Journey to the North

Saya pernah menulis perjalanan ke barat (daerah Kansai) dan perjalanan ke timur (daerah Kanto), kali ini saya menulis tentang perjalanan saya dan keluarga ke pulau di sebelah utara Jepang, yang bernama Hokkaido. Memang sih, perjalanan kali ini dilakukan hanya di sekitar Sapporo agar tidak memakan waktu terlalu lama karena wilayah Hokkaido sendiri cukup luas. Kami memiliki waktu 3 hari 4 malam untuk menjelajahi Sapporo dan sekitarnya. Baiklah, ini adalah perjalanan saya, pgkn dan anak kami Reika-chan mengunjungi Jepara (Jepang Utara).

Continue reading

Ramen Halal

Biasanya para traveler suka mencari dan mencoba makanan khas kota/negara yang sedang dikunjunginya. Bagi orang Indonesia, khususnya muslim, yang mengunjungi Jepang biasanya hal ini agak ribet karena cukup banyak makanan khas Jepang yang tidak halal. Salah satunya adalah ramen, makanan mie yang diadaptasi Jepang dari masakan China.

Beberapa waktu lalu, saya, istri dan anak khusus berkunjung ke kota Tokyo dan sekitarnya demi mencicip masakan halal (terutama ramen), karena kami tidak pernah menemukan restoran ramen halal yang bisa dimakan di daerah Nagoya dan sekitarnya. Di bawah ini ada beberapa restoran ramen yang membuat kami cukup berkesan. Continue reading

Krisis Identitas

IMG_0397

Hiro

Sebut saja namanya Hiro. Dia setengah Jepang setengah Filipina yang kerja sebagai tenaga outsource. Hiro berasal dari keluarga broken home, ibunya (Filipina) pergi meninggalkan keluarganya dan dia bilang sekarang entah ada di mana. Sedangkan ayahnya (Jepang) kawin lagi dengan wanita Jepang dan sudah punya keluarga sendiri.
Continue reading

Soshite, Chichi ni Naru

Walaupun judul postingan ini berasal dari judul film yang disutradarai oleh Kore-eda Hirokazu, tulisan ini bukanlah review film melainkan tumpahan perasaan saya yang baru saja menjadi seorang ayah. Ya benar, sesuai judul film tersebut.

And then, I became a father.

Reika-chan

Ketika putri saya lahir, saya berada di samping istri yang sedang berjuang, menahan sakit, mengambil napas panjang lalu mengedan, hingga akhirnya putri kami keluar dari rahimnya. Rasanya campur aduk dari bahagia, khawatir, kasihan hingga kebingungan. Tapi ketika putri saya membrojol keluar, rasa lega dan bahagia lebih dominan ketika melihat anak pertama saya itu menangis menyambut kedatangannya ke dunia yang fana ini.

Putri kami dinamakan Reika. Kami memutuskan memberikan nama Jepang sebagai nama depan dan juga nama panggilannya karena Reika memang lahir di Jepang dan juga saya tidak ingin dia dirundung (bully) gara-gara nama panggilannya yang tidak umum. Selain nama Jepang sebagai nama depan, istri juga memberikan nama dari bahasa Arab yang berarti cerdas sebagai nama tengah.

Saya memilihkan dua huruf kanji sebagai simbol nama Reika, karena orang Jepang umumnya memilihkan huruf kanji bagi nama anaknya. Kanji pertama yang saya pilih adalah kanji 怜 (dibaca: Rei) dari kata 怜悧 (Reiri) yang berarti bijak, digabung dengan kanji 佳 (dibaca: Ka) dari kata 佳人 (Kajin) yang berarti wanita cantik. Dengan kata lain, saya berharap Reika tidak sekedar cerdas, melainkan juga tumbuh menjadi wanita cantik yang bijak.

