Siapa yang pernah menjadi Tom Hansen

Prolog: The following is a work of fiction. Any resemblance to persons living or dead is purely coincidental. Especially you D**** S********.
Bitch!

Silahkan melihat ulasan film (500) Days of Summer di blog resensi filmku.

Tulisan ini boleh dianggap sebagai curhat kenangan masa lalu akibat nonton film (500) Days of Summer yang mengetengahkan hubungan antara Tom Hansen dan seorang cewek bernama Summer. Sepertinya penulis cerita film ini sangat ingin menunjukkan kisah hidup yang nyata dan bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang terjadi pada Tom Hansen pernah dialami oleh sahabat baikku RL dan aku sendiri dengan detail yang berbeda namun garis besar ceritanya sama (tentu saja dapat mengingatkan siapa saja yang memiliki hubungan cinta, terutama yang berakhir pahit). Hal ini membuatku menyukai (500) Days of Summer karena kisah yang dibawakan dapat mengajak penontonnya masuk kedalam aura film. Komentar dan celetukan Rachel Hansen, adik perempuan Tom, ketika Tom sedang curhat cukup menggelitik. Menonton film ini memang membuka luka lama, tapi seiring dengan itu juga memperkuat jahitan penutup luka tanpa ada rasa sesal.

Rachel: “Just because she’s likes the same bizzaro crap you do, doesn’t mean she’s your soul mate”.

Yup! Kadang kita merasa bertemu dengan seorang cewek (Maaf, aku dan Tom Hansen cowok.) yang memiliki kesukaan dan kesamaan yang unik, kita cenderung berasumsi “ah… this is my soul mate whose send by the divine will and this is destiny.” Ini kisah tentang aku dan DS beberapa tahun yang lalu. Awalnya sama dengan Tom Hansen yang mengenal Summer lewat hubungan kerjaan, aku juga bekerja di perusahaan yang sama dengan DS. Lama kelamaan setelah sering ngobrol sebagai teman, aku menemukan banyak kesamaan aneh. Nenekku asli Tionghoa sehingga menyebabkan aku memiliki darah turunan China yang bercampur dengan Melayu dll, dan DS sendiri ternyata memiliki garis turunan yang sama. Neneknya asli Tionghoa yang menikah dengan kakeknya yang orang Jawa. That’s the same bizzaro crap! You want to know another bizzaro crap? we had a pet named Molly (a cat for mine, a puppy for hers) when we were kid. Soal kesamaan hobi sih sudah biasa ditemukan pada pasangan lain, dia suka nonton film, musik rock dan main gitar seperti juga aku.

Summer: “Tom, don’t go! You’re still my best friend!”

Bah! Siapa sih yang punya pendapat kalau putus hubungan cinta secara menyakitkan akan tetap memiliki hubungan sebagai “best friend”? Mungkin ya bagi pihak pemutus, tapi itu omong kosong bagi pihak yang diputus, Bullshit with big B! Sakit hati? Oh, tentu saja. Malah aku butuh waktu pulih lumayan lama (sekitar satu tahun lebih) untuk pulih total secara mental dan mencari arah tujuan hidup baru. Seperti juga Tom Hansen yang menjalani hari-harinya tanpa Summer dengan aktifitas hancur (terutama pekerjaan), aku juga mengalami hal yang sama. Malah teman baikku RL hancur kuliahnya di Bandung sampai DO gara-gara satu cewek. Putus hubungan cinta memang akhir dari dunia. Tapi harap diingat, hanya kepingan satu dunia yang berakhir dan itu berarti awal dari hubungan dengan dunia baru berikutnya.

Summer: “You weren’t wrong, Tom. You were just wrong about me.”

Siapakah yang salah? Sebenarnya bukan salah DS sendiri, aku juga ikut mengemban kesalahan yang sama. Dulu aku berpikir DS adalah pihak yang salah hingga akhirnya aku melihat celah baru dimana sebenarnya aku juga ikut bertanggung jawab terhadap keputusan DS meninggalkanku. Sekecil apapun itu, salah tetap saja salah. Sebelum akhirnya benar-benar berpisah, DS pernah berkata “Cinta tak harus saling memiliki…” Wah, kesannya romantis banget walaupun cuma omong kosong. Tapi aku mengerti kalau hubungan kami tak berlanjut hanya karena kami berdua kurang berusaha keras untuk saling memiliki satu sama lain, dan itu berarti aku juga ikut menanggung kesalahan. Aku tak akan mengucapkan kalimat orang gagal seperti diatas itu. Aku memang gagal dengan DS, dan itu berarti awal dari rentetan keberhasilanku dimasa depan. Putus secara menyakitkan ternyata bisa disikapi dengan pikiran positif, toh aku merasa jauh lebih dewasa dalam berpikir setelah putus walaupun butuh waktu untuk proses pendewasaan.

