Facebook, sejak negara api menyerang

“Sosial media bukan lagi tempat yang menyenangkan setelah negara api menyerang”

(Almas)

 

Pertama kali membuat akun facebook tahun 2008, tujuan utamaku adalah mencari teman-teman lama untuk menjalin kembali hubungan silaturahmi. Teman-teman lama yang kumaksud adalah teman-teman sekolah dari SD, SMP, SMA sampai kuliah, juga teman-teman kerja, kost dan kenalan-kenalan lama yang sudah bertahun-tahun tak pernah bertemu. Semakin lama menggunakan akun facebook, semakin banyak teman lama yang terhubungkan kembali. Malah teman-teman baru yang bertemu setelah akun facebook dibuat ikut masuk dalam daftar pertemanan. Khusus untuk teman-teman blogger, aku membuat akun khusus untuk bergaul dengan mereka. Malah akun blogger ini jauh lebih aktif dibanding akun personal yang kubuat sebelumnya.
Saat itu, facebook adalah salah satu tempat di dunia maya yang paling menyenangkan.

Hingga akhirnya negara api menyerang……(**)

Continue reading

Pahlawan

5000
Dulu ketika masih di sekolah bahasa Jepang, aku pernah ikut kunjungan ke sebuah SD di Fujinomiya bersama-sama teman lain yang berasal dari berbagai macam negara. Maksud dari kunjungan itu adalah mengenalkan pada anak-anak kelas 1 SD tentang multikultural dan multinasional. Untuk itu kami diminta menyiapkan beberapa hal unik dari negara masing-masing termasuk uang.
Waktu itu aku hanya memiliki selembar uang Rp. 5000 yang bergambar Tuanku Imam Bonjol. Selain uang lima ribu rupiah, aku juga membawa kertas berisi lirik lagu balonku ada 5 yang kuterjemahkan ke dalam bahasa jepang.
Setelah mengikuti berbagai macam acara dan interaksi bersama-sama anak dan guru SD, kami para siswa asing dibagi-bagi per kelas. Di dalam kelas satu yang menjadi bagianku, aku menunjukkan uang kertas yang kubawa kepada anak-anak kelas satu yang berkerumun mengelilingiku dengan antusias. Uang kertas yang sudah agak kumal itu kuperlihatkan sambil menjelaskan,
“Ini adalah uang kertas Indonesia yang berharga 5000 rupiah.”

Continue reading

Tentang Onsen

Onsen (dibaca: ong-seng) adalah pemandian air panas di Jepang. Dulu, semua onsen menyediakan air panas alami dari mata air panas. Tapi sekarang, ada juga onsen yang sudah berfungsi mirip sento (pemandian umum) yang menyediakan bak besar berisi air panas untuk berendam dan sudah menggunakan pemanas buatan, malah ada yang mencampur mineral sulfur dan besi dengan prosentase yang sama dengan mata air panas alami. Walaupun ada onsen yang menggunakan pemanas buatan, bedanya dengan sento atau pemandian umum, onsen juga menyediakan rotenburo (pemandian terbuka) kecil di dalam kompleks onsen.

Continue reading

Journey to the North

Saya pernah menulis perjalanan ke barat (daerah Kansai) dan perjalanan ke timur (daerah Kanto), kali ini saya menulis tentang perjalanan saya dan keluarga ke pulau di sebelah utara Jepang, yang bernama Hokkaido. Memang sih, perjalanan kali ini dilakukan hanya di sekitar Sapporo agar tidak memakan waktu terlalu lama karena wilayah Hokkaido sendiri cukup luas. Kami memiliki waktu 3 hari 4 malam untuk menjelajahi Sapporo dan sekitarnya. Baiklah, ini adalah perjalanan saya, pgkn dan anak kami Reika-chan mengunjungi Jepara (Jepang Utara).

