Krisis Identitas

IMG_0397

Hiro

Sebut saja namanya Hiro. Dia setengah Jepang setengah Filipina yang kerja sebagai tenaga outsource. Hiro berasal dari keluarga broken home, ibunya (Filipina) pergi meninggalkan keluarganya dan dia bilang sekarang entah ada di mana. Sedangkan ayahnya (Jepang) kawin lagi dengan wanita Jepang dan sudah punya keluarga sendiri.

Hiro lahir di Filipina dan diboyong ke Jepang ketika usianya setahun. Umur 5 tahun Hiro balik ke Filipina sebagai orang Jepang (maksudnya berkewarganegaraan Jepang) dan menetap bersama kakek neneknya di Filipina hingga umur 17 tahun. Tentu saja tinggal selama 12 tahun di Filipina sebagai warna negara Jepang adalah tindakan ilegal dan Hiro boleh dibilang sebagai pendatang haram di Filipina. Untunglah tampang Hiro lebih mirip dengan orang Filipina, ditambah besar di sana membuat tak ada pihak yang curiga.

Entah dengan akal-akalan apa, Hiro bisa masuk sekolah dan belajar hingga SMA di Filipina. Setelah lulus SMA, Hiro yang merasa sulit mendapatkan pekerjaan dengan penghaslian yang lumayan di Filipina, memutuskan untuk kembali ke Jepang. Namanya juga kembali ke Jepang secara legal, tentu saja statusnya sebagai pendatang haram langsung ketahuan pihak imigrasi. Berhubung bertahun-tahun menjadi pendatang haram, pihak imigrasi Filipina memasukkan namanya ke daftar hitam untuk masuk ke Filipina. Dengan akal-akalan pula, Hiro mengganti cara pengucapan nama keluarganya di passport dari Oyama menjadi Ooyama sehingga bisa bolak balik Jepang-Filipina dengan visa turis yang hanya berlaku 3 minggu.

Hiro merasa identitas dirinya sebagai orang Filipina yang terjebak dalam status kewarganegaraan Jepang. Hiro komplain, entah siapa yang memutuskan dirinya harus berkewarganegaraan Jepang. Suatu hari nanti, Hiro ingin mengganti kewarganegaraannya sebagai orang Filipina. Supaya dia bisa tinggal di Filipina lebih dari 3 minggu tanpa perlu main kucing-kucingan dengan pihak imigrasi lagi.

Jerry

Lain halnya dengan Jerry yang lahir di Filipina lalu diboyong orang tuanya ke Jepang pada umur 5 tahun dan menetap di Jepang sampai sekarang (umur 15 tahun). Belasan tahun yang lalu, ayahnya yang punya darah Jepang pergi mengadu nasib ke Jepang, bekerja 1-2 tahun untuk persiapan, lalu akhirnya memutuskan memboyong seluruh anak dan istrinya ke Jepang.

Jerry dimasukkan orangtuanya ke sekolah umum Jepang dari TK, SD, SMP hingga sekarang SMA. Di sekolah dan kegiatan di luar rumah, Jerry lancar dan aktif menggunakan bahasa Jepang, baik lisan maupun tulisan. Boleh dibilang bahasa Jepang adalah bahasa utama Jerry. Di dalam rumah, Jerry berkomunikasi dengan keluarganya dengan bahasa lokal daerah asal keluarga mereka (mereka berasal dari daerah Polomolok di Mindanao), akibatnya Jerry sama sekali tak mengerti bahasa Tagalog yang menjadi bahasa nasional Filipina. Setiap kali jalan-jalan bersama keluarganya ke lokasi selain Polomolok di Filipina, Jerry tak bisa berkomunikasi dengan orang lain kecuali keluarganya. Seluruh kakaknya mampu berbahasa Inggris dengan cukup lancar, tapi kemampuan bahasa Inggris Jerry tak jauh beda dengan kebanyakan anak-anak SMA Jepang. Kakak sulungnya yang merupakan kenalanku bercerita betapa susahnya dia mengajari spelling bahasa Inggris kepada adiknya karena Jerry selalu melafal dengan cara baca katakana.

Dan sekarang, Jerry merasa dirinya orang Jepang dibandingkan orang Filipina, dan Jerry tak punya minat untuk tinggal di Filipina. Bahkan Jerry berencana untuk mengganti statusnya sebagai Permanent Resident setelah dewasa nanti menjadi warga negara Jepang. Untungnya Jerry memiliki orangtua yang pengertian. Walaupun mereka berencana untuk menghabiskan masa tua mereka di Filipina, mereka sepakat untuk mengajukan kredit membeli rumah di Jepang untuk tempat tinggal Jerry di masa depan.

