Mudik [3]: Sebungkus pisang sale dan 4 orang Jepang

Sambungan dari Mudik [1] dan Mudik [2]

Orang Jepang yang barusan pulang jalan-jalan hampir selalu membeli omiyage (oleh-oleh) dari tempat yang dikunjunginya buat rekan-rekannya. Rata-rata omiyage yang dibeli biasanya berupa makanan kecil khas daerah yang dikunjungi semacam kue, keripik dan sejenisnya. Pulang dari mudik tentunya gak enak kalau tidak membawa oleh-oleh untuk rekan-rekan di tempat kerja, terutama grupku yang berjumlah 4 orang. Oleh karena itu aku membeli oleh-oleh berupa keripik pisang sale untuk mereka karena setahuku orang Jepang tak terlalu suka makanan yang manis. Sebenarnya keripik pisang sale menurutku omiyage yang lumayan menarik untuk orang Jepang, sayangnya kemasannya itu kurang menarik. Berikut ini tanggapan 4 orang rekan kerja terhadap sebungkus keripik pisang sale.


Gambar diambil dari sini
Continue reading

Mudik [2]: Bayar pulsa seharga BlackBerry

Sambungan dari tulisan Mudik [1]

Sewaktu sampai di Jakarta, iPhone yang kubawa rencananya mau kupakai. Tadinya aku ingin mengganti kartu sim card Jepang (aku pakai softbank) dan diganti memakai kartu telepon Indonesia (eg: telkomsel atau XL) selama berada di Indonesia. Ketika sampai di rumah, adik bungsuku mengutak atik iPhone-ku dan dia bilang, “ini ada sinyal, bisa dipakai koq!” Memang sih bisa dipakai, tapi ada peringatan roaming yang pembayaran pulsanya dihitung berbeda dengan pemakaian pulsa ketika aku berada di Jepang. Sambil menunggu adikku mencari gevey sim card yang besarnya sesuai dengan locket sim card iPhone yang kubawa, aku tetap memakai iPhone (ber-sim card Jepang) untuk menerima dan baca email, kadang-kadang untuk liat fesbuk juga walau aku tak mau memakai untuk menelpon yang pasti pulsa roaming-nya mahal.
Continue reading

Mudik [1]: Culinary, Kopdar, Metromini and other stuff

Mudik pulang ke negara asal tentunya punya banyak cerita bagi orang-orang yang tinggal di luar negeri dan sudah lama tak pulang. Belum lagi re-adaptasi terhadap kondisi di Indonesia yang sudah agak asing bagi orang yang telah menyesuaikan diri dengan lingkungan di tempat tinggalnya di luar negeri. Postingan kali ini hanya sekedar mengenang hal-hal yang kulakukan dan yang kualami sewaktu mudik akhir Desember 2011 hingga awal Januari 2012 kemarin. Continue reading

Kaisar Monogami (1)

Kalau anda membayangkan kehidupan keluarga seorang kaisar, kira-kira apakah yang ada dalam bayangan anda? Tentunya tak jauh dari sebuah keluarga besar berisi: seorang kaisar, beberapa istri yang salah satunya menjadi permaisuri, puluhan hingga ratusan selir, dan banyak anak-anak kaisar yang saling bersaing berebut pengaruh demi tahta peninggalan ayahnya. Akan tetapi dalam sejarah China, ada dua kaisar yang seumur hidupnya hanya mempunyai seorang istri yaitu permaisurinya saja. Malah salah satu kaisar tersebut tak punya satu orangpun selir alias benar-benar monogami murni. Lucunya, walaupun kedua kaisar monogami ini sukses menjalankan kekuasaannya sebagai kaisar yang bijak, mereka berdua sama-sama mempunyai anak yang akan menghancurkan kejayaan yang dibangun ayah mereka sendiri. Bagian pertama tulisan ini menceritakan tentang kaisar monogami dari dinasti Ming yaitu kaisar Hongzhi. Continue reading

Mau Kemana di Nagoya?

“Temanku bilang, katanya di Nagoya gak ada tempat main yang asyik”

Begitulah kira-kira kata Apratz ketika kopdar awal November 2011 kemarin. Saat itu aku memang tak terlalu memperhatikan, tapi sekarang tiba-tiba aku terpikir. Kalau misalnya ada kenalan yang ingin main ke Nagoya dan minta saran tempat main yang asyik, kira-kira apa jawabanku? Continue reading

Memburu si Merah

Pada musim semi ketika bunga Sakura mekar, banyak orang-orang melakukan aktivitas hanami atau melihat bunga sakura (hana: bunga, mi: melihat). Hal ini pernah saya bahas pada tulisan sebelumnya. Counterpart hanami untuk musim gugur adalah Momijigari. Pada musim gugur, bunga Sakura tidak mekar malah daunnya rontok. Akan tetapi daya tarik pada musim gugur bukanlah Sakura melainkan momiji. Momiji atau Kouyou (ditulis dengan 2 huruf kanji yang sama 紅葉, tapi dibaca dengan lafal berbeda) adalah sebutan Jepang untuk daun maple, secara harfiah diartikan daun merah. Momijigari sendiri diartikan secara harfiah sebagai memburu daun merah (gari atau kari 狩り berarti berburu) adalah aktivitas di musim gugur melihat pemandangan di area yang penuh pohon maple dengan daunnya yang berubah warna menjadi merah. Continue reading

My Jazz Files [5] – Wish You Were Here

Tahu band kwartet yang mengusung genre musik contemporary jazz bernama Fourplay? Kalau anda penikmat jazz, baik yang ringan maupun kelas berat, sungguh keterlaluan jika tak mengenal super grup yang satu ini. Aku sendiri pertama kali berkenalan dengan kwartet ini lewat teman kost di daerah simpang Dago Bandung yang memiliki 3 album pertama mereka yaitu Fourplay, Between the Sheet dan Elixir. Walaupun posisi gitaris sudah berganti 3 kali dari Lee Ritenour ke Larry Carlton dan terakhir Chuck Loeb, tetap saja komposisi kwartet terbaik menurutku adalah anggota original yang menghasilkan 4 album awal yaitu: Bob James (piano, keyboard), Lee Ritenour (gitar), Nathan East (bass) dan Harvey Mason (drums dan perkusi). Continue reading

Konnichiwa… moshi-moshi…

Dua frase kata yang menjadi judul tulisan ini merupakan dua frase bahasa Jepang modern yang hampir selalu menjadi awal percakapan sebagai bentuk salam pembuka alias greetings secara formal. Konnichiwa biasanya menjadi salam pembuka ketika percakapan dilakukan secara langsung face to face, sedangkan moshi-moshi biasanya diucapkan sebagai salam pembuka percakapan lewat telepon. Lucunya kalau diterjemahkan secara harfiah dalam bahasa Inggris, keduanya diartikan hanya dengan satu kata yaitu Hallo! :mrgreen: Continue reading