Rachel: “Better that you find this out now before you come home and find her in bed with Lars from Norway.”

Walaupun tak separah ungkapan diatas, paling tidak kita harus berpikir positif kalau hubungan tak berlajut lebih jauh berarti kita terhindar dari kemalangan dimasa depan. Kesannya memang seperti menghibur diri sendiri, tapi aku merasa hal itu tidak salah. Kalau sampai aku berjodoh dengan DS, kemungkinan besar aku tidak akan berada di Jepang dan melanjutkan studi seperti saat ini (butterfly effect). Malah aku terkungkung di dalam perusahaan yang sama hingga bertahun-tahun, kemungkinan besar hidup stagnan dan tanpa ada masa depan yang lebih baik. Aku merasa bersyukur ketika aku diterima sebagai mahasiswa di sebuah universitas di Jepang dan kalau mengingat DS saat itu, aku kembali bersyukur karena dia telah meninggalkanku. Tom Hansen juga akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai greeting cards designer dan mulai aktif mencari kerja sebagai arsitek sesuai dengan minatnya. Hal terbaik dengan meninggalkan tempat yang penuh dengan kenangan serta mencari tempat, suasana dan tentu saja relasi baru untuk masa depan diri sendiri.

Epilog

Tom: “Summer! I really do hope that you’re happy”

Beberapa minggu yang lalu aku menemukan dirinya lewat pesbuk beserta foto suami dan anaknya (akibat link yang dibuat oleh friend of friend). Yang lucu, namanya muncul tanpa kata Setia sebagai bagian dari nama belakangnya yang lengkap :lol: Apakah aku akan mengatakan hal yang sama seperti Tom diatas, ketika mereka berpisah diakhir film? Ataukah akan keluar kata-kata seperti di akhir prolog by calling her bitch? Sepertinya tidak keduanya, dia mau berbahagia atau menderita bukanlah urusanku. Malah aku tidak akan repot terkenang-kenang menulis panjang lebar di blog tentang hal ini kalau bukan gara-gara habis nonton film (500) Days of Summer. Well, I don’t give a damn and I really don’t care.

Mahasiswa Jepang dan beasiswa

Bagi mahasiswa asing yang sedang melanjutkan pendidikan S1, tingkat master ataupun doktoral di universitas-universitas Jepang, memperoleh beasiswa bukanlah hal yang mudah walaupun bukan hal yang terlampau sulit. Asalkan mau berusaha dan lintang pukang cari sana sini, beasiswa buat mahasiswa asing cukup banyak bertebaran untuk diperebutkan. Setelah anda mengajukan diri untuk mendapatkan beasiswa, sang pemberi dana akan melakukan beberapa tes untuk menguji kelayakan mahasiswa asing bersangkutan untuk menerima duit gratisan. Konsekwensi setelah mendapatkan beasiswa tentu saja ada. Biasanya setelah satu tahun harus membuat laporan penelitian dan mempresentasikan apa yang diteliti setelah satu tahun (bagi S2 dan S3) atau memperlihatkan nilai mata kuliah yang bagus (bagi mahasiswa S1). Hal ini belum ditambah dengan gakuhi menjo (keringanan biaya kuliah) dari hanya bayar 50 persen hingga sama sekali gratis alias bayar kuliah 0 yen.

