Ramen Halal

Biasanya para traveler suka mencari dan mencoba makanan khas kota/negara yang sedang dikunjunginya. Bagi orang Indonesia, khususnya muslim, yang mengunjungi Jepang biasanya hal ini agak ribet karena cukup banyak makanan khas Jepang yang tidak halal. Salah satunya adalah ramen, makanan mie yang diadaptasi Jepang dari masakan China.

Beberapa waktu lalu, saya, istri dan anak khusus berkunjung ke kota Tokyo dan sekitarnya demi mencicip masakan halal (terutama ramen), karena kami tidak pernah menemukan restoran ramen halal yang bisa dimakan di daerah Nagoya dan sekitarnya. Di bawah ini ada beberapa restoran ramen yang membuat kami cukup berkesan.

1. Menya Kaijin (Shinjuku)

Restoran ini terletak di dekat Shinjuku station, tak jauh dari pintu keluar tenggara stasiun (Tounan Guchi). Terletak di lantai 2, restorannya agak kecil dan mejanya hanya sedikit sehingga kalau antrian masuk agak panjang, terpaksa harus mengantri berdiri di tangga masuk restoran. Bagi yang tak bisa baca huruf Jepang, agak sulit menemukan restoran ini karena papan nama restoran ditulis dalam huruf Jepang tanpa huruf latin.

Menurut saya, restoran ini paling enak diantara beberapa restoran ramen yang saya coba. Ramen yang biasanya dibuat berdasarkan kaldu dan daging babi, di restoran ini dibuat berdasarkan ikan. Restoran menggunakan ikan yang berbeda setiap hari dan pada saat saya makan di sana, kebetulan ikan yang digunakan adalah salmon. Karena ini shio ramen, kuah ramen ikan adalah kuah bening. Topping ada 2 yaitu topping ayam dan topping udang. Kalau anda tidak makan ayam non-halal, anda bisa minta ganti topping ayam menjadi topping udang saja.

Restoran ini tidak memberikan jaminan halal, mereka hanya memberikan jaminan pembuatan ramen berbasis ikan dan ternyata banyak orang Jepang yang suka dengan jenis ramen ini. Ketika saya makan di sana sekitar jam 10 malam, masih ada 6 orang yang antri berdiri di tangga masuk. Entah jika jam makan siang/malam, mungkin antrian lebih panjang lagi.

Shio Ramen di kedai Menya Kaijin Shinjuku



2. Komurasaki Kumamoto Ramen (Ramen Museum Shin-Yokohama)

Restoran ini agak melipir keluar kota Tokyo, tepatnya kota Yokohama. Ramen Museum adalah kumpulan restoran ramen yang terletak dekat Shin-Yokohama station, hanya 5 menit jalan kaki dari stasiun. Salah satu restoran yang ada dalam Ramen Museum adalah restoran Komurasaki yang menjual Kumamoto Ramen vegetarian. Selain Komurasaki, ada juga restoran lain yang menjual ramen vegetarian, tapi menurut saya Komurasaki ini yang paling enak dan memang direkomendasikan juga oleh teman-teman saya yang lain.

Kumamoto ramen yang dijual di Komurasaki ada 2 jenis yaitu original dan vegetarian, dan hanya versi vegetarian yang bisa saya makan karena kaldu yang dipakai non-daging (tentunya juga non-babi). Mereka menggunakan kaldu berbahan kedelai dan topping yang dipakai juga menggunakan bahan dasar kedelai yaitu topping tahu. Berbeda dengan Kaijin ramen yang kuahnya bening, Komurasaki menyediakan ramen berkuah creamy karena bahan dasarnya kedelai. Kata teman orang Jepang, rasa Kumamoto ramen original dan versi vegetarian ini tak jauh berbeda.

Masuk ke Ramen Museum menggunakan tiket masuk seharga 310 per orang dewasa (tidak termasuk bayar makan di restoran), karena Ramen Museum bukan hanya sekedar mengumpulkan restoran ramen melainkan mirip dengan amusement park.
Ramen Museum terdiri dari 3 lantai yaitu lantai dasar untuk pintu masuk, dan 2 lantai bawah tanah tempat restoran. 2 lantai bawah tanah ini ditata sedemikian rupa hingga mirip dengan suasana Yokohama tahun 1960-70an. Konsepnya lumayan menarik dan bisa dijadikan lokasi untuk foto.