Sebenarnya sebelum hamil, istri pernah ingin memberikan nama 光 (baca: Hikari) jika anak kami perempuan. Penyebabnya adalah nama istri, ibu mertua (ibunya istri) dan ibu saya sendiri memiliki kata Nur yang berarti cahaya dalam bahasa Arab. Sayangnya nama Hikari sudah dipakai oleh temannya sehingga istri merasa ogah untuk memberikan nama yang sama seperti anak temannya. Dan untuk mengakomodasi keinginan dilekatkannya kata cahaya pada Reika, setidaknya akronim dari nama depan, nama tengah dan nama belakangnya terdiri dari 3 huruf yaitu R, A, Y, dan Ray dalam bahasa Inggris berarti cahaya.

Selain tentunya Ray merupakan album ke tujuh L’Arc~en~Ciel yang di dalamnya terdapat lagu Honey (teteup)😛

Terjengkang

Hari minggu lalu, aku diajak teman ke ski resort untuk main snowboard di Hiraya Kougen Nagano. Mumpung masih musim dingin ceritanya. Masalahnya aku sama sekali belum pernah mencoba bermain snowboard, jadinya terlebih dahulu mempersiapkan diri dengan nonton video youtube berjudul snowboard for beginners. Kelihatannya sih gampang, tapi kan para instruktur dalam video itu sudah bertahun tahun bermain snowboard.

Akhirnya aku bersama satu orang Indonesia dan satu orang Malaysia berangkat jam 9:30 pagi. Perjalanan memakan waktu 3 jam untuk sampai di Hiraya Kougen. Sampai di ski resort, kami pergi ke toko rental karena aku tak punya peralatan untuk bermain snowboard. Aku menyewa satu set berupa snowboard dan sepatu khusus snowboard untuk satu hari seharga 3500 yen. Lalu kami membeli tiket ropeway untuk mengantar kami ke atas puncak bukit.

IMG_2379

Hiraya Kougen Ski Resort di prefecture Nagano

 

Tadinya kukira temanku akan megajari aku di bawah bukit terlebih dahulu, tapi ternyata mereka langsung naik ke atas bukit. Kata temanku kalau ingin cepat bisa, aku harus langsung belajar di lereng gunung sekalian. Kalau ingin belajar pelan-pelan, belajarnya di bawah bukit yang datar. Tak punya pilihan lain, akupun ikut naik bersama mereka dengan menggunakan ropeway. Di atas bukit, aku hanya diajari satu hal saja yaitu “bagaimana bisa berdiri di atas snowboard tanpa jatuh dengan cara mengerem kecepatan peluncuran” dan itu ternyata susah sekali. Setiap kali berdiri, otomatis snowboard bergerak meluncur menuruni lereng bukit dan aku langsung hilang keseimbangan dan terjengkang. Entah berapa kali aku jatuh bangun sampai pantatku yang tadinya nyeri mulai mati rasa saking dinginnya. Lalu dua temanku itu mulai meluncur turun ke bawah meninggalkan aku yang masih latihan berdiri di atas bukit.

Waduh, kalau ingin turun dari puncak bukit, mau tak mau aku harus menggunakan snowboard padahal hanya untuk berdiri saja masih terjengkang berkali-kali. Akhirnya nekad, aku mulai menuruni lereng bukit sambil berulang kali terjengkang jatuh bangun. Di kanan kiriku terlihat anak-anak kecil umur 5-7 tahun dengan lancarnya meluncur mulus sambil tertawa-tawa. Busyet, umur berapa mereka mulai berlatih ya? Jangan-jangan emang bawaan dari DNA bokap nyokapnya dari orok.

Turun dari atas bukit pertama kali benar-benar siksaan. Ketika berdiri, otomatis gravitasi membawa snowboard-ku meluncur kencang dan membuatku gugup hingga hilang keseimbangan. Terjengkang lagi. Lagipula mendingan menjatuhkan diri ketika kecepatan masih belum kencang-kencang amat daripada nabrak pohon atau orang lain karena tak bisa mengerem. Tapi ketika sampai di bawah lereng, aku malah penasaran dan naik lagi ke puncak bukit.