Akan tetapi, tahukah anda bagaimana dengan status mahasiswa Jepang untuk mendapatkan beasiswa di negaranya sendiri? Mahasiswa lokal yang ingin melanjutkan kuliah juga memperoleh beasiswa untuk membiayai kuliahnya, hanya saja bukan uang gratisan seperti beasiswa untuk siswa asing. Uang beasiswa yang diterima merupakan uang pinjaman dari berbagai macam perusahaan Jepang yang memang mengalokasikan dana untuk biaya pendidikan tinggi generasi muda Jepang. Yang namanya uang pinjaman berarti tidak gratis harus di kembalikan dengan perjanjian pembayaran cicilan oleh sang penerima beasiswa jika mereka telah lulus dan bekerja (dan uang tersebut juga akan dipakai kembali oleh generasi berikutnya). Intinya sih bagi orang Jepang yang ingin kuliah dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang universitas, masalah biaya tidak menjadi persoalan, yang penting ada keinginan kuat untuk berusaha dan belajar. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah perusahaan lokal di Indonesia tidak ingin membantu? ataukah para mahasiswa peminjam tak bisa dipercaya untuk mengembalikan dana pinjaman?

NB. Special thanks to Shuuhei who share his experiences and opinions about scholarship for foreigner and Japanese student. I Wish you can graduate and able to pay the loan as soon as possible.

Gambar diambil disini. Bayangkan, sampai untuk mendapat beasiswa juga dibuat buku panduannya dan dijual.

Aisatsu = Basa-basi

Bagi yang pernah belajar dikit-dikit (apalagi banyak) bahasa Jepang mungkin cukup familiar dengan kata aisatsu – 挨拶. Kalau mengacu pada terjemahan kamus, aisatsu berarti sapaan/salam alias greeting. Semakin lama tinggal di Jepang dan bergaul sehari-hari dengan orang Jepang dengan bahasa mereka, aku makin merasakan bahwa aisatsu bagi orang Jepang bukan hanya sapaan, melainkan basa-basi. Basa-basi bagi mereka sangat penting, malahan bisa dibilang kalau orang jepang kelewatan dalam soal basa-basi dibandingkan orang Indonesia pada umumnya. Seperti kata temanku, “siga urang Sunda.” atau lebih tepatnya lagi seperti orang Sunda (dan tentu saja Jawa) non-proletariat. O iya, aku berasal dari Sumatera yang dalam kehidupan sehari-hari jarang berbasa-basi, bahkan dengan orang tua sendiri lebih suka bicara apa adanya to the point tanpa harus bicara berputar-putar terlebih dahulu.

Selain ucapan aisatsu standar berdasarkan waktu seperti Ohayo Gozaimasu (selamat pagi), Konnichiwa (selamat siang) dan Konbanwa (selamat malam), ada 3 hal yang sangat sering diucapkan orang Jepang dalam kehidupan sehari-hari yang kudengar yaitu kansha (thanks), ayamaru (sorry) dan tanomu (beg). Tentu saja masih banyak aisatsu lain yang sulit diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia karena tak ada kebiasaan mengucapkan Otsukaresama, Gochisousama, dll dalam kehidupan sehari-hari orang Indonesia. Tulisan ini hanya sekedar pengetahuan betapa pentingnya berbasa-basi dengan aisatsu bagi orang Jepang, terutama bagi yang tertarik dengan kehidupan sosial di Jepang.

1. Kansha
Kata terima kasih memang sudah sangat biasa diucapkan dimanapun, bukan hanya di Jepang saja. Tapi kadang-kadang hal yang biasanya tidak terlalu penting untuk mendapatkan ucapan terima kasih bagi orang non-Jepang, orang Jepang malah mengucapkan arigato gozaimasu (terima kasih banyak) atau minimal doumo (ma kasih) atau sankyuu (maksudnya tengkyu). Karena hal ini merupakan kebiasaan, agak sulit bagi orang Indonesia untuk mengikuti gaya aisatsu seperti ini, yang selalu berterima kasih kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Benar-benar kalimat basa-basi nomer satu.