Kumamoto vegetarian Ramen, di Komurasaki

Komurasaki Kumamoto vegetarian Ramen, di Ramen Museum

Suasana bawah tanah Ramen Museum. Bagian langit-langit digambar dengan lukisan langit biru dan awan, sedangkan bagian bawah ditata seperti suasana Yokohama tahun 1960-70an


3. Ka Ta Ta (Roppongi)

Tidak seperti 2 restoran di atas, Ka Ta Ta terletak agak jauh dari stasiun Roppongi sehingga aku butuh bantuan map dalam smartphone untuk menemukannya. Butuh 15 menit jalan kaki dari Roppongi station untuk sampai ke restoran, walau menurut temanku bisa ditempuh 10 menit kalau memotong jalan masuk dan lewat ke dalam Roppongi Hill.

Ka Ta Ta adalah restoran masakan China dan mereka menempelkan tulisan halal (termasuk daging yang digunakan). Karena ini restoran masakan China, jadinya bisa sekalian pesan Gyoza alias dumpling. Gyoza yang disuguhkan ada 3 jenis yaitu isi daging ayam, isi daging kambing dan isi campuran daging ayam dan kambing. Saya memesan Gyoza campuran ayam/kambing dan menurutku rasanya lumayan enak, malah sempat nambah 1 porsi. Untuk ramen, saya memesan ramen daging sapi pedas, sementara istri memesan ramen daging sapi biasa. Saran saya, jangan pesan ramen pedas karena rasa kaldu dan daging sapinya akan hilang dikalahkan rasa cabe, jauh lebih mending pesan ramen yang biasa (tanpa cabe). Saya sih lumayan suka dengan ramen daging sapi Ka Ta Ta (yang tidak pedas) walau tak senikmat dua ramen di atas.

Ka Ta Ta ramen daging sapi pedas

Ka Ta Ta ramen daging sapi pedas

4. Tokyo Muslim Chinese Restaurant (Kinshi-cho)
Letak restoran ini tak jauh dari Kinshi-cho station, hanya 3 menit jalan kaki. Restoran ini baru berdiri tahun 2014 dan memiliki sertifikat halal dengan juru masak Chinese muslim.

Kali ini kami makan malam bukan dengan ramen tapi nasi karena sudah 2 hari berurutan kami makan ramen melulu. Karena itu kami memesan Gyoza (daging kambing) sebagai apetite, nasi dan lauknya berupa tumis sayur daging sapi dan masakan rekomendasi dari sang chef yaitu daging domba panggang yang harganya lumayan mahal (karena mahal, kami cuma pesan setengah porsi). Si nyonya lebih suka Gyoza di sini dibanding Ka Ta Ta walaupun menurutku Gyoza Ka Ta Ta lebih enak karena lebih kering. Tumis sayur dagingnya biasa saja malah agak keasinan, tapi daging domba panggang rekomendasi chef emang enak. Karena rasanya emang sesuai dengan harganya, kami merasa lumayan puas dengan masakan domba panggang.

Ruang restoran cukup luas bisa menampung banyak tamu, agak ribut karena suara musik diperdengarkan lumayan keras (mungkin karena ada sekelompok orang-orang China sedang pesta makan di meja ujung), dan bau rokok agak menyengat karena tak ada pembatas antara smoking room dan non smoking. Di ujung restoran ada mushola kecil bagi yang kepepet mau sholat, cuma kayaknya sulit sholat dengan khusyuk karena suara musik yang keras.

Daging domba panggang setengah porsi di Tokyo Muslim Chinese Restaurant. Mahal tapi maknyuss

Daging domba panggang setengah porsi di Tokyo Muslim Chinese Restaurant. Mahal tapi maknyuss

5. Naritaya (Asakusa)
Letak restoran ini ada di kawasan wisata Asakusa, tak jauh dari stasiun subway Asakusa. Kami makan siang di sini sambil reuni dengan teman istri yang kerja di Tokyo.

Tencho dan staff yang bekerja di Naritaya sangat ramah dan bersahabat kepada kami, malah tencho sempat ngobrol agak lama denganku. Di dalam restoran di lantai 2 juga ada mushola yang lebih bersahabat di kuping dibanding restoran di Kinshi-cho sekaligus tersedianya tempat berwudhu. Sayangnya soal rasa, menurutku ramen di Naritaya justru yang paling kurang enak di antara 5 restoran yang kutulis di sini. Ada 2 menu yang direkomendasikan yaitu Mazesoba dan Zaru Ramen (ramen dingin). Rasanya mirip-mirip dengan mie ayam, bedanya mie ayam masih lebih enak.

One thought on “Ramen Halal

  1. wah , ternyata bukan lidah saya dan adik saya saja yg berkomentar kurang mantap untuk naritaya asakusa.

    selang satu tahun dari artikel ini ditulis apakah ada ramen yg lebih enak dari Menya Kaijin (Shinjuku) dan tentunya halal alias muslim friendly ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s