Luncuran terakhir akhirnya bisa tetap berdiri di atas snowboard selama belasan detik.

Luncuran terakhir akhirnya bisa tetap berdiri di atas snowboard selama belasan detik.

Bolak-balik naik turun bukit hingga 4 kali, barulah aku mulai menikmati dan bisa sedikit mengontrol kecepatan luncuran dan mulai tahu cara mengerem. Lumayan lah, akhirnya aku bisa snowboarding selama belasan detik di jalur landai walau harus terjengkang juga agar bisa berhenti meluncur, namanya juga belum bisa ngerem dengan mulus.

Next time, aku harus mulai bisa mengendalikan arah luncuran. Nonton video tutorial snowboarding lagi di youtube supaya nantinya bisa dipraktekkan.

Keesokan harinya, barulah efek snowboarding di hari minggu terasa. Badan linu semua, dari sendi, perut leher, pokoknya semuanya lah. Kayaknya habis snowboarding paling enak mandi air panas dan berendam di onsen (pemandian air panas).

Transit di KL

Ketika transit di Kuala Lumpur (KL) sewaktu mudik tahun baru kemarin, aku diajak oleh istri jalan-jalan ke pusat kotanya. Kami tiba pukul 12 waktu setempat di terminal KLIA2, airport baru di sebelah KLIA yang dibangun khusus untuk low cost flight sebagai pengganti terminal LCCT. Selama penerbangan dari Jakarta ke KL, aku duduk di sebelah bapak-bapak beruban yang nyerocos cerita tentang dirinya sibuk ikut jet ski, terjun payung, scuba diving dan kegiatan menantang lainnya. Belum lagi omongannya tentang jatuhnya pesawat Air Asia QZ-8501 seakan-akan beliau adalah kepala tim penyelidik. Sampai ngantuk aku dibuatnya.

Dari KLIA2, kami naik skybus menuju KL Sentral. Sebelum berangkat, istri sudah terlebih dahulu membeli tiket skybus secara online, yang ternyata harganya lebih mahal dibanding beli tiket skybus langsung di loketnya. Beli via online seharga 460 yen atau sekitar 13.5 ringgit, sedangkan beli langsung di loket hanya 10 ringgit.
Tips pertama tentang beli tiket skybus: belilah tiket di loket, jangan beli online!
Continue reading

Tips Memotret Kembang Api

Salah satu tantangan bagi fotografer pemula adalah memotret kembang api dengan kamera DSLR. Ada beberapa tips tentang komposisi hingga setting kamera dari fotografer profesional yang diberikan lewat rekaman youtube, blog, maupun tulisan mereka di media. Beberapa diantaranya pernah kupakai sebagai basic knowledge untuk mempersiapkan sesi pemotretan kembang api pertamaku. Misalnya 2 tips fotografer di bawah ini:

1. Blog Ken Rockwell
2. Video Michael The Mentor

Sayangnya, tips para profesional itu tidak selalu sesuai dengan kondisi yang kita hadapi di lapangan sewaktu sesi pemotretan. Contohnya saja tips pertama dari Michael The Mentor yang menyarankan mencari lokasi spesifik dengan bangunan khas atau landmark sebagai background/foreground kembang api. Jika ada pesta kembang api di sekitar candi Borobudur atau monas (monumen nasional) di Jakarta, tentunya dengan senang hati bangunan tersebut bisa dijadikan penghias kembang api. Bagaimana jika tak ada bangunan khas? Seperti misalnya di Jepang, sering kali pesta kembang api dilaksanakan di tepi pantai atau di pinggir sungai yang tak memiliki landmark khas. Oleh karena itu, di sini aku menuliskan pengalamanku sebagai fotografer pemula ketika memotret kembang api dengan kamera DSLR dalam sembilan point.

Continue reading