2. Ayamaru
Soal minta maaf, aku merasakannya sendiri ketika melakukan kesalahan dalam kerja part-time. Minta maaf bukan hanya sekali, tapi kalau bisa minimal 2 kali yaitu ketika melakukan kesalahan dan ketika berpisah dengan orang yg dimintai maaf (dan kalau bisa, minta maaf lagi ketika bertemu kembali). Ketika pulang kerja part-time, aku dipanggil chief restoran tempat aku bekerja dan diomeli habis-habisan karena tidak minta maaf padanya sewaktu mau pulang. Memang ribet, tapi orang Jepang umumnya kalaupun marah dan kita mengikuti standar aisatsu meminta maaf mereka, pada umumnya mereka akan melupakannya esok hari. Gaya minta maaf juga berbeda-beda berdasarkan status, mulai dari yang biasa dengan ucapan Gomen atau Gomen Nasai, yang cukup sopan dengan Sumimasen, sangat sopan dengan Shitsureishimasu, hingga super sopan Moushiwake Gozaimasen. Karena minta maaf diucapkan hanya karena melakukan kesalahan, tentu saja tak bisa menyaingi seringnya terima kasih diucapkan untuk berbasa-basi. Tapi ingat, salah sedikitpun sebaiknya meminta maaf lebih dari satu kali.

3. Tanomu
Kalau anda berkenalan dengan menggunakan bahasa Jepang, kalimat ini sering kali diucapkan, “Onegaishimasu!” yang diterjemahkan dengan bebas sebagai “mohon bantuannya”. Lagi-lagi ucapan memohon juga berbeda berdasarkan status, dari yang biasa dengan Tanomu, Onegai dan Yoroshiku, yang sopan dengan Onegaishimasu hingga yang sangat sopan dengan menggabungan kedua kata Yoroshiku Onegaishimasu. Sewaktu bekerja di restoran, ucapan ini menjadi ucapan nomer dua yang paling sering kugunakan. Bahkan untuk minta agar rekan kerja mengantar tamu ke meja pesanannya juga mengucapkan Onegaishimasu. secara berpikir Indonesia, “itu khan emang udah tugas waiter, ngapain mohon-mohon segala?”

Anda yang hidup di Jepang tak mau ber-aisatsu? Anda bisa dicap sebagai manusia tak berbudaya, tak sopan, tak beradab, dll.

NB.
Anak-anak di Jepang dibesarkan dalam kondisi saling ber-aisatsu berbasa-basi satu sama lain sebagai bagian dari respek terhadap struktur sosial berorientasi vertikal Jepang yang sangat ketat. Bisa dimaklumi kalau hormat terhadap orang tua dan guru merupakan suatu keharusan, akan tetapi sistem senpai (senior), doukyuusei (satu derajat) dan kohai (junior) dalam sekolah dan kerja terlihat ribet dan kadang menimbulkan masalah ijimeru (bully). Aku merasakannya dan mengamatinya ketika kuliah di Jepang. Walaupun hanya berbeda satu tahun/angkatan, namun sikap terhadap senpai/kohai terlihat jelas termasuk basa-basi kohai dengan menggunakan ucapan kalimat sopan dan aisatsu kepada senpai (bisa dibayangkan bagaimana perasaan anak yang tidak naik kelas). Bandingkan dengan di Indonesia, walaupun beda angkatan/umur hingga 5 tahun, tetap saja bisa bersikap seperti teman sederajat.

Gambar diambil dari sini

Daigaku Matsuri 2009

Seperti janjiku sebelumnya, kali ini aku memuat tulisan mengenai 大学祭 – Daigaku Matsuri (kadang disebut daigakusai, karena huruf kanji matsuri bisa dibaca dengan pelafalan sai) yang berarti festival universitas.


[kiri] depan kampus; [kanan] denah kampus saat matsuri

Orang Jepang kulihat suka sekali menyelenggarakan berbagai macam festival dengan beragam tema. Sekitar bulan November biasanya para universitas di Jepang mengadakan matsuri di kampusnya masing-masing. Biasanya matsuri yang diselenggarakan mengadakan berbagai macam kegiatan untuk meramaikannya dan yang paling sering muncul adalah bazaar makanan, ajang penampilan kelompok ekstrakulikuler seperti dance group, a capella dan pentas musik yang diisi oleh band-band kampus (atau kadang juga band undangan). Tahun ini Daigaku Matsuri diadakan oleh kampusku pada tanggal 14 dan 15 November 2009. Cuaca pada hari sabtu tanggal 14 ternyata kurang bersahabat, hujan turun cukup lebat hingga siang hari. Akan tetapi setelah itu dan juga pada hari minggunya cuaca cukup cerah, walaupun angin dan cuaca dingin musim gugur lumayan membuat menggigil orang-orang dari daerah tropis seperti aku ini.



