Journey to the North

Saya pernah menulis perjalanan ke barat (daerah Kansai) dan perjalanan ke timur (daerah Kanto), kali ini saya menulis tentang perjalanan saya dan keluarga ke pulau di sebelah utara Jepang, yang bernama Hokkaido. Memang sih, perjalanan kali ini dilakukan hanya di sekitar Sapporo agar tidak memakan waktu terlalu lama karena wilayah Hokkaido sendiri cukup luas. Kami memiliki waktu 3 hari 4 malam untuk menjelajahi Sapporo dan sekitarnya. Baiklah, ini adalah perjalanan saya, pgkn dan anak kami Reika-chan mengunjungi Jepara (Jepang Utara).

Persiapan

Hal pertama yang harus disiapkan tentunya tiket. Ada beberapa kenalan yang mengunjungi Hokkaido lewat jalan darat (menyeberang via terowongan bawah laut) melalui seikan tunnel, adapula yang menyeberang lewat perairan naik kapal dari pelabuhan, tapi untuk menyingkat waktu kami memutuskan naik pesawat dari bandara Chubu Cetrair di Nagoya ke bandara Shin-Chitose di Sapporo.
Untuk urusan tempat menginap, istri menggunakan Airbnb untuk memesan apartemen karena kami pernah mendapatkan pengalaman menyenangkan menggunakan Airbnb di Tokyo, yang pasti kami merasa aman dengan Airbnb di Jepang.

Setelah survey, kami mendapatkan banyak spot wisata Hokkaido di luar kota Sapporo yang harus menggunakan bis dan itu cukup ribet kalau ingin mengunjungi banyak tempat dalam waktu 3 hari. Jadinya yang paling gampang tentunya sewa mobil dan kami mendapatkan sewa mobil yang cukup murah selama 3 hari 4 malam seharga sekitar 12 ribu yen. Setelah pesan via internet, kami memilih menggunakan mobil kei (city car) untuk menekan biaya transportasi (bensin irit dan harga bayar jalan tol lebih murah). Pembayaran dilakukan pada saat terima kunci mobil.

FYI, bisnis sewa mobil di Hokkaido cukup laku karena seperti yang saya katakan di atas tadi, banyak lokasi wisata di luar kota Sapporo yang letaknya berjauhan sehingga paling mudah memang menyetir sendiri dengan menggunakan mobil sewa. Untung saja saya memiliki SIM mobil Jepang sehingga bisa menyewa mobil di sana. Karena banyak bisnis penyewaan mobil di Sapporo, anda bisa memilih yang paling cocok dengan anda, baik dari masalah isi dompet hingga kemudahan dan pelayanan. Yang agak mahal tentunya yang memiliki kantor cabang di bandara Shin-Chitose sehingga bisa langsung memilih dan menggunakan mobil mulai dari bandara. Kami memilih yang lebih murah dengan tempat penyewaan sekitar 15 menit naik mobil dari bandara Shin-Chitose. Dari bandara, kami dijemput oleh mobil pengelola sewa mobil sesuai janji dan diantar ke tempat penyewaan untuk menggunakan mobil yang kami pesan.

Sapporo

Ketika mendarat di bandara Schin-Chitose, saya baru pertama kali melihat papan informasi airport ditambahkan satu bahasa asing lain. Bisanya di Tokyo, Nagoya, Osaka dan tempat lain dalam Jepang yang pernah saya kunjungi, papan informasi bertuliskan bahasa Jepang, Inggris, China dan Korea. Baru di Sapporo saya mendapatkan bahasa Russia dimasukkan ke dalam tulisan di papan informasi. Mungkin karena Hokkaido berbatasan dengan pulau Sakhalin Russia di sebelah utara.

13958265_10208829980178443_2669350731702426787_o

Kesan pertama di Hokkaido?

Udaranya sejuk meski berada di puncak musim panas, apalagi bagi kami yang berdomisili di Jateng (Jepang Tengah) yang panas menyengat dengan rata-rata temperatur siang sekitar 35 derajat celsius. Di sana hanya sekitar 25 derajat celsius, malah pas bermalam di apartemen sewaan dan buka jendela rasanya malah agak dingin dan butuh selimut untuk bisa tidur nyenyak. Apartemen sewaan yang berlokasi di Shiro-ishi sebenarnya agak sempit tapi cukup untuk menginap bertiga dan yang paling penting memiliki parkir gratis untuk mobil yang kami sewa.