Continue reading

Ramen Halal

Biasanya para traveler suka mencari dan mencoba makanan khas kota/negara yang sedang dikunjunginya. Bagi orang Indonesia, khususnya muslim, yang mengunjungi Jepang biasanya hal ini agak ribet karena cukup banyak makanan khas Jepang yang tidak halal. Salah satunya adalah ramen, makanan mie yang diadaptasi Jepang dari masakan China.

Beberapa waktu lalu, saya, istri dan anak khusus berkunjung ke kota Tokyo dan sekitarnya demi mencicip masakan halal (terutama ramen), karena kami tidak pernah menemukan restoran ramen halal yang bisa dimakan di daerah Nagoya dan sekitarnya. Di bawah ini ada beberapa restoran ramen yang membuat kami cukup berkesan. Continue reading

Krisis Identitas

IMG_0397

Hiro

Sebut saja namanya Hiro. Dia setengah Jepang setengah Filipina yang kerja sebagai tenaga outsource. Hiro berasal dari keluarga broken home, ibunya (Filipina) pergi meninggalkan keluarganya dan dia bilang sekarang entah ada di mana. Sedangkan ayahnya (Jepang) kawin lagi dengan wanita Jepang dan sudah punya keluarga sendiri.
Continue reading

Soshite, Chichi ni Naru

Walaupun judul postingan ini berasal dari judul film yang disutradarai oleh Kore-eda Hirokazu, tulisan ini bukanlah review film melainkan tumpahan perasaan saya yang baru saja menjadi seorang ayah. Ya benar, sesuai judul film tersebut.

And then, I became a father.

Reika-chan

Ketika putri saya lahir, saya berada di samping istri yang sedang berjuang, menahan sakit, mengambil napas panjang lalu mengedan, hingga akhirnya putri kami keluar dari rahimnya. Rasanya campur aduk dari bahagia, khawatir, kasihan hingga kebingungan. Tapi ketika putri saya membrojol keluar, rasa lega dan bahagia lebih dominan ketika melihat anak pertama saya itu menangis menyambut kedatangannya ke dunia yang fana ini.

Putri kami dinamakan Reika. Kami memutuskan memberikan nama Jepang sebagai nama depan dan juga nama panggilannya karena Reika memang lahir di Jepang dan juga saya tidak ingin dia dirundung (bully) gara-gara nama panggilannya yang tidak umum. Selain nama Jepang sebagai nama depan, istri juga memberikan nama dari bahasa Arab yang berarti cerdas sebagai nama tengah.

Saya memilihkan dua huruf kanji sebagai simbol nama Reika, karena orang Jepang umumnya memilihkan huruf kanji bagi nama anaknya. Kanji pertama yang saya pilih adalah kanji 怜 (dibaca: Rei) dari kata 怜悧 (Reiri) yang berarti bijak, digabung dengan kanji 佳 (dibaca: Ka) dari kata 佳人 (Kajin) yang berarti wanita cantik. Dengan kata lain, saya berharap Reika tidak sekedar cerdas, melainkan juga tumbuh menjadi wanita cantik yang bijak.

Sebenarnya sebelum hamil, istri pernah ingin memberikan nama 光 (baca: Hikari) jika anak kami perempuan. Penyebabnya adalah nama istri, ibu mertua (ibunya istri) dan ibu saya sendiri memiliki kata Nur yang berarti cahaya dalam bahasa Arab. Sayangnya nama Hikari sudah dipakai oleh temannya sehingga istri merasa ogah untuk memberikan nama yang sama seperti anak temannya. Dan untuk mengakomodasi keinginan dilekatkannya kata cahaya pada Reika, setidaknya akronim dari nama depan, nama tengah dan nama belakangnya terdiri dari 3 huruf yaitu R, A, Y, dan Ray dalam bahasa Inggris berarti cahaya.

Selain tentunya Ray merupakan album ke tujuh L’Arc~en~Ciel yang di dalamnya terdapat lagu Honey (teteup) 😛