[atas] suasana matsuri; [bawah] atraksi dance group

Seperti yang Daigaku Matsuri yang diselenggarakan tahun lalu atau pun yang sudah-sudah, tema yang diusung tetap Techno Fiesta karena kampusku dikenal sebagai kampus teknik. Acaranya sendiri tak jauh beda dengan tahun lalu seperti yang pernah kutulis tahun lalu di sini. Beberapa grup penelitian mengadakan bermacam-macam percobaan menarik untuk anak-anak. Tentunya dengan tujuan agar anak-anak merasa tertarik untuk menggeluti dunia teknik di masa depan. Grup penelitianku sendiri mengadakan dua macam percobaan:

1. Percobaan pertama diberi nama slime yang dibuat dari campuran PVA (Polyvinyl Alcohol) dengan boraks dan dipadukan dengan kombinasi warna yang menarik. Tentu saja pencampuran bahan kimia dilakukan oleh anggota lab kami. Barulah setelah aman untuk dipegang dan dimain-mainkan dengan tangan, anak-anak diperbolehkan untuk membentuk slime sesuai dengan bentuk yang diinginkannya dan slime yang telah dibuat boleh dibawa pulang.

2. Percobaan kedua diberi nama Shippouyaki – 七宝焼き yang bertujuan membuat dekorasi menarik dengan menggunakan bahan gelas sebagai enamel yang ditata diatas logam. Logam yang digunakan adalah Douban – 銅版 atau lempengan tembaga. Karena koefisien penyebaran panas logam lebih tinggi daripada gelas dan akan membuat logam melengkung lebih cepat  (dan mengakibatkan enamel retak), maka perlu digunakan material tambahan dibawah lempeng tembaga sebagai buffer untuk menahan tegangan agar tembaga tidak gampang melengkung. Cukup lah basa-basi ilmu materialnya, yang penting hasil dari percobaan Shippouyaki ini bisa dinikmati oleh anak-anak yang mendekorasinya dengan tangan mereka sendiri dalam bentuk gantungan kunci.


[kiri] anak-anak mendesain shippouyaki dibantu orang tuanya; [kanan] contoh gantungan kunci hasil shippouyaki.

Bazaar makanan sendiri berlangsung seperti bazaar makanan pada hari-hari matsuri lainnya. Karena cuaca musim gugur cukup dingin (sekitar 13-15 derajat Celsius), makanan yang dijual biasanya yang hangat seperti ramen, udon, yakisoba, dan oden. Ada pula yang menjual makanan khas matsuri seperti choco banana. Mahasiswa asing juga tak ketinggalan memeriahkan matsuri dengan makanan khas negara masing-masing. Ada 4 kios mahasiswa asing yang buka yaitu China, Korea, Vietnam dan Malaysia. Jangan tanya deh kenapa mahasiswa Indonesia tidak mau ikut buka warung tenda, selain memang jumlahnya sedikit, mungkin memang sudah merasa cukup kaya dan tak perlu jualan :lol:


[kiri] kios makanan Malaysia; [kanan] kios makanan Vietnam

Sekedar info, kios makanan mahasiswa Malaysia menyediakan sate ayam (yang ini juga jangan ditanya, nanti bakalan ribut klaim-klaiman seperti kasus batik) sebagai hidangan khas.

Seperti juga tahun lalu, pentas musik juga menjadi pusat perhatianku. Kalau tahun lalu aku merasa puas nongkrong di depan pentas mendengarkan cover band keren yang membawakan lagu-lagu Tokyo Jihen dan Onmyouza, tahun ini kualitasnya agak menurun terutama masalah kekurangan vokalis handal. Hal yang paling terasa adalah masalah vokalis yang memiliki suara kurang bagus, baik dari segi teknik maupun memang fals dan lafal yang kurang pas (untuk lagu berbahasa inggris). Mengenai kemampuan bermain instrumen musik, kebanyakan dari mereka memiliki kemampuan diatas rata-rata. Sayangnya cover band Tokyo Jihen tahun ini yang bernama Hama Matsu Jihen kalah jauh dibandingkan pendahulunya Soko-Soko Dynamic yang tampil dipanggung tahun lalu sebagai cover band Tokyo Jihen. Satu-satunya kelebihan Hama Matsu Jihen adalah keyboardist mereka yang punya tampang kawai. Band yang paling bagus kualitasnya secara musikal mungkin Kyodai Sensei (cover band Mr. Big), lengkap dengan atraksi pakai drill buat gitar plus ngejam bareng gitaris-bassis ala ritual Gilbert-Sheehan. Sayangnya suara vokalis Kyodai sensei lumayan bikin sakit kuping, kalau saja mereka punya penyanyi dengan suara keren tentu aksi mereka lebih sempurna.