Kamifurano Flower Land

Setelah beristirahat dan melewati malam di Sapporo, kami berangkat agak pagi demi mengejar 3 jadwal lokasi kunjungan. Yang pertama adalah Kamifurano yang memiliki banyak taman bunga luas. Kamifurano terkenal dengan ladang lavender, sayang musim lavender sudah berlalu 2-3 minggu sebelumnya, sehingga kami cuma bisa melihat ladang lavender yang gersang dengan tumbuhannya yang mulai mengering. Tapi toh kami masih bisa menikmati bunga-bunga lain selain lavender di sana. Tujuan wisata kami adalah Flower Land yang cukup terkenal diantara beberapa taman bunga lain.

IMG_4487

Sisa ladang lavender memang tinggal sepetak, namun ladang lain sudah mekar dengan bunga warna-warni. Selain menikmati pemandangan bunga, kami juga mencoba naik bus traktor mengelilingi padang bunga yang luasnya bisa bikin kaki pegal kalau dikelilingi dengan berjalan. Naik bus traktor memang bayar 500 yen per orang, tapi masuk Flower Land sendiri gratis. Mungkin karena bukan musim kunjungan lavender.

 

Aoiike (Blue Pond)

Dari Flower Land, kami melanjutkan perjalanan ke Aoiike. Aoiike adalah kolam kecil yang terletak di daerah Biei tak jauh dari Kamifurano. Wisatawan pengunjung cukup membelundak sehingga harus antri untuk parkir mobil. Parkirnya ternyata gratis dan tak ada biaya masuk untuk melihat kolam biru, mungkin ini upaya pemerintah daerah Biei untuk menarik wisatawan lokal. Wisatawan luar Jepang yang datang naik bis membuat penuh pinggir kolam, rata-rata mereka berbicara bahasa mandarin dan korea.

IMG_4646

Kolamnya sendiri memang biru dan warna biru bukan berasal dari pantulan warna langit seperti halnya laut. Warna biru Aoiike berasal dari kandungan tinggi Al(OH)3 alias Aluminium Hidroksida dalam tanah yang bercampur dengan lumpur dari aliran sungai Biei menghasilkan endapan koloid di dasar kolam. Efek koloid dan pantulan cahaya permukaan kolam menghasilkan frekuensi yang ditangkap mata berwarna biru. Berhubung hari mulai menjelang sore, kami mempercepat kunjungan di Aoiike demi mengunjungi tujuan wisata terakhir, masih di wilayah Biei.

 

Shikisai no Oka

Shikisai no Oka berarti bukit berwarna 4 musim. Seperti halnya Kamifurano Flower Land, Shikisai no Oka juga berupa padang bunga yang luas dengan bunga dan tanaman yang berbeda dikembangkan sesuai dengan musim. Kami mengunjungi Shikisai no Oka karena ada alpaca yang dipelihara di sana. Reika-chan terlihat senang sekali bertemu dengan alpaca walau harus berhati-hati ketika memberi makan bunga kol kepada mereka karena alpaca doyan meludah. Hahahaha….

IMG_4669

Ketika berjalan menikmati padang bunga dan foto-foto, ternyata ada sekelompok wisatawan RRC yang sedang mengadakan sesi foto pre-wedding. Mereka ribut sekali, terutama si fotografer yang teriak-teriak ke si pasangan yang difoto mengarahkan gaya. Malah mereka sampai masuk ke area taman bunga yang dilarang masuk sehingga menginjak-injak beberapa bunga di dalam area kebun bunga. Capek deeehhh…

IMG_4683Pulang dari Shikisai no Oka, kami langsung kembali ke apartemen di Sapporo karena letaknya cukup jauh, makan waktu hampir 3 jam naik mobil.

 

Nijo Fish Market

Hari kedua, kami berencana ke danau Toya yang berada di sebelah barat daya Sapporo. Pagi-pagi kami sudah berangkat karena ingin sarapan seafood di Nijo Fish Market karena pasar sudah buka jam 7 pagi. Pasar ikan Nijo ini mungkin sama dengan Tsukiji di Tokyo, cuma lebih kecil. Pasar ikan Nijo menjual seafood paling ngetop di Sapporo yaitu kepiting.

13958276_10208813770893221_2451118990139325151_o

Busyet deh, selain memang bentuk kepiting yang memang gede, harganya juga mahal.  1.16 kg kepiting dihargai sekitar 13 ribu yen (hitung sendiri kalau 1 yen = Rp. 120), selain itu dijual juga lengan capit kepiting satu batang seharga 3000 yen. Rasa daging kepitingnya memang manis dan gurih walau oleh penjualnya hanya di rebus doang. Sasuga kepiting Hokkaido.

