Terjengkang

Hari minggu lalu, aku diajak teman ke ski resort untuk main snowboard di Hiraya Kougen Nagano. Mumpung masih musim dingin ceritanya. Masalahnya aku sama sekali belum pernah mencoba bermain snowboard, jadinya terlebih dahulu mempersiapkan diri dengan nonton video youtube berjudul snowboard for beginners. Kelihatannya sih gampang, tapi kan para instruktur dalam video itu sudah bertahun tahun bermain snowboard.

Akhirnya aku bersama satu orang Indonesia dan satu orang Malaysia berangkat jam 9:30 pagi. Perjalanan memakan waktu 3 jam untuk sampai di Hiraya Kougen. Sampai di ski resort, kami pergi ke toko rental karena aku tak punya peralatan untuk bermain snowboard. Aku menyewa satu set berupa snowboard dan sepatu khusus snowboard untuk satu hari seharga 3500 yen. Lalu kami membeli tiket ropeway untuk mengantar kami ke atas puncak bukit.

IMG_2379

Hiraya Kougen Ski Resort di prefecture Nagano

 

Tadinya kukira temanku akan megajari aku di bawah bukit terlebih dahulu, tapi ternyata mereka langsung naik ke atas bukit. Kata temanku kalau ingin cepat bisa, aku harus langsung belajar di lereng gunung sekalian. Kalau ingin belajar pelan-pelan, belajarnya di bawah bukit yang datar. Tak punya pilihan lain, akupun ikut naik bersama mereka dengan menggunakan ropeway. Di atas bukit, aku hanya diajari satu hal saja yaitu “bagaimana bisa berdiri di atas snowboard tanpa jatuh dengan cara mengerem kecepatan peluncuran” dan itu ternyata susah sekali. Setiap kali berdiri, otomatis snowboard bergerak meluncur menuruni lereng bukit dan aku langsung hilang keseimbangan dan terjengkang. Entah berapa kali aku jatuh bangun sampai pantatku yang tadinya nyeri mulai mati rasa saking dinginnya. Lalu dua temanku itu mulai meluncur turun ke bawah meninggalkan aku yang masih latihan berdiri di atas bukit.

Waduh, kalau ingin turun dari puncak bukit, mau tak mau aku harus menggunakan snowboard padahal hanya untuk berdiri saja masih terjengkang berkali-kali. Akhirnya nekad, aku mulai menuruni lereng bukit sambil berulang kali terjengkang jatuh bangun. Di kanan kiriku terlihat anak-anak kecil umur 5-7 tahun dengan lancarnya meluncur mulus sambil tertawa-tawa. Busyet, umur berapa mereka mulai berlatih ya? Jangan-jangan emang bawaan dari DNA bokap nyokapnya dari orok.

Turun dari atas bukit pertama kali benar-benar siksaan. Ketika berdiri, otomatis gravitasi membawa snowboard-ku meluncur kencang dan membuatku gugup hingga hilang keseimbangan. Terjengkang lagi. Lagipula mendingan menjatuhkan diri ketika kecepatan masih belum kencang-kencang amat daripada nabrak pohon atau orang lain karena tak bisa mengerem. Tapi ketika sampai di bawah lereng, aku malah penasaran dan naik lagi ke puncak bukit.

Luncuran terakhir akhirnya bisa tetap berdiri di atas snowboard selama belasan detik.

Luncuran terakhir akhirnya bisa tetap berdiri di atas snowboard selama belasan detik.

Bolak-balik naik turun bukit hingga 4 kali, barulah aku mulai menikmati dan bisa sedikit mengontrol kecepatan luncuran dan mulai tahu cara mengerem. Lumayan lah, akhirnya aku bisa snowboarding selama belasan detik di jalur landai walau harus terjengkang juga agar bisa berhenti meluncur, namanya juga belum bisa ngerem dengan mulus.

Next time, aku harus mulai bisa mengendalikan arah luncuran. Nonton video tutorial snowboarding lagi di youtube supaya nantinya bisa dipraktekkan.

Keesokan harinya, barulah efek snowboarding di hari minggu terasa. Badan linu semua, dari sendi, perut leher, pokoknya semuanya lah. Kayaknya habis snowboarding paling enak mandi air panas dan berendam di onsen (pemandian air panas).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s