[atas] jadwal band manggung untuk 2 hari
[kiri] hama matsu jihen band; [kanan] kyodai sensei band, jamming guitarist-bassist

Selain dua cover band diatas, ada pula cover band grup terkenal lainnya seperti Jinn (Raion band) Luna Sea (dengan nama Tamu Sea band) Radwimps (undangan dari kampus Shizuoka), RHCP (dengan nama grup yang sangar, HENTAI!), Oasis (Oa-base band) dll.  Grup terbaik versiku adalah Barusu yang tampil dua kali yaitu sebagai copy band Bump of Chicken dan band yang membawakan lagu original ciptaan sendiri. Barusu band tampil cukup sempurna, baik dari segi kemampuan permainan instrumen maupun vokalis nya yang memiliki teknik vokal yang cukup bagus.


[kiri] HENTAI! band; [kanan] Barusu band

Terakhir, kampusku kedatangan pertunjukan live band GO!GO!7188 (baca: GOGO nana ichi hachi hachi) yang mengadakan pertunjukan di gedung Taishikan dalam kampus pada tanggal 14 November jam 16.00 hingga 17.00 dengan harga tiket 800 yen (murah tuh buat tiket konser live). Sayangnya aku tak sempat nonton karena kesibukan lain, padahal aku lumayan cocok dengan lagu-lagu yang mereka bawakan. Paling tidak setengah jam akhir aku bisa mendengar gratis di luar Taishikan sambil nongkrong makan sate-lontong hasil beli dari kios makanan anak Malaysia :mrgreen:

Berita, riset dan film bajakan

Dari Grace, aku mendapatkan link berita kompas on-line ini tentang penipuan film 2012 bajakan palsu dan setelah aku membacanya. Aku jadi merasa “kagum” terhadap penulisnya yang sangat berani memposting tulisan seperti ini di media sebesar Kompas (gak tahu apakah dimuat juga di media cetak). Lebih hebat lagi, Kompas berani memuat tulisan ini (aku juga tidak tahu apakah koran on-line juga memiliki editor untuk menyeleksi tulisan). Sebenarnya beritanya sangatlah biasa-biasa saja, malah termasuk urusan remeh yaitu hiburan nonton film lewat bajakan. Tapi masalahnya adalah si penulis ternyata menulis beritanya tanpa melakukan sedikit riset untuk memastikan kalau berita yang ditulisnya benar-benar bisa dipertanggung jawabkan keberadaannya. Aku membayangkan blogger amatiran saja kadang tidak berani memposting tulisannya tanpa memiliki sedikit pengetahuan pendukung. Memang sih banyak juga blogger pemalas gak niat ngeblog yang lebih suka copy-paste tulisan orang lain, tapi bagi blogger yang berniat menulis sendiri paling tidak melakukan riset kecil-kecilan seperti misalnya yang paling gampang cari info tambahan lewat wikipedia.

