
Prolog: The following is a work of fiction. Any resemblance to persons living or dead is purely coincidental. Especially you D**** S********.
Bitch!
Silahkan melihat ulasan film (500) Days of Summer di blog resensi filmku.
Tulisan ini boleh dianggap sebagai curhat kenangan masa lalu akibat nonton film (500) Days of Summer yang mengetengahkan hubungan antara Tom Hansen dan seorang cewek bernama Summer. Sepertinya penulis cerita film ini sangat ingin menunjukkan kisah hidup yang nyata dan bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang terjadi pada Tom Hansen pernah dialami oleh sahabat baikku RL dan aku sendiri dengan detail yang berbeda namun garis besar ceritanya sama (tentu saja dapat mengingatkan siapa saja yang memiliki hubungan cinta, terutama yang berakhir pahit). Hal ini membuatku menyukai (500) Days of Summer karena kisah yang dibawakan dapat mengajak penontonnya masuk kedalam aura film. Komentar dan celetukan Rachel Hansen, adik perempuan Tom, ketika Tom sedang curhat cukup menggelitik. Menonton film ini memang membuka luka lama, tapi seiring dengan itu juga memperkuat jahitan penutup luka tanpa ada rasa sesal.
Rachel: “Just because she’s likes the same bizzaro crap you do, doesn’t mean she’s your soul mate”.
Yup! Kadang kita merasa bertemu dengan seorang cewek (Maaf, aku dan Tom Hansen cowok.) yang memiliki kesukaan dan kesamaan yang unik, kita cenderung berasumsi “ah… this is my soul mate whose send by the divine will and this is destiny.” Ini kisah tentang aku dan DS beberapa tahun yang lalu. Awalnya sama dengan Tom Hansen yang mengenal Summer lewat hubungan kerjaan, aku juga bekerja di perusahaan yang sama dengan DS. Lama kelamaan setelah sering ngobrol sebagai teman, aku menemukan banyak kesamaan aneh. Nenekku asli Tionghoa sehingga menyebabkan aku memiliki darah turunan China yang bercampur dengan Melayu dll, dan DS sendiri ternyata memiliki garis turunan yang sama. Neneknya asli Tionghoa yang menikah dengan kakeknya yang orang Jawa. That’s the same bizzaro crap! You want to know another bizzaro crap? we had a pet named Molly (a cat for mine, a puppy for hers) when we were kid. Soal kesamaan hobi sih sudah biasa ditemukan pada pasangan lain, dia suka nonton film, musik rock dan main gitar seperti juga aku.
Summer: “Tom, don’t go! You’re still my best friend!”
Bah! Siapa sih yang punya pendapat kalau putus hubungan cinta secara menyakitkan akan tetap memiliki hubungan sebagai “best friend”? Mungkin ya bagi pihak pemutus, tapi itu omong kosong bagi pihak yang diputus, Bullshit with big B! Sakit hati? Oh, tentu saja. Malah aku butuh waktu pulih lumayan lama (sekitar satu tahun lebih) untuk pulih total secara mental dan mencari arah tujuan hidup baru. Seperti juga Tom Hansen yang menjalani hari-harinya tanpa Summer dengan aktifitas hancur (terutama pekerjaan), aku juga mengalami hal yang sama. Malah teman baikku RL hancur kuliahnya di Bandung sampai DO gara-gara satu cewek. Putus hubungan cinta memang akhir dari dunia. Tapi harap diingat, hanya kepingan satu dunia yang berakhir dan itu berarti awal dari hubungan dengan dunia baru berikutnya.
Summer: “You weren’t wrong, Tom. You were just wrong about me.”