 

Nakayama Pass

Dari Sapporo menuju danau Toya, kami melewati Nakayama Toge (Nakayama Pass) sambil menikmati pemandangan gunung Yotei. Di Nakayama Pass kami sempat mencoba makanan khas daerah sana yaitu Age-imo (yaelah, cuma goreng ubi berbentuk bola yang ditusuk 3 biji pakai lidi seperti sate). Tapi karena lumayan besar bolanya, perut kami jadi agak kenyang tanpa makan siang.

 

Toya-ko (Toya Lake)

Kami sampai di danau Toya sekitar jam 2 siang dan kami sempat berputar-putar menjadi lokasi pemandangan yang bagus. Tempat paling pas sepertinya ada di Toyako-tenbodai, semacam spot yang memang dibikin untuk wisatawan. Di Toyako-tenbodai juga ada penyewaan helikopter bagi yang tertarik untuk memutari danau Toya dari udara. Harganya naik helikopternya lumayan mahal juga sih.

IMG_4911

Kami juga sempat mampir ke daerah kota tempat Toyako Onsen (pemandian air panas) berada. Pengen onsen juga sebenarnya, cuma ribet kalau bawa anak kecil. Reika-chan sempat bersuka ria cebur-ceburan main air di kolam air mancur sebelah danau di kota Toya ini.

 

IMG_5022

 

Otaru

Pulang dari danau Toya, kami berencana ke kota Otaru sekalian pulang ke Sapporo. Kota Otaru ini terkenal dengan kanal dan kota wisata pelabuhannya.

IMG_5117

Ketika berangkat, kami sempat deg-degan karena laporan cuaca kurang baik karena badai no. 8 sedang mendekati pulau Hokkaido yang berarti alamat buruk bagi orang yang berwisata…hujan lebat dan angin kencang. Alhamdulillah, sampai Otaru dan kami masih sempat jalan-jalan dan berfoto sebelum badai datang. Di Otaru banyak kedai sepanjang jalan yang menawarkan kuliner seafood terutama kaisendon. Woah, penggemar kaisendon bakalan ngiler melulu kalau datang ke Otaru. Susahnya kalau wisata bawa anak kecil yang belum bisa makan makanan mentah, kami sempat memutari daerah downtown sampai capek mencari restoran yang Reika-chan bisa ikutan makan. Akhirnya kami singgah di restoran sushi yang juga menyediakan udon buat reika. Harganya relatif mahal dibanding restoran sushi biasa.

Pas ketika kami pulang, tiba-tiba di tengah jalan badai datang. Jadilah saya menyetir lewat jalan tol tak terlalu kencang, berhati-hati karena adanya badai.

 

Sapporo lagi

Sampai kota Sapporo menjelang jam 9 malam dalam keadaan badai. Kami harus cepat-cepat makan sebelum restoran pada tutup. Sesuai rencana, kami menuju area stasiun Sapporo untuk makan ramen halal di kedai Ramen Horyuu. Kedai ini menyediakan 3 jenis ramen halal dengan sertifikasi. Kami memesan satu ramen Gengish Khan (pakai daging domba mongol yang jenisnya bernama Gengish Khan) dan satu ramen vegetarian. Tadinyanya mau pesan porsi besar karena lapar, rupanya porsi biasa juga sudah cukup besar dan banyak. Jadilah kami memesan porsi normal. Kenyang makan ramen, kami kembali ke apartemen karena badai semakin besar.

 

Chocolate Factory Shiroi Koibito Park

Berhubung masih badai dengan hujan lebat dan berangin, pilihan wisata selanjutnya hanyalah wisata indoor. Yang paling menarik adalah pabrik cokelat Shiroi Koibito Park di Sapporo barat. Mendekati Shiroi Koibito Park, antrian mobil mulai memadat dan bikin jalan macet. Rupanya banyak sekali orang-orang yang ingin berwisata indoor gara-gara badai, jadilah pengunjung bertumpuk di jam yang sama. Parkiran mobil penuh sehingga terpaksa kami ke parkiran di luar gedung. Dari parkiran luar kami terpaksa berjalan kaki menuju pabrik cokelat, gak jauh sih cuma karena hujan dan angin jadinya cukup merepotkan.