Di dalam berita tersebut, masa film 2012: Doomsday dan 2012: Supernova dibilang film 2012 palsu? Setahuku keduanya bukan film palsu. Ada istilah film mockbusters yg dibikin dgn biaya rendah dgn pasaran khusus direct to video. Jadinya film mockbusters tidak bakalan ditemukan dan ditayangkan di layar bioskop. Dari dulu sudah cukup banyak koq film mockbusters buat ‘menyaingi’ film blockbuster, contoh: The War of the Worlds nya Tom Cruise, I am Legend nya Will Smith, The Da Vinci Code nya Tom Hanks sampai Transformers juga ada. Kadang film mockbusters punya plot utama yang sama dengan film blockbuster tetapi dengan jalan cerita yang berbeda atau malah versi parodi, tentu saja dengan judul di plesetkan. Film 2012 memang film blockbuster buatan Roland Emmerick, tapi 2012: Doomsday (baca kata Doomsday dibelakang 2012) adalah film mockbusters buatan The Asylum yang dikenal sebagai produser utama film-film mockbusters, sama seperti 2012: Supernova (lagi-lagi baca kata Supernova dibelakang 2012), tapi ini film resmi. Soal pembeli bajakan yang tertipu sih, menurutku itu salahnya sendiri. Jika memang ingin nonton bajakan, kita harus pandai-pandai memilih. Aku sih termasuk penonton yang suka bajakan berkualitas original, aku paling benci nonton bajakan dengan kualitas rekaman bioskop plus kepala orang lewat. Sudah resiko bagi yang nonton bajakan untuk “berusaha lebih keras” demi mendapatkan bajakan yang berkualitas. Kalau tak mau susah, nonton aja filmnya di layar bioskop atau DVD originalnya jika sudah keluar. Mengenai penjualnya, namanya juga orang dagang, yang dipikirkan tentu saja hanya keuntungan. Mungkin saja dia tidak pernah tahu kalau ada yang namanya jenis film mockbuster ataupun mockumentary. Tapi kalau ada wartawan yang ingin menulis hal ini tak pernah tahu dan tetap nekad menulis?

Ingat! Ini hanya tulisan ringan tentang hiburan. Bagaimana jika seorang wartawan menulis berita besar dan sangat mempengaruhi pendapat massa? Menulis berita tanpa dasar pengetahuan cukup bisa menjadi bumerang, apalagi jika pihak wartawan penulis sukar diminta pertanggung jawabannya akan tulisannya. Hal ini semakin memperkuat keyakinanku, aku jauh lebih mempercayai tulisan resensi film maupun tetek bengek perfilman dari teman blogger tukang nonton filmku dari pada resensi yang ditulis koran-koran.

My J-Music File [1]

Tanggal 14 November sabtu lalu pada event Daigaku Matsuri [rencananya akan kubuat postingan tersendiri], kampusku kedatangan kelompok J-Rock bernama Go!Go!7188 yang mengadakan pertunjukan live di Taishikan dari jam 16.00 hingga 17.00. Tadinya aku berniat nonton langsung, sayangnya piket jaga stand mengharuskan aku standby dan tak bisa nonton. Tugas jaga selesai jam 16.30 dan setelah beres-beres, aku iseng datang ke Taishikan dan mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan oleh Go!Go!7188 dari luar gedung Taishikan. Ternyata lagu-lagu yang mereka bawakan enak-enak juga dan mengingatkan pada style Judy and Mary pada beberapa bagian. Salah satu lagu yang kudengar adalah Kataomoi Fighter (Pejuang Cinta Sepihak) yang video klipnya bisa dilihat dibawah ini.

link youtube

Lagu lainnya adalah Ukifune yang menceritakan tentang salah satu bagian dari buku Hikayat Genji karya Murasaki Shikibu. Lagu ini dibawakan agak nyerempet genre Enka dalam beberapa bagian.

link youtube

Tagging in facebook

Photo album’s tags in Facebook for commercial issues have been annoying me.

dangerous_facebook

*I have removed his name  from my friends list but unfortunately, he also tagged a lot of my other friends* :( :(

Kayak jaman Showa

news_thumb_unita

Berikut ini adalah percakapan antara seorang teman bernama W dengan wakil chief restoran yang kami panggil Orang Utan (karena cerewet dan nyebelin) dan kepala tukang masak Ryorichou. Tentu saja percakapan dengan menggunakan bahasa Jepang dan aku menerjemahkannya dengan bebas. Percakapan terjadi disela-sela waktu kerja arubaito (part-time) dalam restoran yang memang agak sepi dari pengunjung pada hari minggu (malam senin).

Orang Utan (OU): Serius nih mau nikah sama pacar kamu tahun depan?

W: Serius koq!

OU: Emangnya mau nikahnya dimana? Disini (Jepang maksudnya)?

W: Nggak. Rencananya mau ngadain di Indonesia, setelah selesai baru balik ke Jepang lagi.

Ryorichou (R): Lha? Memangnya sekarang pacar kamu tinggal dimana?

W: Tinggal di Jepang juga, tapi beda kota.

R: Ooo… Gak tinggal barengan yah.

W: Ya nggak lah, belum suami istri koq.

OU: Orang Indonesia kalau belum resmi nikah nggak boleh tinggal bareng yah?

