api, hanya wide-angle lens yang bisa meng-capture seluruh area pijaran ledakan kembang api.

Foto wide-angle lens yang di-crop.

Foto wide-angle lens yang di-crop. Lokasi: Oiden Hanabi Taikai Toyota 2014

5. Atur fokus ke pijaran kembang api.
Ken Rockwell menyarankan agar fokus kamera diatur ke infinity tak terhingga), tapi aku justru kesulitan mendapatkan gambar tajam dengan fokus infinity. Kebetulan pada sesi pemotretanku yang pertama, aku menemukan cara lain yang membuat gambar kembang api tajam.
Pertama, set kamera dengan auto-focus. Lalu pada ledakan kembang api yang pertama atau kedua, atur fokus lensa ke pijaran kembang api di langit hingga lock (terkunci).
Kedua, setelah fokus terkunci pada pijaran kembang api, set kamera menjadi manual-focus lalu biarkan jangan diubah dan terus gunakan fokus tersebut hingga sesi pemotretan berakhir. Dengan demikian anda akan mendapatkan gambar kembang api yang tajam.

Testing kembang api di sore hari, sebelum acara dimulai

Testing kembang api di sore hari, sebelum acara dimulai. Ledakan kembang api pertama ini kupakai untuk mengatur fokus dengan auto-focus. Setelah fokus di-locked pada pijaran kembang api, kamera di-setting menjadi manual-focus. Lokasi: Okazaki Hanabi Taikai 2013

6. Manual setting (atur ISO dan aperture).
Gunakan manual setting lalu atur ISO dan aperture dengan komposisi pas.
Set ISO ke yang paling rendah. Pakai ISO 50 jika ada, kalau tidak ada silahkan pakai ISO 100 atau ISO 200 tergantung kamera yang anda miliki. ISO rendah akan menghasilkan gambar jernih. Lagipula ISO tinggi tak diperlukan karena kembang api sendiri sudah cukup terang untuk ditangkap kamera dengan shutter-speed lambat.
Set aperture pada angka cukup besar, mulai lah dari f/4.5 dan cek terus hingga f/16. Ambil angka aperture yang paling pas dengan selera anda. Jika terlalu gelap, kecilkan angka aperture ke f/4.5. Jika terlalu terang, besarkan angka aperture ke f/16. Kalau anda bingung, pilih saja antara f/8 hingga f/11.

7. Bulb setting.
Kalau anda punya Bulb setting di kamera anda, gunakanlah dan samakan setting kamera sesuai dengan poin ke-6. Kalau anda punya cable release atau remote control, itu akan sangat memudahkan karena menghindari goncangan kamera.
Kalau anda tak punya Bulb, cable release atau remote control, anda bisa set shutter-spedd lambat sesuai keinginan anda (kusarankan antara 3-10 detik).

8. Timing.
Tekan shutter pembuka sejak kembang api diluncurkan dari bawah supaya ada jejak cahaya mirip ekor pada kembang api. Makin lambat shutter-speed, makin banyak pijaran kembang api yang terekam kamera dan semakin crowded pula frame foto anda dengan pijaran kembang api. Tapi ingat, kadang kala pijaran kembang api terlalu crowded dalam satu frame justru membuat foto terlihat berantakan.

Jejak ekor kembang api dari awal peluncuran. Lokasi: Oiden Hanabi Taikai Toyota.

Jejak ekor kembang api dari awal peluncuran.
Lokasi: Oiden Hanabi Taikai Toyota 2014.

9. Trial and Error.
Dalam satu sesi pemotretan, jumlah foto yang kujepret minimal 40-50 gambar dan mayoritas gambar tersebut kubuang karena setting dan komposisi yang tidak pas atau malah jelek. Paling cuma 5 foto saja yang kuambil dan hanya 2 foto terbaik saja yang kupakai.
Jadi, jangan dianggap foto hasil jepretan semuanya akan bagus. Tampilkan saja foto terbaik, buang yang jelek, simpan yang lumayan jika anda suka. 90 persen hasil foto kembang api yang kuambil kubuang karena kuanggap gagal.

Penutup.

Sembilan point di atas adalah dasar-dasar teknik memotret kembang api dengan menggunakan kamera DSLR berdasarkan pengalamanku dalam mengaplikasikan tips dari fotografer profesional. Tentunya masih ada teknik yang lebih advance yang mungkin lebih ribet untuk diaplikasikan oleh fotografer amatir. Bila anda memiliki pengalaman dan ada trik yang lebih oke untuk dibagikan, silahkan tambahkan dalam kolom komentar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s