Professor Judo

Barusan baca biografi Kano Jigoro.
Beliau ini orang yang membuat aliran seni beladiri baru yang bernama Judo.
Kano adalah ahli Jujutsu yang belajar Jujutsu dari beberapa sensei, sampai beliau sadar kalau masing-masing aliran Jujutsu punya teknik spesifik yang lebih baik dibanding aliran lain.

Awalnya ketika Kano muda ingin belajar beladiri Jujutsu, tak ada yang mau mengajarinya. Efek dari runtuhnya Shogun Tokugawa dan masuknya budaya barat membuat ilmu beladiri kuno semacam Jujutsu dianggap sebagai barang kuno ketinggalan zaman. Bahkan banyak praktisi Jujutsu yang mampu mengajar malah banting setir melakukan pekerjaan lain. Setelah ditolak beberapa kali oleh praktisi Jujutsu untuk mengajarinya, akhirnya Kano berhasil meminta seorang tukang urut dan tabib patah tulang bernama Fukuda Hachinosuke untuk mengajarinya. Ruang yang dijadikan dojo (tempat latihan) oleh Fukuda sendiri hanya cukup buat latihan 2-3 orang, dan Kano berlatih Jujutsu di sana bersama 5 orang murid Fukuda yang lain saking sedikitnya peminat Jujutsu waktu itu. Fukuda sensei sendiri merupakan guru Jujutsu aliran Tenjin Shinyo-ryu.
Dari Fukuda sensei, Kano mulai mengenal dan belajar pada guru Jujutsu aliran Tenjin Shinyo-ryu yang lain yaitu Iso sensei dan dari Iso sensei pula Kano mengenal beberapa ahli Jujutsu berbeda aliran.

 

Hingga Iso sensei mengenalkannya pada seorang ahli Jujutsu aliran Yoshin-ryu bernama Totsuka Hikosuke. Totsuka sensei ini digambarkan Kano sebaga seorang jago Jujutsu terbaik, sangat berbakat dan menurut Kano, sekeras apapun dia berlatih tak akan bisa menyaingi kemampuan Jujutsu Totsuka sensei. Saat itu Kano melihat beberapa teknik miliknya dari aliran Tenjin Shinyo-ryu ternyata lebih baik dari teknik aliran Yoshin-ryu dan merasa yakin jika dia berlatih teknik lain yang lebih baik dibanding sisi terlemah teknik Yoshin-ryu, Kano akan mampu setidaknya menyamai kemampuan Totsuka sensei.

Mulailah Kano mencari sensei Jujutsu terbaik untuk mengajarinya teknik terbaik yang dimiliki aliran si sensei, termasuk belajar teknik pitingan dan kuncian aliran Jujutsu Tenjin Shinyo-ryu dari Fukuda sensei dan Iso sensei, teknik bantingan aliran Jujutsu Kito-ryu dari Iikubo sensei, juga beberapa teknik lain dari aliran Jujutsu berbeda dari sensei yang berbeda pula.


Hasilnya, Kano mulai menggabungkan berbagai teknik Jujutsu berbeda aliran ini sekaligus membuat metode pelatihan baru untuk menyelaraskan teknik berbeda aliran agar harmonis dan hasilnya tetap maksimal. Kano membagi metode latihan menjadi tiga yaitu: latihan fisik berupa rentai-ho, latihan teknik berupa shobu-ho dan latihan mental berupa shushin-ho.

Jadilah aliran beda diri baru yang bernama Judo.

Kano sengaja tidak memberikan nama beladiri ini sebagai aliran baru Jujutsu, mengingat kepopuleran Jujutsu saat itu sudah sangat rendah. Dengan memberi nama baru beserta memperkenalkan sistem latihan yang lebih modern berikut perangkat safety rules (yang tidak ada dalam sistem Jujutsu) untuk menjadikan Judo sebagai olahraga umum, Kano berharap Judo bisa mempopulerkan lagi seni beladiri Jepang pada masyarakat modern.

 

Kalau dipikir-pikir, Kano Jigoro ini adalah praktisi Mixed Martial Art (MMA) zaman dulu sebelum adanya istilah MMA sekarang. Hanya saja Kano lebih fokus mengambil teknik terbaik dari Jujutsu berbagai aliran, lalu menggabungkannya menjadi seni beladiri baru.

 

Tidak seperti kebanyakan ahli beladiri yang mencari makan lewat kemampuan seni beladirinya, baik menjadi guru beladiri professional, tabib tradisional, tukang urut, ahli totok, ahli patah tulang, sampai bintang film eksyen seperti zaman sekarang, Kano Jigoro memperoleh uang untuk membiayai hidupnya dan keluarga sebagai dosen. Kano Jigoro dikenal mencintai pekerjaannya sebagai guru dan beliau juga memanfaatkan pengetahuannya sebagai guru sekolah formal untuk membuat sistem pengajaran modern bagi seni beladiri Judo.

 

FYI, Kano Jigoro ini PhD lulusan Tokyo University yang dikenal sebagai perguruan tinggi nomor satu di Jepang. Dia mendapatkan jabatan professor ekonomi di universitas almamaternya dan mengajar political science dan ekonomi di Tokyo University. Selain itu juga Kano pernah diundang menjadi dosen tamu di eropa, mahir bahasa Inggris dan Jerman, lalu terakhir jadi direktur pendidikan dasar kementrian pendidikan Jepang. Ketika ditawari jabatan di kementrian keuangan, Kano menolak karena beliau lebih mencintai dunia pendidikan daripada politik dan memilih kembali ke universitas untuk mengajar. Sempat menjadi dekan di universitas yang sekarang dikenal sebagai Kumamoto University, akhirnya Kano fokus mengajar pendidikan dasar dengan menjadi kepala sekolah di Gakushu-in (sekolah pendidikan dasar untuk keluarga bangsawan Jepang, termasuk anak-anak kaisar dan para menteri).

 

Jarang-jarang ada tokoh seperti ini dimana otot dan otaknya sama-sama cemerlang. Kemampuannya sebagai praktisi Jujutsu dan usahanya mempopulerkan Judo membuat Kano disegani para ahli beladiri, selain itu pekerjaannya sebagai guru dan pendidik di sekolah dan universitas membuat Kano dihormati banyak orang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s