R: Tapi khan, kalau mau main (make love maksudnya) tetap aja harus nyari tempat lain.

W: Hubungan seks diluar nikah nggak boleh tuh.

OU dan R: Eeehhhh?????

R: Udah kayak jaman Showa aja.

W dan Aku: ???????????

Keterangan:

Showa Jidai (jaman Showa) adalah jaman masa pemerintahan kaisar Showa (di dunia internasional lebih dikenal dengan nama kaisar Hirohito) pada tahun 1926-1989. Pada jaman kaisar Akihito memerintah seperti sekarang, di Jepang disebut dengan jaman Heisei (mengacu pada nama kaisar Heisei sebagai gelar kaisar Akihito). Pada jaman Showa, Jepang mengalami berbagai macam peristiwa dari invasi militer ke negara asia lain, perang pasifik, kejatuhan bom atom, kebangkitan ekonomi yang luar biasa, hingga menjadi negara yang seperti sekarang ini.

Fornikasi (Fornication) di Jepang sudah menjadi hal awam (termasuk kumpul kebo), malah cukup banyak wanita dewasa membawa kondom didalam tas ketika bepergian dengan pacarnya untuk mengantisipasi hal-hal yang diinginkan. Dari hasil percakapan dengan beberapa teman, banyak anak-anak SMP memilih untuk berhubungan sex sebelum masuk SMA demi menghindari ijimeru (bully) dari senior. Masalah ijimeru di sekolah-sekolah Jepang cukup mengkhawatirkan, walaupun jaman sekarang sudah jauh berkurang akibat campur tangan pihak sekolah dengan bantuan pemerintah.

Hubungan seks dengan wanita dibawah umur termasuk kriminal di Jepang. Kebanyakan prefektur (setingkat propinsi) menetapkan 18 tahun sebagai batasan dibawah umur. Salah satu kasus heboh yang pernah terjadi adalah kasus pemain sepak bola Naoya Kikuchi yang ditangkap akibat berhubungan intim dengan remaja umur 15 tahun.

Menikah dan bercerai di Jepang termasuk proses yang gampang. Tinggal daftar ke kantor catatan sipil (Kon-in todoke), isi formulir dibubuhkan cap stempel kedua belah pihak, lalu bubuhkan pula cap 2 orang saksi (siapa saja, tidak harus keluarga) dan yang pasti gratis. Prosedur bercerai juga gampang dan tak jauh beda dibanding dengan menikah. Mungkin yang menjadi pertimbangan untuk menikah adalah masalah tanggung jawab dan keinginan untuk punya anak. Memiliki anak tanpa ikatan pernikahan yang sah memang tidak melanggar hukum negara, tapi norma masyarakat masih bisa menghukumnya dengan gosip dan omongan tak enak oleh masyarakat di lingkungan sekitar.

Signatures or Seal

Lately, I found something that draw my attention about signatures. My collages in laboratory asked me how to endorsing signature for research journal document proposal (in English of course). When I asked him back about his own signature, he said he didn’t have any signature. After that, I found that a lot of Japanese don’t have any signature for their official affair. Even write their name with their own writing style in Kanji (Chinese letter) doesn’t consider as valid proof (Though I think, it has similar usage with signature). They use another alternative way to substitute signature usage with seal. For example, in case of making bank account in Japan, everybody using their 印章 (inshou or seal) to proof their identity on document (they have several seal for different occasion and purpose, and the most important seal will be registered to the local city hall office).

sign

Samples of signature and seal for Japanese common surname Tanaka/Nakata with different styles.

Maybe signatures are common things for everybody who live in a country whose everybody write their name with Roman/Latin alphabet. How about in another country whom using different character (not Roman alphabets) like Arabs with their arabics? Are they using signature or seal? Or maybe with different way like thumbprint?

Pindahan Blog

Sebenarnya, aku tidak terlalu berniat memindahkan blog dari blogspot ke wordpress. Yang jadi penyebab adalah moderasi komentar di blogspot yang ribet dan aku sudah terbiasa dengan aturan komentar wordpress yang lebih gampang.

So….. welcome to my another wordpress blog, I wish you can enjoy your time in this younger Toumei Ningen twin brother. If  the first Toumei Ningen contains my interest in film and music, this second one will replacing my melayu-nyasar’s blogspot.