IMG_5147

Untuk bisa masuk ke restricted area, kami harus membeli tiket masuk seharga 600 yen/orang dewasa. Memang mendingan beli tiket sih, karena letak menariknya pabrik cokelat justru melihat langsung produksi cokelat di dalam pabrik. Di luar pabrik cokelat, pengunjung bisa berfoto di taman yang didesain menarik. Sayang sedang badai, walau angin sudah tidak bertiup kencang, hujan lebat masih turun.

IMG_5166

 

Former Hokkaido Goverment Building

Pulang dari Shiroi Koibito Park, kami bingung mau pergi kemana berhubung hujan masih turun dengan lebatnya. Badai masih belum berlalu. Tadinya kami ingin makan ramen vegetarian di Ichiryuu Ramen, sayang ramen halalnya sudah habis. Ujung-ujungnya kami makan siang di restoran India dengan lauk kare India.

Walau masih hujan deras, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi bekas kantor pemerintah Hokkaido yang sudah menjadi museum. Bangunan ini merupakan simbol dari pemerintah Hokkaido dan masih berdiri dengan megah dan terawat walaupun kantor pemerintahan sudah dipindah ke bangunan baru yang didirikan disebelahnya. Karena terbuat dari  batu bata merah, bangunan ini mendapatkan nama julukan Akai-Renga Chousa (kantor bata merah). Saking kentalnya nama akai-renga, bangunan milik swasta yang ada di depan Akai-Renga juga dinding dan jalannya di desain berbentuk mirip susunan batu bata merah. Di Yokohama juga terdapat bangunan yang terbuat dari batu bata merah, tapi menurutku bekas kantor pemerintah Hokkaido ini lebih menarik daripada bekas gudang di Yokohama itu.

IMG_5272

Berhubung masih badai, kami sulit berfoto-foto di depan gedung bersejarah ini walaupun cuma memakai ponsel. Akhirnya cuma foto-foto seadanya saja. Berhubung Akai-Renga Chousa sudah menjadi museum, isi dalam bangunan penuh dengan foto, tulisan, hingga lukisan sejarah Hokkaido. Ada satu ruangan dipakai untuk merayakan hubungan Jepang-Russia, termasuk diantaranya pameran karya lukis dari pelukis kedua negara.

 

Yakiniku

Selepas mengunjungi Aki-Renga Chousa, kami santai saja mencari restoran untuk makan malam dan akhirnya kami berhenti di restoran Yakiniku Kou yang menyediakan daging halal. Berhubung tidak ada restoran Yakiniku dengan daging halal di Nagoya, tentu saja kami senang sekali bisa makan yakiniku di Sapporo. Mahal memang, tapi kami puas makan hingga perut kenyang. Favoritku apalagi kalau bukan daging domba Gengish Khan, empuk dan gurih.

Puas makan yakiniku, kami kembali ke apartemen sewaan dan berkemas untuk bersiap pulang esok paginya.

 

Penutup

Janji untuk mengantar mobil sewaan jam 7:30 pagi di depan kantornya, kami sudah keluar dari apartemen sewaan sejak jam 6:30. Sesuai perjanjian, tangki bensin mobil sewaan harus diisi penuh sebelum dikembalikan. Setelah karyawan sewa mobil mengecek mobil sewaan yang dikembalikan, kamipun diantar oleh si karwayan ke bandara Shin-Chitose.

Entah kapan bisa balik lagi ke Jepara, yang pasti masih banyak tempat yang dikunjungi seperti Hakodatte di ujung timur Hokkaido, Wakkanai di ujung utara pulau, dan juga Abashiri.

Ada satu tempat terlewatkan ketika kami mengunjungi Otaru yaitu Kamui Misaki (Cape Kamui) yang letaknya sekitar 2.5 jam naik mobil. Berhubung badai dan tempatnya di tepi tanjung, kami tak sempat pergi ke sana.

 

Kesan

Kenalanku yang pernah ke Hokkaido bercerita bahwa bentuk bangunan lama di Hokkaido terkesan seperti bangunan orang barat. Ketika melihat sendiri, pgkn yang baru pulang dari New Jersey komentar kalau bangunan-bangunan tersebut desainnya sama dengan bangunan-bangunan di daerah sub-urban Amerika. Tentu saja bangunan modern Hokkaido tak jauh beda dengan bangunan modern di kota-kota pulau Honshu.

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Journey to the North

    • @itikkecil
      Gak sanggup makan kepitingnya. Mau dilahap, malah ingat harganya sampai Rp. 1.5 juta gitu malah hilang nafsu makan. Malah kata temanku, kalau makan di tempat yang kepitingnya dimasak khusus (bukan cuma rebus doang), harganya bisa sampai Rp. 3 juta loh Hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s