——————————————————————–

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya agak khawatir dengan anak saya Reika jika dia tumbuh terlalu lama di Jepang. Saya takut dia mengalami krisis identitas seperti halnya Hiro dan Jerry karena pengaruh lingkungan tempat mereka dibesarkan. Saya ingin anak saya merasa dirinya sebagai orang Indonesia. Bukan karena nasionalisme, tapi karena mayoritas keluarga intinya tinggal di Indonesia dan saya ingin dia tinggal bersama kami di Indonesia.

4 thoughts on “Krisis Identitas

  1. Kurasa Reika akan merasa diri Indonesia karena kalian berdua sangat Indonesia. Bahasa Indonesia pasti tak masalah, apalagi kalo dia sering mudik atau dikunjungi kerabat/keluarga dari Indonesia. Hanya saja kalo hidupnya lebih banyak di Jepang maka saya tidak heran kalo andaikata kelak dia lebih kerasan “merantau” sebagai diaspora. Tapi ini banyak variabelnya, misalnya sampai kapan kalian di Jepang, situasi ekonomi global dll..

    • @jensen

      Bahasa Indonesia pasti tak masalah, apalagi kalo dia sering mudik atau dikunjungi kerabat/keluarga dari Indonesia.

      Anak temanku umur 4 tahun gak bisa (ngerti) bahasa Indonesia. Tadinya ayah ibunya ngomong campur-campur pakai bahasa Jepang dan Indonesia, dia malah kebingungan dan jadi susah ngomong. Ditambah di playgroup dan TK semuanya pakai bahasa Jepang, anaknya jadi lebih terpapar bahasa Jepang. Akhirnya ayah ibunya selalu ngomong pakai bahasa Jepang, dan anaknya jadi bisa lebih lancar ngobrol, pakai bahasa Jepang tentunya.
      Tadinya saya dan istri maunya trilingual pakai bahasa Indonesia, Jepang dan inggris. Tapi kayaknya kita lihat situasi saja dulu.😛

  2. Di tempat saya megajar, ada beberapa anak yang lahir di luar negeri, bernama khas negara tempat dia lahir (atau panggilan), kemudian orangtuanya kembali lagi ke Indonesia. Memang awal-awal selalu ada masalah dengan pembiasaan. Ada anak yg terakhir tinggal di Jerman dua tahun (ayahnya diplomat jadi dua tahun di negara ini, lalu kembali ke Indonesia setahun, pergi lagi dua tahun begitu seterusnya. Nah, ayahnya berpendapat kalau sebaiknya semua anaknya sekolah di sekolah yg Indonesia banget tiap kali mereka disini dan bukan di sekolah internasional). Ini anak baru kelas 1 SD, bulan pertama nangis terus-terusan karena gerah, bajunya harus seragam dia gak suka, terlalu pagi masuk sekolah pulangnya kesorean, musti upacara hari Senin juga pramuka, gak ngerti temennya becanda apa karena dia bicara bahasa Jerman (gurunya juga setres ini anak gak bisa bahasa Inggris pula!), dsb.. Tapi setelah satu bulan, dia sudah bisa beradaptasi. Ada anak perempuan ayahnya Indonesia ibunya Jepang. Anak perempuan biasanya butuh lebih lama dan lebih banyak konflik pula (kalo anak laki mau ngoceh bahasa apa maen bola sama aja aturannya. Anak perempuan bergaulnya kan verbal) ini pun ditambah bapaknya super sibuk emaknya gak bisa bahasa Indonesia, haduh! Tapi dua bulan kemudian, dia sudah okey walaupun emaknya masih kebingungan. Selain mereka ada juga anak-anak pindahan dari Iran, Austria, Inggris, dan Australia. Semuanya ortu asli Indonesia atau blasteran.

    Selama masih anak-anak kembali ke sini, menurut gw gak gitu bermasalah. Tapi memang ada masa-masa adaptasinya yang beda-beda tiap anak. Cuman kalo udah remaja atau dewasa, mungkin susah sepertinya.

    • @AL
      Iya bu, walau cuma mengamati secara tak langsung, saya juga berpendapat anak kecil lebih gampang beradaptasi. Mereka memang lebih cepat hapal walaupun juga cepat lupa dibanding orang dewasa. Tapi soal perbandingan adaptasi anak perempuan dan laki laki, saya baru sadar kalau prosesnya beda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s