Siapakah yang salah? Sebenarnya bukan salah DS sendiri, aku juga ikut mengemban kesalahan yang sama. Dulu aku berpikir DS adalah pihak yang salah hingga akhirnya aku melihat celah baru dimana sebenarnya aku juga ikut bertanggung jawab terhadap keputusan DS meninggalkanku. Sekecil apapun itu, salah tetap saja salah. Sebelum akhirnya benar-benar berpisah, DS pernah berkata “Cinta tak harus saling memiliki…” Wah, kesannya romantis banget walaupun cuma omong kosong. Tapi aku mengerti kalau hubungan kami tak berlanjut hanya karena kami berdua kurang berusaha keras untuk saling memiliki satu sama lain, dan itu berarti aku juga ikut menanggung kesalahan. Aku tak akan mengucapkan kalimat orang gagal seperti diatas itu. Aku memang gagal dengan DS, dan itu berarti awal dari rentetan keberhasilanku dimasa depan. Putus secara menyakitkan ternyata bisa disikapi dengan pikiran positif, toh aku merasa jauh lebih dewasa dalam berpikir setelah putus walaupun butuh waktu untuk proses pendewasaan.
Rachel: “Better that you find this out now before you come home and find her in bed with Lars from Norway.”
Walaupun tak separah ungkapan diatas, paling tidak kita harus berpikir positif kalau hubungan tak berlajut lebih jauh berarti kita terhindar dari kemalangan dimasa depan. Kesannya memang seperti menghibur diri sendiri, tapi aku merasa hal itu tidak salah. Kalau sampai aku berjodoh dengan DS, kemungkinan besar aku tidak akan berada di Jepang dan melanjutkan studi seperti saat ini (butterfly effect). Malah aku terkungkung di dalam perusahaan yang sama hingga bertahun-tahun, kemungkinan besar hidup stagnan dan tanpa ada masa depan yang lebih baik. Aku merasa bersyukur ketika aku diterima sebagai mahasiswa di sebuah universitas di Jepang dan kalau mengingat DS saat itu, aku kembali bersyukur karena dia telah meninggalkanku. Tom Hansen juga akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai greeting cards designer dan mulai aktif mencari kerja sebagai arsitek sesuai dengan minatnya. Hal terbaik dengan meninggalkan tempat yang penuh dengan kenangan serta mencari tempat, suasana dan tentu saja relasi baru untuk masa depan diri sendiri.
Epilog
Tom: “Summer! I really do hope that you’re happy”
Beberapa minggu yang lalu aku menemukan dirinya lewat pesbuk beserta foto suami dan anaknya (akibat link yang dibuat oleh friend of friend). Yang lucu, namanya muncul tanpa kata Setia sebagai bagian dari nama belakangnya yang lengkap
Apakah aku akan mengatakan hal yang sama seperti Tom diatas, ketika mereka berpisah diakhir film? Ataukah akan keluar kata-kata seperti di akhir prolog by calling her bitch? Sepertinya tidak keduanya, dia mau berbahagia atau menderita bukanlah urusanku. Malah aku tidak akan repot terkenang-kenang menulis panjang lebar di blog tentang hal ini kalau bukan gara-gara habis nonton film (500) Days of Summer. Well, I don’t give a damn and I really don’t care.
Bagi mahasiswa asing yang sedang melanjutkan pendidikan S1, tingkat master ataupun doktoral di universitas-universitas Jepang, memperoleh beasiswa bukanlah hal yang mudah walaupun bukan hal yang terlampau sulit. Asalkan mau berusaha dan lintang pukang cari sana sini, beasiswa buat mahasiswa asing cukup banyak bertebaran untuk diperebutkan. Setelah anda mengajukan diri untuk mendapatkan beasiswa, sang pemberi dana akan melakukan beberapa tes untuk menguji kelayakan mahasiswa asing bersangkutan untuk menerima duit gratisan. Konsekwensi setelah mendapatkan beasiswa tentu saja ada. Biasanya setelah satu tahun harus membuat laporan penelitian dan mempresentasikan apa yang diteliti setelah satu tahun (bagi S2 dan S3) atau memperlihatkan nilai mata kuliah yang bagus (bagi mahasiswa S1). Hal ini belum ditambah dengan gakuhi menjo (keringanan biaya kuliah) dari hanya bayar 50 persen hingga sama sekali gratis alias bayar kuliah 0 yen.





















Recent Comments